Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
36


__ADS_3

Meskipun dia belum pernah memakan makanan itu, dia yakin jika Fatma yang mengambilkan pasti rasanya enak. Fatma mengambilkan lauk dan sayur untuk suaminya. Para wanita mengisi piring mereka kemudian Azzam membacakan do'a sebelum makan.


" Ayo, makan!" kata Azzam.


Azzam dan semuanya kecuali Brian makan menggunakan tangan. Brian melihat semua orang yang makan menggunakan tangan, rasanya seperti sangat nikmat. Tapi dia tidak pernah melakukan itu.


" Kenapa?" tanya Azzam yang melihat Brian masih diam.


" Nggak apa-apa, Bi!" jawab Brian lalu menyendokkan makanan ke mulutnya.


Deg! Enak sekali! batin Brian. Dia memakannya hingga tak tersisa. Dia ingin nambah, tapi dia tidak enak hati alias malu! Hahahaha! Punya malu juga lo Brian? Kemudian mereka kembali ke kamar masing-masing setelah selesai makan dan membersihkan dapur.


Brian telah rapi dengan pakaian kerjanya tadi, sedangkan pakaiannya yang tadi dimasukkannya lagi ke dalam goodybag. Fatma masuk dan melihat goodybag yang dibawa suaminya.


" Kalo boleh tahu apa itu? Yang kamu bawa? Kenapa dibawa kesana-kemari?" tanya Fatma penasaran.


Brian tersenyum mendengar Fatma yang sudah berkamu-kamu.


" Pakaianku!" jawab Brian.


" Letakkan disitu! Apa kamu akan membawanya kesana-kemari?" tanya Fatma lagi.


" Aku pikir karena kita belum resmi jadi aku tidak..."


" Kita sudah menikah meskipun hanya sirih, kamu boleh meninggalkan barangmu disini! Sudah tugasku mencuci dan mensetrika pakaianmu!" kata Fatma lagi.


" Apa tidak merepotkan?" tanya Brian terkejut.


" Tidak sama sekali!" jawab Fatma.


" Apakah lemarimu muat untuk menyimpan pakaianku?" tanya Brian menatap lemari pakaian Fatma yang menurutnya sangat kecil.


" Aku akan mengeluarkan pakaian yang sudah tidak aku pakai lagi, jadi kamu bisa memasukkan pakaianmu" kata Fatma.


" Baiklah!" kata Brian meninggalkan goodybagnya.


" Aku harus kembali ke kantor!" kata Brian.


" Iya!" balas Fatma.


Mereka berdua berjalan ke pintu utama diikuti oleh Fatma.


" Apa aku perlu berpamitan pada Abi dan Ummi?" tanya Brian saat sampai diruang tengah.


" Tidak perlu!" jawab Fatma.


Saat mereka sampai di pintu utama, Fatma memutar kuncinya dan membuka pintu tersebut. Brian menatap istrinya.


" Aku pergi dulu! Assalamu'alaikum!" ucap Brian.


" Wa'alaikumsalam!" jawab Fatma sambil meraih tangan kanan Brian dan menciumnya.


Kembali tubuh Brian berdesir mendapat perlakuan dari Fatma. Bibir Fatma yang menyentuh kulit tangannya membuat libidonya sedikit memberontak. Dengan cepat dia melangkahkan kakinya ke mobil untuk meredam debaran jantung dan bagian lain tubuhnya, dilihatnya dari kaca mobil Fatma sedang menatapnya. Brian tersenyum ringan, dia sangat menggemaskan! batin Brian. Fatma masuk ke dalam kamarnya untuk mengeluarkan beberapa pakaian yang tidak dipakainya.

__ADS_1


Brian telah sampai di kampus UIN beberapa saat kemudian. Dia keluar dari mobilnya dan melangkah memasuki gedung perkuliahan. Semua mata menatap kagum ke arahnya, terutama para mahasiswi yang dilewatinya.


" Permisi!" sapa Brian pada seorang mahasiswa.


" Ya?" sahut pemuda itu.


" Dimana ruang konsultan?" tanya Brian.


" O, bapak bisa jalan ke gedung yang berwarna hijau itu! Lalu masuk dan lurus aja, sebelah kanan Ruang Konsultan!" jelas pemuda itu.


Sialan! Emang tampang gue kayak bapak-bapak apa? batin Brian. Dia berlalu tanpa mengucapkan terima kasih karena sebel dengan perkataan pemuda itu.


" Dasar orang kaya! Songong banget!" kata pemuda itu.


" Iya! Udah dikasih tahu nggak ada trima kasihnya!" sahut temannya.


Brian mengikuti petunjuk pemuda tersebut dan mendapatkan ruang konsultan di depannya. Dia melihat ke arah jam yang ada ditangannya. Jam 1 tepat.


Tok! Tok! Tok!


" Assalamu'alaikum!" salam Brian.


" Wa'alaikumsalam!" jawab orang yang di dalam.


" Masuk saja!" katanya lagi.


Brian kemudian masuk ke dalam dan dilihatnya Harun sedang duduk dibelakang mejanya melakukan sesuatu.


" Sudah!" jawab Brian.


" Baiklah, sebelum mempelajari tentang shalat dan mengaji, anda harus tahu tentang Islam, Syahadat, Rukun Islam dan Iman!" tutur Harun.


Harun memberikan penjelasan tentang dasar-dasar agama Islam dan Brian langsung memahaminya. Harun membagi menjadi 2 pelajaran tiap harinya, dimana 2 jam mempelajari tentang shalat dan 2 jam tentang mengaji. Brian hanya mendengarkan saja tanpa bertanya apa-apa. Jam 5 sore pelajaran telah selesai dan Brian langsung kembali ke rumah Fatma. Dia selalu mengirim pesan pada Fatma jika dirinya dalam perjalanan pulang, karena dia mau istrinya yang menyambutnya saat pulang. Brian turun dari mobilnya dan menatap Fatma yang telah berdiri di depan pintu utama untuk menyambut dirinya. Dan seperti biasa, istrinya itu selalu menundukkan wajahnya.


" Assalamu'alaikum!" salam Brian.


" Wa'alikumsalam!" jawab Fatma dengan dada yang selalu berdebar-debar.


Fatma mencium punggung tangan Brian seperti biasa. Kemudian Brian masuk ke dalam disusul oleh Fatma yang menutup pintu dan menguncinya.


" Kakak mau mandi? Aku telah menyiapkan handuk kakak di kamar mandi!" ucap Fatma lembut setelah mereka sampai di dalam kamar.


Hati Brian terasa hangat mendengar panggilan Fatma padanya. Istri mungilnya ini selalu bisa memberikan kejutan padanya setiap hari.


" Iya!" jawab Brian tersenyum.


Dia melepas jas dan dasinya dan masuk ke dalam kamar mandi. Fatma menyiapkan pakaian koko dan sarung Brian untuk persiapan shalat maghrib. Mereka selalu mengaji sebelum shalat maghrib tiba dan tidak beranjak sebelum selesai shalat isya'.


" Apa kamu semalam tidur disitu?" tanya Brian yang keluar dari kamar mandi dengan kaos dan celana pendek.


Mereka telah selesai makan malam dan sekarang akan tidur. Fatma yang terkejut melihat keadaan Brian, langsung memutar tubuhnya membelakangi suaminya itu.


" I...iya!" jawab Fatma gugup.

__ADS_1


Brian melihat istrinya sedang menata bantalnya dibawah.


" Tidurlah diatas! Biar aku yang tidur disitu!" kata Brian.


" Tidak! Kamu pasti tidak biasa!" jawab Fatma.


" Aku tidak mau kamu sakit!" kata Brian lagi.


" Tidak apa-apa, aku sudah biasa!" kata Fatma memaksa.


" Bukankah seorang istri wajib mematuhi suaminya?" ucap Brian yang membuat Fatma terdiam tanpa bisa mengelak lagi.


Akhirnya dia naik ke atas ranjangnya dan Brian berjalan menuju tempat yang telah disiapkan Fatma. Dan memang benar, semalaman dia tidak bisa tidur juga tubuhnya terasa pegal-pegal.


" Kak! Bangun! Shalat subuh!" panggil Fatma.


Brian yang baru 2 jam bisa tertidur, bergeming dari tempatnya.


" Kak! Banhun, Kak!" panggil Fatma lagi.


Tapi reaksi suaminya itu masih sama. Fatma meraih ponselnya dan memasang alarm di dekat Brian.


Tit tit tit...tit tit tit...Brian langsung terbangun dari tidurnya mendengar alarm yang cukup keras di telinganya.


" Danissss! Aku baru saja tidur, kenapa membangunkanku?" tanya Brian yang merasa dia sedang di penthousenya, tanpa membuka kedua matanya.


" Sudah subuh, Kak!" kata Fatma yang menahan tawanya melihat wajah bantal suaminya yang sangat lucu.


" Kenapa suaramu berubah menjadi Zahirah? Apa kamu mau mati?" tanya Brian yang masih sempat cemburu.


" Astaugjfirullah, Kakak! Membunuh itu dosa besar!" kata Fatma terkejut.


Brian seakan tersadar, dia langsung membuka kedua matanya dan dilihatnya istrinya yang duduk diranjang sambil menutup mulutnya yang menganga.


" Zair?" ucap Brian.


" Apa Kakak serius mau melakukan itu?" tanya Fatma takut.


" Tentu saja tidak! Ada apa kamu membangunkanku?" tanya Brian cemberut.


" Ini sudah waktunya shalat subuh, Kak!" jawab


" Apa gak bisa ditunda sebentar? Aku masih ngantuk!" kata Brian.


" Tidak baik menunda-nunda sesuatu, Kak! Apa kakak mau pernikahan kita ditunda lagi?" bujuk Fatma.


Seketika mata Brian yang terpejam langsung membulat sempurna.


" Tidak! Baik, aku akan mandi!" kata Brian yang langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi.


Fatma hampir saja terjatuh karena tertawa didalam bantal agar suaminya tidak mendengarnya. Menurutnya Brian sangat lucu tadi.


Seminggu sudah Brian belajar tentang Islam dan dia telah menerapkan semua yang diajaran Harun di keluarga Fatma. Azzam sangat terkejut dengan perubahan yang Brian tunjukkan, karena dia telah menguasai bab tentang shalat dan dzikirnya, juga tentang mengaji. Brian telah bisa membaca Al Qur'an dengan baik walau masih belum begitu lancar.

__ADS_1


__ADS_2