
" As...salamu'alaikum!" sapa Fatma.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Brian lembut.
" Ada apa?" tanya Fatma dengan jantung deg-degan.
" Bagaimana kabarmu?" tanya Brian.
" Alhamdulillah baik!" jawab Fatma.
" Baguslah!" balas Brian.
--- Hening ---
" Kalo begitu aku kerja lagi!" kata Brian.
" Iya!" balas Fatma.
" Assalamu'alaikum!" pamit Brian.
" Apa kamu bisa makan siang dirumah?" tanya Fatma cepat.
" Apa? I...iya! Bisa!" jawab Brian terkejut.
" Baiklah! Wa'alaikumsalam!" kata
Fatma cepat lalu menutup panggilan dari Brian. Dadanya berdetak lebih kencang saat mengakhiri pembicaraannya dengan Brian. Dia merasa sangat gugup. Kenapa dengan diriku? Bukannya dia suamiku? Tapi kita bisa saja...Astaghfirullah! Tidak! Tidak! Aku harus yakin jika dia pasti bisa menepati janjinya! batin Fatma gusar. Brian diseberang sana senyum-senyum sendiri karena dia membayangkan saat ini pasti istrinya terlihat sangat menggemaskan. Dia beranjak dari kursinya dan akan berjalan keluar ruangan.
" Aku pulang dulu, kamu handle semua!" kata Brian pada Danis yang duduk di sofa ruangannya. Lalu dia pergi dengan perasaan berbunga-bunga, apakah begini rasanya orang jatuh cinta? batin Brian. Dia tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengalami hal konyol ini, hal yang selalu diejeknya jika teman-temannya mengatakan tentang cinta. Hal yang paling dia jauhi karena dia tidak mau bertekuk lutut dibawah kaki wanita. Sekarang dia seakan terkena karmanya, karena dia rela berlutut demi Fatma dan merendahkan harga dirinya demi Fatma.
Danis hanya bisa terbengong-bengong saja melihat Bosnya senyum-senyum sendiri dan pergi tanpa dirinya. Danis hampir tidak percaya dengan perubahan demi perubahan yang terjadi pada Bosnya itu.
Sementara Nabil sudah mulai menempati kantornya di Singapore. Dia merasa benar-benar ditipu oleh Bosnya itu. Dia mendengar dari temannya yang merupakan sahabat sepupu Fatma jika Fatma telah menikah siri dengan Brian.
" Lo memang benar-benar hebat! Tapi gue bukan Nabil yang dulu lagi, jika lo bisa merusak hubungan gue dengan Fatma, maka gue juga bisa melakukan itu!" ucap Nabil ambigu.
Nabil kemudian mulai menjalin hubungan dekat dengan relasi Brian yang ada di Singapore untuk mengorek segala sisi buruk Brian.
Brian telah sampai di rumah Fatma, dia merapikan pakaian dan wajahnya. Tampan! batinnya dengan bangga saat melihat tampilan dirinya dipantulan kaca mobil.
" Assalamu'alaikum!" salam Brian saat tiba di depan pintu.
" Wa'alaikumsalam!" sahut Ummi, Rania dan Fatma yang sedang di ruang makan.
" Coba lihat, Sri!" ucap Salma pada Sri yang sedang membawa sayur.
" Iya, Ummi!" jawab Sri.
Kemudian Sri meletakkan sayur di meja makan dan berjalam ke pintu utama .
" Tuan Muda! Silahkan masuk!" kata Sri.
__ADS_1
Senyum diwajah Brian hilang saat yang dilihatnya bukan Bidadari surganya.
" Tuan!" panggil Sri lagi yang melihat Brian masih saja berdiri di tempatnya.
" Ehemm!" reaksi Brian saat kepervok sedang melamun.
Brian berjalan masuk ke ruang makan dan tersenyum melihat Fatma yang berdiri melepas apronnya dan merapikan khimarnya di dekat meja dapur. Fatma terkejut saat membalikkan tubuhnya dan melihat suaminya yang berdiri menatapnya.
" Ummi! Kak Rania!" sapa Brian.
Mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Anda...sudah datang?" tanya Fatma.
" Anda?" Azzam yang mendengar mengernyitkan keningnya.
" Iya!" jawab Brian dengan jantung yang berdetak kencang.
Cantik sekali istriku! batin Brian saat sekilas melihat wajah Fatma tadi.
Seperti juga Brian, jantung Fatma juga mendadak berdetak kencang.
" Dek! Kenapa adek ber anda-anda pada suami sendiri?" tanya Azzam yang sudah rapi dengan baju koko dan sarungnya.
" Em...itu...anu..."
" Zahirah belum terbiasa dengan saya, Bi!" potong Brian membela Fatma.
" Jangan dibiasakan, Dek! Kalian harus belajar saling terbiasa satu sama lain!" kata Azzam.
" Iya, Bi!" sahut Fatma.
Fatma mendekati Brian dan mengambil tangan kanannya untuk diciumnya. Brian kembali terkejut seperti pagi tadi saat Fatma melakukan hal yang sama. Fatma membuat jantungnya berdetak lebih kencang lagi. Dia memegang dadanya tanpa sadar, tapi karena Fatma menundukkan wajahnya jadi dia tidak melihat kelakuan Brian.
" Ayo kita ke Mushalla sambil menunggu adzan!" ajak Azzam.
" Iya, Bi!" jawab Brian dan Fatma.
Salma dan Rania menyusul Azzam yang berjalan ke mushalla. Fatma akan berjalan saat Brian mengatakan sesuatu.
" Saya mau ambil sesuatu di mobil!" kata Brian yang melupakan barangnya.
" Iya!" jawab Fatma.
Brian memutar tubuhnya dan berjalan menuju keluar rumah. Fatma memgikuti suaminya.
" Kamu disini saja!" kata Brian saat melihat Fatma akan mengikutinya ke mobil.
" Iya!" jawab Fatma.
Brian berjalan mendekati mobilnya yang diparkirnya tidak jauh dari pintu rumah. Dengan berani Fatma mengangkat wajahnya menatap bagian belakang suaminya. Ya, Allah! Dia memang lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan dengan Daffa, apalagi Bang Arkan! batin Fatma. Lewat refleksi kaca mobilnya, Brian bisa melihat jika Fatma sedang melihatnya. Dibukanya pintu belakang mobilnya, diambilnya sebuah buket bunga dan goodybag dari kursi mobil. Dia menutup pintu mobil dan berjalan lagi menuju ke pintu utama. Fatma kembali menundukkan wajahnya saat dilihatnya Brian memutar tubuhnya tadi.
__ADS_1
" Ini untukmu!" ucap Brian memberikan sebuket bunga mawar putih.
Fatma terkejut melihat pemberian Brian, lalu dia menerima dan dengan reflek mencium aroma harum yang dikeluarkan bunga itu.
" Terima kasih!" ucap Fatma senang.
" Ayo!" ajak Brian.
Fatma tersadar lalu menganggukkan kepalanya dan berjalan ke kamarnya.
" Aku mau mandi dulu!" kata Brian saat sampai dikamar Fatma.
Iya!" jawab Fatma.
Brian meletakkan goodybagnya di atas ranjang Fatma. Dilepaskannya jas dan dasinya sedangkan Fatma mengambilkan handuk yang di jemur di dekat jendela. Setelah melipat lengan kemeja dan melepas sepatunya, Brian menerima handuk yang diberikan Fatma. Brian masuk ke dalam kamar mandi dan Fatma keluar kamar untuk mengambil air minum. Brian keluar dengan memakai handuk saja, karena dia yakin jika istrinya sedang tidak di dalam kamar. Diraihnya goodybag tadi dan dikeluarkannya isinya. Sebuah Pakaian Koko berwarna putih dan sebuah sarung berwarna biru serta sajadah berwarna biru juga. Dipakainya baju dan sarung tersebut.
Fatma tertegun saat dilihatnya suaminya sedang berdiri didepan kaca. Masya Allah! Semoga luar dalam sama! batin Fatma. Maksud Fatma adalah semoga kepribadian Brian sama bagusnya dengan wajahnya.
" Sudah siap?" tanya Fatma menunduk.
" Sudah!" jawab Brian.
" Saya akan berganti baju saja!" kata Fatma mengambil baju ganti dan memakainya di kamar mandi.
Mereka berjalan berdua ke Mushalla.
" Assalamu'alaikum!" sapa mereka pada semua yang berada disana.
" Wa'alaikumsalam!" jawab semuanya.
Azzam melanjutkan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an dan semua termasuk Brian mendengarkan dengan seksama, entah kenapa hatinya terasa damai dan tenang seketika itu. Apakah sedasyat ini efek Kitab ini? batin Brian. Setelah Azzam selesai membaca Al Qur'an, adzan dzuhur berkumandang di masjid perumahan.
" Abi sama Brian akan ke masjid dulu!" kata Azzam.
" Iya, Bi!" jawab Salma, Rania dan Fatma bersamaan.
Abi dan Brian beranjak dari duduknya dan memberikan salam.
" Assalamu'alaikum!" salam mereka berdua.
" Wa'alaikumsalam!" jawab ketiganya.
Setelah shalat dzuhur merekapun makan siang bersama, Fatma mengambilkan nasi untuk suaminya setelah Salma mengambilkan untuk Azzam.
" Maaf kalo makanan disini tidak sama seperti di rumah kamu!" kata Abi.
" Tidak apa-apa, Bi! Ini juga kelihatannya enak!" jawab Brian yang merasa aneh melihat masakan yang ada di meja makan.
" Kamu mau lauk apa?" tanya Fatma. Brian menatap lauk yang ada di atas meja. Ada ikan nila, tahu tempe telur goreng, sayur nangka dan sambal bajak. Semua baru bagi Brian, dia tidak tahu apakah itu akan cocok dengan lidahnya.
" Terserah kamu! Aku akan memakan apapun yang kamu ambilkan!" jawab Brian akhirnya.
__ADS_1