Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
29


__ADS_3

Bagaimana perusahaan yang akan di pegang Nabil?" tanya Brian.


" Sudah siap semua, Bos!" jawab Danis.


" Bagus! Awasi terus jangan sampai lengah! Nabil seorang yang cerdas, dan sangat ambisius jika menyangkut uang dan kekuasaan!" ucap Brian.


" Baik, Bos!" jawab Danis.


Setelah semua selesai, Danis menunggu Brian diluar kamar, sementara Brian masuk ke dalam untuk memastikan keadaan mamanya.


" Jika keadaanmu semakin membaik dalam jangka seminggu ini, kamu boleh pulang!" kata Dokter Dean. Dia adalah sepupu mama yang menjadi kepala RS disitu dan sebagai dokter ahli jantung selain Dr. Frans.


" Dean! Apa tidak bisa dipercepat?" tanya Iris.


" Maaf, Iris! Aku tidak mau membahayakan nyawamu lagi! Terakhir kali kamu disini kamu meminta untuk mempercepat kepulanganmu karena Brian datang! Dan akhirnya perawatanmu berjalan hanya sekian persen dan kamu kolaps sebulan kemudian. Kali ini tidak boleh!" kata Dean tegas.


" Mom! Mommy harus benar-benar sembuh dulu!" kata Brian tersirat.


" Ok! Mommy akan menuruti Ommu!" kata mamanya menatap wajah putra semata wayangnya itu.


Jam telah menunjukkan angka 10 malam, Brian pamit kepada mama dan adiknya untuk pulang, karena dia seharian belum beristirahat setelah mendarat dari Aussie.


" Kita pulang!" kata Brian.


" Siap,Bos!" jawab Danis.


" Kamu tidak bertanya kemana?" tanya Brian lagi.


" Ke apartement bukan? Saya sudah menyiapkan semua dan dia sudah siap disana!" kata Danis lagi.


" Bodoh! Apa kamu memang benar-benar sudah bosan bekerja?" tanya Brian marah.


" Maaf, Bos! Saya salah!" kata Danis yang tidak mau memperpanjang masalah.


" Ke rumah istriku! Saya sudah menikah, disana saya akan tinggal, bersama dia!" kata Brian masih kesal.


" Baik, Bos!" kata Danis.


Selama perjalanan, Brian membuka-buka website tentang agama Islam.


" Kamu boleh pergi, besok aku akan menghubungimu jika aku akan pergi! Jangan lupa ucapanku tadi!" kata Brian setelah sampai di rumah Fatma.


" Iya, Bos!" jawab Danis.


Yakin bisa tinggal dirumah begini, Bos? batin Danis melihat rumah Fatma yang kecil menurut ukurannya. Brian menatap tajam Danis, dan pria itu langsung menundukkan kepalanya saat matanya bertemu dengan mata Brian. Tatapan mata yang siap menghabisi mangsanya.

__ADS_1


" Saya pamit, Bos!" kata Danis.


" Hmm!" balas Brian.


Kemudian Danis pergi membawa pergi mobil Brian. Brian berjalan menuju ke arah pintu rumah yang sepertinya tertutup rapat. Apa jam segini mereka sudah tidur? batin Brian yang melihat jam di tangannya baru menunjuk angka 11 malam. Brian mengirim pesan kepada istrinya. Fatma ternyata tertidur karena menunggu Brian tidak kunjung datang atau memberinya berita. Brian akhirnya menelpon Fatma beberapa kali tapi tidak diangkat. Brian akhirnya duduk dan memejamkan kedua matanya yang lelah. Dia tidak pernah diabaikan seperti ini sebelumnya dan demi Fatma dia rela aeperti ini. Fatma terbangun untuk buang air kecil. Setelah itu dia meraih ponselnya untuk diletakkan di meja belajar, tapi layarnya tiba-tiba tersentuh dan menyala. Dilihatnya ada pesan dan miss call. Dia membaca agar tahu dari siapa pesam itu. Deg! Di...dia datang! batin Fatma gugup.


Tadi tiba-tiba ponsel Brian mati, karena belum di cash dari pagi. Fatma membaca pesan dari suaminya.


@ Assalamu'alaikum, Zair...maaf mengganggumu jika kamu telah tertidur..aku ada diluar sekarang


Pesan itu sudah dilihatnya sudah sejam yang lalu.


Astaghfirullah! Aku sampai tertidur dan membiarkan suamiku diluar begitu lama! batin Fatma. Kemudian dia memakai khimarnya dan berjalan keluar kamar. Dibukanya gorden jendela, dia melihat suaminya duduk membelakangi dengan bersandar di kursi teras. Dia membuka kunci pintu utama dan berdiri di depan pintu.


" Assalamu'alaikum!" sapa Fatma lembut.


Brian bergeming.


" Tuan Brian!" panggil Fatma lavi.


" Hah?" Brian terbangun dan melihat istrinya.


Ahhh! Kenapa semua yang ada pada dirimu membuatku menjadi pria yang lemah. Brian berdiri dan menatap fatma yang hanya memakai sebuah daster dengan khimar warna pastel.


" Wa'alaikumsalam! Maaf membangunkanmu!" kata Brian tersenyum tipis.


Brian berjalan masuk ke dalam rumah melewati Fatma yang langsung mundur agar tidak bersentuhan saat di pintu. Wangi parfum maskulin Brian sejenak menerpa hidung Fatma dan membuatnya memejamkan matanya. Subhanallahu! Harum sekali bau suamiku! batin Fatma. Brian menatap istrinya dengan sedikit heran karena menutup matanya. Fatma yang menyadari sikapnya segera menutup pintu kemudian menguncinya.


Fatma berjalan masuk ke lamarnya dan diikuti oleh Brian. Dada keduanya berdegub sangat kencang. Baru kali ini Fatma memasukkan seorang pria asing yang kebetulan baru tadi siang berstatus menjadi suaminya ke dalam kamarnya. Fatma membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam diikuti oleh Brian. Brian sedikit kaget karena melihat kamar yang begitu kecil dan ranjang yang hanya muat untuk satu orang saja, sungguh jauh berbeda dari kamarnya yang 3 kali lipat luasnya. Aku akan tidur dimana? Bukankah aku tidak boleh menyentuhnya? batin Brian bingung.


" Maaf! Kamar saya tidak begitu luas, karena keluarga kami hanya keluarga yang sederhana saja!" ucap Fatma yang membuat Brian merasa tidak enak pada istrinya.


" Tidak apa-apa! Saya bisa tidur dimana saja!" jawab Brian berbohong, karena seumur hidupnya dia tidak pernah tidur di sembarang tempat.


" Apa Tuan sudah mandi?" tanya Fatma.


" Saya suami kamu, bukan majikan kamu!" ucap Brian


" Maksud Tuan?" tanya Fatma bingung.


" Kamu memanggil saya Tuan!" kata Brian lagi.


" Oh, itu! Saya harus memanggil apa?" tanya Fatma bingung lagi.


Astaga, istri polosku! Kamu membuatku ingin memakanmu saat ini juga! Jika saja aku tidak berjanji pada ayahmu, sudah habis kamu malam ini! batin Brian menatap istri mungilnya.

__ADS_1


" Panggil aku apa saja selain Tuan!" kata Brian sabar.


" Ba...baik...Pak!" kata Fatma.


" Astaga! Tidak itu juga, Zair!" sahut Brian.


" Ma...maaf!" kata Fatma takut.


Brian menghembuskan nafasnya, dia menyesal karena sedikit keras dalam bersuara.


" Tolong, jangan takut padaku! Aku sangat mencintai kamu. Dan hal terakhir yang akan aku lakukan adalah menyakiti kamu dan itu akam menjadi akhir dari hidupku!" kata Brian lembut.


" Maaf!" ucap Faa lagi.


" Sudahlah, kamu boleh memamggilku sesukamu dan iya belum!" akhirnya Brian mengalah.


" Ha?"


" Aku belum mandi!" kata Brian lagi.


" Itu kamar mandinya! Apakah anda membawa pakaian ganti?" tanya Fatma lagi.


" Tidak! Biasanya ada di mobil, tapi Danis membawa mobilku!" jawab Brian.


" Apakah anda mau memakai pakaian abang saya?" tanya Fatma.


" Boleh! Tapi..." kata Brian ragu.


" Kenapa?" tanya Fatma.


" Apa muat?" tanya Brian dengan wajah datarnya


" Ukuran anda L?" tanya Fatma.


" XXL!" jawab Brian.


Masya Allah, besar juga badan dia! batin Fatma berdebar.


" Maaf! Jadi bagaimana?" tanya Fatma bingung, dia pasti tidak akan membiarkan suaminya tidur dengan pakaian yang sama.


" Pinjamlah kaos abangmu! Aku'kan memakainya hanya untuk tidur!" kata Brian.


" Baiklah! Anda mandi dulu, ini handuknya!" ucap Fatma menyerahkan handuk yang dari tadi sudah disiapkannya pada Brian. Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, sontak Fatma menarik tangannya dengan gugup.


" Permisi!" ucap Fatma lalu keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Brian tersenyum melihat tingkah istrinya, sangat menggemaskan melihat dia gugup seperti itu! batin Brian. Brian melepas pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi, sempit sekali! Tidak ada shower dan tempat buang air besarnya jadi satu disitu! batin Brian. Rasanya dia ingin muntah melihat itu, tapi dia menahan, karena dia tidak mau jika sampai istrinya merasa tersinggung dan kecewa.


__ADS_2