
Brian mengernyitkan keningnya, tidak lama kemudian Danis masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
" Maaf semuanya! Bos!" panggil Danis. Brian semakin terkejut melihat kedatangan Danis dan raut wajah Danis yang terlihat khawatir. Brian berdiri dari duduknya dan berjalan kearah ruang tamu, diikuti semua anggota keluarga. Brian sedikit terkejut melihat 3 orang polisi berdiri di depan pintu bagian dalam rumah Fatma.
" Bapak Brian Daniel Manaf?" tanya seorang Polisi.
" Ya, saya!" jawab Brian tenang.
" Anda kami tangkap dengan tuduhan penyebab kematian saudari Ashley Gordon! Silahkan ikut dengan kami!" kata polisi itu.
Seluruh keluarga tercengang mendengar ucapan polisi tersebut. Brian memutar tubuhnya mencari istrinya. Dia menatap Fatma yang berada di samping Dalma dengan pandangan nanar. Fatma yang mendengar perkataan Polisi itu, tanpa terasa tubuhnya lemas dan hampir terjatuh jika saja Salma dan Rania tidak menangkapnya.
" Fatma!" teriak mereka semua bersamaan.
Brian langsung mendekati istrinya, dia bersimpuh di depan istrinya yang sedang duduk di sofa dalam keadaan terpejam.
" Zair! Kamu percaya padaku?" tanya Brian memohon.
Baru kali ini Fatma merasakan tangan kekar Brian menyentuh kedua tangannya. Jantung Fatma berdegub kencang dan hatinya terasa sakit.
" Zair! Aku butuh kamu percaya padaku!" kata Brian menatap istri tercintanya yang sedang memejamkan kedua matanya itu.
Fatma masih tidak membuka matanya, walau hanya untuk melihat Brian, hatinya bimbang dan kecewa.
" Zahirah!" panggil Brian lagi.
" Aku...percaya!" jawab Fatma lemah, dia hanya mengikuti hati kecilnya yang saat itu memintanya untuk percaya pada suaminya tanpa bisa berpikir lagi.
" Alhamdulillah! Terima kasih! Jangan khawatir dan jangan berpikir macam-macam! Tunggu saja aku dirumah, ini tidak akan lama, tunggu aku pulang!" kata Brian mencoba menenangkan istrinya.
" Ayo, Kak!" ajak Daffa memegang tangan Fatma agar berdiri dan bermaksud membawanya masuk ke dalam kamar.
" Do'akan semua cepat selesai!" kata Brian lagi.
Fatma menganggukkan kepalanya lalu pergi bersama Daffa ke kamarnya. Brian berdiri dan menyerahkan tangannya untuk diborgol oleh polisi.
" Abi! Ummi dan semuanya! Maaf jika aku telah membuat kalian semua malu dan kecewa! Tapi aku benar-benar tidak bersalah dan kalian harus percaya!" tutur Brian tenang.
Salma menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca, sungguh berat ujian yang kamu jalani saat baru saja berkeluarga, nak! batin Salma.
" Danis! Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!" kata Brian.
" Siap, Bos!" jawab Danis.
" Kami permisi, Pak! Selamat Pagi!" pamit salah satu polisi lalu memberi hormat.
Brian berjalan keluar rumah mengikuti polisi yang kemudian membawanya ke dalam mobil mereka.
" Ini yang tadi Abang mau katakan, Abi! Dia tidak seperti yang kita bayangkan!" kata Arkan marah.
" Apa maksud abang? Apa kamu sudah tahu jika dia akan ditangkap?" tanya Azzam kaget mendengar ucapan Arkan.
" Bukan itu! Abang kemarin melihat dia bersama dengan seorang gadis sedang berpelukan!" kata Arkan.
" Astaughfirullah! Abang! Kamu tahu jika suudzon itu berdosa dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!" kata Azzam.
__ADS_1
" Semoga saja memang Abang salah, Abi, tapi Abang melihat dengan mata kepala Abang sendiri dia dipeluk seorang wanita bahkan wanita itu menangis!" kata Arkan lagi.
Azzam memghela nafasnya dan menatap wajah putra sulungnya.
" Kita tunggu saja kabar selanjutnya!" kata Azzam pasrah.
Fatma berbaring diranjangnya dengan airmata yang berlinang, Ya Robb! mengapa cobaan ini datang saat hamba siap menerima dia? Apakah ini pertanda jika hamba harus melepas dia, Ya Allah? batin Fatma sedih.
Sementara di dalam mobil Brian merasa takut jika Fatma akan meminta talak darinya akibat peristiwa ini, terlebih jika Arkan mengatakan tentang kejadian saat di Resto hari itu.
Danis sebelumnya telah meredam media massa agar pemberitaan tentang peristiwa ini tidak muncul ke permukaan. Sekarang dia bersama dengan Norman, yang merupakan pengacara Brian dan Edwin yang seorang pecatan polisi juga Edo seorang tentara bayaran menyelidiki kejadian yang menimpa Ashley.
" Rino, bangun lo, brengsek!" panggil Noval lewat ponselnya yang hanya berdering saat menghubungi ponsel Rino.
" Rino, brengsekkkk!" kata Noval yang gelisah dan berjalan mondar-mandir di kamarnya.
Akhirnya Rino mengangkat telpon dari Noval.
" Halo!" suara Rino seperti bangun tidur.
" Rin! Mampus kita!" kata Noval panik.
" Apa'an sih?" kata Rino sambil menguap, dia masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
" Gadis itu bunuh diri!" kata Noval.
" Gadis? Gadis yang mana? Siapa?" tanya Rino terkejut dan langsung membuka kedua matanya dengan lebar.
" Siapa, sayang?" tanya seorang wanita disamping Rino.
" Siapa maksud lu?" tanya Rino lagi.
" Ashley!" jawab Noval.
" Apa? Maksud lu gadis yang kita...Kapan?" tanya Rino.
" Nggak tahu! Tapi beritanya sudah menyebar tadi pagi! Kita harus gimana?" tanya Noval semakin panik.
" Tenang bodoh! Gue lagi mikir!" kata Rino.
" Gue takut kalo sampe Brian tahu! Bisa mampus kita!" kata Noval.
" Bisa diem nggak lu? Gue gak bisa mikir kalo kita panik!" kata Rino ikutan panik.
" Gue harus pergi!" kata Noval.
" Apa? Kemana? Gue ikut!" kata Rino takut.
" Serah lu!" balas Noval lalu mematikan panggilannya
" Val! Noval! Arghhhhh! Sial! Gue harus sembunyi!" kata Rino marah.
Rino masuk kembali ke dalam kamarnya lalu membawa barang secukupnya dalam sebuah koper. Dengan pelan, dia berjalan keluar dari apartementnya, dan memesan tiket untuk ke Mexico.
Di kantor polisi, Brian dimasukkan ke dalam sebuah ruangan interogasi dan duduk sendiri bersama seorang polisi. Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya dan 2 orang pria seumurannya masuk.
__ADS_1
" Om Mark!" sapa Brian yang berdiri dan hendak menyalami Mark.
Mark melihat Brian, tapi tidak menyambut uluran tangannya malah langsung memukulnya.
" Bajing*n!..."
Bughhh! Bughhh!...
" Pak! Tolong jangan membuat kerusuhan, atau bapak akan kami larang untuk datang!" kata polisi yang berdiri disudut ruangan sambil berdiri di depan Brian.
" Tuan!" kata pria yang bersama Mark, menahan tubuh pria itu.
" Tahan emosi Tuan!" bisik pria satu lagi.
Mark duduk di kursi sedangkan Brian mengusap sudut bibirnya yang terluka. Dia tidak marah, karena dia tahu bagaimana perasaan Mark akibat kehilangan putri satu-satunya. alu berdiri berdiri. Brian juga merasa jika dia memang berhak mendapatkan itu akibat apa yang terjadi pada Ashley. Jika saja hari itu dia menemani Ashley, maka gadis itu tentu akan masih hidup sekarang.
" Maafkan klien saya, Pak!" kata pria yang ternyata pengacara Mark.
" Jika klien anda tidak bisa bersikap tenang dan sopan, maka lebih baik dia keluar dari sini!" kata penjaga itu.
" Maaf, Pak!" kata pria itu lagi.
Kemudian mereka berdua duduk berhadapan dipisahkan oleh sebuah meja.
Mark menatap tajam ke arah Brian.
" Apa kabar, Om!" sapa Brian tenang.
Brian sama sekali tidak takut terintimidasi oleh Mark.
" Om nggak nyangka kamu akan tega melakukan itu!" kata Mark emosi.
" Saya tidak bersalah, Om!" kata Brian tegas.
" Mana ada maling yang ngaku!" kata Mark marah.
" Saya akan buktikan pada Om! Bahwa bukan saya yang memperkosa Ashy!" lata Brian lagi.
" Jangan menyebutnya dengan milut kotormu itu!" sahut Mark marah.
Brian terdiam sejenak lalu memejamkan kedua matanya. Astaughfirullah! batin Brian.
" Ashy memang menemui saya, tapi saya sudah menyuruhnya untuk pulang membantu Om!" kata Brian.
" Dia mencintaimu, brengsek! Dan kamu sudah berjanji padanya!" kata Mark menatap tajam Brian dengan penuh emosi.
" Om salah! Saya tidak pernah berjanji padanya!" balas Brian.
" Kamu menyuruhnya datang 5 tahun lagi!" kata Mark dengan tangan mengepal.
" Saya memang mengatakan agar datang 5 tahun lagi, tapi saya tidak bilang agar kita menikah! Saya mau dia bisa belajar dengan baik dan membantu Om mengurus perusahaan yang ada disini, tapi kalian salah mengartikannya!" jelas Brian datar.
" Itu karna dalam pikirannya kamu menunggunya!" kata Mark lagi.
" Saya memang salah tidak memberikan penjelasan padanya!" kata Brian pelan.
__ADS_1
" Kamu memang brengsek! Aku harap kamu membusuk dipenjara!" kata Mark.