
Ponsel Brian bergetar saat akan dimasukkan ke dalam jasnya. Tertera tulisan Mommy di layar ponselnya. Jari pria itu menggeser ikon bergambar telpon yang berwarna hijau keatas.
" Halo, mom!"
" Halo sayang!"
" Mommy perlu sesuafu?"
" Mommy sedang dirumah sama Carissa!"
" Ngadu lagi?"
" Ngadu? Memang kamu ngapaim Carissa?"
Brian menghembuskan nafas kasarnya.
" Nggak ada, mom!"
" Mommy hanya mau bilang kalo nanti malam jangan lupa buat datang!"
" Iya, mom! Aku tutup dulu, ya, mom! Aku sedang sibuk!"
" Iya, nak!"
Brian menutup panggilan setelah mommynya mematikan panggilannya. Mamanya sangat tahu sifat anaknya itu, jika dia sibuk itu artinya dia tidak mau membicarakan apapun. Berani mendekati mommyku! Kamu pikir dengan begitu kamu bisa membuat aku tunduk padamu? Jangan mimpi! batin Brian marah.
" Kenapa, Bos?" tanya Danis.
" Rissa! Dia sama mommy sekarang!" jawab Brian kesal.
Danis hanya diam saja mendengar suara datar Bosnya. Dia tabu persis siapa Brian dan Carissa sangat berani bermain-main dengan pria itu.
" Perempuan itu sudah mulai bertingkah!" kata Brian.
" Apa perlu saya turun tangan, Bos?" tanya Danis.
" Jangan! Papanya teman mommy waktu kuliah! Dan dia teman kuliah Briana! Kita lihat saja sampai sejauh mana dia berani!" kata Brian datar.
" Baik, Bos!" jawab Danis.
Mobil yang dikemudikan Danis sudah memasuki pelataran Penthouse Brian yang terletak agak dipinggiran kota. Tidak ada yang pernah datang ke tempat itu selain dia dan Danis, karena Brian selalu pergi kesana jika sedang ada masalah.
Brian merebahkan sejenak tubuhnya di sofa, dia sedang meredakan emosinya akibat perbuatan Carissa yang mencoba mendekati keluarganya dengan merayu mamanya.
Selama ini dia membangun kerajaan bisnisnya dengan susah payah, hingga mengorbankan masa mudanya demi mencapai kedudukan seperti sekarang ini. Aku tidak akan membiarkan wanita membuatku tunduk apalagi takluk! Terlebih wanita sepertimu! Aku bisa mendapatkan wanita manapun yang aku mau. Bahkan tanpa kuminta, mereka bersedia melemparkan tubuhnya ke ranjangku! batin Brian marah. Brian yang kelelahan, memejamkan kedua matanya hingga tertidur di sofa.
Malam harinya, Nabil duduk di sofa lobby Hotel dan menunggu kedatangan Danis. Dia sudah berada di Hotel itu sejak 30 menit yang lalu. Tidak lama kemudian Danis masuk ke lobby Hotel bersama dengan Brian tepat jam 8 malam.
" Assalamu'alaikum, Bos! Pak Denis!" sapa Nabil yang menghampiri kedua pria itu. Danis dan Brian menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nabil.
" Nabil? Ayo!" ajak Danis sementara Brian hanya melihat sekilas lalu berjalan ke arah ruang VVIP. Danis dan Nabil dwmgan cepat menyusul Brian yang lebih dulu pergi.
" Bos! Ini yang namanya Nabil!" kata Danis sambil mensejajarkan langkahnya dengan Brian.
" Hmm!" sahut Brian.
" Dia yang membuat perencanaan proyek Bali!" tutur Danis.
" Kerjamu bagus!" ucap Brian.
" Terima kasih, Bos!" jawab Nabil.
Mereka sampai di ruang VVIP dan duduk disofa yang ada disitu. Brian meraih ponselnya dan berjalam ke arah dinding kaca, dia menghubungi seseorang yang tidak diketahui siapa.
__ADS_1
Nabil memandang Brian yang berdiri dengan gagah di depannya. Brian adalah seorang pria tampan, dengan tubuh yang terlihat liat dan sehat. Dia sangat kaya dan cerdas, sebuah ciptaan yang cukup sempurna dari Allah SWT! Nabil begitu mengaguminya, Dia ingin menjadi hebat sepertinya.
Tamu yang ditunggu telah datang, mereka saling bersalaman.
" Tuan Brian!" sapa tamu itu.
" Tuan Jerry!" balas Brian.
" Silahkan duduk, Tuan Jerry!" kata Danis.
Jerry membawa seorang pria sebagai asistennya, mereka semua kemudian duduk disofa.
" Nabil! Majulah!" panggil Danis.
" Iya, Pak!" jawab Nabil.
Nabil berdiri di depan, dia menjabarkan panjang lebar tentang proyek baru yang akan ditawarkan pada Jerry. Brian benar-benar puas melihat presentasi dari Nabil karena terlihat Jerry sangat serius dan sepertinya tertarik untuk menanamkam modalnya untuk melakukan kerjasama.
" Saya yakin proyek ini akan sangat menguntungkan!" kata Jerry.
" Tentu saja! Saya tunggu wakil anda untuk datang ke kantor besok!" kata Brian.
" Pasti! Secepatnya akan saya kabari!" jawab Jerry.
" Senang berbisnis dengan anda!" ucap Brian.
" Kami juga!" jawab Jerry.
Kemudian mereka saling bersalaman lalu menikmati hidangan makan siang yang disediakan.
Setelah selesai makam,Jerry dan asistennya undur diri.
" Dan!" panbhil Bfian.
" Saya mau proyek ini langsung dibawah pengawasan Nabil!" lata Brian.
" Bail, Bos! Kamu dengar, Bil?" kata Danis.
" Trima kasih atas kepercayaan yang diberikan, Bos! Ins Yaa Allah saya akan menjaganya dengan baik!" kata Nabil senang.
" Hmm!" sahut Brian.
" Berikan nomor rekening kamu!" kata Danis.
" Nomor rekening?" ucap Nabil membeo.
" Apa kamu tidak punya?" tanya Danis mengerutkan dahinya.
" Punya, Pak!" jawan Nabil.
" Kirim ke saya!" kata Danis.
" Iya, Pak!" balas Nabil lalu meraih ponselnya dan mengirimkan nomor rekeningnya kepada Danis.
Tidak lama sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Nabil membuka notifikasi tersebut dan matanya membulat sempurna membaca isinya.
" Ini bonus karena kamu telah berhasil membuat mereka dan saya puas dengan kerjamu!" ucap Brian.
" Masya Allah! Barakallahu, Bos! Terima kasih! Ins Yaa Allah saya akan selalu bekerja dengan keras demi kemajuan perusahaan!" tutur Nabil.
" Hmm!" balas Brian.
" Proyek akan dimulai setelah wakil dari Tuan Jerry ke kantor untuk melengkapi dokumen!" kata Danis.
__ADS_1
" Siap, Pak!" balas Nabil.
" Sekarang kamu temani saya!" ajak Brian kepada Nabil.
Nabil menatap Danis, lalu Danis menganggukkan kepalanya
" Baik, Bos!" jawab Nabil.
Kemudian mereka pergi meninggalkan Hotel tersebut dan pindah ke sebuah club malam langganan Brian yang terletak tidak jauh dari hotel tersebut. Astaghfirullah! batin Nabil saat melihat dimana mobil mereka berhenti.
" Maaf, Bos! Apa kita akan masuk?" tanya Nabil.
" Hmm!" jawab Brian.
" Apa boleh kalo saya menunggu saja disini!?" tanya Nabil.
" Apa maksudmu?" tanya Brian tersinggung.
" Maaf, Bos! Tapi agama kita melarang memasuki tempat maksiat seperti ini!" jawab Nabil.
" Apa kamu menceramahi saya?" tanya Brian semakin marah.
" Saya hanya memgingatkan sebagai sesama muslim, Bos!" jawab Nabil.
" Jika kamu tidak ikut masuk, besok kamu boleh kemasi barang-barangmu di kantor!" ancam Brian dengan wajah menggelap.
" Ayo, masuk!" paksa Brian.
Nabil akhirnya mengikuti Bosnya masuk ke dalam club tersebut, dia tidak mau dipecat dari pekerjaan yang membuatnya memiliki banyak uang.
Dentuman musik langsung membuat telinga Nabil seakan tuli. Matanya merasa ternodai karena melihat banyak wanita seksi dengan pakaian kurang bahan dan tubuh yang hampir terlihat semua Kalimat istighfar mengalun dihati Nabil dengan cepat dan berulang-ulang. Matanya semakin membulat sempurna saat melewati sebuah meja yang disofanya terdapat sepasang anak manusia sedang berc*mb* dengan pan*s. Nabil memejamkan kedua matanya beberapa kali hingga mereka duduk di sebuah meja yang khusus untuk orang-orang VVIP yang biasa Brian tempati.
Seorang waitress seksi mendekati mejanya dan tersenyum memggoda. Astaughfirullah! batin Nabil kembali memejamkan kedua matanya lalu menundukkan kepala saat melihat dandanan yang sama dengan yang dia lihat tadi, bahkan ini sangat minim bahan.
" Tuan Brian! Selamat datang! Apa pesanannya seperti biasa?" tanya waitress itu dengan nada menggoda.
" Hmm!" jawab Brian.
Waitress itu pergi meninggalkan mereka dan tidak lama datang 3 orang wanita seksi datang menghampiri mereka dan duduk disamping mereka bertiga. Mereka sengaja dikirim khusus dari Bos club itu untuk menjamu Brian sebagai tamu VVIP mereka. Astaghfirullah! Maafkan kakak, Fatma! batin Nabil menyesal karena ikut dengan Brian kesini.
" Tuan Brian!" sapa wanita yang duduk di dekat Brian.
" Pergilah!" ucap Brian sambil menyelipkan beberapa lembar uang ke belahan dada wanita tersebut sambil sedikit m*r*m*s dada wanita itu.
" Ah, Tuan!" des*h wanita itu.
" Terima kasih, Tuan!" ucap wanita itu kemudian pergi meninggalkan Brian.
" Nama kamu siapa?" tanya wanita yang duduk di sebelah Nabil sambil memegang paha Nabil.
Nabil mendorong tangan wanita itu agar tidak menyentuhnya sambil beristighfar di dalam hati. Tanpa sadar ada sesuatu yang memberontak di dalam dirinya akibat sentuhan dari wanita tersebut. Astaughfirullah! Ya Allah lindungi hambamu ini! batin Nabil.
Nabil tdak pernah menyentuh atau disentuh wanita manapun. Karena dia hanya mengenal Fatma dan mencintai Fatma saja.
" Permisi, Bos! Saya mau ke toilet!" pamit Nabil.
" Hmm" jawab Brian.
Nabil berdiri dan berjalan menuju meja bartender untuk menanyakan toilet. Brian hanya tersenyum smirk melihat kelakuan Nabil.
" Rayu terus! Aku yakin pertahanannya akan runtuh!" ucap Brian pada wanita yang di dekat Nabil tadi.
" Siap, Tuan!" jawab wanita itu dengan senyum smirknya.
__ADS_1