
Fatma terkejut mendengar pertanyaan Santi, hatinya mendadak menjadi gelisah, dia merasa takut akan apa yang akan disampaikan oleh Santi.
" Iya, benar! Kenapa?" tanya Fatma.
" Mungkin saya yang salah mengenali, tapi jika Nabil adalah pria yang pernah datang ke sekolah tempo hari sama Tuan Brian, semalam saat saya pulang dari apartement Bos suami saya, saya seperti melihat dia disana!" kata Santi.
" Apartement? Tapi setahu saya dia tidak memiliki apartement!" jawab Fatma.
" Mudah-mudahan memang mata saya yang salah melihat!" kata Santi.
" Memang apa yang dilakukan dia disana, Ustadzah?" tanya Fatma penasaran.
" Dia...dia bersama wanita dan mereka saling berpelukan bahkan...berciuman!" kata Santi.
Deg! Astaughfirullah! Pertanda apakah ini, Ya Allah? batin Fatma.
" Semoga saya yang salah Ust. Zahirah!" kata Santi.
Fatma tersenyum, hatinya semakin gelisah, lusa adalah hari pernikahannya dengan Nabil, dia sudah tidak bisa mundur lagi. Abi dan Umminya telah memberitahu keluarga besarnya. Ya Allah! Jika memang ini adalah rencana-Mu, hamba rela menjalani semua ini! batin Fatma.
Sementara itu di RS, mama Brian masih dalam keadaan koma dan membuat pria itu seperti kehilangan sebagian jiwanya.
" Bos!" sapa Danis.
Brian menatap Danis yang datang saat makan siang.
" Kita ke ruang sana!" ajak Brian.
Mereka melangkahkan kakinya menuju ruang tunggu untuk keluarga pasien. Ruang itu sepi, karena memang khusus untuk pasien VVIP.
" Ada apa?" tanya Brian dengan wajah kusut.
" Bos! Maaf, sepertinya Bos harus pergi ke Aussie!" kata Danis.
" Apa? Kenapa?' tanya Brian kaget.
" Perusahaan kita yang disana menuntut menarik saham mereka!" kata Danis lagi.
" Apa? Apa ada yang tidak kamu beritahukan padaku?" tanya Brian.
" Sebenarnya sejak kemarin saya sudah mencoba menahan mereka, tapi ternyata mereka lebih terpengaruh berita itu!" kata Danis.
Danis berbisik kepada Brian karena disitu ada Nabil.
" Sial! Perintahkan Norman bersiap-siap, satu jam lagi aku akan kesana!" kata Brian.
" Nabil!" kata Brian.
" Ya. Bos!" sahut Nabil.
" Aku akan ke Aussie selama 2 hari, aku harap kamu bisa membantu Danis menangani perusahaan disini!" kata Brian.
" Siap, Bos!" kata Nabil senang, karena tidak akan ada yang mengganggu pernikahannya dengan Fatma.
" Satu lagi!" kata Brian.
" Ya, Bos?" sahut Nabil.
" Jika aku minta kamu melepas Zahirah! Apa kamu mau?" tanya Brian. Nabil hanya terdiam.
" Aku akan mengangkatmu menjadi pimpinan perusahaan disalah satu perusahaanku jika kamu mau! Dan aku akan memberikan saham padamu!" kata Brian.
Nabil terbelalak mendengar ucapan Brian, dia kaget dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia tidak percaya jika segitu mahalnya harga Fatma bagi Brian.
__ADS_1
" Aku juga akan memberikanmu rumah mewah dan isinya. Dan yang pasti, hasil dari perusahaan yang kamu pimpin, kamu bisa ambil semua!" kata Brian lagi.
" Bos!?" kata Danis terkejut.
Brian menatap Danis tajam, Danis langsung menundukkan kepalanya. Danis tidak berani berbicara jika Bosnya telah menatapnya seperti itu. Pikiran Nabil melayang kemana-mana, kehidupan yang mewah telah lama diinginkannya, apalagi bisa melebihi kakaknya sendiri.
" Aku tidak akan memintamu menandatangani apapun, karena aku percaya padamu!" kata Brian saat melihat Nabil hanya diam saja.
Tapi aku lusa akan menikah dengan Fatma, bagaimana ini? batin Nabil. Ah, biar saja! Sekali merengkuh dayung, 2, 3 pulau terlewati. Aku bisa menjadi pimpinan juga menikmati Fatma dalam waktu bersamaan! batin Nabil.
" Baik! Saya terima, Bos!" kata Nabil dengan senyum smirknya. Brian tersenyum, dia tahu jika Nabil tidak benar-benar mencintai Fatma, dia hanya mencintai dirinya sendiri saja.
" Danis ambil berkas pengangkatan pimpinan perusahaan dan sertifikat rumah! Aku tunggu disini!" kata Brian.
" Baik, Bos!" kata Danis yang pergi ke kantor. Brian kembali ke mommynya untuk melihat keadaannya.
" Halo, Bil?"
" Gina? Mau ikut gue liburan?" tanya Nabil.
" Kemana?" tanya Gina malas.
" Terserah! Lu boleh pilih!" kata Nabil.
" Serius?" tanya Gina lagi.
" Tentu sayang!" balas Nabil.
" Dubai?" ucap Gina.
" Kirim Id lu sekarang!" kata Nabil.
" Lu serius?" tanya Gina lagi.
" Tentu saja!" kata Nabil lagi.
Nabil mematikan panggilannya dan sudah membayangkan tubuh seksi Gina. Setelah menandatangani berkas-berkas untuk Nabil, Brian segera pamit pada keluarganya dan berangkat ke Aussie. Sedangkan Nabil merasa sangat puas dengan apa yang dicapainya saat ini.
" Gina! Lo dimana?" teriak Nabil.
" Dikamar sayang!" sahut Gina.
Nabil melepaskan satu persatu pakaiannya saat di ruang tamu, lalu berjalan ke kamarnya hingga tubuhnya terlihat polos
" Aku suka saat kamu seperti itu!" kata Nabil yang tahu jika Gina juga seperti dirinya.
Mereka menghabiskan waktu dengan menyatukan satu sama lain hingga menjelang pagi.
Keesokan harinya semua persiapan semakin dimantapkan.
@ Assalamu'alaikum Ust. Zahirah
Fatma membaca sebuah pesan dari nomor lain lagi setelah selesai shalat azar dan menulis materi sekolah.
@ Wa'alaikumsalam! Maaf ini dengan siapa?
balas Fatma
@ Maaf jika saya membuat Ustadzah tidak nyaman! Saya Harun, kakak Nurul!
Astaghfirullah, Ustadz Harun! batin Fatma terkejut.
@ Maaf, Ustadz! Saya tidak tahu jika ini nomor Ustadz
__ADS_1
balas Fatma.
@ Tidak mengapa!
jawab Harun
@ Apa ada yang bisa saya bantu, Ustadz?
balas Fatma lagi.
@ Saya hanya ingin tahu kabar kamu
jawab Harun
@ Alhamdulillah, saya baik dan sehat
balas Fatma
@ Alhamdulillah
jawab Harun.
Sebenarnya Fatma merasa sedikit agak aneh dan risih membaca pesan dari Harun, karena bagaimanapun Ust. Harun telah memiliki calon istri.
@ Apa Ustadz tidak ada shooting?
tulis Fatma
@ Tidak! Saya hanya fokus di yayasan saja
balas Harun
@ Maaf, Ustadz.. bukannya saya tidak menghormati Ustadz, tapi ini sudah mau masuk waktu maghrib, saya mohon diri
tulis Fatma
@ Astaghfirullah! Maaf, iya Assalamu'alaikum
balas Harun
@ Wa'alaikumsalam
balas Fatma
Fatma meletakkan ponselnya, karena sudah hampir masuk waktu maghrib dan keluarganya pasti telah pergi ke masjid dan mushalla miliknya. Fatma kemudian bergegas pergi ke mushalla di samping rumahnya dan ternyata benar, ummi, kakak iparnya, Rania dan juga beberapa saudara telah berada disana. Kebetulan Rania menginap karena Fatma akan menikah. Ada juga Om Agam dan istrinya, Tante Jasmine. Mereka orang tua angkat Daffa dan kakak dari Azzam yang dari Singapore, juga adik Salma, Tante Ais dan suaminya Om Abdul juga putri mereka Nadhira dan Mahira. Ada adik Azzam dan kedua putranya, sepupu Salma dan kedua putra putrinya. Mereka semua dari luar pulau dan negara.
Fatma mengambil air wudhu dan memasang mukenanya lalu masuk.
" Assalamu'alaikum!" ucap Fatma.
" Wa'alaikumsalam!" sahut semuanya. Fatma mengambil Al Qur'an dan duduk ditempat yang kosong, mereka membaca Al Qur'an secara bergantian sambil menunggu saat Adzan tiba. Kali ini giliran Daffa yang menjadi Imam, mereka shalat berjama'ah lalu berdzikir dan melanjutkan lagi membaca Al Qur'an sampai Azzam dan para lelaki datang dari Masjid.
" Assalamu'alaikum!" sapa mereka.
" Wa'alaikumsalam!" jawab semua. Azzam dan para lelaki mengambil Al Qur'an lalu bergabung dengan mereka semua lalu membaca Al Qur'an bergantian.
" Lusa kamu Ins Yaa Allah akan sah menjadi istri Nabil! Abi harap kamu bisa menjadi istri yang soleha!" kata Azzam setelah selesai.
" Aamiin!" sahut semua yang ada disitu.
" Ins Yaa Allah, Bi!" jawab Fatma.
" Apa semua sudah siap, Ummi?" tanya Azzam
__ADS_1
" Alhamdulillah semua sudah siap, tinggal nanti Daffa yang mengambil setelah pulang dari kampus!" jawab Salma
" Kalau begitu kita lanjutkan!" kata Azzam.