Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
38


__ADS_3

Fatma merasa hatinya sangat hancur mendengar penjelasan Nabil. Apakah dia telah salah dalam memilih? batin Fatma.


" Mungkin itu hanyalah bagian dari masa lalunya, Kak!" kata Fatma.


" Masa lalu? 3 hari yang lalu dia baru saja pergi dengan teman wanitanya ke New York dan mereka menginap dalam satu kamar!"


" Jangan menfitnah orang, Kak!" kata Fatma yang tahu jika Brian tidak kemana-mana 3 hari yang lalu.


" Apa untungnya aku memfitnah dia? Kenapa kamu begitu membelanya, Fatma? Apa kamu sudah jatuh cinta padanya?" tanya Nabil emosi.


" Aku bukan membela dia!" ucap Fatma membela diri.


" Jangan terpikat oleh wajahnya, cukup aku dan wanita-wanita malang itu saja korbannya!" kata Nabil dengan nada sedih.


Ucapan Nabil sekali lagi membuat kepercayaan dan keteguhan hati Fatma benar-benar goyah.


" Aku harus pergi, kuatir Abi mencariku!" kata Fatma.


" Iya, maaf, telah menyakitimu! Jika kamu memberikanku kesempatan sekali lagi, aku..."


" Maaf, Kak! Aku tidak bermaksud menolak ataupun menerima. Jika kita memang berjodoh, apapun yang terjadi, kita pasti dipertemukan!" tutur Fatma bijak.


" Baiklah! Aku selalu menunggumu, Fatma!" kata Nabil.


" Trima kasih! Assalamu'alaikum!" salam Fatma.


" Wa'alaikumsalam!" balas Nabil.


Fatma mematikan panggilan Nabil dan termenung mengingat apa yang baru saja dikatakan Nabil di telpon.


" Apa yang dikatakan Nabil, nak?" tanya Salma.


" Eh...emm itu...Hanya meminta maaf, Ummi!" jawab Fatma bohong. Astaghfirullah! Maafkan Fatma, Ummi! batin Fatma.


Sementara Nabil tersenyum smirk dan merasa jika umpannya telah berhasil setelah menelpon Fatma dan berpura-pura menyesal. Kamu akan merasakan apa yang aku rasakan Brian! Atau Bos! batin Nabil senang.


Flashback Off


Fatma meninggalkan Brian sendiri di kamar, Fatma tahu jika hal itu tidak benar, tapi dia sangat marah karena Brian telah berbohong padanya.


" Apa kamu beberapa hari yang lalu pergi keluar negeri?" tanya Fatma saat dia berada di pintu kamarnya.


" Oh, itu! Maaf aku tidak memberitahu, karena ada meeting mendadak di New York jadi aku harus kesana hari itu juga!" jawab Brian.

__ADS_1


Fatma melangkahkan kakinya dengan hati hancur, Nabil mengatakan yang sebenarnya padanya. Ya Allah! Apa yang harus hamba lakukan? Apa hamba harus meminta dia menjatuhkan talak pada hamba? batin Fatma bingung. Berikan petunjukMu, Ya Allah! batin Fatma lagi.


Brian lebih memilih bekerja lewat ponselnya daripada berkumpul dengan keluarga Fatma, karena dia merasa sakit hati atas penolakan Fatma. Brian tidak tahu jika Nabil telah mengatakan hal-hal buruk tentangnya dan Fatma mempercayai Nabil karena pada hari itu Brian memang lupa memberitahu Fatma jika dia harus terbang ke New York. Beberapa hari setelah peristiwa itu Brian tidak pernah lagi mengungkitnya dan dia merasa jika sikap Fatma telah berubah padanya.


Brian merasa jika Fatma lebih banyak bicara lewat sikap diamnya dan tidak lagi mencium tangan Brian saat berangkat atau pulang bekerja. Brian merasa jika harapannya akan sia-sia dan bahkan mungkin pernikahan mereka akan batal.


" Apakah kamu marah padaku?" tanya Brian pada Fatma saat mereka sekeluarga sedang pergi ke pantai untuk sekedar melepas kepenatan.


" Tidak!" jawab Fatma singkat.


" Tolong, jangan seperti ini! Aku tidak suka jika kamu marah padaku!" kata Brian lagi.


" Dan aku tidak suka dengan seorang pembohong!" jawab Fatma marah.


Mereka sedang duduk santai di bawah payung. Sementara Azzam dan Salma berjalan menyusuri pantai, Daffa dan Arkan berselancar dan Rania minum es kelapa muda disebuah cafe.


" Aku tidak pernah membohongimu, Zair!" kata Brian.


" Cihh! Tidak pernah berbohong! Kamu yakin?" kata Fatma tanpa embel-embel Kakak lagi.


" Iya! Aku yakin!" jawab Brian.


" Bahkan ke New York?" kata Fatma.


" Apakah kamu meeting selalu di hotel?" tanya Fatma.


" Benar!" jawab Brian jujur.


" Kenapa?" tanya Fatma.


" Karena aku butuh istirahat sebentar untuk sekedar melepas lelah!" jawab Brian.


" Dengan wanita?" sindir Fatma.


" Zair...."


" Yang berbeda tiap malamnya?"


" Zair!" teriak Brian.


Beberapa orang melihat ke arah mereka. Brian menghela nafasnya karena merasa bersalah telah berteriak pada istrinya. Astaghfirullah! batin Brian. Sedangkan Fatma tersentak karena kaget mendengar teriakan Brian.


" Jangan membentakku!" ucap Fatma tegas.

__ADS_1


" Maaf!" ucap Brian lembut, walaupun dia menahan semua amarahnya di dalam dada.


" Kamu sudah suudzon kepada suamimu sendiri, Zair!" kata Brian.


" Aku tidak suudzon, itu adalah kebenaran yang tidak aku ketahui tentang dirimu!" kata Fatma penuh penekanan.


Brian memang mengakui jika dia dulu adalah seorang pendosa sebelum mengenal Fatma. Sejak belajar tentang Islam, dia banyak berdo'a agar Allah mau mengampuni segala dosa-dosanya.Bahkan dia sering menangis dalam do'anya mengingat semua dosa yang dilakukannya.


" Aku tidak mau memiliki suami seorang pembohong atau pez...!" kata Fatma tidak melanjutkan kata-katanya.


" Pe apa Za?" tanya Brian mengernyitkan dahinya.


Fatma terdiam, dia tersadar jika dia telah berkata kasar terhadap suaminya. Astaghfirullah! Ampuni hamba Ya Allah! Kenapa hamba menjadi orang yang kasar seperti ini! batin Fatma sedih. Sejak berbicara dengan Nabil, pikirannya seakan-akan mengalahkan semua akal sehatnya.


" Katakan Zair! Pe...apa?" tanya Brian lagi dengan nada sedikit tinggi.


Zahirah bergeming dari tempatnya, dia hanya menatap lurus ke arah pantai.


" Fatimah Zahirah Fayyad! Aku memang bukan orang yang baik, bahkan aku adalah seorang pendosa menurutmu, tapi sejak mengenalmu, aku tidak pernah melihat wanita lain atau bahkan berminat dengan wanita selain dirimu!" kata Brian yang hampir saja berteriak tapi dia masih bisa menahannya. Fatma terkejut mendengar amarah dibalik kata-kata Brian, Apakah hamba salah jika curiga padanya, Ya Allah? Kenapa dia sebegitu marahnya? Kenapa dia seperti orang yang sok suci? batin Fatma. Ya Allah! Hamba mohon, berikan hamba petunjuk atas semua permasalahan ini! Jangan jadikan hamba istri yang buta hati dan pikiran atas suami hamba! Amiin! do'a Fatma.


" Apakah kamu cemburu jika aku bersama wanita lain?" tanya Brian penasaran.


" Apa yang harus aku cemburukan darimu? Aku bahkan hampir tidak mengenalmu!" jawab Fatma, seketika membuat Brian merasakan kekecewaan.


Aku akan terus bersabar, Za! Karena aku sangat mencintai dan menginginkanmu. Hanya kamu yang bisa membuatku merasa bahagia di dunia ini. Dan Fatma semakin merasa kesal karena Brian mengatakan itu, dia juga semakin yakin jika suaminya memang seperti yang dikatakan Nabil.


Fatma telah memulai aktivitasnya di sekolah sejak beberapa hari yang lalu, dia lebih sering menghabiskan waktunya di sekolah daripada di rumah. Hatinya masih terasa sakit dengan apa yang terjadi. Sedangkan Brian juga lebih banyak lembur daripada dirumah, dia juga masih merasa kecewa dengan tuduhan dan sikap Fatma padanya.


" Apa kalian semua tidak becus bekerja? Apa kalian mau makan gaji buta? Apa semua harus aku yang melakukannya?" teriak Brian di ruang rapat, membuat semua yang ada disitu tertunduk takut.


Beberapa hari ini Brian selalu uring-uringan di kantor dan dimanapun dia berada. Danis merasa jika Bosnya pasti memiliki masalah dengan istrinya, karena selama ini tidak ada yang bisa membuat seorang Brian seperti wanita yang sedang PMS.


" Jika dalam jangka waktu 2 hari kalian masih tidak bisa melakukannya, ambil gaji dan pesangon kalian di Nindy!" kata Brian kemudian meninggalkan ruangan dan menuju ke ruang kerjanya dengan wajah kesal.


" Bos!" panggil Danis takut.


" Apa?" tanya Brian dengan keras.


" Ad...ada Pak Rino dan Pp...pak Noval di bawah!" kata Danis terbata-bata.


Brian menghela nafas.


" Suruh mereka naik!" kata Brian.

__ADS_1


Rino dan Noval adalah teman Brian saat kuliah di Aussie, mereka memiliki perusahaan di Indonesia yang merupakan warisan dari orang tuanya.


__ADS_2