
Mereka telah sampai di sekolah yang dimaksud. Sebuah sekolah islam yang cukup terkenal di Jakarta. Dan ternyata sekolah itu adalah sekolah dimana Fatma mengajar.
" Pak Arkan! Apa semua sudah siap?" tanya Kepala Sekolah Fatma, Ust. Warda.
Acara ini terselenggara atas kerjasama EO Arkan dan Yayasan milik Harun yaitu Yayasan Al Basyar. Danis yang menunjuk EO Arkan, karena dia tahu jika EO milik Arkan adalah EO yang sangat professional dan sudah terkenal di Indonesia. Sedangkan kenapa dia mengadakan acara di SD Islam Al Ilmi II ini karena disini ada Da'i kondang Ustadz Harun yang sangat baik untuk pencitraan Brian.
" Ins Yaa Allah, sudah Ustadzah!" jawab Arkan sambil menunggu kedatangan tamu utama. Harun sudah hadir bersama dengan Safira dan duduk di kursi undangan paling depan. Harun sengaja mengajak Safira karena gadis itu yang meminta. Safira pikir acara ini baik untuk karirnya, apalagi dia mendengar tamu utamanya adalah pengusaha muda CEO Manafs Co.
Fatma sendiri saat ini sedang mempersiapkan penampilan anak-anak didiknya untuk tampil di depan para undangan dan donatur.
" Ustadzaf Zahirah!" panggil Nurul.
" Wa'alaikumsalam! Ya, us?" jawab Fatma dengan senyuman.
Nurul tersipu malu karena masuk ke kelas tidak memberi salam dahulu.
" Maaf! Assalamu'alaikum!" salam Nurul.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Fatma masih dengan senyum manisnya yang selalu teukir dan membuat hangat hati setiap orang yang memandangnya, terlebih dengan lesung pipit yang dimilikinya.
" Apa semua sudah siap?" tanya Nurul.
" Ins Yaa Allah anak-anak siap!" jawab Fatma dengan lembut.
" Acara akan segera dimulai!" kata Nurul lagi.
Fatma menganggukkan kepalanya. Diatas panggung telah hadir seorang MC terkenal yang sengaja di datangkan Arkan untuk acara ini.
Mobil mewah Brian memasuki halaman sekolah dan berhenti di halaman sekolah, sedikit jauh dari panggung utama. Brian merapikan pakaian dan melihat keluar lewat kaca mobil depan.
" Ramai juga!" kata Brian.
" Kebetulan ada artis Safira juga, Bos!" kata Danis.
" Artis?" beo Brian.
" Iya! Artis muda berbakat yang terkenal di Indonesia dan Asia! Sebentar lagi akan merambah dunia Internasional!" jelas Danis.
" Seksi?" tanya Brian.
Danis sudah tahu apa yang ada dipikiran Bosnya itu jika sudah bicara tentang makhluk yang namanya wanita.
" Iya, Bos! Tapi dia tunangan Ustadz Harun! Da'i kondang dan pemilik sekolahan ini!" kata Danis dengan wajah khawatir. Brian membuka pintu mobil dan diikuti Danis yang terkejut larena Bosnya tidak menyuruhnya turun.
" So?!" ucap Brian menatap tajam Danis.
__ADS_1
Danis yang berdiri hanya bisa menundukkan kepalanya, takut. Diluar mobil sudah berjalan mendekat pengurus sekolah dan stafnya.
" Assalamu'alaikum Wr. Wb! Selamat Datang di sekolah kami, Pak Brian!" sapa Harun menyambut kedatangan Brian sambil mengulurkan tangannya. Brian hanya melirik tangan Harun dan menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju ke lapangan tempat acara diselenggarakan. Harun dan semua yang melihat hanya terdiam , tidak ada yang berani menatap atau bicara. Mereka sudah diberitahu orang seperti apa Brian itu.
" Maafkan Bos saya, Ust. Harun! Dia memang seperti itu!" bisik Danis yang merasa bersalah dengan sikap Bosnya.
" Tidak apa-apa, Pak! Saya sudah biasa menghadapi orang seperti beliau!" jawab Harun dengan tersenyum. Dasar Pria sombong! Hartamu adalah titipan Allah jika Dia mengambilnya kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa! gerutu mereka.
Harun mempersilahkan Brian untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Brian melirik kearah Safira dan begitu juga Safira yang sudah berdiri dan menyatukan tangannya di depan dada tanda salam.
" Selamat Datang, Tuan!" sambut Safira yang memberikan senyuman paling manis padanya. Astaga! Dia memang sangat tampan dan gagah! Dia yang membiayai sinetron dan film gue nanti! batin Safira senang bisa langsung ketemu Brian.
Harun melihat wajah bahagia tunangannya yang merona merah karena dilihat dan dibalas senyum oleh Brian. Mereka kemudian duduk di tempat masing-masing. Harun hanya menghela nafas melihat tingkah Safira. Brian merasa jenuh padahal baru juga 10 menit. Sedangkan Safira tidak henti menatapnya. Harun merasa risih dengan sikap Safira.
" Fira! Tolong jaga image kamu!" alasan Harun.
Safira langsung tersadar dan melihat ke depan ke arah panggung.
" Kita pergi! Aku sudah bosan!" ucap Brian.
" Sebentar lagi, Bos! Nggak enak sama Ustadz Harun!" ucap Danis was-was.
" Acara ini membosankan!" ucap Brian kesal.
Danis berdiri dan mendekati Harun.
" Apa Pak Brian tergesa-gesa?" tanya Jarun balik.
" Iya!" terpaksa Danis berbohong.
" Setelah acara anak-anak, ya, Pak!" kata Harun.
" Berapa lama?" tanya Danis lagi.
" Habis ini!" kata Harun.
Danis kembali ke kursinya.
" Setelah acara anak-anak, Bos!" bisik Danis.
" Apa? Bilang pada dia, saya tidak ada waktu. Kasih saja amplopnya!" kata Brian sambil berdiri.
" Kita sambut Ustadzah Zahirah dan muridnya Salsa bersama teman-temannya yang mempersembahkan lagu dan tarian Maulana Ya Maulanaaaa! Beri tepuk tangan yang meriah!" teriak MC.
" Assalamu'alaikum Wr. Wb!" salam seluruh siswa dan Zahirah ke para undangan yang ada di bawah terob dengan tersenyum.
__ADS_1
Harun tersenyum melihat Fatma dan menganggukkan kepalanya. Kemudian Fatma dan Salsa mulai bernyanyi bersama diiringi tari teman-temannya. Suara Fatma tertutup dengan suara tinggi Salsa.
Bidadari didadam..Bidadari didadam..Bidadari didadam..Didam
Fatma mengawali
Dengan kasihmu ya Robbi..Berkahi hidup ini
Dengan cintamu ya Robbi..Damaikan mati ini
Saat salahku melangkah..Gelap hati penuh dosa
Brian yang mendengar suara lembut si penyanyi menjadi penasaran, diangkatnya wajahnya yang marah dan dilihatnya seorang gadis dengan jubah dusty pink berkhimar pink baby, sangat cantik dan anggun. Mata Brian tidak berkedip melihat Fatma, dia seperti melihat sosok bidadari diatas panggung. Kulit wajah yang putih dengan make up natural, suara yang merdu dan lembut. Jantung Brian tiba-tiba berdetak sedikit kencang.
" Bos!" panggil Danis, tapi Brian tidak mendengar panggilan Danis, matanya terpaku pada keindahan makhluk Tuhan di hadapannya.
" Bos!" sekali lagi Danis memanggil kali ini agak keras. Brian tersentak dan menatap Danis.
" Sudah siap amplopnya!" ucap Danis.
" Sebentar lagi!" jawab Brian kembali menatap Fatma.
" Hah? Bos?" ucap Danis terkejut mendengar ucapan Bosnya.
Selama Danis bekerja dengan Brian, tidak pernah dia mendengar Brian mengulang kata-katanya dua kali ataupun berubah pikiran. Danis mengikuti arah pandangan Bosnya. Ahhhh! Apa iya dia melihat gadis itu? batin Danis. Tertutup! Kecil! Sama sekali bukan tipenya! batin Danis lagi. Akhirnya persembahan mereka selesai dan Brian yang masih berdiri bertepuk tangan dengan keras dan sukses membuat Danis melongok nggak percaya.
" Cari tahu tentang gadis itu!" ucap Brian.
" Siap, Bos!" jawab Danis.
" Sekarang! Saya mau kenalan dengan dia!" kata Brian.
" Bos?" ucap Danis laget.
" Kamu! Saya mau gadis yang baru saja menyanyi!" ucap Brian pada Harun yang duduk di sebelahnya.
Entah kenapa perasaan Harun tidak suka dengan permintaan Brian.
" Dia gadis muslim taat, Pak Brian! Dan dia telah dikhitbah seorang laki-laki!" jawab Harun ramah.
Brian mengerutkan alisnya dan menatap Harun dengan tajam.
" Khit...apa?" tanya Brian.
" Khitbah! Artinya dia sudah dilamar orang dan mereka akan segera menikah!" jawab Harun sabar.
__ADS_1
" Masih akan? Belum menikah bukan?!" ucap Brian, kemudian dia pergi meninggalkan Harun dan berjalan menuju ke arah panggung. Harun mengejar mengikuti langkah panjang Brian.
" Tolong, Pak Brian! Anda harus mengerti sopan santun dalam agama kita! Ini bukan negara barat dan dia seorang muslimah taat!" kata Harun menghadang langkah Brian.