
Sementara itu di kediaman keluarga Fayyad, saat siang hari tadi. Ummi Fatma menunggu kedatangan suaminya yang tidak kunjung datang setelah mengantar Fatma.
Ummi Fatma berjalan mondar-mandir di teras depan sambil melihat ke arah pagar. Tidak biasanya Abi pergi sampai jam segini! batin Ummi Fatma. Hingga jam menunjuk angka 9, orang yang ditunggu-tunggu tidak juga datang. Dinyalakannya ponsel yang sedari tadi dia pegang dan sekali-sekali dia lihat, barangkali ada telpon atau pesan masuk dari suaminya, tapi hasilnya juga sama, tidak ada apa-apa. Ummi Fatma menjadi resah, dia membuka aplikasi hijaunya dan mencari nama suaminya. Ditekannya tulisan "Abi" hingga terlihat ruang chat disitu. Ditekannya ikon bergambar telpon dipojok kanan atas ponsel, terlihat "menghubungkan" saja. Dicobanya hingga beberapa kali, tapi masih sama. Abi dimana? batin Ummi Fatma semakin khawatir.
" Ummi!"
" Astaughfirullah! Sriiiii! Bikin kaget aja!" kata Ummi Fatma mengelus dadanya.
" Maaf, Ummi! Apa nggak shalat dhuha? Saya cari di Mushalla kok gak ada!" kata Sri.
" Masya Allah! Saya sampe lupa! Ayo!" jawab Ummi Fatma yang langsung berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Setelah selesai shalat dhuha, Ummi Fatma kembali duduk di teras rumah menunggu suaminya. Ummi Fatma kemudian mencoba menghubungi putrinya, tapi hasilnya juga sama, dilayar ponsel hanya tertulis "menghubungkan". Ummi Fatma tahu jika Fatma sedang mengajar, dia selalu mematikan ponselnya dan akan membuka saat jam makan siang, sedangkan Ummi Fatma tidak memiliki nomor telpon sekolah dimana Fatma mengajar.
Ummi Fatma duduk di kursi teras, karena kakinya terasa pegal. Dia menghela nafas panjang sambil memejamkan kedua matanya. Ya Allah, lindungilah suami dan anak-anak hamba dimanapun mereka berada! Aamiin! do'a Ummi Fatma dalam hati.
" Ummi! Apa makan siang sudah bisa dihidangkan?" tanya Sri tiba-tiba.
" Masya Allah, Sriiii! Apa kamu bener-bener mau bikin saya jantungan!" kata Ummi Fatma.
" Maaf, Ummi! Bukannya barusan saya bicaranya pelan! Nggak seperti tadi!" kata Sri serba salah.
" Memang pelan, tapi saya jadi takut, suaramu jadinya seperti suara hantu!" balas Ummi Fatma.
" Jadi saya salah lagi, Ummi?" tanya Sri mengerutkan keningnya.
" Astaughfirullah! Sabar! Sabar!" u ap Ummi Fatma mengelus dada melihat tingkah PRTnya itu.
" Jadi bagaimana makanannya, Ummi?" tanya Sri lagi.
" Jangan dulu Sri! Abi dari tadi belum pulang juga!" jawab Ummi sedih.
" Masya Allah! Jadi dari pagi hingga sekarang Abi belum pulang?" tanya Sri ikutan khawatir.
" Iya, Sri! Semoga Abi baik-baik saja, ya, Sri! Perasaanku, kok, jadi nggak enak, ya!" kata Ummi.
" Aamiin! Ins Yaa Allah, Ummi! Semoga Allah selalu melindungi Abi! Aamiin!" balas Sri dibarengi Ummi Fatma.
Arkan menelpon Rania agar mempercepat kepulangannya ke rumah. Tapi sebelum itu Arkan menyuruh istrinya untuk datang ke rumah Umminya.
" Assalamu'alaikum!" sapa Rania pada ibu mertuanya yang dilihatnya sedang serius memandang HPnya.
" Wa'alaikumsalam! Rania?" balas Ummi Fatma terkejut.
" Ummi sedang apa diluar?" tanya Rania sambil mencium punggung tangan Ummi Fatma.
" Kamu disini? Apa Abang sudah tahu?"
" Sudah, Ummi! Kak Arkan tadi bilang mau jemput Rania disini!" jawab Rania.
" Ummi kenapa diluar?" tanya Rania lagi.
__ADS_1
" Abimu belum pulang sejak tadi pagi!" jawab Ummi dengan mata berkaca-kaca.
Rania menghela nafas panjang, dia merasa bersalah pada ibu mertuanya karena harus ikut berbohong tentang keberadaan ayah mertuanya.
" Ummi ikut Rania aja, ya, periksa kehamilan!" ajak Rania gugup.
" Periksa? Bukannya minggu kemarin kalian sudah periksa kehamilan, ya?" kata Ummi.
" Eh, e, itu...Rania semalam merasa sedikit nyeri di perut bagian bawah, Ummi!" jawab Rania dengan jantungnya yang sudah berdetak kencang.
" Hal itu biasa, nak! Karena kandungan kamu sudah berusia 9 bulan lebih! Itu disebut kontraksi!" tutur Ummi Fatma.
" Iya, Ummi! Tapi..."
Belum sampai Rania bicara, mobil Arkan datang dan keluarlah suaminya dari dalam mobil.
" Assalamu'alaikum!" salam Arkan.
" Wa'alaikumsalam!" balas Ummi Fatma dan Rania bersamaan.
" Lho, kok pada diluar?" tanya Arkan sambil mencium punggung tangan Umminya.
" Iya, Kak! Aku baru aja datang dan Ummi bilang katanya Abi belum pulang juga hingga sekarang!" kata Rania sambil mencium punggung tangan suaminya dan Arkan mengecup kening Rania dengan lembut. Mata mereka saling bertemu dan menyiratkan sesuatu.
" Anak Abi baik-baik disana?" tanya Arkan sambil berjongkok dan mencium perut besar istrinya dengan penuh kasih sayang.
" Alhamdulillah baik, Abi!" jawab Rania dengan senyuman manisnya.
" Alhamdulillah!" sahut Arkan.
" Sudah coba dihubungi?" tanya Arkan berdiri dari jongkoknya.
" Sudah! Ponselnya mati!" jawab Ummi Fatma.
" Mungkin Abi ketemu teman ato ponselnya hilang, Ummi!" kata Arkan.
" Ummi hanya khawatir!" adu Ummi Fatma.
" Kita ke rumah sakit dulu, ya, Ummi! Nanti abang akan cari Abi. Kasihan Rania!" pinta Arkan.
" Ummi dirumah saja, takut Abimu tiba-tiba datang!" kata Ummi Fatma.
" Ummi! Jam 1 siang Abang ada meeting penting, jadi Abang minta tolong Ummi menemani Rania ke dokter Aulia!" pinta Arkan lagi.
" Tapi..."
" Ummi! Apa Ummi gak kasihan sama calon cucu Ummi?" rayu Arkan.
Ummi Fatma hanya diam saja menatap pada menantunya.
" Kalo Ummi gak bisa, jangan dipaksa, Kak! Rania bisa pergi sendiri, kok! Ummi bener, kalo nanti Abi tiba-tiba datang gimana?" kata Rania membela Ummi Fatma.
__ADS_1
" Sshhhhh!" Rania pura-pura meringis memegangi perut bagian bawahnya.
" Kenapa? Sakit lagi?" tanya Arkan.
" Sedikit!" jawab Rania.
" Kalo gitu kami pamit dulu Ummi! Nanti setelah meeting abang janji akan cari Abi!" kata Arkan.
" Kamu beneran gak papa kan kalo nanti kakak tinggal?" tanya Arkan dibarengi anggukan kepala Rania.
" Iya, Kak! Gak papa!"
Arkan memegang lengan atas Rania lalu menyalami Umminya dengan wajah khawatir.
" Kami pergi, Ummi! Assalamu'alaikum!" pamit Arkan.
" Wa'alaikumsalam!" balas Ummi Fatma ragu.
" Tunggu!" panggil Ummi Fatma saat Arkan dan Rania sudah membalikkan tubuh mereka.
Arkan dan Rania saling pandang dan tersenyum.
" Ya, Ummi?" sahut Arkan menolehkan kepalanya.
" Ummi ikut!" kata Ummi Fatma yang berjalan masuk ke dalam rumah dan beberapa saat kemudian keluar sambil membawa tas tangan.
" Pokoknya kalo Abi datang harus langsung telpon, ya, Sri! Langsung telpon, ingat!" kata Ummi Fatma penuh penekanan.
" Iya, Ummi! Jangan khawatir! Langsung saya telpon!" balas Sri.
" Bagus! Ayo, Bang!" ajak Ummi Fatma yang sudah berjalan menuju mobil Arkan.
Mereka sudah berkendara ke rumah sakit selama beberapa menit.
" Kamu pindah rumah sakit, Ran?" tanya Ummi yang merasa jika jalanan yang dilewati bukan ke rumah sakit Kasih Ibu.
" Eh, iy...iya, Ummi! Dokter Aulia sekarang sedang praktek di rumah sakit yang akan kita tuju sekarang!" kata Rania gugup.
Untung saja dia duduk di belakang, jadi ibu mertuanya tidak melihat wajahnya yang telah berbohong. Astaughfirullah! Maafkan Rania, Ummi! batin Rania.
" Ooo, Ummi kira Abang nyasar ato mau mampir dulu kemana gitu!" kata Ummi Fatma tidak merasa curiga.
Mobil telah sampai di parkiran Rumah Sakit Al Islami. Arkan turun untuk mengambil kursi roda di depan pintu RS.
" Ayo, duduk, sayang!" kata Arkan mendudukkan istrinya yang keluar dari mobil.
Mereka bertiga masuk ke dalam RS dan langsung menuju ke ruang VVIP.
" Apa ini ruang periksanya? Kok ada angkanya?" tanya Ummi Fatma.
" Kita masuk dulu ya, Ummi!" ajak Arkan.
__ADS_1
" Iya! Kalo kamu mau pergi, pergilah! Biar Ummi yang ngantar!" lata Ummi Fatma.
" Baiklah! Abang antar ke dalam dulu, baru abang pergi!" kata Arkan dengan dada berdebar-debar sangat kencang. Maafkan Abang, Ummi! batin Arkan.