
Flashback On
Saat itu Ashley baru berusia 10 tahun dan terkadang memang masih ingusan dan cengeng saat pertama kali bertemu dwmgan Brian. Tapi sejak pertemuan itu, dia telah jatuh cinta pada Brian yang saat itu datang ke rumahnya untuk mengantar dokumen perusahaan yang disuruh oleh papanya.
Dulu Keluarga Brian memang tinggal di Aussie dan perusahaan papanya saat itu sedang berusaha untuk menjalin kerjasama dengan keluarga Ashley.
Papa Ashley adalah salah satu pengusaha sukses yang sangat dibutuhkan papanya Brian untuk menjalin kerjasama agar dapat meraup keuntungan yang besar.
Brian tidak tinggal bersama orang tuanya di Aussie, hanya jika liburan dia kesana, tapi dia selalu membantu papanya di kantor saat liburan.
" Hai, Gadis kecil!" sapa Brian pada seorang gadis kecil yang berkepang 2 dan bertubuh sedikit gendut. Dia sedang duduk di ruang tengah sambil asyik menonton TV saat Brian datang.
Brian memang terkenal dingin dan angkuh sejak dulu, mungkin karena dia ingin sukses dalam hidupnya dan menguasai bisnis di seluruh dunia.
Gadis itu melihat ke arah datangnya suara, Ya Tuhan! Tampan sekali! Aku ingin menikah dengannya jika aku besar nanti! batin gadia itu tersenyum lebar.
" Halo, Kakak tampan! Cari siapa?" tanya Ashley manja.
" Apa Tuan Gordon ada?" tanya Brian datar.
" Papa? Ada! Dia sedang di ruang kerjanya!" jawab gadis itu.
" Lu anaknya?" tanya Brian menahan tawa.
" Iya! Gue Ashley Gordon!" jawab Ashley sambil mengulirkan tangan.
Brian menyambut uluran tangan Ashley.
" Ayo gue antar ke papa!" jawab Ashley yang langsung menggandeng tangan Brian tanpa malu.
Pada saat itu Brian baru kuliah semester 1 dan sedang libir, karena itu papanya menyuruh dia membantunya bekerja di perusahaan. Sejak pertemuan itu Brian sering menggoda Ashley jika datang kesana, guna memuluskan jalan papanya berbisnis dengan papa Ashley, dan semua itu memang terjadi.
" Kak Briannnn!" sapanya saat bertemu di kantor papanya.
" Ashy, sayang!" sahut Brian yang tidak sungkan memanggil Ashley di depan papanya. Mark hanya menatap Brian tajam, dia tidak menyangka jika pemuda di hadapannya itu begitu berani.
" Kak Brian tambah tampan saja!" kata Ashley tanpa malu lagi.
" Kamu juga tambah cantik!" balas Brian terpaksa, karena menurutnya Ashley biasa saja.
Saat itu Ashley sudah sekolah di tingkat SMP kelas 3. Brian benar-benar laki-laki yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Entah berapa banyak anak gadis pengusaha sukses yang dimanfaatkannya untuk meraih kesuksesannya, tapi Brian tidak pernah sampai berbuat jauh pada mereka, walau mereka rela po*os di hadapannya.
__ADS_1
Mereka selalu mengajak Brian ke club untuk minum lalu mabuk dan Brian memanfaatkan keadaan itu dwngan selalu memberikan mereka obat tidur kemudian melucuti pakaian mereka. Dimana keesokan harinya saat mereka bangun dan melihat dirinya po*os, mereka berpikir telah bercinta dengannya. Tapi Ashley adalah pengecualian, karena Brian benar-benar menyayangi Ashley dan tidak ingin memanfaatkannya, karena dia mengingatkan Ashley pada Briana, adiknya.
" Aku menyukai kakak!" kata Ashley pada suatu siang, saat Mark sedang keluar sebentar dan hanya ada Brian disitu. Brian tahu jika Ashley menyukainya, hanya saja dia menganggapnya hanya sebagai gadis kecil yang manja.
" Jadilah juara! Datanglah 5 tahun lagi!" kata Brian. Dan sejak saat itu Ashley tidak lagi pernah menghubunginya hingga saat ini.
Flashback Off
" Pesanlah! Lu akan tahu sendiri rasanya!" kata Brian datar setelah dia menghabiskan makannya dan berdo'a.
" Apa kakak tidak suka gue disini?" tanya Ashley kecewa dengan sikap Brian.
" Ashy! Tadi gue masih makan, apakah kalau makan lu terbiasa bicara?" tanya Brian.
Ashley menggelengkan kepalanya.
" Kalo nggak ada lagi yang lu katakan, gue akan kembali kerja!" kata Brian.
" Kak! Kakak nggak akan mengingkari janji kakak 5 tahun yang lalu bukan?" tanya Ashley.
" Tentu saja tidak!" jawab Brian diiringi senyum merekah Ashley.
" Wait! Gue nggak pernah bilang akan nikah sama lu!" jawab Brian datar.
" Apa maksud kakak? Tapi waktu itu..."
" Gue bilang gue suka sama kakak! Dan kakak suruh gue jadi juara dan datang 5 tahun lagi!" protes Ashley kecewa.
" Gue bilang jadi juara dan datang 5 tahun lagi! Bukan datang buat nikah sama gue!" jawab Brian.
" Maksud kakak..."
" Gue pingin lu fokus sama sekolah lu, bukan mikirin laki-laki! Lu berhasil jadi yang terbaik bukan? Jadi lu bisa nerusin bisnis papa lu!" tutur Brian. Seketika wajah Ashley berubah menjadi kecewa dan merasa dibohongi oleh Brian.
" Lu ternyata nggak lebih dari seorang penipu!" kata Ashley dengan mata yang berkaca-kaca.
" Pulanglah, Ashy! Teruskan usaha papa lu! Jangan mengejar hal yang bisa ngancurin masa depan lu!" kata Brian, kemudian dia beranjak dari duduknya dan mengacak rambut Ashley.
" Buat papa lu bangga! Lu tau? Lu adalah harapan terbesarnya!" kata Brian lalu berjalan keluar dari resto.
Langkahnya terhenti saat sebuah tangan melingkar dipinggangnya dan terdengar isak seorang gadis di punggungnya tanpa rasa malu. Saat ini yang dia inginkan hanya bersama dengan Brian.
__ADS_1
" Temani gue untuk terakhir kalinya, Kak!" kata Ashley.
" Ashy, lu..." Brian menghentikan ucapannya karena dihadapannya telah berdiri Arkan yang masuk ke dalam resto bersama dengan beberapa pria. Arkan terkejut melihat adik iparnya, dia menatap Brian dengan tajam karena ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
" Abang?" gumam Brian lalu dengan cepat mengurai pelukan Ashley.
" Tolong kak! Aku mohon yang terakhir kalinya aja!" kata Ashley masih kekeh di punggung Brian.
Arkan mendengar ucapan Ashley dan dia hanya lewat tanpa berkata apa-apa. Brian khawatir kakak iparnya itu akan salah paham dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak mau jika nantinya Arkan mengatakan pada Fatma dan membuat sebuah kesalah pahaman antar mereka berdua, terlebih sekarang hubungan mereka yang sedang kurang baik. Brian memutar tubuhnya dan menatap Ashley tajam.
" Pulanglah! Sebelum kesabaran gue habis!" kata Brian pelan.
Kemudian dia melihat kearah kakak iparnya yang sedang menatap ke arahnya. Brian pergi meninggalkan Ashley yang menangis merasakan sakit di hatinya.
Dasar pria brengsek! Apa aku harus mengatakan pada Fatma? Aku tidak mau adikku menikah dengan pria seperti itu! batin Arkan menahan amarahnya.
" Kan!" panggil temannya.
" Ngelamun aja, lo!" kata temannya lagi.
" Eh, sorry! Gue hanya kepikiran acara kalian lusa!" kata Arkan bohong.
" Emang kenapa? Semua sudah siap'kan?" tanya temannya.
" Ins Yaa Allah siap!" jawab Arkan.
" Si Harun bisa kan?" tanya temannya.
" Bisa! Dia tadi sudah ngubungin gue!" jawab Arkan.
" Ngomong-ngomong kenapa lo nggak jodohin adik lo sama Harun aja, sih?" tanya temannya.
" Iya! Dia kan sudah putus sama artis itu!" sahut temannya yang satu.
" Bisa aja kalian!" jawab Arkan tersenyum.
Seandainya mereka putus sebelum kejadian itu! batin Arkan. Brian pergi menemui Harun untuk melanjutkan pelajarannya dan membatalkan niatnya tadi.
" Kali ini saya akan mengajarkan tentang adab sopan santun dan bertutur kata yang baik menurut Islam!" kata Harun.
Fatma memikirkan apa yang terjadi pada rumah tangganya beberapa hari ini. Dia merasa bersalah pada Brian karena telah mengabaikannya, padahal suaminya tidak pernah sekalipun marah atau mengeluh akan sikapnya. Sebenarnya dia memikirkan apa yang Brian katakan untuk mempercepat pernikahan mereka, karena paling tidak dia memang telah memiliki ilmu agama yang cukup walau belum begitu mumpuni karena dia baru saja belajar dalam beberapa hari saja.
__ADS_1