Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
18


__ADS_3

Aku akan memberikan dia kejutan! batin Nabil dengan senyum merekah. Tanpa terasa hampir tiba jam makan siang. Nabil keluar dari kantor dan pergi ke sekolah Fatma. Sementara Brian ternyata juga meluncur ke tempat Fatma dan


meninggalkan meeting. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang. Sial! Kenapa saat-saat gini jantung gue bermasalah! batin Brian. Dia menghentikan mobilnya dipinggir jalan lalu mengambil nafas dengan teratur. Perlahan jantungnya kembali berdetak dengan normal. Dia menghubungi seseorang.


" Halo, Victor!"


" Ya, Bos?"


" Apa kemarin saat aku check up ada masalah dengan jantungku?"


" Tidak ada, Bos! Semua baik! Hanya lambung saja sedikit bermasalah!" kata Victor.


Brian mematikan panggilannya begitu saja. Huh! Bikin orang jantungan saja! Telpon tiba-tiba, mematikan juga tiba-tiba! batin Victor kesal. Victor adalah dokter pribadi Brian, dia teman kuliah Brian saat SMA dulu.


" Aku nggak boleh sakit! Apalagi saat ini! Aku ingin berumur panjang dan menjadikan dia milikku!" kata Brian memegang dadanya. Dipacunya kembali mobilnya, akan tetapi semakin dekat dengan sekolah Fatma, jantung Brian kembali berdetak kencang.


" Persetan dengan jantung ini!" kata Brian kesal.


Brian memarkir mobilnya di dalam sekolah, dia tidak mau lagi menyembunyikan keinginannya untuk memiliki Fatma. Brian masih duduk di dalam mobilnya,dia bingung harus kemana. Sejak masuk tadi banyak mata yang memandangi mobil mewahnya. Dia melihat sebuah mobil berhenti dan Nabil keluar dari mobil.


" Nabil?" ucap Brian ambigu. Nabil berjalan menuju ke arah kelas. Brian segera keluar dari mobilnya dan berjalan menyusul Nabil.


" Nabil!" panggil Brian.


Nabil memutar tubuhnya, dia terkejut melihat Bosnya ada disini.


" Bos?" sapa Nabil.


" Kamu disini?" tanya Brian.


" Saya..."


" Assalamu'alaikum!" sapa seseorang. Nabil dan Brian mengalihkan wajah ke arah suara tersebut.


" Wa'alaikumsalam!" jawab Nabil.


" Zahirah!" jawab Brian bersamaan. Fatma datang bersama Santi, Santi terkejut melihat Brian ada disini juga. Mereka berdua menundukkan kepalanya.


" Bukankah aku sudah bilang kita ketemu disana saja!" kata Fatma.


" Zahirah!" ucap Brian dengan mata membulat dan menarik kedua tangan Fatma agar menghadap padanya.


" Astaghfirullahaladzim!" kata Fatma terkejut melihat ada yang memegang tangannya.


" Tolong lepaskan!" pinta Fatma takut dan berusaha menarik tangannya tapi pegangan Brian begitu kuat.


" Lihat Saya, Zair!" kata Brian.


" Tolong lepaskan! Kita bukan muhrim!" kata Fatma meringis, dia semakin ketakutan dengan mata yang berkaca-kaca karena pegangan Brian yang membuatnya sedikit kesakitan.

__ADS_1


" Ok, saya minta maaf! Saya akan melepaskan tangan kamu, tapi tolong jangan takut kepada saya!" jawab Brian yang sedih melihat wanitanya meringis kesakitan lalu melepaskan tangan Fatma.


Fatma langsung mundur beberapa langkah, dia heran kenapa Nabil diam saja saat ada pria lain yang mencoba kurang ajar padanya.


" Zair! Saya ingin mengenal kamu lebih dekat!" kata Brian lembut.


Deg! Jantung Nabil berdetak sangat kencang, dia takut Fatma akan berpaling darinya. Hatinya sakit dan sedih saat dia tahu Brian ternyata menyukai calon istrinya. Fatma kecewa melihat Nabil yang hanya diam saja tanpa berani berbuat apa-apa.


" Maaf! Saya telah dikhitbah!" jawab Fatma yang sudah lebih tenang.


" Saya akan membatalkan khitbah itu!" kata Brian.


" Apa maksud Tuan?" tanya Fatma kaget.


" Saya akan membuat pria itu membatalkan khitbahnya dan Saya yang akan langsung menikahimu!" kata Brian yakin.


" Maaf, kita tidak saling mengenal sebelumnya! Khitbah adalah urusan orang tua saya!" kata Fatma memberikan penjelasan dengan wajahnya yang masih menunduk. Dia semakin merasa kecewa pada Nabil yang hanya terdiam sedari tadi.


" Kalau begitu kita kenalan! Nama saya Brian Daniel Munaf! Saya adalah pemilik perusahaan dimana Nabil bekerja!" kata Brian lagi.


Deg! Fatma mencoba menahan diri untuk tidak melihat reaksi Nabil. Apa karena ini dia hanya diam saja melihat tingkah atasannya yang semaunya sendiri? batin Fatma.sedih.


" Apa benar, Kak?" tanya Fatma.


Nabil hanya diam melamun, entah apa yang dipikirannya.


" I..iya! Benar, Fatma!" jawab Nabil gugup.


" Fatma? Kenapa kamu memanggil dia Fatma?" tanya Brian heran.


" Itu nama panggilan dia dikeluarganya Bos!" jawab Nabil.


" Apa? Tunggu!..Bagaimana kamu...jangan bilang kalo kamu yang..."


Brian menatap Nabil yang menundukkan kepalanya. Dia belum sempat membaca laporan Danis tentang Fatma secara lengkap.


" Saya akan pastikan Nabil membatalkan khitbahnya padamu!" kata Brian tegas.


Nabil hanya diam saja mendengar ucapan Brian. Dia bingung, disatu sisi Brian adalah Bosnya disisi lain Fatma adalah calon istrinya.


" Apa ada yang akan kamu sampaikan, Kak?" tanya Fatma kecewa. Tapi sekali lagi, Nabil hanya menunduk tanpa berani berkata apa-apa.


" Saya akan datang ke rumah kamu malam ini!" kata Brian tegas.


Fatma hanya diam seribu basa, Brianpun pergi meninggalkan mereka semua.


" Dasar pria nggak punya sopan santun!" kata Santi kesal melihat Brian pergi begitu saja tanpa mengucap salam.


" Apakah kakak hanya akan diam saja?" tanya Fatma kecewa sekali.

__ADS_1


Dia seperti seorang perempuan yang tidak memiliki harga diri karena orang yang dianggap bisa melindunginya hanya bisa diam melihat calon istrinya dilecehkan.


" Apa ada alasan untuk semua ini?" tanya Fatma lagi.


" Aku...Dia...!" Nabil seakan kehabisan kata-kata.


" Jika tidak ada, aku permisi mau pulang! Assalamu'alaikum!" pamit Fatma dalam keadaan kecewa dan sedih.


Fatma meninggalkan Nabil yang hanya diam seperti patung. Kenapa kamu diam saja saat ada pria lain menyentuhku? Apa hatimu telah goyah? Astaghfirullah! batin Fatma sambil memejamkan matanya.


" Zahirah! Kita mau kemana?" tanya Santi.


" Kita pulang! Aku akan antar kamu pulang!" kata Zahirah.


" Naik apa?" tanya Santi.


" Aku sudah mengirim pesan pada abangku, dia akan menyusul kita!" kata Fatma.


Setelah shalat Dzuhur dan makan siang, Fatma masuk ke dalam kamarnya, dia berdiri di depan jendela kamarnya. Ditatapnya awan putih yang sedikit hitam di langit, lalu dia memandang bunga melati yang ada di luar kamarnya. Ingatannya melayang ke peristiwa tadi siang di sekolah. Mengapa sikap Nabil berubah 180 derajat? Dulu dia begitu santun dan lembut, dia berani membela dirinya jika ada orang lain yang menyakitinya. Tapi tadi? Dia begitu berbeda. Kenapa dia hanya diam saat orang itu akan membatalkan khitbahnya? Apa karena dia bosmu, Kak? Brian Daniel Manaf? Astaghfirullah! Seharusnya aku tidak menyebutkan nama pria lain! batin Fatma merasa berdosa. Fatma berjalan ke meja belajarnya dan meraih ponselnya. Ada beberapa pesan.


@ Saya akan datang kerumah kamu!


@ Seperti janji saya


Nomor siapa ini? batin Fatma. Masuk lagi sebuah pesan dengan nomor yang sama.


@ Brian Daniel Manaf


Astaghfirullah! Apa dia benar-benar serius akan datang? Aku harus bilang pada Kak Nabil. Dikirimnya sebuah pesan kepada Nabil.


@ Asaalamu'alaikum, Kak


Setelah kejadian siang itu, Nabil pergi meeting dengan Danis karena diminta oleh Danis.


" Kenapa Bos nggak datang?" tanya Nabil berbisik, karena meeting sudah hampir dimulai tapi dia tidak melihat Brian.


" Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Danis.


" Bukan begitu, Pak! Ini proyek besar, biasanya Bos langsung yang hadir!" kata Nabil lagi.


" Sudah, nggak usah banyak tanya!" jawab Danis.


Apa mungkin dia benar-benar mempersiapkan lamarannya pada Fatma? batin Nabil khawatir.


@ Tolong segera balas pesanku


Fatma mengirim lagi sebuah pesan pada Nabil, tapi masih tidak ada balasan. Mungkin dia masih sibuk! batin Fatma. Kemudian dia meletakkan ponselnya dan membaringkan tubuhnya ke ranjang lalu berdo'a sebelum kemudian tertidur.


Rapat itu berlangsung hingga sore hari dengan hasil yang memuaskan. Danis segera memberitahu Brian jika mereka mendapatkan tender itu karena kehebatan Nabil. Brian merasa puas, dia merasa Fatma memberikan keberuntungan padanya, segera Brian memberikan Nabil bonus mobil sport keluaran terbaru.

__ADS_1


__ADS_2