Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
09


__ADS_3

Kemudian mereka menuju ke masjid karena shalat sudah dimulai. Setelah selesai, semua guru menuju ke ruang guru untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda, ada juga yang langsung pulang setelah merapikan barang-barangnya, seperti Fatma dan Nurul yang merapikan mejanya.


Tok! Tok! Tok! Ada yang mengetuk pintu ruang guru.


" Assalamu'alaikum Wr. Wb!" sapa seseorang.


" Wa'alaikumsalam Wr. Wb!" jawab semua yang ada di ruang guru. Kebetulan Fatma yang ada mejanya tepat di samping pintu langsung berdiri dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


" Mas Harun?" sapa Nurul saat melihat kakaknya.


Deg, deg! Jantung Harun berdetak cukup kencang saat menatap Fatma yang tepat ada di depannya. Mata mereka beradu sepersekian detik dan Fatma langsung menundukkan kepalanya sambil mengangguk. Harun membalas anggukan Fatma. Nurul berdiri dan menghampiri kakaknya, sedangkan Zahirah kembali ke meja kerjanya.


Guru disekolah itu rata-rata telah berumah tangga hanya guru kelas 1 dan 2 yang masih gadis.


" Permisi, ustadz!" ucap Fatma yang telah selesai merapikan mejanya dan akan keluar tapi terhalang Harun dan Nurul.


" Maaf! Silahkan!" jawab Harun berpindah beberapa langkah dari pintu.


Masya Allah suara yang begitu lembut dan wajah yang sangat cantik! batin Harun. Astaghfirullah! Maafkan aku Safira! batin Harun.


Safira adalah seorang artis cantik yang sedang laris-larisnya di negara ini. Dia menjadi pembawa acara di acara Harun yang diadakan setiap pagi di sebuah televisi swasta. Karena seringnya bersama, mereka menjadi dekat. Tidak ingin menimbulkan fitnah, Harun mengkhitbah Safira.


" Saya duluan Ustadzah Nurul! Ustadz!" pamit Fatma.


" Iya, Us! Silahkan!" jawab Nurul dan Harun bersamaan.


" Assalamu'alaikum!" salam Fatma.


" Wa'alaikumsalam Wr. Wb.!" jawab Harun dan Nurul bersamaan lagi.


Setelah kepergian Fatma, Harun melihat beberapa guru yang ada diruang itu.


" Ustafz!" sapa mereka.


Harun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu dia menggandemg adiknya ke meja kerjanya. Harun duduk di kursi di depan meja Nurul.


" Mas ada perlu sama kamu, dek!" ucap Harun.


" Kenapa nggak telpon aja mas?" tanya Nurul.


" Ponsel Mas tertinggal dirumah!" jawab Harun.


" Ada perlu apa?" tanya Nurul.


" Mau belikan Safira hadiah ultah!" kata Harun.


" Ckk! Malas!" jawab Nurul.

__ADS_1


" Kok gitu?" tanya Harun yang tahu jika Nurul kurang setuju dengan hubungannya dengan Safira.


" Ok, tapi lain kali Nurul nggak mau!" kata Nurul.


" Alhamdulillah! Ayo!" ajak Harun.


Kemudian mereka pergi bersama ke arah parkiran mobil setelah pamit dengan guru-guru. Fatma saat itu sedang duduk di bangku dekat pintu gerbang, menunggu Arkan menjemputnya.


Sebuah mobil expander masuk ke parkiran sekolah. Keluarlah seorang pria tampan dengan sedikit jenggot dan jambang di wajahnya dari dalam mobil, berjalan mendekati Fatma yang asyik memainkan ponselnya.


" Assalamu'alaikum!" sapa pria itu.


" Wa'alaikumsalam!" jawab Fatma dengan lembut lalu mengangkat wajahnya.


Dia tersenyum melihat pria itu, lalu berdiri dan mendekatinya. Diciumnya tangan pria tersebut dengan sopan.


" Apa kamu menunggu lama?" tanya pria tersebut.


" Tidak, bang! Fatma baru lima menit duduk disini!" jawab Fatma.


Sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan keluarlah Harun dari dalam mobil disusul oleh Nurul.


" Assalamu'alaikum Wr. Wb!" sapa Harun.


" Wa'alaikumsalam Wr. Wb!" jawab Arkan dan Fatma bersamaan sambil melihat si pemberi salam.


" Arkan?" sapa Harun dengan tersenyum.


" Lo bisa aja! Gue masih Harun yang dulu!" jawab Harun.


" Hahaha! Lo kan udah jadi ulama besar. Jadi gue harus panggil apa, nih? Ustadz Harun atau Kyai Harun?" tanya Arkan memggoda.


" Alahhh! Harun aja!" jawab Harun santai.


Harun memang pada dasarnya tidak begitu suka jika dia dipanggil Ustadz, meskipun dia besar di ponpes dan lulusan Al Azar. Tapi dia tidak merasa ilmunya masih jauh sebagai ahli dalam hal agama.


" Ok! Harun! Kenalin ini adaik gue, Fatimah Zahirah Fayyad!" kenal Arkan. Fatma yang diperkenalkan langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menganggukkan kepalanya pada Harun dan Harun membalasnya.


" Panggil saja Zahirah!" kata Arkan lembut, membuat hati Harun meleleh.


" Ini adik gue Nurul Jannah Basyar!" ucap Harun.


" Gue Arkan!" ucap Arkan.


" Saya Nurul, kak!" jawab Nurul sambil menangkup tangannya di dada seperti Fatma yang dibalas oleh Arkan.


" Gue denger lo akan nikah?" tanya Arkan.

__ADS_1


" Tau darimana lo?" tanya Harun balik sambil melirik ke arah Fatma yang sedang asyik berbicara dengan Nurul.


" Calon lo artis, bro!" jawab Arkan.


" Bisa aja lo! Ins Yaa Allah, bro! Bulan depan kalo Allah memberikan kelancaran! Aamiin!" jawab Harun


" Aamiin!" balas Arkan.


Arkan tahu jika mata Harun sesekali melirik kepada Fatma dan dia hanya tersenyum saja melihat kelakuan Harun.


" Gue pamit dulu, Bro! Kapan-kapan lo dateng ke rumah!" kata Arkan.


" Ins Yaa Allah!" balas Harun.


" Assalamu'alaikum!" pamit Arkan.


" Wa'alaikumsalam Wr. Wb!" jawab Harun.


Kemudian Arkan bersalaman dengan Harun dan berpelukan, Arkan menganggukkan kepalanya pada Nurul dan dibalas sama oleh Nurul. Fatma bersalaman dan berpelukan dengan Nurul lalu dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Harun tanpa menatapnya.


" Assalamu'alaikum!" salam Fatma.


" Wa'alaikumsalam Wr. Wb!" jawab Harun.


Sangat lembut! batin Harun mendengar suara Fatma. Harun membalas dengan menganggukkan kepalanya juga pada Fatma.


" Gadis yang cantik! Lembut dan soleha!" ucap Nurul.


" Safira juga!" balas Harun.


" Tapi dia bukan Safira!" kata Nurul.


" Ya!" kata Harun


" Sayang sudah dikhitbah!" bisik Nurul


Entah kenapa seketika wajah Harun terlihat kecewa mendengar ucapan Nurul.


" Alhamdulillah! Beruntung sekali pria yang mengkhitbahnya!" jawab Harun datar.


" Ada yang nggak suka sepertinya!" sindir Nurul.


" Masya Allah, Dek! Itu penyakit hati! Ayo!" kata Harun dibarengi senyuman nakal Nurul.


" Hehehe!"


Keesokan harinya Nabil terbangun dari tidurnya dan merasakan tubuhnya remuk, perlahan dia membuka matanya. Dimana gue? batin Nabil. Dilihatnya kesekeliling ruangan, sepertinya...Hotel! batin Nabil terkejut. Dia berdiri dan merasa m***nya terasa sedikit perih dan aneh. Nabil masuk ke dalam kamar mandi dan membuka seluruh pakaiannya. Kemudian masuk ke dalam shower box dan mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir lewat shower. Digosoknya tubuh putih itu dengan sabun hingga merata, saat dia menggosok miliknya, dia meringis karena merasa perih dan sakit. Dengan cepat disiram dan diusapnya benda itu dengan wajah meringis karena perih. Nabil meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya. Dililitkannya handuk tersebut dipinggangnya dan dia berdiri di depan cermin wastafel. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat dia melihat keadaan tubuhnya. Bercak apa ini? Kenapa banyak sekali? Apa aku terkena alergi? batin Nabil meraba bercak-bercak tersebut. Tapi kalo alergi, kenapa aku tidak merasakan sakit sama sekali? batin Nabil lagi. Nabil membuka handuknya karena bercak itu juga merata hingga ke bagian perutnya. Dia baru ingat saat mandi tadi miliknya terasa perih. Apa yang terjadi semalam? Nabil mencoba mengingat kejadian semalam di club. Semalam gue minum lalu? Dengan samar dia teringat kejadian semapam. Astaghfirullahaladzim! Ampuni hamba, Yaa Allah! Fatma! bayin Nabil. Tubuhnya merosot menyentuh lantai dengan berdiri pada kedua lututnya. Ditangkupnya kedua tangannya ke wajahnya, dia menangis tersedu-sedu menyesali semua yang telah terjadi.

__ADS_1


Sialan kamu, Bos! Apa yang kamu lakukan padaku? Kenapa kamu menjebakku seperti ini? batin Nabil.


" Fatmaaaaaaaaaa!" teriak Nabil menyesal.


__ADS_2