Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
14


__ADS_3

Wajah Brian menggelap, dia tidak suka ada yang menghalangi keinginannya.


" Bos! Tolong! Banyak anak kecil disini!" bisik Danis.


" Aku akan membuat perhitungan denganmu!" ucap Brian marah lalu langsung pergi meninggalkan lapangan dan menuju mobilnya.


" Sekali lagi maafkan Bos saya, Ust. Harun, ini donasi dari kami!" kata Danis menyerahkan amplop besar.


" Trima kasih, Pak Danis! Semoga Allah SWT membalasnya dengan banyak kebaikan!" kata Harun.


" Saya permisi!" pamit Danis.


" Silahkan!" jawab Harun.


Danis pergi meninggalkan Harun dan yang lain.


" Ada apa, Run?" tanya Arkan yang melihat ada ribut-ribut.


" Tidak ada apa-apa, bro! Hanya salah paham saja!" jawab Harun.


Kemudian semua kembali ketempatnya masing-masing dan melanjutkan acara tanpa kehadiran Brian.


" Apa segitu berharganya gadis itu dimata calon suamiku?" sindir Safira.


" Apa maksudmu?" tanya Harun pada Safira.


" Kamu tahu siapa Tuan Brian Manaf?" tanya Safira sinis.


" Tahu!" jawab Harun.


" Apa kamu tahu reputasinya di kalangan para pengusaha?" tanya Safira lagi.


" Apa yang ingin kamu katakan, Fira! Bicara saja!" ucap Harun lembut.


" Dia mampu menghancurkan orang yang tidak disukainya atau menentangnya bahkan berani menghinanya!" tutur Safira serius.


" Maksud kamu dia akan menghancurkan aku?" tanya Harun. Safira mengangkat kedua bahunya.


" Rejeki itu asalnya dari Allah SWT, Fira! Jika Allah ingin mengambilnya, tidak ada satu kekuatanpun mampu menahannya?" ucap Harun dengan senyuman.


" Tapi maaf, Kak! Aku nggak mau menikah dengan orang miskin! Jadi jika Kakak ingin menikahi denganku, jaga baik-baik hubungan Kakak dengan Tuan Brian!" kata Safira yang membuat hati Harun merasa sedih. Astaghfirullah! Apakah hamba benar-benar telah salah memilih? batin Harun. Diliriknya gadis disampingnya itu dengan berbagai pertanyaan yang mengisi benaknya.


" Apakah dimata kamu saya hanya seharga itu?" tanya Harun ragu.


" Aku hanya tidak suka kamu berselisih dengan dia hanya demi seorang gadis yang tidak penting!" ucap Safira lagi.


" Astaughfirullah, Fira! Kenapa kamu bisa berlata seperti itu?" tanya Harun.


" Karena Kakak tidak menghargaiku sebagai seoramg calon istri!" kata Safira marah.

__ADS_1


" Baiklah! Aku minta maaf seandainya aku berbuat hal yang menyakiti perasaanmu!" kata Harun lembut.


" Sudahlah! Aku hanya memikirkan nasibmu setelah ini!" jawab Safira.


Brian duduk di dalam mobilnya dengan wajah penuh amarah, dia masih mengingat ucapan Harun tadi di sekolah.


" Ustadz brengsek! Berani dia menghinaku di depan umum!Saya mau kamu hancurkan karirnya tanpa bekas!" ucap Brian.


" Siap, Bos!" jawab Danis tanpa bertanya siapa orangnya, karena dia tahu jika Bosnya dalam keadaan marah besar.


" Dan satu lagi, ini penting! Saya mau data tentang gadis itu ada di mejaku hari ini juga!" kata Brian.


Matanya terpejam dan punghungnya bersandar pada kursi mobil. Wajah dan suara Fatma menari-nari dipelupuk mata Brian. Ahhh! Ada apa denganku? Tidak! Aku tidak boleh memiliki perasaan ini! Aku bukan pria yang lemah! Dan Tidak ada yang akan membuatku lemah, apalagi seorang wanita! Aku akan membuatmu bersujud dikakiku! batin Brian. Dia pasti masih perawan! Hmmm! Menarik! Aku belum pernah mencoba yang perawan sebelumnya! batin Brian. Khitbah? Apa itu khitbah? batin Brian. Dinyalakannya ponselnya dan dicarinya arti kata Khitbah. Jadi dia sudah memiliki calon suami. Tapi siapa yang mengkhitbahnya? Brian bertanya-tanya dalam hati.


" Cari tahu siapa pria yang mengkhitbah dia!" ucap Brian.


" Apa, Bos?" tanya Danis yang belum tahu apa itu khitbah.


" Calon suami!" kata Brian lagi.


" Siap, Bos!" jawab Danis mengerti.


Sementara itu di sekolah Fatma acara telah selesai dan semua berjapan dwngan lancar. Panitia sedang membongkar dekorasi dan panggung dibantu pegawai Arkan. Harun mengantar Safira langsung ke apartementnya, karena dia harus syuting beberapa jam lagi.


" Benar-benar menyebalkan orang itu!" ucap Ust. Ulfa.


Fatma yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka di ruang guru hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Apa Ust. Zahirah tahu tadi ada peristiwa yang menghebohkan?" tanya Ust. Mala.


" Peristiwa apa?" tanya Fatma yang sebenarnya tidak mau ikutan ghibah, tapi dia hanya menghormati mereka sebagai yang lebih tua.


" Tadi itu Pak Brian ingin bertemu dengan Ust. Zahirah, tapi Ustadz Harun menghalanginya!" jelas Ust. Mala.


" Saya? Tapi kenapa?" tanya Fatma penasaran.


" Kita juga nggak tahu, tapi dia terlihat marah gitu sepertinya!" kata Chusnul. Fatma hanya menganggukkan kepalanya.


" Saya dengar-dengar, Pak Brian itu orangnya jahat dan kejam!" kata Mala.


" Astaughfirullah! Apa benar?" tanya Fatma.


" Iya! Semoga tidak terjadi apa-apa pada Ustadz Harun!" kata Mala


" Aamiin! Kita do'akan saja ya Us!" jawab Fatma sedikit khawatir dengan perkataan Mala.


Setelah semua beres, Fatma pamit kepada semua guru dan pulang bersama dengan Arkan.


" Apa kamu tahu kejadian antara Pak Brian dan Ustadz Harun?" tanya Arkan saat di dalam mobil dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


" Apa abang ingin ghibah juga?" gurau Fatma.


" Astaghfirullah, Dek! Kalo bercanda jangan keterlaluan, masa iya, abang sendiri dibilang Ghibah!" jawab Arkan tersenyum.


" Hehehe! Adek memang mendengar dari guru-guru di sekolah, bang! Fatma hanya tidak mau jika Fatma menjadi penyebab permusuhan orang lain!" kata Fatma sabar.


" Adik abang yang satu ini memang paling baik! Nabil benar-benar pandai memilih jodohnya!" ucap Arkan.


" Alhamdulillah! Abang apa'an, sih!" kata Fatma malu.


" Wiiii, humairoh!" balas Arkan.


Fatma tersipu dan membuat Arkan tertawa.


" Terima kasih atas pujiannya, tapi jangan menilai Adek terlalu tinggi, bang! Adek hanya manusia biasa yang masih memiliki banyak kekurangan!" jawab Fatma merendah.


" Subhanallah! Bener-bener adek abang ini!" sahut Arkan bangga.


Brian keluar dari mobilnya dan menuju lift khusus miliknya, wajahnya masih terlihat kesal dan marah.


" Selamat Siang, Pak Brian!" sapa Norma ketika melihat Bosnya datang. Brian hanya diam saja melewati Norma dan Danis yang mengekor dibelakangnya meletakkan telunjuk di bibirnya memberikan isyarat pada Norma.


" Hahhhh!" teriak Brian dengan kesal.


" Bos! Maaf! Tapi kita ada meeting dengan Mr. A Hong di Hotel Indonesia satu jam lagi!" kata Danis.


" Ambilkan aku wine!" kata Brian tanpa merespon perkataan Danis.


Da membuka kotak cerutunya dan menyalakan satu batang. Brian bukan perokok, tapi dia akan merokok jika hatinya sedang kesal dan marah.


" Ya, Bos!" jawab Danis cepat.


Dia berjalan ke sebuah mini bar dan mengambil sebotol wine beaerta sebuah gelas. Dibawanya keduanya ke meja Brian dan menuangkan wine tersebut ke gelas berkaki itu.


Brian menghisap dalam cerutunya dan menghembuskan asapnya hingga memenuhi ruangan. Danis menyalakan Blueair yang terdapat di sudut kanan meja kerja Brian. Sebatang cerutu dan sebotol wine habis dalam waktu lima belas menit. Kemudian dia menyuruh Danis untuk membersihkan semua sementara dia membersihkan tubuhnya di kamar pribadinya. Tiga puluh menit kemudian dia telah siap pergi ke Hotel Indonesia untuk meeting.


Nabil memasuki lantai 15 perusahaan  milik Brian kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya. Dilihatnya ruangan itu masih kosong, dia meletakkan hasil meetingnya pagi itu diatas meja lalu menghubungi Norma. Kalo Danis nggak ada, pasti Brian juga nggak ada! batin Nabil.


" Norma! Lo bisa keruang gue sebentar!"


" Ok!" jawab Norma.


Nabil menutup panggilannya dan melanjutkan pekerjaannya memasukkan data ke laptop. Norma merapikan pakaian dan riasannya lalu berjalan ke ruangan Nabil.


" Ada apa, Bil?" tanya Norma yang langsung masuk ke dalam ruangan Nabil.


" Lo bisa kesini! Ini kok sepertinya salah?" ucap Nabil dengan wajah serius melihat ke laptopnya. Norma berjalan mendekati Nabil dan berdiri disamping Nabil.


" Apanya?" tanya Norma yang serius menatap layar laptop Nabil. Dengan gerakan lembut tangan Nabil meraba paha Norma hingga menyentuh paha wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2