
" Assalamu'alaikum!" salam Arkan.
" Wa'alaikumsalam!" jawab yang di dalam ruangan
" Kok seperti suara...Adek?" ucap Ummi Fatma, curiga.
Mereka masuk ke dalam, Ummi Fatma melihat Daffa bersiri di kaki brankar menutupi Abinya.
" Lho, Kok, adek ada disini? Apa mau ikut periksain Rania?" tanya Ummi Fatma yang masih terkejut dengan adanya Daffa.
" Tapi dimana Dokter Aulia? Kok, ini seperti ruang inap orang sakit?" tanya Ummi Fatma lagi.
" Ummi!" sapa Daffa meraih tangan Umminya dan menciumnya.
Betapa terkejutnya Ummi Fatma saat melihat orang yang terbaring diatas brankar dengan kaki dibungkus gips.
" Masya Allah, Abiiiii!" teriak Ummi Fatma.
Dia mendekati brankar Azzam dan memeluk tubuh suaminya.
" Ummi! Sabar, Ummi! Abi baru saja tidur! Habis minum obat!" kata Daffa memeluk Umminya yang menangis.
" Abimu kenapa, Dek? Kenapa kakinya harus di gips?" tanya Ummi Fatma dengan airmata meleleh dipipi.
" Kita duduk dulu, ya, Ummi!" ajak Daffa.
Ummi Fatma merasa kedua kakinya lemas dan tak bertenaga melihat keadaan suaminya.
" Ada apa ini sebenarnya? Apa...kalian membohongi Ummi? Kalian sudah tahu jika Abi kalian seperti ini tapi kalian tidak bilang sama Ummi? Masya Allahhhhh, kenapa anak-anakku ini, Ya, Allahhhh?" ratap Ummi Fatma menangis.
" Bukan seperti itu, Ummi, kami..."
" Apa? Kalian tega, ya, sama Ummi! Bagaimana kalo terjadi sesuatu sama Abi kalian dan Ummi tidak sempat..."
" Astaughfirullah! Ummi, istighfar!" sahut Arkan, Rania dan Daffa bersamaan.
" Jangan berpikiran sejauh itu!"
" Abi?"
" Abi nggak apa-apa!"
Seketika Ummi Fatma berdiri dan langsung menciumi tangan dan wajah suaminya.
" Ummi! Ada anak-anak!" bisik Azzam pada istrinya yang seakan lupa dimana mereka berada.
" Astaughfirullah!" ucap Ummi Fatma.
" Istriku Salma, kenapa pipimu memerah?" goda Azzam yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya.
" Aduhhh! Sakit Ummi!" goda Azzam.
" Biar aja! Abi bikin malu Ummi aja!" rengek Salma yang menundukkan kepalanya karena malu sama anak dan menantunya.
Sedangkan mereka bertiga hanya bengong melihat kemesraan kedua pasangan separuh baya itu.
" Tolong tissue!" ucap Azzam.
Salma langsung menarik selembar tissue kering dari tempatnya.
" Untuk apa?" tanya Salma.
" Gak! Khawatir ada yang netes disana!" ucap Azzam menahan tawanya.
__ADS_1
Salma langsung melihat ke arah dagu Azzam bergerak. Dilihatnya ketiga anak dan menantunya sedang berdiri dengan mulut terbuka.
" Abiiii!" teriak Salma kesal.
Sedangkan ketiga anak dan menantunya langsung tersipu dan mengusap mulut mereka masing-masing, takut beneran ada yang netes.
" Hahaha!" tawa Azzam melihat tingkah ketiga anak dan mantunya itu
" Abi bisa aja!" ucap Arkan menggaruk tengkuknya.
" Shhh!" Rania meringis memegangi perutnya.
" Sudah, Rania! Pasti itu sandiwara kalian biar Ummi mau diajak kesini!Sudah gak usah sandiwara lagi!" kata Salma cemberut karena merasa tersindir.
" Sshhhhh, Kak!"
" Sudah, sayang! Nanti Ummi malah marah!" ucap Arkan pada istrinya.
" Sshhh...i..ni...se...riiiiusssss!" kata Rania terbata.
" Apa? Jangan bergurau! Masih minggu depan kan lahirannya!" kata Arkan masih mengira istrinya bercanda.
" Bang! Kak Rania ngompol, ya? Kok lantainya basah?" kata Daffa.
Sontak semua melihat kearah lantai dan dikaki Rania sudah menggenang cairan bening.
" Astaughfirullah, Bang! Istrimu beneran mau lahirannnn! Itu ketubannya sudah pecah" teriak Salma.
Keadaan ruang inap menjadi gaduh karena Rania.
Semua orang termasuk Azzam menunggu dengan wajah penuh kecemasan diruang tunggu. Rania sudah dibawa keruang melahirkan dan Arkan sudah menghubungi Dokter Aulia.
" Oekkkkk! Oekkkkk!"
" Abi! Ummi?"
" Ya, Suster!" sahut Arkan.
" Selamat, ya, Tuan! Ibu dan putrinya dalam keadaan sehat wal afi'at!" ucap perawat itu dengan senyuman.
" Putri? Anak saya perempuan?" tanya Arkan tidak percaya.
" Iya! Sangat cantik seperti ibunya!" kata perawat itu lagi.
" Tabarakallahu! Trima kasih Ya Allah!" Arkan melakukan sujud syukur didepan kaki kedua orang tuanya.
" Selamat, ya, bang! Semoga Soleha! Aamiin!" ucap Azzam dan Salma bergantian.
Semua kembali ke tempat masing-masing. Salma dusuk di dekat brankar suaminya yang saat ini sedang berbaring.
" Abi mau makan?" tanya Ummi.
" Boleh, mi! Maafkan Abi, ya, Ummi! Abi jadi merepotkan ummi!" ucap Azzam.
" Astaghfirullah Abi! Abi bicara apa? Ummi adalah istri Abi, adalah kewajiban Ummi untuk melayani Abi!" jawab Salma.
" Iya, mi! Abi tahu, tapi Abi tetep salah karena tidak langsung memberitahu Ummi!" kata Azzam.
" Iya! Ummi tahu Abi pasti khawatir kalo Ummi kenapa-kenapa kalo langsung dikabari, makanya Abi merencanakan semuanya!" kata Salma lagi.
" Iya, Mi! Abi khawatir Ummi panik!" kata Azzam lagi.
" Sudah! Abi makan dulu!" kata Salma menyuapi suaminya dwngan makanan dari RS.
__ADS_1
" Apa Fatma baik-baik saja, Bi!?" tanya Ummi.
" Ins Yaa Allah! Dia bilang sedikit lecet dan tangannya sedikit keseleo!" kata Azzam.
" Biar nanti diurut saja!" kata Salma.
Azzam makan dengan lahap, karena dia merasa lapar apalagi ada istri tercinta yang menyuapi.
Sementara itu di sekolah tempat Fatma mengajar, murid-muridnya telah bubar pada jam 12 siang. Fatma dan guru-guru pergi ke masjid yang ada di sekolah itu untuk menunaikan shalat dzuhur berjama'ah.
Saat mengambil air wudhu, Fatma sedikit meringis karena lukanya bergeseran dengan pakaiannya, juga tangannya yang keseleo.
" Sshhh!"
" Kenapa sampai terluka begitu?" tanya Nurul, Guru sekaligus bendahara di sekolah itu. Dia merasa kasihan saat melihat luka Fatma yang di perban dan yang tidak.
" Kecelakaan, us!" jawab Fatma.
" Innalillahi wainna ilaihi rojiun! Bagaimana kejadiannya?" tanya Nurul lagi.
" Ada mobil ugal-ugalan, Us! Saya sama Abi saya terjatuh akibat menghindari mobil itu!" jawab Fatma.
" Masya Allah! Semoga mereka selalu di beri keselamatan dan kesadaran oleh Allah!" ucap Nurul.
" Aamiin!" jawab Fatma tanpa dendam.
" Apa gak bawa pakaian ganti? Sedikit kotor, khawatir najis!" kata Nurul.
" Saya pikir juga begitu!" jawab Fatma.
" Pakai saja pakaian saya! Ayo!" ajak Nurul.
" Apa nggak merepotkan?" tanya Fatma.
" Sama sekali nggak!" jawab Nurul.
Mereka pergi ke ruang ganti wanita dimasjid. Fatma lupa membawa pakaian ganti, biasanya ada satu di lemari sekolah. Tapi pakaiannya beberapa hari yang lalu sudah dipakai untuk mengganti pakaiannya yang kotor akibat kena muntahan seorang mufid yang sakit.
" Ini, pakailah!" kata Nurul memberikan pakaiannya yang di dalam loker.
" Trima kasih, Us!" ucap Fatma.
" Sama-sama!" balas Nurul.
Fatma masuk ke salah satu bilik dan mengganti pakaiannya.
" Apa Ustadzah nggak mencatat nomor polisi mobilnya?" tanya Nurul.
" Gak, Us!" jawab Fatma dari dalam bilik.
" Untuk apa juga, Us? Saya serahkan semua pada Allah! Hanya Dia yang berhak akan takdir hamba-Nya!" jawab Fatma tersenyum.
" Ustadzah memang gadis yang soleha! Seandainya mas saya belum mengkhitbah seorang gadis, saya pasti minta dia mengkhitbah Ustadzah!" ucap Nurul.
" Alhamdulillah! Terima kasih atas pujiannya, semoga tidak membuat saya takabbur! Saya hanya gadis biasa, Us! Belum pantas mendampingi Ustadz Harun yang sangat terkenal itu!" jawab Fatma dengan tersenyum.
" Kamu bisa saja, us! Mas saya hanya manusia biasa juga yang kebetulan diberikan sedikit kelebihan Allah hingga menjadi seperti sekarang ini!" sahut Nurul.
Kakak Nurul adalah seorang mubaligh sekaligus pengacara terkenal di negara ini dan sekolah ini adalah milik orang tua Nurul yang berhasil dikembangkan oleh kakaknya hingga maju pesat.
" Apa sudah ada pria yang beruntung yang telah mengkhitbahmu?" tanya nurul penasaran.
" Alhamdulillah sudah, us!" jawab Fatma malu.
__ADS_1
" Alhamdulillah! Seperti yang sudah saya pikirkan, gadis soleha pasti banyak lelaki soleh yang mengantri! Semoga semua berjalan dengan lancar sampai pernikahan dan memiliki keluarga yang sakinah mawwadah warohmah!" do'a nurul.
" Aamiin Yaa Robbal Alaamiin!" jawab Fatma mantap.