
Setelah mendapatkan kamar, Fatma menunggu perawat IGD membawa Abinya ke kamar yang telah ditentukan. Fatma melihat seorang perawat mendorong sebuah brankar yang terbaring Azzam diatasnya dengan kaki diperban.
Abi! batin Fatma. Fatma mendwkati Abinya dan menatap pria tengah baya itu dengan wajah sedih.
" Assalamu'alaikum Abi!" sapa Fatma.
" Wa'alaikumsalam, Fatma!" jawab Abinya.
Fatma mencium tangan Abinya dan menggenggamnya dengan kuat.
" Bagaimana perasaan Abi?" tanya Fatma sedih.
" Alhamdulillah, Abi baik-baik saja! Kamu nggak perlu khawatir!" jawab Abinya.
Brankar bergerak menuju ke kamar tempat Azzam menginap sementara waktu.
" Maaf, Bi! Fatma memberitahu Bang Arkan kalau Abi di sini!" ucap Fatma.
" Iya! Nggak pa-pa! Asal ummi jangan sampai tahu!" jawab Abinya.
" Nggak, Bi! Ummi belum tahu! Tapi Abi harus disini beberapa hari, bagaimana bilang sama Ummi?" tanya Fatma.
" Nanti biar Abi pikirkan lagi!" jawab Azzam.
Mereka sudah sampai di kamar Azzam, kamar kelas 2 yang berisikan 2 orang tapi Azzam diaitu sendiri karena brankar sebelahnya masih kosong.
" Trima kasih, Suster!" ucap Fatma saat perawat itu selesai dengan tugasnya menangani Azzam.
" Sama-sama! Semoga lekas sembuh!" ucap perawat itu.
" Aamiin!" balas Azzam dan Fatma bersamaan.
" Assalamu'alaikum!" pamit perawat itu.
" Wa'alaikumsalam!" jawab mereka lagi.
Perawat itu keluar dan tidak lama ada yang mengetuk pintu.
" Assalamu'alaikum!" salam seseorang.
" Wa'alaikumsalam!" jawab keduanya.
" Abang!" sapa Abinya saat kepala Arkan terlihat dipintu.
" Bagaimana keadaan Abi?" tanya Arkan berjalan masuk dan mencium punggung tangan Abinya dan Fatma mencium punggung tangan abangnya.
" Alhamdulillah baik, Bang! Maaf, Abi jadi merepotkan kamu, nak!" ucap Abinya.
" Nggak pa-pa, Bi! Kebetulan Arkan ada meeting diluar jadi sekalian aja kesini dulu!" jelas Arkan pada Abinya.
" Kamu nggak ngajar, Dek?" tanya Arkan.
" Nanti, bang! Setelah jam istirahat, Fatma sudah minta izin pada kepala sekolah!" jawab Fatma.
" Bagaimana sampai Abi bisa seperti ini?" tanya Arkan pada Fatma.
" Kita menghindari mobil yang melaju kencang, bang! Abi kaget karena mobil itu membunyikan klaksonnya dengan keras saat Abi akan menghindari lubang. Lubangnya cukup besar dan dalam, kita jatuh berdua, bang!" tutur Fatma.
" Masya Allah! Terus Kamu bagaimana? Apa ada yang luka?" tanya Arkan.
" Fatma hanya lecet saja dan tangan Fatma sepertinya sedikit keseleo karena menahan tubuh Fatma tadi!" jawab Fatma.
" Apakah sudah diobati?" tanya Arkan.
" Belum, bang! Biar aku obati di sekolah saja!" jawab Fatma.
" Jangan ditunda, Dek! Sekarang kamu ke IGD biar Abi abang yang jaga!" kata Arkan.
" Baik, bang! Fatma titip Abi!" kata Fatma.
__ADS_1
" Iya!" balas Arkan.
" Fatma keluar dulu, Bi!" pamit Fatma.
" Iya, Dek!" jawab Azzam.
" Assalamu'alaikum!" pamit Fatma.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Azzam dan Arkan.
Fatma keluar dari kamar inap Abi dan menuju ke IGD.
Beberapa saat setelah Fatma pergi, terdengar ketukan di pintu. Tok! Tok! Tok!
" Assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikumsalam!" jawab mereka berdua.
" Nabil?" sapa Arkan saat melihat Nabil masuk.
" Arkan!" sapa Nabil.
" Kok lo bisa tahu kalo Abi disini?" tanya Arkan.
" Gue yang bawa Abi dan Fatma kesini, Ar!" jawab Nabil sambil mencium tangan calon mertuanya.
" O, gitu! Terima kasih banyak, ya, bro!" ucap Arkan.
" Sama-sama, bro! Udah kewajiban gue sebagai sesama muslim, selain itu gue kan calon menantu Abi!" tutur Nabil.
" Dasar lo!" ucap Arkan.
Nabil hanya tertawa mendengar gerutuan calon kakak iparnya itu.
" Bagaimana dengan Ummi, Bi?" tanya Arkan.
" Gimana kalo Ummi nanya?" tanya Arkan lagi.
" Bilang saja Rania minta ditemani periksa!" kata Azzam.
" Masya Allah, Bi! Kan jadwal Rania masih minggu depan!" kata Arkan.
" Demi Ummi, Abi khawatir kalo abang beritahu langsung, darah rendah Ummi bisa kambuh!" kata Azzam.
" Biar Arkan bicara dengan Rania dulu, Bi!" kata Arkan.
" Hmm!" balas Azzam.
" Motornya sudah Nabil ambil dan bawa ke bengkel, Bi!" ucap Nabil.
" Trima kasih, Bil, biar nanti biayanya Abi kasih!" kata Azzam.
" Nggak perlu, Bi! Biar Nabil yang bayar!" balas Nabil.
" Biar gue aja yang bayar! Lagian itu motor punya Abi gue!" sela Arkan.
" Tapi..."
" Sudah! Apa lo gak balik kantor? Bos lo nyariin ntar!" kata Arkan.
" Ya udah kalo gitu! Nanti sore gue kesini lagi!" kata Nabil.
" Serah lo!" kata Arkan lagi.
" Nabil pamit dulu, Bi!" kata Nabil menyalami Azzam lalu menyalami Arkan dengan gaya khas anak muda.
" Gue cabut dulu" pamit Nabil.
" Ok!" balas Arkan.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum!"
" Wa' alaikumsalam!"
" Assalamu'alaikum!"
Tidak berselang lama, Fatma datang sambil membawa kantong plastik.
" Wa'alaikumsalam!"
" Dek! Apa ketemu Nabil? Baru saja dia keluar!" tanya Arkan.
" Nggak, bang! Mungkin Kak Nabil lewat lift sebelah!" jawab Fatma.
Deg! Jantung Fatma berdebar-debar mendwngar nama Nabil disebut. Ada setitik kekecewaan dalam hatinya saat tidak bertemu calon suaminya itu.
" O, ya, Bi, Bang! Fatma mau ke sekolah setwlah shalat dzuhur!" kata Fatma.
" Abi siapa yang jaga kalo kita pergi?" tanya Arkan.
" Biar saja Abi sendiri. Kan ada perawat!" kata Azzam.
" Adek aja suruh kesini, Bang! Kali aja dia sudah gak ada kelas!" kata Fatma.
" Iya! Biar abang telpon!" kata Arkan yang kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
Sementara Fatma mengeluarkan isi dari kantong belanjaan yang dibelinya di toko dekat IGD.
" Belanja apa?" tanya Azzam.
" Keperluan Abi dan kita selama disini!" jawab Fatma.
" Ummi gimana, Bi?" tanya Fatma.
" Biar abangmu yang bawa kesini!" kata Fatma.
" Gimana, bang?" tanya Fatma.
" Dia masih ada keperluan, tapi sudah hampir selesai, nanti langsung kesini katanya. Kebetulan dia ada di dekat sini!" tutur Arkan.
" Alhamdulillah!" ucap Fatma.
" Ini sudah dzuhur! Abi akan tayammum dan kamu pimpin shalat jama'ah, Bang!" lata Azzam yang mendwngar suara Adzan dari pengeras suara rumah sakit.
" Iya, Bi!" jawab Arkan.
Setelah shalat Dzuhur, Fatma diantar Arkan ke sekolah. Fatma berjalan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah untuk memberitahu jika dia sudah datang untuk mengajar.
" Assalamu'alaikum!" sapa Fatma.
" Wa'alaikumsalam!" jawab orang itu.
" Maaf, Ust. Warda, saya sudah datang!" ucap Fatma.
" Ust. Zahirah! Ayo silahkan duduk!" kata Warda.
" Terima kasih, Ust. Warda!" jawab Fatma lalu duduk di kursi depan Warda.
" Bagaimana keadaan ayah Ust. Zahirah?" tanya Warda.
" Alhamdulillah baik, Ust!" jawab Fatma.
Saat di sekolah atau diluar rumah Fatma di panggil Zahirah karena nama Fatma adalah Zahirah Fatimah Fayyad. Panggilan Fatma hanya dilakukan oleh keluarga dan calon suaminya saja, karena keluarganya dan keluarga Nabil sudah saling mengenal sejak mereka kecil.
Setelah berbincang-bincang sejenak, Fatma kembali ke kelas untuk mengajar. Fatma mengajar anak-anak kelas 1 SD Islam Al Ilmi II dan dia mengajar disana baru tiga bulan ini. Fatma baru saja diwisuda dari PGSD sebulan yang lalu dan langsung diterima bekerja di sekolah itu.
SD Islam Al Ilmi II adalah salah satu SD Islam yang berprestasi dan banyak mencetak siswa-siswa yang berprestasi pula. Para pengajarnya adalah lulusan S1 dan S2 pendidikan guru. Meskipun masih tergolong baru, Fatma cukup pandai bergaul dengan semua orang di lingkungan sekolah. Kebetulan semua pengajar di SD itu adalah wanita dan siswanya juga putri semua.
SD AL Ilmi ini ada 2, Al Ilmi I untuk siswa putra dan Al Ilmi II untuk siswa putri. Sebenarnya keduanya berada didalam satu komplek, hanya terpisah oleh tembok yang cukup tinggi, walau masih ada pintu khusus untuk keluar masuk staf pengajar dan pimpinan saja.
__ADS_1