Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
37


__ADS_3

Azzam teringat saat Brian mengatakan jika dirinya orang yang cerdas dan pandai. Hal itu benar-benar terbukti sekarang, semua yang dikatakan telah terbukti


Abi!" panggil Brian saat mereka duduk di taman dekat komplek, mereka sedang olahraga pagi.


" Ya?" sahut Azzam.


" Apa ilmu agama saya belum cukup untuk menikah dengan Zahirah?" tanya Brian.


Azzam melihat menantunya tersebut dengan mengerutkan dahinya.


" Kenapa? Apa kamu begitu bernafsu ingin menikah dengan Fatma?" tanya Abi Fatma sedikit kecewa.


" Saya..."


" Apa kamu sangat ingin menyentuhnya?" tanya Abi fulgar.


" Maaf, Bi! Bukannya saya mau mengingkari janji, tapi saya pria normal, Bi! Saya bisa tahan dengan wanita lain, tapi dengan putri Abi, entah kenapa saya...tidak bisa!" jawab Brian jujur.


Azzam tidak menyalahkan Brian, mereka pengantin baru dan harus menahan hasratnya pada istrinya, sebagai pria normal itu pasti sangat menyiksa.


" Apa kamu benar-benar ingin menikahi Fatma secara sah?" tanya Abi.


" Iya, Abi!" jawab Brian.


" Kenapa? Beri alasanmu!" ucap Abi.


" Karena saya mencintai dia dan...semua karena ibadah saya pada Allah SWT, Bi!" jawab Brian.


" Alhamdulillah! Jika kamu sudah memahami alasan seorang muslim menikah! Tapi aku akan menyerahkan semua pada Fatma!" kata Abi.


" Dia pasti tidak akan setuju!" kata Brian.


" Darimana kamu tahu?" tanya Abi.


" Karena dia tidak akan mengingkari janjinya!" jawab Brian.


Ternyata kamu cukup tahu tentang istrimu! batin Abi Fatma.


" Menurut Abi kamu masih perlu banyak belajar!" kata Azzam.


" Tapi saya mendapat nilai B dari Istadz saya,Bi!" kata Brian.


Azzam melihat ponsel Brian yang berisikan nilai dia selama belajar.


" Baiklah! Abi tahu jika kamu mampu mempelajari apa saja dengan cepat!" kata mertuanya lagi.


" Trima kasih!" kata Brian semangat.


" Abi akan memberikan restu pada kalian untuk menikah di catatan sipil jika Fatma menyetujui!" kata Abi Fatma dengan tegas.


" Trima kasih, Abi! Saya akan bicara padanya!" kata Brian mencium tangan Abi Fatma dengan hati yang sangat bahagia.


" Kapan rencana keluargamu akan datang?" tanya Abi.


" Mama baru keluar dari RS, kira-kira minggu depan saya akan membawa hantaran dan langsung menikahi Fatma jika dia setuju!" tutur Brian sambil memberikan Abi Fatma air mineral.

__ADS_1


" Abi harus membicarakan ini dengan keluarga dulu!" kata Abi Fatma.


" Abi tidak perlu repot-repot menyiapkan semuanya, karena saya yang akan menyiapkannya!" jelas Brian.


Azzam menghembuskan nafas panjang, dia sebenarnya tidak enak dengan semua bantuan yang diberikan Brian, harusnya pihak perempuan yang mengadakan pesta.


" Utarakan maksud kamu setelah Fatma menyetujui!" kata Azzam.


" Baik, Bi!" jawab Brian.


Azzam yang sesekali melihat ke sekeliling, merasa jika menantunya ini menjadi bahan tontonan kaum hawa karena wajah dan tubuhnya yang nyaris sempurna. Kamu harus kuat iman dan banyak bersabar, nak! batin Azzam. Dia memikirkan Fatma yang akan mendapatkan banyak sekali cobaan karena suaminya yang nyaris sempurna dimata wanita.


" Kita pulang, sudah mulai panas!" kata Azzam.


" Iya, Bi!" jawab Brian.


Kemudian keduanya pergi meninggalkan tempat tersebut dengan berlari-lari kecil.


Sarapan Pagi itu menghidangkan menu nasi goreng telur dengan juz jeruk sebagai minumannya. Semua anggota keluarga hadir untuk sarapan setelah melakukan aktivitas mereka dipagi hari. Brian pergi mandi setelah berolahraga pagi dengan Azzam di Taman, lalu langsung menuju ke ruang makan setelah berpakaian. Mereka menikmati sarapan dengan tenang, kemudian berpindah ke ruang tengah sesuai kebiasaan untuk sekedar berbincang-bincang saat libur kerja. Brian tidak ikut dengan mereka, dia memilih kembali ke dalam kamar.


" Kakak nggak ikut ke ruang tengah?" tanya Fatma.


" Aku ingin bicara denganmu sebentar!" kata Brian.


Jantung Fatma berdetak cepat mendengar ucapan Brian. Apa yang ingin dia bicarakan? batin Fatma. Brian duduk di kursi belajar Fatma dan Fatma duduk di pinggir ranjangnya dengan tubuh mereka berhadapan.


" Aku ingin...kita menikah secara resmi!" kata Brian dengan hati-hati. Fatma terlihat terkejut mendengar permintaan Brian.


" Tapi kenapa? Batas waktu kakak kan masih 3 minggu lagi!" kata Fatma.


" Aku akan bicara dengan Abi!" kata Fatma lalu dia berdiri dari duduknya.


" Aku sudah bicara dengan Abi!" kata Brian.


" Apa? Kapan?" tanya Fatmadengan nada tidak suka.


" Tadi pagi!" jawab Brian pelan, dia tahu jika istrinya sepertinya tidak suka dengan tindakannya.


" Harusnya kakak bicara dulu denganku! Aku seperti orang bodoh saja!" kata Fatma sebel, dia merasa jika Brian menjebaknya.


" Maaf! Aku tidak bermaksud membuatmu seperti itu!" kata Brian sedih.


" Apa syarat itu begitu berat bagimu?" tanya Fatma curiga.


" Aku hanya tidak ..."


" Tidak apa?" tanya Fatma heran karena Brian menghentikan ucapannya.


" Sudahlah, jika memang kamu tidak mau, aku tidak akan memaksamu!" kata Brian kecewa.


" Tentu saja kamu tidak bisa memaksaku!" sahut Fatma kesal.


Brian berpikir jika Fatma belum mencintainya atau bahkan tidak menyukainya. Apakah aku harus lebih sabar lagi? Apakah...ahhh! Kenapa dengan diriku? Kenapa aku tidak bisa bertahan jika di dekatmu? batin Brian marah.


Apakah dia marah? Salahnya sendiri, dasar otoriter! batin Fatma. Aku belum siap menerimamu, terlebih setelah apa yang aku ketahui hari ini! batin Fatma sedih.

__ADS_1


Flashback On


Fatma sedang pergi ke pasar bersama Salma dan Sri setelah berpamitan dengan suaminya yang akan pergi berolahraga. Mereka membeli daging dan sayur juga buah untuk 3 hari ke depan. Saat mereka sedang menikmati minum es kelapa muda di tempat biasa mereka minum, ada panggilan masuk ke ponsel Fatma. Nabil? Fatma bingung antara menerima atau menolak.


" Siapa, nak?" tanya Salma.


" Kak Nabil, mi!" jawab Fatma malas.


" Angkatlah! Meskipun dia pernah menyakitimu, tapi jangan sampai tali silahturahmi kalian sampai putus!" tutur Salma.


Fatma menganggukkan kepalanya. Dia menggeser ikongambar telpon yang berwarna hijau.


" Halo, Assalamu'alaikum!" sapa Fatma.


" Wa'alaikumsalam! Fatma!" balas Nabil.


" Ada apa, Kak?" tanya Fatma malas.


" Kamu apa kabar?" tanya Nabil balik.


" Alhamdulillah baik!" jawab Fatma.


" Aku ingin menghubungimu beberapa hari ini, tapi aku malu!" kata Nabil santai.


Fatma terdiam mendengar ucapan Nabil.


" Aku mau minta maaf, Fatma! Aku benar-benar telah tersesat!"


" Aku sudah memaafkan kamu, Kak!" kata Fatma.


" Seandainya waktu bisa diulang kembali, Fatma! Aku tidak mau bekerja di perusahaannya Brian brengsek itu!" kata Nabil dengan nada yang dibuat marah.


Fatma hanya menghela nafasnya mendengar umpatan Nabil.


" Istighfar, Kak!" tegur Fatma.


" Astaghfirullahaladzim! Dia yang telah membuatku jadi seperti ini, Fatma! Seandainya malam itu dia tidak memaksaku minum...ah! Sudahlah, semua sudah terjadi!" kata Nabil mendramatisir.


" Kamu yang sabar, ya,Kak! Allah pasti punya rencana lain!" balas Fatma.


" Iya, Fat! Aku baru sadar kalo dia memang pria nggak bener, Fat!" kata Nabil.


" Maksud kakak?" Fatma penasaran dengan perkataan Nabil.


" Brian itu! Dia suka sekali one night stand dan hampir tiap malam!" kata Nabil.


" One night..."


" Iya! Tiap malam dengan wanita!" jelas Nabil.


Fatma terkejut mendengar ucapan Nabil, hatinya sakit mendengar semua itu sedangkan Nabil tersenyum lebar, karena dia sangat mengenal Fatma.


" Darimana kakak tahu?" tanya Fatma sedih.


" Teman Kak Zidan adalah relasi dia, kemarin aku bertemu dengannya dan dia bicara tentang siapa itu Brian! Dia bilang Brian itu seorang penakluk wanita dan dia tidak pernah bersama dengan wanita yang sama tiap malamnya!" cerita Nabil.

__ADS_1


__ADS_2