
" Abi? Fatma?" panggil seseorang dari belakang Fatma, Fatma membalikkan tubuhnya dan dilihatnya seorang pria yang dikenalnya.
" Nabil!" sapa Abi Fatma.
" Permisi, Pak! Saya menantunya" kata Nabil membelah kerumunan orang.
" Assalamu'alaikum, Abi! Fatma! Ada apa ini?" tanya Nabil lsetelah berhasil mendekat dan jongkok di dekat Abi Fatma.
" Wa'alaikumsalam, Bil!" jawab Abi.
Sementara Fatma hanya menunduk tanpa melihat kepada Nabil.
" Kita baru saja mendapatkan kecelakaan, Kak!" jawab Fatma.
" Innalillahi! Kaki Abi berdarah! Ayo, aku antar ke rumah sakit!' ucap Nabil sambil menggendong Abi Fatma dan memasukkan ke dalam mobilnya dibantu orang- orang yang ada di selitar mereka.
" Motornya?" tanya Fatma masih melihat ke bawah.
" Kamu bisa membawanya kan?" tanya Nabil.
" Abi tidak akan mengizinkan!" jawab Fatma pelan.
" Astaghfirullah! Iya, aku lupa!" kata Nabil menepuk keningnya.
Abi Fatma tidak akan mengizinkan Fatma naik kendaraan apapun sendirian tanpa saudaranya. Nabil melihat ke sekitar dan mendapati seorang pria dengan jaket khusus. Nabil menuntun motor Abi Fatma ke tempat orang itu.
" Mang! Bisa minta tolong?" tanya Nabil.
" Ya, Bang?" jawab orang itu.
" Saya titip motor ini bisa? Nanti siang saya ambil kembali!" kata Nabil.
" Iya, Bang! Saya mangkal disini! Nanti kalo saya lagi ngojek, saya titipin ke teman saya! Nama saya Ujang!" jawab Ujang.
" Terima kasih mang ujang! Saya Nabil!" balas Nabil lalu merogoh sakunya.
" Saya permisi dulu ya mang! Saya titip motor mertua saya!" kata Nabil kemudian mengulurkan tangannya dan disambut oleh Ujang.
" Lho apa ini Bang?" tanya Ujang yang melihat beberapa lembar uang sebesar 100 ribuan diselipkan ditangannya.
" Buat beli rokok, mang!" jawab Nabil dengan tersenyum.
" Kebanyakan ini mah!" kata Ujang yang bermaksud menyerahkan kbali uang itu.
" Rejeki jangan ditolak, mang! Jangan khawatir, itu uang halal!" balas Nabil sambil menggenggam tangan Ujang.
" Alhamdulillah! Ini ikhlas kan, bang?" tanya Ujang.
" Ins Yaa Allah ikhlas!" jawab Nabil lagi.
" Trima kasih banyak, Bang! Semoga rejekinya lancar!" ucap Ujang.
" Masya Allah! Aamiin, mang Ujang juga sama!" balas Nabil.
" Assalamu'alaikum!" pamit Nabil.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam!" balas Ujang.
Nabil berjalan mendekati mobilnya lalu membuka pintu mobil bagian kemudi.
" Motor Abi sudah aman, nanti siang Nabil ambil, Bi!" kata Nabil sambil duduk di kursi kemudi.
" Alhamdulillah! Trima kasih, ya, Bil!" balas Abi Fatma.
" Sama-sama, Bi!" balas Nabil sambil melirik ke calon istrinya.
Sedangkan Fatma yang dilirik tidak menyadari karena dia memijit paha Abinya untuk mengurangi rasa sakit di kakinya. Fatma sudah duduk disamping Abinya yang terbaring sedari Nabil pergi membawa motor Abinya. Tidak lama kemudian Nabil menyalakan meain mobil dan membawa Fatma serta Abinya meninggalkan tempat itu untuk menuju Rumah Sakit terdekat.
" Abi tahan dulu ya, sakitnya!" ucap Nabil pelan disela-sela perjalanan ke Rumah Sakit.
" Iya, Bil! Abi masih kuat menahannya, nggak apa-apa!" jawab Abi Fatma yang sesekali meringis menahan sakit akibat guncangan mobil.
Nabil melirik ke arah spion mobilnya, dilihatnya wajah cantik Fatma yang terlihat sedih memandangi Abinya.
" Ehmmm!" dehem Abi Fatma yang pura-pura tidak melihat tatapan mata Nabil.
Astaghfirullah! batin Nabil yang telah menyadari kesalahannya dengan menatap Fatma. Nabil s9ntak mengalihkan pandangannya. Fatma yang mendengar Abinya berdehem langsung melihat ke arah pria setengah baya itu.
" Apa ada yang sakit, Bi?" tanya Fatma cemas.
" Enggak! Hanya sepertinya tadi ada nyamuk yang nakal!" jawab Abi Fatma dengan tersenyum.
Nabil hanya tersenyum malu mendengar ucapan calon mertuanya.
Sesampai di rumah sakit, Nabil langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam IGD. Beberapa saat kemudian dia datang bersama seorang perawat perempuan dan laki-laki yang mendorong sebuah brankar. Nabil membuka pintu mobil dan membantu mengeluarkan Abi Fatma dari dalam mobil.
" Pelan-pelan, Suster!" ucap Nabil pada perawat laki-laki yang membantu mengangkat calon mertuanya.
" Maaf mbak sama Masnya silahkan tunggu diluar!" kata perawat perempuan itu.
" Iya, Suster! Tolong Abi saya, Suster!" kata Fatma dengan raut wajah cemas.
" Kami akan melakukan yang terbaik!" kata perawat itu lalu menutup pintu ruang IGD.
Fatma dan Nabil duduk di ruang tunggu IGD setelah Fatma mendaftarkan Abinya di bagian pendaftaran pasien. Fatma meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
" Siapa yang kamu telpon?" tanya Nabil pada Fatma yang sedang menunggu penerima telpon menjawab panggilan Fatma.
" Kepala Sekolah saya, Kak!" jawab Fatma sambil memperhatikan lantai di depannya tanpaberani melihat Nabil.
" Aku tinggal dulu sebentar, ya! Aku harus pergi ke kantor untuk izin pada atasan!" kata Nabil lembut.
" Iya, Kak! Biar aku saja yang menunggu Abi! Trima kasih sudah menolong kami!" kata Fatma lembut.
Jantung Nabil mendadak berdetak dengan kencang mendengar suara mersu calon istrinya itu. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan! batin Nabil bersyukur karena mendapatkan Fatma sebagai calon istrinya.
" Aku pergi! Assalamu'alaikum!" pamit Nabil.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Fatma dengan dada berdebar-debar.
Sejak dia di khitbah oleh Nabil, entah kenapa setiap kali dia berbicara dengan calon suaminya itu dadanya selalu seperti itu.
__ADS_1
Setelah kepergian Nabil dan pemberitahuannya pada pihak sekolah, Fatma ragu untuk memberikan kabar kepada Umminya. Dia khawatir akan membuat umminya menjadi panik dan sesih. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Arkan, karena dia berpikir jika Daffa pasti sudah masuk kelas pagi-pagi gini.
Ada nada sambung terdengar ditelinga Fatma, tapi tidak diangkat Arkan Sekali lagi Fatma menghubungi abangnya itu. Setelah beberapa lama,
" Assalamu'alaikum, Dek!"
" Wa'alaikumsalam, abang!"
" Ada perlu apa pagi-pagi sudah menghubungi abang?"
" Emm...ini tentang Abi, bang!"
" Abi? Abi kenapa, Dek?"
" Abi dan Fatma lagi di rumah sakit, bang!"
" Apa? Siapa yang sakit?"
" Abi, Bang! Kaki Abi berdarah karena jatuh!"
" Innalillahi! Sekarang bagaimana keadaan Abi? Jatuh dimana? Apa sama kamu juga?"
" Masih di ruang IGD, bang! Iya, sama Fatma!"
" Abang kesana sekarang!" -
" Iya, bang! Fatma tunggu! Maaf mengganggu abang kerja! Assalamu'alaikum!"
" Nggak pa-pa! Wa'alaikumsalam!"
Fatma menutup panggilannya dan melihat ke pintu ruang IGD dengan perasaan khawatir. Setelah beberapa lama,
" Keluarga bapak Azzam Fayyad!" seorang pria memakai jas putih memanggil nama Abi Fatma.
" Iya, Dok!" jawab Fatma lalu berjalan mendekati pria tersebut.
" Keluarga Pak Azzam?" tanya pria tersebut.
" Iya! Saya putrinya! jawab Fatma menunduk, tanpa berani menatap orang tersebut.
" Bapak kamu kakinya terluka cukup parah, tapi sudah bisa diatasi dan tidak ada yang serius! Tapi kita masih perlu observasi lagi beberapa hari!" ucap pria tersebut.
" Alhamdulillah Ya Allah! Apa Abi saya sudah bisa dilihat dokter?" tanya Fatma.
" Sudah! Tapi biar dipindah ke kamar dulu!mbaknya silahkan ke bagian pendaftaran lagi untuk mengurus kamar ayahnya!" jelas dokter tersebut.
" Ya, Dok!" jawab Fatma.
" Kalo begitu saya permisi!" kata dokter itu.
" Trima kasih, Dokter!" kata Fatma.
" Sama-sama"! balas dokter itu.
" Assalamu'alaikum!" pamit Fatma.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam!" jawab dokter itu.
Hmmm! Gadis yang soleha! Apa sudah ada yang memiliki? batin dokter tersebut. Fatma melangkahkan kakinya menuju meja pendaftaran.