
Brian sampai di Malaysia 30 menit kemudian, dia langsung menuju ke Hotel Shangri La di Kuala Lumpur untuk menghadiri meeting bersama dengan Datuk Imran Nurdin, sebelumnya dia melakukan shalat maghrib dulu.
" Anda langsung pulang, Tuan Brian?" tanya Imran setelah selesai meeting pada jam 11 malam.
" Iya, Datuk! Ada yang harus dilakukan!" jawab Brian.
" Saya sebenarnya berharap kita bisa main golf besok pagi!" kata Imran.
" Ins Yaa Allah, lain kali, Datuk!" jawab Brian.
" Ok! Kalau begitu saya pamit! Assalamu'alaikum!" ucap Imran.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Brian.
Kemudian Imran pergi meninggalkan Brian bersama asistennya. Brian duduk dan meraih ponselnya dari balik jasnya. Dia menyalakan dan melihat banyak notifikasi panggilan dan pesan. Pesan dari My Angel, nama yang Brian berikan untuk Fatma di ponselnya. Dia membalasnya! Apa dia sudah tidak marah? batin Brian. Brian tersenyum tipis membaca pesan dari Fatma. Hatinya berbunga-bunga.
@ Ins Yaa Allah...sudah
balas Brian.
" Danis!" panggil Brian.
" Ya, Bos?" jawab Danis.
" Siapkan pesawat sekarang, kita pulang sekarang juga!" kata Brian terlalu gembira karena Fatma membalas pesannya.
" Siap, Bos!" jawab danis yang kemudian menghubungi pilot pesawat Brian, Raka.
" Bos!" panggil Danis.
" Hm?" jawab Brian.
" Raka bilang, bandara sedang ditutup sampai jam 6 pagi, karena ada perbaikan landasan yang rusak!" kata Danis.
Brian terdiam sesaat, dia menimang-nimang pikirannya.
" Kita langsung ke pesawat saja! Aku akan tidur disana, asetelah bandara dibuka, mereka harus segera take off!" kata Brian.
" Siap, Bos!" jawab Danis kemudian kembali menghubungi Raka dan mengikuti Brian yang beranjak dari duduknya untuk keluar dari hotel dan menuju ke bandara.
Keesokan harinya Ashley membuka kedua matanya, dia merasa jika seluruh tubuhnya terasa sakit dan remuk.
" Akhhhhhhhh!" rintih Ashley. saat mencoba menggerakkan tubuhnya.
" Kenapa sakit sekali kedua milikku?" ucap Ashley lagi.
Dia mencoba mengingat kejadian semalam, dia teringat jika yang bersamanya adalah Brian, dia tersenyum malu. Akhirnya dia menyentuhku juga! batin Ashley. Dia memutar tubuhnya mencari Brian, tapi tidak ada siapa-siapa disana. Dia mencoba bangun dari tidurnya, tapi kepalanya terasa pusing, dia memegang kepalanya dan duduk.
Tok! Tok! Tok!
" Siapa?" tanya Ashley.
" Waiter, Nona! Saya disuruh Bos Roni dan Bos Noval untuk mengantar sarapan!" kata waiter itu.
__ADS_1
" Ro...ni?...No...val?" Siapa mereka?" tanya Ashley ambigu.
Dia menutup tubuhnya dengan selimut lalu berjalan terseok menahan perih di dada, bagian bawah perut dan panta*nya.
" Sarapannya, Nona!" kata waiter itu.
" Trima kasih!" kata Ashley berjalan duduk di ranjang dan waiter itu meletakkan sarapannya di atas nakas.
" Siapa Rino dan Noval?" tanya Ashley.
" Mereka pelanggan Club ini juga!" kata Waiter itu.
Deg! Jantung Ashley rasanya mencelos mendengar perkataan waiter itu. Pel...langgan...? batin Ashley membeo.
" Kenapa mereka tahu saya disini?" tanya Ashley mulai ketakutan.
" Semalam mereka yang membawa Nona ke kamar ini!" kata Waiter itu lagi.
" Ap...apa? Mereka...Yang mem...apa mereka langsung pergi?" tanya Ashley lagi.
" Setahu saya mereka baru pergi saat subuh, Nona!" jawab Waiter itu.
Jdeerrrrrr! Bagai tersambar petir, Ashley merasakan dadanya begitu sakit dan sesak. Dia merasa jijik melihat tubuhnya yang telah dinodai oleh orang lain.
" Kamu boleh pergi!" kata Ashley dengan bibir bergetar.
" Permisi!" pamit waiter itu.
Setelah waiter itu pergi, airmatanya tumpah begitu saja. Dia menangis sejadi-jadinya dan menggosok-gosok seluruh tubuhnya. Dia berlari masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower sambil terus menggosok seluruh tubuhnya dengan keras. Dengan perasaan hancur dan malu, dia keluar dalam keadaan basah dan meraih ponselnya. Ditatapnya foto Brian dengan senyum getirnya, lalu dia mengirim pesan pada Brian.
@ Aku tidak bisa menjaganya untukmu
@ Aku telah kotor
Kemudian Ashley mengambil sebuah botol dan memecahkannya, dengan derai airmata dia mengambil pecahan botol tersebut dan memilih mengakhiri hidupnya dengan memotong urat nadinya.
" Kak,,Aku..mencin..taimu..!" kata Ashley lalu tubuhnya terkulai lemas di lantai dengan darah yang membanjiri lantai kamar.
Brian merasa sangat bahagia, karena Fatma sudah mau berbicara dengannya walau masih lewat ponsel.
@ Assalamu'alaikum, Zair, aku sudah di bandara, sebentar lagi sampai rumah
Brian mengirim pesan pada Fatma.
Fatma yang sedang brsiap-siap untuk berangkat bekerja, membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
DIA! batin Fatma sambil membaca pesan Brian.
@ Wa'alaikumsalam
@ Alhamdulillah...fii amanillah
Balas Fatma sambil tersenyum, hatinya berdebar-debar menanti kedatangan suaminya.
__ADS_1
Aku akan memberikan hadiah istimewa padamu! batin Fatma. Kemudian dia berdiri dan berjalan keluar kamar menuju kepintu utama bersiap menunggu kedatangan Brian. Semua orang sesang berada di kamarnya untuk bersiap-siap sarapan sebelum berangkat bekerja. Brian sampai di rumah Fatma tepat jam 7 pagi dan dia tersenyum tipis melihat istrinya yang cantik berdiri menunggunya di depan pintu.
" Assalamu'alaikum!" sapa Brian lembut.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Fatma pelan.
Fatma mengambil tangan kanan Brian dan mencium lembut punggung tangan suaminya itu.
" Kakak akan mandi atau..."
" Aku mau mandi dulu!" Kata Brian.
" Persiapkan pernikahan kita Besok! Apa bisa?" tanya Fatma pada Brian.
" Heh?" ucap Brian yang terpaku mendengar permintaan Fatma.
" Jika tidak bisa tidak apa-apa, kapanpun kamu bisa, kamu..."
" Aku bisa! Besok jam 8 pagi kita pergi ke catatan sipil!" sela Brian yang baru menyadari kebodohannya yang terdiam begitu saja.
" Baguslah! Aku akan bicara pada Abi setelah sarapan!" kata Fatma.
Brian rasanya ingin melompat dan tertawa bahkan memeluk istrinya saat mendengar permintaan Fatma. Dia berpikir jika Fatma telah menerima dirinya seutuhnya. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar Fatma. Brian membersihkan tubuhnya di kamar mandi sedangkan Fatma menyiapkan pakaian Brian untuk kerja. Brian keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos dan celana pendek. Dilihatnya pakaiannya telah tersedia di atas ranjang.
Hhmm! Apakah dia yang mencuci dan mensetrikanya? batin Brian. Fatma mengambil handuk yang diletakkan Brian disandaran kursi belajar Fatma lalu menjemurnya di dekat jendela kamarnya. Brian melepas kaosnya dan memakai kaos dalamnya, Fatma memutar tubuhnya dan tersentak melihat tubuh suaminya yang hanya memakai kaos dalam. Dengan cepat dia memutar kembali tubuhnya, Brian hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya. Setelah dia memakai semua pakaiannya, dia berdehem.
" Ehm! Apakah engkau akan terus berdiri disitu?" goda Brian.
Fatma yang mendengar ucapan Brian menjadi malu dan segera bergegas keluar dari kamar diikuti dengan Brian. Diruang makan Brian melihat Arkan yang duduk tanpa melihatnya, dia tahu jika Arkan pasti merasa jika Brian mengkhianati adiknya. Dan pastinya jika dilihat sikap Fatma saat ini, Arkan belum mengatakan apa-apa tentang Ashley pada Fatma.
" Abi! Ummi! Dan semuanya! Adek ingin menyampaikan sesuatu!" kata Fatma setelah mereka selesai sarapan.
" Ada apa?" jawab Azzam
" Adek memutuskan...akan menikah dengan Brian di catatan sipil" kata Fatma.
" Apa?" Teriak Arkan.
" Adek rasa Kak Briandia telah berusaha untuk memahami dan belajar tentang agama kita yang sesungguhnya!" tutur Fatma. Arkan terkejut mendengar ucapan Fatma, dia memandang Brian seakan bertanya tentang kejadian kemarin.
" Dan menurut Fatma dia telah menerapkan semua itu dalam kehidupannya sehari-hari!" tambah Fatma.
" Kalau kamu sudah mengambil keputusan seperti itu, Abi tidak ada masalah! Kapan..."
" Tunggu, Bi!" sela Arkan.
" Arkan? Apa Abi pernah mengajarkan kamu untuk menyela pembicaraan orang?" tanya Abi sedikit marah.
" Maafkan Arkan, Bi! Ini sangat penting..."
Tok! Tok! Tok! Ada yang mengetuk pintu rumah mereka.
" Biar Daffa yang buka!" kata Daffa kemudian pergi ke arah pintu utama. Tidak lama kemudian Daffa masuk lagi dengan wajah yang terlihat khawatir.
__ADS_1
" Siapa, Daf?" tanya Abi.
" Itu, Bi! Ada yang mau bertemu dengan Kak Brian!" kata Daffa gugup.