
Wajah Brian semakin menggelap pertanda dia sedang marah pada Danis. Tatapan membunuh Brian bisa Danis rasakan saat ini.
" Trima kasih, Nona! Saya sudah sarapan!" ucap Danis ramah dengan tersenyum lebar.
Benar-benar minta mati ni orang! batin Brian mengepalkan tangannya.
" Maaf, Bos! Saya tunggu di mobil saja!" kata Danis. Sejenak kemudian dia ketakutan karena tersadar karena telah berani bicara dengan Fatma.
" Masuk saja, Pak Danis! Biar saya bikinkan kopi kalo nggak ikut sarapan!" kata Fatma berusaha ramah.
Aduh, Nyonya Bos! Apa Nyona Bos nggak bisa masuk saja atau paling tidak diam saja! Saya bisa tinggal tulang kalo begini! batin Danis dengan keringat dingin yang sudah membasahi keningnya.
Kopi? Astaga, istriku! Kamu baik sekali menawari pegawai sialanku minum, bahkan kamu bicara banyak dengan dia. Sedangkan denganku? Kamu memanggil suamimu Pak! Dan kamu ber anda-anda denganku! Astaga, rasanya aku mau meledak saat ini juga! batin Brian berlebihan.
" Masuklah! Istriku akan membuatkanmu kopi sianida!" kata Brian dengan senyuman yang membunuh.
" Astaughfirullah! Kok, kopi sianida, Pak? Saya bisa masuk penjara, Pak!" kata Fatma terkejut.
" Nggak apa-apa, Zair! Nanti pasti aku temani!" kata Brian lagi.
" Anda ini ada-ada saja!" kata Fatma membuat Brian semakin gemas.
" Kak! Ayo, sarapan!" kata Daffa.
" Oya!" balas Fatma.
" Ayo!" kata Brian langsung memutar tubuhnya dan masuk ke dalam sebelum Fatma membuka kembali mulutnya.
Akhirnya Fatma mengikuti suaminya ke ruang makan. Mereka membaca do'a sebelum makan dan memakan sarapan tanpa mengeluarkan kata-kata. Brian hanya mengikuti saja situasi itu.
" Abi! Ummi! Saya mau pergi ke kantor dulu!" kata Brian setelah selesai makan.
" Iya! Hati-hati!" jawab Azzam.
Brian menatap istrinya yang berdiri dari duduknya, Brian melangkahkan kakinya ke luar rumah diikuti oleh Fatma. Sebelum menuju ke mobilnya, Fatma mengambil tangan kanan Brian dan mencium punggung tangannya. Brian cukup terkejut dengan perlakuan Fatma. Dada Fatma berdetak kencang saat melakukan itu, tangannya sedikit bergetar namun ditahannya agar tidak terasa oleh Brian.
" Hati-hati, Pak!" kata Fatma.
" Trima kasih dan tolong rubah panggilan kamu kalo nggak mau suamimu ini malu di depan banyak orang!" bisik Brian dengan tatapan penuh cinta kepada Fatma.
Fatma meremang karena Brian yang sedikit membungkukkan tubuhnya agar mendekat ke telinganya.
" Iy...iya!" kata Fatma gugup.
" Iya apa?" goda Brian yang sangat gemas.
" Eh, anu, itu...iya, Kak! Assalamu'alaikum!" kata Fatma yang kemudian berlari masuk dan suksea membuat pria beaar itu tertegun dan melongo mendengar perkataan istrinya.
" Wa'alaikumsalam!" sahut Brian lirih.
Dia bilang apa tadi? Kak? Manisnya istriku tapi aku nggak mau, kok kayak si Nabil aja! gerutu Brian.
Tapi Brian pergi dengan hati berbunga-bunga, setidaknya dia tidak lagi dipanggil Pak oleh istrinya. Dia kemudian mengelus tangan yang dicium Fatma tadi. Aku tidak akan mencucinya sampai pulang nanti! batin Brian senang. Danis yang melihat Bosnya senyum-senyum sendiri hanya kembali mengulum bibirnya menahan senyum, cinta memang bisa membuat batu yang keras menjadi hancur karena tetesan air.
" Apa kamu mau mati berkali-kali?" ucap Brian yang ternyata melihat sikap Danis.
" Tidak, Bos!" jawab Danis.
" Mulai besok, kamu tunggu saya diluar pagar!" kata Brian kesal.
__ADS_1
" Siap, Bos!" jawab Danis pasrah.
" Bagaimana dengan pesananku?" tanya Brian.
" Saya tidak yakin Bos akan setuju!" kata danis.
" Siapa?" tanya Brian penasaran.
" Ustadz Harun!" jawab Danis.
" Apa? Apa kamu benar-benar minta mati, Nis!" terial Brian.
Danis sudah tahu akan seperti ini reaksi Brian.
" Ini negara luas! Apa tidak ada yang lain? Apa hanya dia ustadz di Indonesia? Kalo perlu carikan dari asalnya!" kata Brian emosi.
" Dia yang terbaik, Bos! Dan Bos hanya memiliki waktu sebulan, tidak ada lagi waktu nyari yamg lain!" jawab Danis. Brian terdiam, dia telah membuat karir ustadz itu hancur tak berbekas, apa dia akan bersedia membantunya? Tapi jika dia tidak belajar, dia tidak akan bisa menikah dengan Fatma. Sial! batin Brian.
" Baik! Hubungi dia! Berikan yang dia minta!" ucap Brian akhirnya.
" Jika dia minta kembali semuanya, Bos?" tanya Danis.
" Aku bilang berikan yang dia mau! Aku sendiri yang akan bicara di media!" jawab Brian kesal.
" Siap, Bos!" jawab Danis pelan. Danis hampir tidak mempercayai apa yang di dengarnya. Seorang Brian mau menurunkan harga dirinya sebegitu rendah demi seorang wanita? Benar-benar wanita yang hebat! batin Danis. Brian menatap layar ponselnya, lalu membuka galeri fotonya, dilihatnya foto Fatma saat menikah dwngannya dan juga yang tadi diambilnya saat istrinya itu makan.
Dikirimkannya foto tersebut kepada mamanya.
@ Selamat Pagi, mom! Ini foto menantu mommy yang baru dan mama tahu,, dia mencium tanganku
tulis Brian sambil tersenyum. Tidak lama kemudian pesannya dibalas Iris.
balas mamanya
@ Makanya mommy harus cepat sembuh dulu
tulis Brian
@ Iya, mommy janji, mommy nggak mau lama-lama disini
balas mamanya
@ Ok,,aku kerja dulu, mom!
tulis Brian
@ Iya, hati-hati sayang
balas mamanya
@ Iya, ma,, daaaa
Brian menutup ponselnya dan memasukkan kebalik jasnya.
Fatma duduk melamun di teras belakang setelah mengantar suaminya. Wajahnya menyiratkan rasa kekhawatiran.
" Dek?" tegur Salma.
Fatma bergeming sari tempatnya.
__ADS_1
" Dek!" sekali lagi Salma memanggil tapi kali ini dengan menyentuh pundaknya.
" Eh, Ummi?" ucap Fatma kaget.
" Melamun apa?" tanya Salma lagi.
" Nggak papa, Ummi!" jawab Fatma bohong, dia nggak mau Salma tahu kekhawatirannya akibat menikahi pria yang sama sekali tidak tahu tentang agama. Apakah dia mampu melakukannya? batin Fatma tidak yakin.
Sementara itu di kediaman Nabil setelah mereka pulang dari rumah Fatma kemarin, Farzan mengajak semua duduk di ruang tengah.
" Abi! Ada apa ini sebenarnya?" tanya Sidni penasaran dengan sikap suaminya.
" Abi malu, mi, sama keluarga Fatma!" ucap Abi dengan wajah penuh amarah.
" Maksud Abi?" tanya Sidni.
" Abi tidak becus mendidik anak-anak hingga mereka menjadi seperti ini!" ucap Farzan lagi.
" Apa maksud Abi apa, sih? Ummi nggak ngerti. Salah? Apanya yang salah?" cerca Sidni.
" Apa kamu juga seperti itu, Zidan?" tanya Farzan.
" Apa maksud Abi?" tanya Zidan kaget.
" Apa alasan kamu jika setiap weekend selalu pergi keluar kota sejak menikah sampai sekarang?" tanya Farzan.
Deg! Jantung Zidan berdetak sangat kencang mendapat pertanyaan dari Abinya.
" Kenapa jadi bahas aku, Bi? Kita lagi bahas Nabil!" kata Zidan.
" Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian bertiga bermain teka-teki seperti ini?" tanya Sidni tidak mengerti.
" Lebih baik kalian berdua berterus terang sekarang, daripada Abi tahu dari orang lain!" kata Abi marah.
" Kalo mereka nggak mau menikahkan Fatma sama aku ya sudah! Masih banyak wanita diluar sana yang lebih cantik dan segalanya dari Fatma!" kata Nabil santai. Plakkk! Tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Nabil.
" Abi?" terial Sidni kaget.
" Abi kok nampar aku?" tanya Nabil kaget sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
" Abi nggak nyangka pendidikan agama yang selama ini kamu pelajari tidak ada gunanya sama sekali!" kata Farzan dengan marah.
" Kamu pikir Fatma bisa dibandingkan dengan perempuan-perempuan penggoda kamu itu?" teriak Farzan emosi.
" Abi?" ucap Sidni terkejut.
" Jika kamu tidak merubah sifatmu dan membawa wanita baik-baik menjadi menantu Abi dan Ummi, lebih baik kamu tidak menginjakkan kaki lagi di rumah ini!" kata Farzan pada Nabil
" Abi! Abi bicara apa sih?" yanya Ummi.
" Dan kamu Zidan! Jika masih seperti ini, jangan menyesal kalo Farah meninggalkanmu!" kata Farhan tegas.
" Bi!" ucap Zidan.
" Ini sebenarnya ada apa, sih?" tanya Sidni lagi.
" Tanyakan sama kedua anakmu!" ucap Farzan lalu pergi ke dalam kamarnya.
" Bicara! Jika kalian masih menghormati Ummi dan menyayangi ummi! Ayo, bicara!" kata Ummi.
__ADS_1