Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
34


__ADS_3

" Baiklah kalo memang seperti itu! Saya minta maaf karena telah mengganggu anda! Permisi! Selamat Pagi!" kata Danis dengan wajah kecut.


" Silahkan! Tidak memgganggu sama sekali! Selamat Pagi!" jawab Harun.


Selain dia tidak mau, Harun juga merasa jika Brian tidak bersungguh-sungguh meminta tolong, karena dia tidak datang sendiri kepadanya, malah mengutus Danis padanya.


Danis melangkah keluar ruangan Harun dan menghubungi Brian. Dia takut sekali akan kemarahan Bosnya karena tidak berhasil meminta Harun untuk mengajarinya.


" Halo, Bos!" sapa Danis saat ponselnya terhubung.


" Bagaimana?" tanya Brian.


" Maaf, Bos! Dia... tidak bersedia!" ucap Danis takut.


" Dasar Bodoh! Mengurus hal sepele begitu saja kamu nggak bisa! Bener-bener nggak guna! Tunggu saya disana!" terial Brian marah.


" Ba...baik Bos!" balas Danis ketakutan.


Brian menutup panggilan dari Danis dan menghubungi Ganda, sopir kantornya. Setelah mengendarai mobil selama hampir sejam, Brian telah sampai di Yayasan milik Keluarga Harun. Danis yang telah menunggu di pos penjagaan, langsung menyuruh Ganda masuk ke parkiran setelah dia memberitahu satpam jika itu mobil Bosnya.


" Bos!" sapa Danis menundukkan kepalanya.


" Dasar gak guna!" ucap Brian yang telah keluar dari mobilnya.


Danis hanya menundukkan kepalanya.


" Dimana dia?" tanya Brian marah.


" Silahkan Bos!" kata Danis lalu berjalan di depan menuju ke ruangan Harun.


Tok! Tok! Tok!


Danis mengetuk Pintu ruangan Harun.


" Ya, masuk!" jawab Harun.


Harun terkejut saat melihat ke arah pintu yang terbuka. Brian berdiri di hadapannya dengan tampang sombongnya. Pria arogan yang telah membuat kehidupannya penuh dengan masalah.


" Assalamu'alaikum!" ucap Brian.


" Wa'alaikumsalam Wr. Wb!" jawab Harun terkejut mendengar salam dari Brian, begitu juga dengan Danis.


" Apa kabar Ustadz?" tanya Brian melepas kacamata hitamnya.


" Alhamdulillah baik!" jawab Harun datar.


" Boleh saya masuk?" tanya Brian datar.


" Silahkan!" jawab Harun.


Brian masuk ke dalam ruangan Harun dan duduk di sofa yang ada disitu dengan kaki kanan ditumpangkan diatas betis kaki kirinya sementara tangannya direntangkan diatas sandaran sofa. Harun berdiri dari kursinya dan duduk di single sofa di samping Brian.


" Jika anda kesini hanya untuk hal itu, saya masih tetap pada pendirian saya!" kata Harun tegas.


" Saya tahu, ustadz pasti tersinggung karena saya tidak datang kesini sendiri! Karena itu saya datang kesini untuk meminta tolong agar ustadz mau mengajarkan saya tentang islam!" kata Brian penuh penekanan.


" Tapi saya bukan orang yang tepat untuk mengajari anda! Ilmu saya belum seberapa!" jawab Harun kekeh.

__ADS_1


Brian terdiam, tangannya meremas keras sofa yang didudukinya.


" Saya dengar anda sedang mencari lahan untuk sebuah panti asuhan di derah barat?" kata Brian menatap Harun.


Harun kaget mendengar ucapan Brian, karena dia memang sedang merencanakan mencari lahan di daerah barat guna mendirikan sebuah pesantren impiannya. Karena disana adalah daerah yang masih hijau dan luas.


" Saya bisa memberikan lahan dan juga membangunnya untuk Ustadz!" kata Brian santai.


Dia yakin penawarannya ini tidak bisa diabaikan Harun begitu saja. Harun bisa saja mengedepankan rasa egoisnya dan juga harga dirinya, tapi anak-anak asuhnya butuh pesantren untuk tempat belajar juga dia ingin memberikan pendidikan agama yang baik untuk anak-anak muslim di Indonesia.


" Kenapa anda ingin belajar?" tanya Harun akhirnya.


" Karena saya janji dengan istri saya untuk mempelajarinya dalam waktu satu bulan!" jawab Brian.


" Islam tidak bisa dipelajari hanya dalm waktu satu bulan saja! Butuh bertahun-tahun lamanya bahkan seumur hidup kita untuk mendalaminya!" kata Harun.


" Saya hanya butuh Ustadz mengajari saya dasar-dasar Islam, terutama tentang shalat dan mengaji!" kata Brian lagi.


" Itu juga tidak bisa hanya sebulan saja!" kata Harun kesal.


" Saya orang yang cerdas!" jawab Brian sombong.


Harun menghela nafasnya lagi mendengar kesombongan pria disampingnya itu.


" Apa anda tidak ingin mempelajari semua karena Allah?" tanya Harun. Brian mengernyitkan dahinya.


" Karena itu ajari saya! Dan Ustadz akan mendapatkan apa yang Ustadz impikan!" kata Brian.


Harun menatap tajam mata Brian, dia mencari kesungguhan pada ucapan pria itu.


" Baik! Datang kesini setiap jam 4 sore sampai jam 8 malam!" kata Harun.


" Tapi saya jam segitu mengajar di kampus!" kata Harun.


Brian terdiam dan berpikir.


" Jam berapa ustadz selesai?" tanya Brian.


" Saat makan siang, jam 12!" jawab Harun.


" Saya akan datang ke kampus ustadz jam 1 siang sampai jam 5 sore!" ucap Brian.


" Baik!" jawab Harun.


Brian mengulurkan tangannya dan diterima oleh Harun.


" Jangan sampai ada orang tahu tentang ini!" kata Brian.


" Tentu saja! Anda bisa percaya!" jawab harun.


" Kita mulai nanti?" tanya Brian.


" Boleh!" jawab Harun.


" Nanti Asisten saya akan memberikan surat perjanjian kita agar bisa Ustadz pelajari dulu!" kata Brian.


Harun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum!" pamit Brian.


" Wa'alaikumsalam!" jawab Harun puas.


Brian melenggang keluar dari ruangan Harun dan menuju ke mobilnya.


" Segera siapkan dokumen perjanjian dan berikan padanya untuk dipelajari!" kata Brian pada Danis.


" Siap, Bos!" jawab Danis.


" Dokumen tanah ada sama Karin!" kata Brian lagi.


" Siap,Bos!" sahut Danis.


" Hubungi Nabil, jika dia main-main dengan pekerjaannya, bilang padanya aku nggak akan segan-segan mengambil kembali milikku!" kata Brian.


" Iya, Bos!" kata Brian.


Hmm! Dia kembali menjadi Bos yang dingin dan angkuh! batin Danis. Brian kembali ke kantornya dan melanjutkan meeting disana.


Sementara di kediaman Fatma, Ummi sedang memasak untuk makan siang dengan dibantu Fatma dan Rania.


" Apa Abang akan makan dirumah, Nia?" tanya Salma.


" Tidak, Ummi! Kak Arkan ada meeting di restoran sekalian makan siang!" jawab Rania.


" Hmmm, anak itu! Sudah berkali-kali ummi beritahu, tapi masih saja begitu!" kata Salma kecewa.


" Maafkan Kak Arkan, Ummi! Dia sebenarnya nggak mau, tapi kliennya yang memaksa karena istrinya sedang tidak enak badan dan dia tidak mau jauh-jauh darinya!" kata Rania.


" Syukurlah jika memang ada alasan yang tepat!" jawab Salma.


" Suamimu bagaimana, Dek?" tanya Salma.


" Heh?" sahut Fatma, dia dari tadi melamun memikirkan tentang Brian.


" Apa suamimu akan makan siang di rumah?" tanya Salma.


" Eh..anu..nanti Adek telpon Ummi!" jawab Fatma gugup.


" Kamu mikir apa , nak?" tanya Salma.


" Nggak ada Ummi!" ucap Fatma.


" Jika kamu memang yakin padanya dan mau dia menjadi suamimu seutuhnya, bantulah dia dengan do'amu!" kata Salma tegas.


Fatma tidak menyangka Umminya akan bicara seperti itu, karena dia berpikir jika Umminya sedih karena dia mendapatkan suami seperti Brian.


" Trima kasih, Ummi!" kata Fatma dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk Umminya.


" Sudah! Kamu telpon dulu sana!" kata Salma


Fatma bergegas pergi ke kamarnya, Salma dan Rania hanya tersenyum melihat tingkah Fatma.


" Semoga pemuda itu serius dengan niatnya!" do'a Salma.


" Aamiin!" jawab Rania.

__ADS_1


Fatma masuk ke dalam kamarnya dan meraih ponselnya, dia ragu untuk menelpon atau mengirim pesan pada Brian. Apa yang harus aku katakan? batin Fatma. Jam telah menunjukkan angka 11 lewat, sebentar lagi dzuhur dan waktunya makan siang. Saat dia bingung dengan memandangi ponselnya, tiba-tiba ponsel itu berdering dan nama DIA tertera di layar. Fatma terkejut melihat nama di ponselnya dan hampir saja ponsel tersebut terjatuh. Fatma hanya diam saja dan melamun melihat ponselnya, hingga deringan beberapa kali, baru dia tersadar lalu mengangkatnya.


__ADS_2