
" Alhamdulillah baik, Us!" jawab Fatma.
" Syukurlah!" ucap Warda.
" Saya mau kembali ke kelas dulu, nggak enak sama Ust. Ana!" kata Fatma.
" Oh, iya! Silahkan!" jawab Warda.
" Kalo gitu saya pamit, Us! Assalamu'alaikum!" pamit Fatma.
" Wa'alaikumsalam!" balas Warda.
Fatma berjalan keluar ruangan Kepala Sekolah menuju ke kelasnya.
" Assalamu'alaikum!" sapa Fatma di pintu kelas yang terbuka.
" Wa'alaikumsalam!" jawab semua penghuni kelas.
" Ust. Zahirahhhhh!" teriak anak-anak disik Fatma.
Fatma tersenyum dan berjalan masuk mendekati seorang wanita yang duduk di kursi depan.
" Ust. Ana! Maaf merepotkan Ust. Ana!" ucap Fatma tidak enak.
Fatma tidak pernah sekalipun absen dalam mengajar sejak dia masuk menjadi guru di sekolah itu.
" Nggak pa-pa, Us! Mereka sepertinya sudah nggak sabar menunggu wali kelasnya!" ucap Ana yang menggantikan Fatma mengajar.
" Apa mereka baik-baik?" tanya Fatma.
" Mereka sangat baik! Ust. Zahirah memang sangat pintar membuat anak-anak patuh!" kata Ana kagum.
" Mereka memang anak-anak yang cerdas!" kata Fatma.
" Kalo gitu saya balik ke kelas dulu! Assalamu'alaikum anak-anak!" pamit Ana.
" Wa'alaikumsalam Ustadzah Anaaaaa!" balas anak-anak.
Ana melangkah pergi meninggalkan kelas Fatma, Fatma berjalan ke depan di tengah-tengah kelas.
" Apa kabar anak-anakkkkk?!" sapa Fatma.
" Alhamdulillah baik, Usssss!" jawab murid-murid Fatma.
" Ustadzah darimana? Kok baru datang?" tanya salah seorang muridnya.
" Ustadzah ada sedikit urusan! Kita belajar dulu, ya! Ngobrolnya nanti jika pelajarannya sudah selesai!" kata Fatma pada muridnya.
" Iya, Ustadzahhhh!" jawab mereka serempak. Fatma mengajar muridnya dengan suka cita, karena dia sangat menyukai anak kecil.
Sementara itu Nabil tiba di kantornya saat jam makan siang telah selesai. Dia memarkirkan mobilnya di lantai basement dan masuk ke dalam gedung perkantoran itu. Beberapa pasang mata wanita menatapnya dengan pandangan kagum saat dia keluar dari lift karyawan, tapi dia tidak pernah menghiraukan mereka. Baginya Fatma adalah satu-satunya wanita yang paling sempurna di dunia ini.
Nabil berhenti di lantai 5 dan masuk ke ruang kepala divisi perencanaan. Dia menyerahkan dokumen yang telah diperiksanya untuk dipelajari ulang oleh mereka. Hanya swbwntar saja Nabil disana, lalu keluar dan kembali masuk ke dalam lift dan menekan angka 15, dimana ruang pimpinan perusahaan berada. Dia keluar dari dalam lift saat pintu lift terbuka di angka 15.
Di lantai 15 itu ada 4 ruangan, sebelah kanan ruang meeting, tengah ruang CEO bersebelahan dengan ruang asisten, sebelah kiri ruang untuk tamu khusus. Sedangkan sekretaris CEO ada di dekat pintu masuk ruang CEO.
__ADS_1
Nabil merapikan kemeja dan dasinya lalu dia berjalan perlahan ke pintu di depannya. Dia mengetuk pintu itu. Tok! Tok! Tok!
" Masuk!" sahut orang yang berada di dalam ruangan.
Nabil membuka pintu dan masuk ke dalam.
" Assalamu'alaikum!" salam Nabil pada seorang pria muda yang duduk di kursi kerjanya.
" Hmm!" sahut pria itu.
Nabil menghela nafasnya melihat orang di depannya itu yang hanya berdehem saja saat dia mengucap salam, padahal dia tahu jika pria itu beragama Islam.
" Duduk, Bil!" suruh pria itu.
" Trima kasih, Pak!" jawab Nabil.
" Nanti malam ada meeting di Hotel Aurora, kita disuruh Bos kesana!" kata pria itu.
" Jam berapa, Pak?" tanya Nabil sambil menulisnya di sebuah buku catatan kecil yang selalu siap disakunya.
" Jam 8 malam! Jangan telat!" jawab pria itu lagi.
" In Yaa Allah, pak!" jawab Nabil.
Ponsel Danis berbunyi, nama Bos tertera dilayar.
" Ya, Bos?"
" Keruanganku!"
" Ya, Bos!"
" Maaf, Pak Danis!" panggil Nabil.
" Hmm?
" Apa harus ya meetingnya di Hotel?" tanya Nabil.
" Maksud kamu?" tanya Danis dengan wajah tidak sukanya.
" Maksud saya apa nggak bisa disini saja?" tanya Nabil lagi.
" Dengar! Kamu itu hanya pegawai disini, gak usah ngatur-ngatur!" kata Danis marah.
" Maaf, Pak! Saya hanya bertanya!" ucap Nabil takut.
" Ini pertama dan terakhir kamu melakukan ini, kamu dengar?" ancam Danis.
" I...iya,Pak! Saya minta maaf!" mohon Nabil.
Nabil takut jika Danis memberitahukan hal ini pada Bosnya, karena dia tidak mau dipecat dari perusahaan besar ini.
" Dokumen ini kamu periksa, berikan pada Norma jika sudah selesai!" kata Danis masih dengan nada marah.
" Iya, Pak!" jawab Nabil.
__ADS_1
Danis menyodorkan dokumen yang dimejanya pada Nabil, kemudian dia berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Nabil sendiri untuk memeriksa dokumen itu.
" Astaughfirullah! Hampir saja!" ucap Nabil ambigu.
Danis berjalan menuju ruang yang terdapat di sebwlah ruangannya. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Dilihatnya Bosnya sedang dicumbu oleh kekasihnya, Carissa. Carissa menc*um* leher Bosnya dengan agresif, dia menj*l*rkan lidahnya untuk menj*l*t*nya!
" Hentikan, Risa! Aku tidak suka tubuhku b*s*h saat bekerja!" kata Bosnya yang sedari tadi hanya diam tanpa memberikan respon apapun. Danis hanya diam di depan pintu sambil membelakangi mereka.
" Aku harus kerja!" ucap Bos Danis melepaskan pelukan Carissa.
" Brian sayang! Ayolah! Kamu baru saja datang semalam dan aku kangen sekali padamu!" ucap Carisa manja di pangkuan Brian.
" Kamu tahu aku tidak suka mengulang ucapanku!" kata Brian dingin.
Carisa sontak turun dari pangkuan Brian dan mengambil tasnya di meja, dia takut jika Brian sudah bicara dengan nada seperti itu.
" Aku pergi dulu! Jangan lupa nanti malam aku tunggu di apartement!" ucap Carisa lalu berjalan ke pintu dan keluar dari ruangan Brian.
" Dasar wanita manja!" ucap Brian ambigu.
" Bos!" sapa Danis.
" Bagaimana dengan proyek kita di Bali?" tanya Brian.
" Semua sudah beres Bos! Tinggal menunggu finishing saja!" jawab Danis.
" Apa nanti malam semua sudah siap?" tanya Brian.
" Sudah, Bos! Nanti saya akan pergi dengan Nabil!" ucap Danis.
" Kamu percaya sekali dengan si Nabil ini!' ucap Brian.
" Dia sangat kompeten dengan pekerjaannya dan jujur, Bos!" jawab Danis.
" Hmmm! Menarik! Pasti dia sangat setia pada kita! Aku akan datang nanti malam!" ucap Brian.
" Nona Carissa?" tanya Danis.
" Ckk! Monoton!" jawab Brian.
Carissa adalah putri dari sahabat mamanya dan dia adalah teman kuliah adik Brian, Briana. Mereka berhubungan karena perjodohan orang tua, tapi Brian tidak suka dinodoh-jodohkan karena itu dia hanya bermain-main saja dengan Carissa.
Pekerjaan Brian menumpuk akibat kepergiannya ke Bali selama 2 hari, ditambah dengan kedatangan Carissa.
" Apa nanti dia tidak akan marah, Bos?" tanya Danis.
" Memang aku perduli!" jawab Brian.
Danis hanya menghela nafas panjang. Bosnya memang orang yang sangat percaya diri, karena dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan baik itu dengan cara halus maupun kasar bahkan dengan cara kotor sekalipun.
Seorang Brian Daniel Manaf tidak pernah tunduk atau menyerah kepada siapapun atau apapun selain mamanya. Bahkan papanya sendiri terkadang bersitegang dan bertentangan dengan dirinya.
Waktu terasa berjalan begitu cepat, jam sudah menunjuk angka 5 sore.
" Bos! Sudah jam 5!" Ucap Danis.
__ADS_1
" Aku mau istirahat sebentar, semalam aku hanya tidur 2 jam saja! Kita pulang saja!" ucap Brian.
Danis membereskan ruangan Brian dan menyimpan seluruh dokumen ke dalam kabinet yang ada di pojok ruangan Brian. Setelah selesai, mereka keluar dan pergi menuju lift khusus untuk Pimpinan dan keluarha Perusahaan. Mobil yang dikendarai Danis keluar dari perusahaan dan membelah jalan raya mengantarkan Brian ke apartementnya.