Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
28


__ADS_3

Fatma hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka. Apakah dia benar setampan itu? batin Fatma, karena dia memang tidak pernah berani memandang pria manapun.


" Adek!" panggil Azzam.


" Iya, Bi?" sahut Fatma.


" Jika suamimu pulang, katakan padanya aturan yang ada di rumah ini!" kata Azzam.


" Iya, Abi!" jawab Fatma.


Mereka kembali ke kamarnya masing-masing dan berganti pakaian untuk melakukan shaat dzuhur di mushalla.


" Fatma!" sapa sepupunya, Nadira setelah mereka selesai shalat dzuhur. Herni ikut masuk ke kamar Fatma dan tiduran di ranjang Fatma.


" Ya, Nad?" jawab Fatma yang sedang duduk di kursi belajarnya.


" Dimana lu kenal suami lu?" tanya Nadira penasaran.


" Kenapa memang?" tanya Fatma mengerutkan dahinya.


" Setahu gue pria yang sering bergaul sama lu cuma Kak Nabil aja! Dan gue pikir lu bakal nikah sama dia, ternyata bukan!" tutur Nadira.


" Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan berjodoh!" jawab Fatma sedih, karena dia memang tidak pernah membayangkan akan menikah dengan laki-laki lain selain Nabil teman abangnya sejak kecil.


" Iya juga, sih! Tapi dia ganteng banget tau! Seperti siapa itu? Yang artis dari Turki?" kata Nadira.


" Entahlah! Gue nggak pernah menonton drama gituan!" jawab Fatma.


" Ah, lu Fatma! Nggak assiikkk! Itu drama, trending top banget!" kata Nadira sangat bersemangat.


Fatma mengakat kedua bahunya.


" Aaa, ya, Can Yaman!" teriak Nadira.


" Shhttt! Pelankan suaramu, Nad! Abi dan Ummi sedang istirahat!" kata Fatma sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


" Iya, sorry!" kata Nadira, lalu dia membuka ponselnya.


" Lihatlah!" kata Nadira sambil menunjukkan foto Can Yaman pada Fatma.


Fatma kaget dengan keberadaan Nadira yang tiba-tiba berdiri disampingnya dengan ponsel yang dihadapkan ke wajahnya. Fatma melihat foto Can Yaman. Subhannallahu! Memang Tampan! Apa benar dia setampan itu? batin Fatma tersenyum.


" Cieeee! muka lu merah!" goda Nadira.


" Apa'an, sih!" kata Fatma malu.


" Ini juga sangat...."


" Astaghfirullah, Nadira! Kenapa lu melihat foto seperti itu?" ucap Fatma menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Dia terkejut saat melihat foto yang kedua, yaitu saat Can Yaman bertelanjang dada dengan tubuhnya yang berbentuk v-shape dan perutnya yang seperti roti sobek.


" Hahahahahaha! Tapi lu liat juga 'kan?" Nadira tertawa terpingkal-pingkal melihat sikap sepupunya itu.


" Astaga, Fat! Jangan bilang kalo lu belum pernah liat pria bertelanjang dada?" tanya Nadira tidak percaya.


" Memang nggak pernah!" jawab Fatma sambil mengelus dada.

__ADS_1


" OMG, Fat! Lu lahir zaman apa sih? Nanti malam lu pasti dapat tayangan live!" kata Nadira menggoda.


" Maksudnya?" tanya Fatma tidak mengerti.


" OMG! Bener-bener sepupu gue atu nih. Pantes aja Si Can Yaman termehek-mehek sama lu! Ternyata lu bener-bener polos!" kata Nadira gemes.


" Emang gue nggak tau, Nad!" kata Fatma lagi.


" Denger, ya, sepupu gue yang polosnya gak ketulungan! Nanti malem lu...aaaaaa!" teriak Nadira.


" Ayo, keluar! Jangan ganggu Fatma. Jangan samakan dia sama kamu!" kata mama Nadira, Aisyah.


" Mama apa'an sih? Sakit tau!" rengek Nadira yang mengusap-usap telinganya karena dijewer Aisyah.


" Biar saja! Kamu ini bicara tidak senonoh sama Fatma yang polos gitu!" kata Aisyah kesal.


" Fatma harus diperkenalkan ke dunia luar, ma! Biar nggak kuper!" tutur Nadira pada Aisyah.


" Mama nggak mau Fatma terkontaminasi dengan pergaulanmu yang kekini-kinian itu!" jawab Aisyah tegas.


" Emang apa yang salah dengan pergaulan Nadira?" tanya Nadira pada Aisyah.


" Jelas salah! Kamu kalo main, nggak sama temen vewek aja, tapi cowok juga kamu ajak. Sedangkan Fatma? Mana berani dia berjalan sama pria yang bukan muhrimnya? Melihat saja dia tidak berani!" tutur Aisyah yang gemas sama putri sulungnya itu.


Nadira melongo mendengar ucapan mamanya. Nadira memang tinggal di singapore dan kuliah disana, karena itu meski muslim, tapi Nadira tidak sefanatik Fatma. Papa Nadira, suami Aisyah adalah muslim yang demokratis, dia membebaskan anak-anaknya melakukan yang mereka suka tapi dengan batasan-batasan tertentu. Sedangkan mama Nadira, Aisyah adalah adik dari Salma, yang telah lama tinggal di Singapore bersama keluarganya sejak menikah dengan suaminya yang berkewarganegaraan Singapore.


" Benar-benar gadis langka lo Fat!" kata Nadira lagi.


" Itu bukan langka! Tapi Islam yang sebenarnya adalah seperti itu!" jawab Aisyah.


" Lagian mama...nggak senonoh nggak senonoh, emang Nadira ngajarin apa?" protes Nadira.


Lalu mereka meninggalkan Fatma sendiri. Fatma hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sepupunya yang menurutnya lucu itu.


Apa benar dia seperti pria di foto itu? Astaghfirullah! Apa yang aku pikirkan? batin Fatma merasa bersalah telah membandingkan suaminya dengan pria lain.


Sementara itu Brian yang telah sampai di RS langsung bergegas menuju kamar rawat mamanya.


" Mommy!" sapa Brian pada mamanya. Mamanya tersenyum melihat anak kesayangannya itu.


" Anak mommy!" panggil Iris.


" Mom! Jangan seperti ini lagi! Kalo mau kemana-mana, panggil Bre atau PRT!" kata Brian dengan mata berkaca-kaca.


" Mommy minta maaf! Mommy sudah membuat kamu dan semuanya khawatir!" jawab Iris


" Kak! Aku pergi dulu mencari makan!" kata Briana.


" Iya!" jawab Brian.


" Lo nggak makan, Ian?" tanya Brisa, kakaknya.


" Sudah! Lo pergi aja sama Bre!" kata Brian. Brisa dan Briana keluar dari kamar Iris.


" Kamu terlihat berbeda?" ucap mamanya.


" Ma!" ucap Brian sedikit gugup.

__ADS_1


" Ada apa, sayang?" tanya Iris mengernyitkan dahinya.


" Aku mau bicara sesuatu, tapi mommy janji harus kuat, nggak kaget!" kata Brian


" Mommy janji! Mommy sudah lebih baik!" kata Iris yakin.


" Aku...aku sudah menikah!" kata Brian.


" Apa?" tanya mamanya kaget, tapi dia masih bisa mengatur jantungnya.


Brian mengeluarkan ponselnya dan membukanya, tampak gambar dirinya dan Fatma yang tadi sedang mencium tangannya.


" Maafin aku, Mom! Tidak membawa keluarga kita. Karna ada kejadian yang tidak terduga!" kata Brian.


" Lebih baik kamu cerita ke daddymu dulu!" kata Iris.


" Ini, mom!" kata Brian.


Mamanya melihat foto yang ditunjukkan Brian.


" Gadis yang cantik dan..."


" Muslimah! Dia sangat ta'at beribadah, Mom!" kata Brian.


" Kamu mencintainya, Bukan!" kata Iris.


" Iya, mom! Sepertinya Aku mencintainya! Aku tidak tahu kenapa, tapi bagiku dia sangat spesial, mom!" tutur Brian.


" Anak mama sedang jatuh cinta! Jangan pernah menyakiti hatinya, sayang! Kamu benar-benar beruntung mendapatkan dia!" kata Iris.


" Iya, ma! Aku pasti akan membuat dia bahagia!" kata Brian memeluk mamanya.


" Kalo mommy sudah sembuh, aku keluarga kita datang ke rumahnya!" kata Brian.


" Tentu saja!" jawab Iris bahagia.


" Baik! I love you, mom!" kata Brian.


" I love you too, sayang!" jawab Iris. Brian keluar dari kamar setelah Danis menelponnya.


" Bos!" sapa Brian.


" Aku sudah menikah! Carikan aku ustadz untuk mengajariku tentang Islam!" kata Brian.


" Bos?" ucap Danis tidak percaya.


" Selama sebulan ini aku akan sedikit sibuk di luar kantor, kamu handle dulu semua masalah kantor!" kata Brian lagi.


" Siap, Bos! Tapi kerjasama dengan Hong dan Norton?" tanya Danis.


" Kamu handle aja!" jawab Brian.


" Bos?" tanya Danis heran.


Brian tidak pernah mewakilkan siapapun saat meeting dengan Norton, karena dia adalah klien terbesar dan terpenting Brian. Bahkan Brian pernah menyewakan sebuah yacht untuk menjamu Mr. Norton beserta beberapa foto model dunia untuk menemaninya.


" Kenapa? Kamu nggak sanggup?" tanya Brian.

__ADS_1


" Sanggup, Bos! Saya hanya kuatir Mr. Norton tidak puas jika saya yang menjamunya!" jawab Danis.


" Bilang saja aku sedang sibuk! Dan lakukan seperti biasa!" kata Brian. Kemudian Brian memberikan tanda tangan ke beberapa dokumen yang diberikan Danis.


__ADS_2