
Saya akan keluar dari sini dan perlu Om tahu, bukan salah saya jika banyak wanita menginginkan saya!" kata Brian kesal.
" Kau...!" Mark menahan amarahnya yang semakin besar mendengar perkataan Brian, sedangkan Brian menatap pria setengah baya itu dengan tajam.
Tidak ada sama sekali ekspresi ketakutan di wajah Brian, karena dia tidak takut dengan apapun atau siapapun.
" Hukum dia seberat-beratnya!" kata Mark pada polisi yang berjaga disitu lalu pergi meninggalkan Brian yang diam dengan wajah tenangnya.
" Satu lagi! Kamu akan mendapatkan karmamu suatu saat nanti!" kata Mark sinis.
Brian hanya diam, Kenapa Danis belum datang juga? Pasti ada yang bermain dibelakang ini semua! Dan aku akan menghancurkan kalian! batin Brian marah. Brian akan dimasukkan ke dalam sel saat Danis dan Norman datang.
" Bos!" sapa Danis.
" Bagaimana?" tanya Brian.
" Masih dicari, kami sudah meminta penangguhan tahanan!" kata Danis.
" Kami pamit dulu, ini ada makanan dan minuman!" kata Danis.
" Lakukan secepatnya!" kata Brian.
Zahirah! Sabarlah sayang! Tolong percaya padaku! batin Brian frustasi. Dia memejamkan mata dan menarik rambutnya.
Ditempat lain, Danis mengalami sedikit kesulitan dalam menyelidiki kasus Ashley, hal ini dikarenakan adanya orang yang berusaha menghalang-halangi penyelidikannya. Tapi dia tetap menyelidiki kasus Ashley dengan menghubungi beberapa kenalannya guna mencari tahu siapa dalang di balik itu.
Sebenarnya kejadian itu bersamaan dengan kepergian mereka ke Malaysia, hanya saja alibinya lemah karena saat kejadian pemerkosaan Brian sedang sendirian di apartementnya sepulang dari pertemuannya dengan Datuk Imran. Rencananya yang akan tidur di pesawat dia urungkan karena merasa lebih nyaman tidur di apartement. Dan yang lebih memberatkan adalah Ashley mengirimkan beberapa pesan padanya.
Fatma termenung di kamarnya, dia ingin mengunjungi Brian di penjara, tapi Brian telah melarangnya untuk datang. Dia hanya bisa berdo'a, meminta pada Allah SWT agar melindungi suaminya dari segala godaan syetan dan fitnah dunia. Azzam dan Salma memandang putrinya dengan perasaan sedih melihat wajah murung putrinya.
" Adek!" panggil Azzam malam itu.
" Ya, Abi?" jawab Fatma.
" Apa kamu baik-baik saja, nak?" tanya Azzam.
" Alhamdulillah, adek baik, Bi!" jawab Fatma mencoba untuk tenang.
" Boleh Abi tahu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Azzam lagi dengan lembut.
Fatma menatap abinya dengan wajah bingung.
" Jika kamu merasa tidak nyaman dengan semua ini, apapun keputusanmu, kami akan mendukungmu, nak!" kata Salma dengan tersenyum. Kedua orang tuanya memang sangat menyayangi anak-anaknya dan mereka tidak pernah terlalu mencampuri urusan anak-anaknya jika memang mereka anggap masih bisa diatasi.
" Lebih baik kamu minta talak padanya, Dek!" kata Arkan tiba-tiba.
" Astaghfirullah, Abang! Allah sangat membenci perceraian, apa kamu lupa hal itu?" kata Azzam kaget.
__ADS_1
" Tapi dia telah mencemarkan nama baik keluarga kita, Bi! Untung saja kamu menolak menikah resmi dengannya!" kata Arkan sedikit emosi. Azzam dan Salma hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan Arkan. Fatma tidak menyalahkan abangnya karena mengatakan hal itu, dia tahu jika abangnya sangat menyayanginya dan ingin yang terbaik untuknya.
" Abang akan minta Harun untuk mengkhitbahmu!" kata Arkan tiba-tiba.
" Abang! Itu bukan hakmu untuk melakukan!" kata Azzam marah.
" Tapi Abang tahu jika Harun menyukai Fatma, Bi!" kata Arkan.
" Fatma akan memberinya kesempatan, Bi! Ummi! Abang!" kata Fatma ditengah ketegangan antara mereka.
Arkan terkejut mendengar ucapan Fatma.
" Dia pernah menyelamatkan kehormatan keluarga kita, sekarang impas! Jika dia melakukannya lagi, maka dengan seizin Abi dan Ummi, Adek akan melepasnya!" tutur Fatma.
" Dia kotor, dek! Dia menyentuh wanita lain sebelum dan saat bersamamu!" kata Arkan emosi.
" Arkan!" panggil Azzam sedikit teriak. Arkan terdiam, dia menundukkan kepalanya. Hati Fatma sakit mengetahui semua itu, tapi dia harus kuat. Ini pilihannya, semua adalah masa lalu dan dia berharap Brian berubah.
" Jika memang itu keputusanmu, lakukan yang menurutmu baik untuk dirimu dan keluargamu!" kata Azzam.
" Terima kasih, Abi!" jawab Fatma lega.
Di hari kedua Danis baru bisa menembus penghalang kasus Ashley.
" Tuan Mark! Anda akan mendapat balasan dari Bosku!" kata Danis ambigu.
" Jadi mereka berdua ada di tempat kejadian malam itu?" tanya Danis pada Lou, manager club dimana Ashley ditemukan tewas bunuh diri.
" Iya! Mereka pergi kira-kira menjelang subuh! Sorry, Dan, gue bener-bener ditekan!" kata Lou menyesal karena sejak kemarin bungkam.
Dia takut dipecat dan tidak bisa bekerja dimana-mama lagi.
" Sudahlah! Bos gue nggak bakal lupa sama lu!" balas Danis.
" Gue bener-bener minta maaf!" sesal Lou.
" Jadi mereka yang melakukan!" kata Danis ambigu, wajahnya memghelap menahan marah.
Danis menghubungi seseorang lewat ponselnya.
" Blokir semua jalan keluar kota dan luar negeri untuk Rino dan Noval!" kata Danis pada orang tersebut.
" Baik, Bos!" sahut orang itu.
Danis mematikan ponselnya, tapi tidak lama kemudian nama orang tersebut tertera diponselnya.
" Ya, Vik?" sahut Danis.
__ADS_1
" Mereka kabur, Bos!" kata Viko.
" Apa? Kapan? Brengsek! Hubungi anak buahmu disana, bawa mereka kembali! Hidup atau mati!" kata Danis marah.
" Siap, Bos!" jawab Viko.
Danis mematikan panggilam Viko dan menatap ketiga temannya.
" Bagaimana, Dan?" tanya Dedi.
" Mereka sudah pergi kemarin pagi! Tapi anak buah gue akan membawa mereka pulang hidup ato mati!" kata Danis tegas.
" Sekarang apa yang kita lakukan?" tanya Edwin.
" Penangguhan penahanan Bos hari ini dikabulkan oleh Hakim!" kata Norman.
" Baguslah kalo gitu!" kata Edwin.
" Bos bisa bebas hari ini?" tanya Danis.
" Tentu saja!" kata Norman.
" Kalo gitu kita segera menyusul dia!" kata Danis.
" Tapi Bos tidak mau hal ini diketahui oleh siapapun!" kata Norman.
" Apa perlu kita memberitahu Nyonya Bos?" tanya Edo.
" Iya!" kata Edwin.
" Kalian mau mati?" tanya Danis melotot.
" Astaga! Apa dia sebucin itu?" tanya Norman.
" Lihat saja sendiri kalo mereka ketemu!" kata Danis.
" Gue gak bisa bayangin kalo gue bucin! Malu sama badan!" kata Edo.
" Cih! Lu lupa sama Marina?" kata Edwin.
" Ckkk! Itu masa lalu!" kata Edo kesal.
" Hahaha!" mereka tertawa melihat wajah merah Edo.
" Sudah! Ayo pergi!" ajak Danis.
Mereka bertiga menganggukkan kepalanya dan pergi menuju ke kantor polisi untuk menjemput Brian.
__ADS_1
Fatma menatap pakaian Brian yang tergantung dilemarinya, dia merasa ada yang hilang dalam dirinya. Meskipun dia tidak pernah bersikap sebagai istri yang sebenar-benarnya, tapi dia merindukan pria itu. Dia rindu sapaannya di pagi dari, dia rindu pesan yang dikirimnya saat akan pulang ke rumah, dia rindu mendengar suaranya memanggil namanya jika ada yang tertinggal, dia rindu...! Fatma meneteskan airmatanya. Kelembutan dan kesabaran Brian telah membuatnya jatuh, pesona Brian memang tiada duanya. Seorang gadis lembut dan saleha seperti Fatma bisa jatuh kedalam pesona seorang Brian, yang kata Arkan seorang pria brengsek yang memiliki banyak wanita. Tapi dimana salahnya? Salahkah jika Fatma jatuh cinta pada Brian? Tidak ada yang salah, dia telah sah menjadi suaminya, terlepas pandangan Arkan padanya. Apakah salah jika dia merindukannya? Apa salah jika dia memikirkannya? Tidak sama sekali. Brian tidak pernah kasar apalagi menyakiti dirinya, bahkan dia yang terkadang sedikit kasar padanya.