Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
33


__ADS_3

Aku nggak tahu apa maksud Abi, mi!" kata Nabil.


" Aku juga, mi!" sahut Zidan.


" Ummi nggak percaya kalian bersikap seperti ini! Ummi kecewa pada kalian! Jangan bicara dengan Ummi selama kalian belum bicara!" kata Sidni dengan perasaan kecewa lalu pergi meninggalkan kedua anaknya.


" Gara-gara lo ini!" kata Zidan marah pada adiknya dan menghempaskan pantatnya di sofa.


" Kenapa gara-gara gue?" bela Nabil yang mengikuti kakaknya duduk juga.


" Kenapa sampe Fatma nggak mau nikah sama lo, sih?" tanya Zidan.


" Tau!" kata Nabil.


" Gue harus tanya sama Arkan!" kata Zidan.


Zidan meraih ponselnya dan menghubungi Arkan. Arkan sebenarnya sedikit malas setelah tahu semua kebusukan Nabil. Tapi dia tidak mau mencampu adukkan masalah Nabil dengan kakaknya.


" Assalamu'alaikum, bro!"


" Wa'alaikumsalam! Ada apa, Zid?"


" Sebenernya ada apa sih? Kenapa tiba-tiba Abi lu ngebatalin pernikahan adik lu sama adik gue ?"


" Apa Abi lu nggak bilang?"


" Nggak, bro! Dia marah-marah nggak jelas gitu!"


" Adek lu gak pernah cerita ke lu kalakuan bejat dia diluar sana?"


" Wowwww, slow gaesss! Kelakuan apa maksudnya?"


" Intinya kita semua sudah tahu siapa dan kelakuan dia saat ini. Jadi Abi gue mutusin ngebatalin semuanya!"


" Lo yakin itu bukan sabotase"


" Lu pikir video sama foto yang ada itu boong?"


" Ya, siapa tau aja dia niat fitnah Nabil!"


" Buat apa coba? Emang adik gue seleb?"


" Ok, deh! Makasih! Assalamu'alaikum!"


" Wa'alaikumsalam!"


Zidan mematikan panggilannya.


" Gimana?" tanya Nabil.


" Dia bilang mereka tau semua kelakuan bejat lu!" kata Zidan.


" Ckkk! Itu emang dasar mereka aja yang sok jual mahal! Ternyata matre juga" kata Nabil sinis.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Zidan dam membuat pria itu membukanya.


" Wowwww! Hahaha! Gimana Abi nggak marah, liat aja, lu udah kayak bintang porno aja disini!" kata Zidan tertawa.


Nabil yang terkejut mendengar ucapan kakaknya, meraih ponsel Zidan dan metanya terbelalak saat melihat video por**o dan deretan foto-fotonya dengan Norma juga Gina.


" Adek alim gue ternyata maniak xex juga!" kata Zidan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


" Sialan! Ini pasti kerjaan Bos! batin Nabil. Tapi sudahlah, yang penting gue udah dapat satu perusahaan dia buat gue pegang!" kata Nabil santai.


" Diem lu! Kayak lu gak gitu aja!" kata Nabil kesal sama kakaknya yang tertawa.


" Sotoy lu!" balas Zidan.


" Apa perlu gue kasih tau Farah tentang Kate sama Cindy?" ancam Nabil.


" Sialan lu! Jangan macam-macam lu!" balas Zidan.


" Lu pikir gue nggak tau kalo lu lebih bejat dan lebih maniak dari gue?" sindir Nabil.


" Diem lu!" kata Zidan kesal.


" Gue pengen nyoba 3some juga kayaknya!" kata Nabil, membuat Zidan membulatkan matanya.


" Awas aja lu kalo sampe Farah tau sesuatu!" ancam Zidan.


Zidan memang jadi tergila-gila dengan xex setelah merasakan nikmatnya dengan Farah, istrinya. Awalnya dia merasa gaya xex merwka sudah normal. Tapi sejak dia diajak relasi bisnisnya tanpa sengaja ke pesta xex, sejak saat itu dia tau jika ber**nta iti bisa dwngan berbagai ga** dan sialnya, Zidan sangat ingin mempraktekkannya.


Diluar dugaannya Farah menolak melakukan beberapa hal dalam berci**ta dan itu membuat Zidan frustasi. Hingga dia bertemu dengan Kate dan Cindy. Mereka adalah sekretaris relasi bisnisnya dari singapore dan aussie.


" Ckkk! Mana ada maling teriak maling!" kata Nabil.


" Gimana sekarang?" tanya Zidan.


" Ini juga gara-gara Bos gue ternyata naksir sama Fatma dan mau menikahinya!" kata Nabil.


" Siapa Bos lo?" tanya Zidan.


" Brian Daniel Manaf! Pemilik Manaf Corp!" ucap Nabil.


" Apa? Serius lo kerja sama dia?" tanya Zidan kaget.


" Kalo gitu lu bisa bantu gue ngajukan proposal ke perusahaan dia! Gue udah coba berkali-kali tapi gagal!" kata Zidan.


" Karna lo nggak sepintar gue!" kata Nabil.


" Tapi gue nggak sebego lo, sampai ke gap gini!" kata Zidan.


" Berati lo juga sama aja sama gue!" kata Nabil.


Zidan yang merasa kejebak omongannya sendiri mengutuk mulutnya yang seperti ember.


" Nggak lah! Gue cuma belum nemu yang cocok aja!" kata Zidan.


" Sialan emang keluarga mereka! Kalo Ummi tahu gimana? Dia pasti sangat kecewa!!" kata Nabil.


" Mikir lo telat! Udah kayak gini baru mikir! Kalo enak aja lo diem!" kata Zidan.


" Sialan lo! Bantuin gue kek!" kata Nabil.


" Cari jalan diri lah! Gue juga harus cari cara biar Abi nggak marah sama gue!" kata Zidan.


" Sialan lo!" kata Nabil.


" Ngomong-ngomong! Sejak kapan lo jadi brengsek gitu?" tanya Zidan.


" Mati aja lo!" kata Nabil lalu meninggalkan Zidan yang tertawa melihat wajah Nabil yang memerah. Jadi semua ini ulah Brian! Sial bener! Kalo saja gue nggak pengen punya banyak uang, semua nggak akan begini! Bos sialan! batin Nabil.


Dia keluar rumah lalu membawa mobilnya menyusuri jalan raya menuju apartementnya. Gina yang dihubunginya dari tadi, tidak juga mengangkat atau membalas panggilannya. Dimana lo Gin? Gue butuh lo! batin Nabil. Gina ternyata telah meninggalkan negara ini dan pergi ke Kairo. Sejak bertemu dengan Daffa, dia selalu memikirkan ucapan Daffa.

__ADS_1


Danis mengantar Brian ke kantor dan dia langsung pergi menemui Harun di Yayasannya setelah menelponnya untuk membuat janji bertemu pagi itu.


" Selamat Pagi!" sapa Danis.


" Selamat Pagi!" jawab seorang pria yang di mejanya bertuliskan penerima tamu.


" Apa Ustadz Harun ada?" tanya Danis.


" Ada! Maaf, apa bapak yang bernama Danis Permana?" tanya orang itu.


" Ya benar!" jawab Danis.


" Mari silahkan! Saya antar keruangan beliau!" kata orang itu.


" Ustadz Sodiq, saya mengantar tamu dulu!" kata pria itu pada seorang pria yang sedang mengawasi CCTV.


" Silahkan Ustadz Zakir!" jawab Sodiq.


" Assalamu'alaikum!" pamit Zakir.


" Wa'alaikumsalam!" balas Sodiq. Kemudian Zakir berjalan dahulu diikuti oleh Danis menuju ruangan Harun.


Tok! Tok! Tok!


" Assalamu'alaikum Wr. Wb!" sapa Zakir.


" Wa'alaikumsalam Wr. Wb! Masuk!" jawab yang di dalam.


Pintu yang diketuk Zakir dibuka dan nampaklah wajah Ustadz Harun dibalik mejanya.


" Permisi, Ustadz! Pak Danis sudah datang!" kata Zakir.


" Selamat Pagi, Ustadz!" sapa Danis.


Harun tersenyum walau hatinya merasa kecewa dan sakit.


" Mari silahkan masuk!" kata Harun datar kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Danis.


" Trima kasih!" jawab Danis.


Mereka berdua saling berjabat tangan lalu duduk di sofa.


" Ada yang bisa saya bantu?" tanya Harun dengan ramah.


" Bos saya ingin Ustadz membantunya belajar tentang Islam dalam waktu sebulan!" kata Danis langsung pada pokoknya.


Harun terdiam dan menghela nafasnya.


" Maaf! Ilmu saya belum mampu untuk memberikan pengajaran pada Bos anda! Dan rasanya saya belum pantas untuk mengajar orang besar seperti Bos anda!" kata Harun merendah.


" Apapun yang anda inginkan akan dia kabulkan asalkan anda bersedia mengajari dia!" kata Danis memberikan penawaran.


Harun menatap Danis dengan tatapan tidak suka.


" Saya bukan orang yang materialistis! Rejeki semua yang mengatur hanya Allah SWT! Dan maaf, saya tidak menginginkan apa-apa dari Bos anda!" kata Harun panjang.


" Apakah anda marah karena perbuatan Bos saya waktu itu?" tanya Danis.


" Saya bukan orang suci atau munafik, saya memang marah, tapi saya bukan pendendam! Apapun yang terjadi pada saya adalah takdir yang harus saya jalani! Dan dengan ikhlas saya menerima semuanya!" jawab Harun lagi.


" Jadi anda tidak pendendam, kenapa anda tidak mau mengajari Bos saya?" tanya Danis lagi.

__ADS_1


" Seperti yang sudah saya bilang tadi, saya merasa belum layak untuk mengajar Bos anda!" kata Harun sekali lagi dengan merendahkan diri.


__ADS_2