Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
01


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang di Masjid Al Azhar yang terletak di Perumahan Griya Wisesa, suara Muadzin itu terdengar sangat merdu di telinga saat melantunkan adzan.


Seorang gadis cantik berkhimar keluar dari rumah dan berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan rumah utama dengan sebuah mushalla yang terletak tepat disamping rumah. Dia berjalan ke arah tempat wudhu kemudian membuka khimarnya dan melakukan wudhu sebagai syarat untuk menunaikan shalat subuh. Setelah selesai berwudhu dipakainya kembali khimar tersebut dan masuk ke dalam Mushalla.


" Assalamu'alaikum, Ummi!" sapa gadis tersebut pada seorang wanita tengah baya yang duduk di dalam mushalla dan telah mengenakan mukena


" Wa'alaikumsalam!" jawab wanita tersebut yang ternyata adalah ibu gadis itu.


Kemudian Fatma mencium tangan ibunya dan memakai mukena yang terdapat disitu. Dia berdiri dan melakukan shalat sunnah subuh. Setelah selesai, ibu gadis itu berdiri dan menjadi imam bagi putrinya untuk melaksanakan shalat subuh.


Beberapa lama kemudian datanglah seorang pria setengah baya dan 2 orang pria muda yang tampan.


" Assalamu'alaikum!" sapa mereka bertiga.


" Wa'alaikumsalam!" jawab Ibu dan anak tersebut bersamaan.


" Abi!" sapa mereka bersamaan lagi.


" Abang! Adek!" sapa Fatma.


" Ummi!" sapa Abi Fatma.


" Ummi! Adek!" sapa pemuda itu.


" Ummi! Kakak!" sapa yang satu lagi.


Ummi Fatma dan putrinya bergantian mencium tangan Abinya, lalu abang dan adiknya mencium tangan ummi fatma. Fatma lalu melanjutkan mencium tangan abangnya dan adik Fatma mencium tangan Ummi dan Fatma. Mereka berlima kemudian duduk membentuk lingkaran dan bergantian membaca Al Qur'an.


Setelah selesai membaca 3 juz, mereka meninggalkan mushalla menuju ke teras belakang sedangkan Fatma dan umminya masuk untuk menyiapkan minuman hangat dan juga makanan ringan.


" Bagaimana pekerjaan kamu Bang?" tanya Abi.


" Alhamdulillah baik, Bi! Rencananya Arkan akan pergi ke jepang bulan depan, ada teman yang memakai jasa EO Arkam untuk weddingnya dan sekalian Arkan ikutan seminar tentang EO, tapi Arkan minta pendapat Abi dan Ummi tentang masalah ini!" jawab Arkan.


" Apa permasalahannya, Bang?" tanya Abi.


" Arkan sangat bersyukur karena bisa diberi kesempatan untuk bisa pergi kesana dan mengikuti seminar, akan tetapi yang membuat Arkan ragu adalah, disana istirahatnya hanya saat makan siang saja, sedangkan shalat azar kita tidak boleh meninggalkan seminar walau itu sekedar untuk menunaikan ibadah, Bi!" jawab Arkan.


" Hmmm! Sampai sejauh itu?" tanya Abi Fatma.


" Iya, Bi!" jawab Arkan.


" Apabila memang seperti itu keadaannya, lebih baik kamu membatalkan saja, Bang! Allah tidak menyukai umatnya yang melalaikan ibadahnya! Rejeki nggak akam kemana!" jawab Abi.


" Iya, Bi!" jawab Arkan patuh.


" Adek?" panggil Abi Fatma.


" Ya, Bi?" balas Daffa.


" Apa kuliah kamu baik?"


" Ok lah, Bi! Alhamdulillah!" jawab Daffa santai.


" Terbalik, nak!" ucap Abi.


" Iya, Bi! Sorry!" jawab Daffa.

__ADS_1


Daffa memang berbeda dari Arkan dan Fatma, dia sejak kecil sudah di asuh oleh kakak dari Abi Fatma yang tinggal di Singapore, karena mereka tidak memiliki anak, jadi ilmu agama Daffa belum sebagus kakak-kakaknya, walaupun begitu dia adalah seorang anak yang rajin beribadah dan aktif dalam organisasi islam di kampusnya.


" Fatma!" panggil Abi yang melihat putri dan istrinya menyuguhkan makanan dan minuman di meja.


" Iya, Bi!" sahut Fatma.


" Pekerjaan kamu baik?"


" Alhamdulillah baik, Bi!" jawab Fatma yang duduk di dekat Daffa.


" Kemarin Abinya Nabil telpon ke Abi, katanya secepatnya mereka akan berkunjung kerumah!" ucap Abi.


Wajah Fatma bersemu merah mendengar Abinya menyebut pria yang telah mengkhitbah dirinya.


" Cieeee! Yang mau nikah!" goda Daffa.


" Daffaaaa!" tegur Abinya.


" Hahaha, wajah kamu kayak Humairoh, dek!" tawa Arkan melihat wajah adiknya.


" Abangggg!" rengek Fatma malu.


" Sudah! Kalian jangan menggoda Fatma terus!" ucap Ummi.


" Ummi!" rajuk Fatma sambil memeluk Umminya dan menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Umminya. Ummi mengelus-elus punggung Fatma sambil tersenyum dan melotot ke arah Daffa dan Arkan.


" Maaf, dek!" ucap Arkan.


" Daffa juga, Kak! Maaf!" kata Daffa.


" Sudah! Sudah!" kata Abi Fatma.


" Ins Yaa Allah besok pagi, Bi!" jawab Arkan.


" Apa papa mertuamu sudah baikan?" tanya Abi.


" Alhamdulillah sudah, Bi! Kata Rania beliau sudah boleh pulang hari ini!" jawab Arkan.


" Alhamdulillah! Karena tidak baik meninggalkan istri lama-lama sendiri! Bisa menimbulkan fitnah!" ucap Abinya.


" Iya, Bi!" jawab Arkan.


Rania adalah istri Arkan yang sedang hamil muda, dia saat ini sedang ada di rumah sakit menunggu papanya yang harus operasi jantung! Mereka menikah sudah 2 tahun dan baru diberikan rejeki anak.


Mereka semua akhirnya pergi ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian, sementara Ummi dan Fatma membantu Mbak Sri memasak di dapur.


" Abi, Ummi! Kita berangkat dulu!" pamit Arkan setelah sarapan bersama.


Arkan mewakili adiknya berpamitan sambil menyalami Abi dan Umminya secara bergantian.


" Abang! Kakak! Daffa berangkat!" pamit Daffa pada Arkan dan Fatma sambil menyalami mereka.


" Assalamu'alaikum!" pamit Daffa pada semuanya.


" Wa'alaikumsalam!" jawab mereka berempat, Daffa naik motor yang diberikan oleh Omnya yang juga ayah angkatnya.


" Abang juga harus pergi! Assalamu'alaikum!" pamit Arkan.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam!" jawab mereka bertiga.


Arkan masuk ke dalam mobil yang di perolehnya dari hasilnya mendirikan EO. sedangkan Fatma tiap hari diantar oleh Abinya, terkadang Fatma pergi bersama temannya jika Abinya terlihat lelah.


" Abi berangkat dulu ya, Ummi!" pamit suaminya.


" Iya, Bi! Hati-hati bawa motornya!" pesan Ummi sambil mencium tangan suaminya.


" Ummi! Fatma berangkat dulu!" pamit Fatma sambil mencium tangan dan pipi Umminya dibarengi anggukan Umminya.


" Assalamu'alaikum!" pamit mereka.


" Wa'alaikumsalam!" jawab Ummi sambil melambaikan tangannya ke Fatma saat motor mereka melaju meninggalkan rumah.


Abinya lebih suka menggunakan motor daripada mobil mereka, karena kemacetan yang selalu terjadi di pusat kota.


Hari itu terlihat langit mendung, Abi menjalankan motornya sedikit ngebut karena kuatir akan kehujanan jika memang terjadi turun hujan.


" Abi! Nggak usah kenceng-kenceng!" kata Fatma memperingatkan Abinya.


" Nggak apa-apa! Kalau sampai hujan, kamu akan basah kuyup!" jawab Abinya tak mengurangi kecepatan motornya.


" Bismillah, semoga kita sudah sampai sebelum hujan turun, Bi!" ucap Fatma menenangkan Abinya.


" Aamiin, Ins Yaa Allah!" jawab Abinya.


Motor mereka melaju membelah jalanan yang lumayan padat dan macet di pusat kota. Kendaraan berbaris dan berjalan merayap seperti barisan semut akibat kemacetan yang rutin terjadi pagi itu.


" Abi hati-hati, ada lubang di depan sanaaa!" teriak Fatma.


" Iyaaa! Abi sudah tahu!" balas Abinya.


Abi Fatma melihat lubang di depannya dan berencana menghindari dengan membelokkan motornya ke kanan karena jika belok ke kiri dia akan menabrak trotoar. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara klakson mobil sangat keras dan membuat Abi Fatma terkejut dan tidak jadi membelokkan motornya yang mengakibatkan motornya melewati lubang tersebut dan membuat Fatma dan Abinya terjatuh.


" Astaghfirullahaladzimmm!" teriak Abi dan Fatma saat mereka terjatuh.


" Woewwwww!" teriak orang-orang yang melihat kejadian itu.


" Dasar gila!" teriak mereka lagi, mobil itu terus saja melaju tanpa berniat untuk berhenti walau hanya sekedar melihat akibat perbuatan mereka.


" Dasar, orang kaya gila!" teriak Fatma emosi.


" Fatma! Istighfar nak!" ucap Abinya.


" Astaghfirullahaladzim! Maaf, Bi, Fatma emosi! Abi! Abi nggak apa-apa?" tanya Fatma yang melihat kaki Abinya tertindih motor.


" Bapak nggak pa-pa?" tanya seorang pria yang memakai jaket Ojek.


" Sepertinya kaki Abi sakit, Fat!" ucap Abinya.


Dengan cepat beberapa orang datang lalu membantu mengangkat motor Abi Fatma. Kemudian mereka juga mengangkat tubuj Abi Fatma karena kakinya ternyata memgeluarkan banyak darah.


" Ya Allah, Bi! Kaki Abi berdarah!" kata Fatma panik saat dilihatnya darah keluar dari luka kaki Abinya.


" Sebaiknya dibawa ke rumah sakit aja, mbak! Banyak gitu darahnya!" kata seorang pemuda.


" Iya, mbak! Kasihan bapaknya!" sahut yang lain.

__ADS_1


" Sudah! Kamu telpon saja Ojek mobil!" kata Abinya.


__ADS_2