Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
16


__ADS_3

" Mom! Aku sudah dewasa! Kehidupan percintaanku adalah masalah pribadiku, aku tidak mau ada yang mencampurinya!" jawab Brian marah.


" Tapi apa kata Om Arick nanti kalo dia tahu anak gadisnya telah kamu nodai?" tanya mamanya.


" Cukup ma! Aku nggak harus menjawab semua ini!" kata Brian tegas.


" Kakak selalu marah kalo gue kencan sama cowok diluar sana tapi kakak sendiri?" ucap Briana cemberut.


" Karena gue tahu isi otak semua pria diluar sana, Bre! Gue nggak mau lu kencan sama sembarang cowok apalagi sampe ML!" kata Brian.


" Apa gue harus jadi perawan tua?" tanya Briana lagi.


" Bre! Kok ngomongnya gitu?" kata mamanya nggak suka.


" Gue yang akan nyariin lu jodoh! Dan lu harus mau!" kata Brian.


" Gue benci sama kakak!" ucap Briana lalu pergi meninggalkan Brian dan mamanya.


" Astaga! Kalian ini, sudah pada dewasa tapi masihhhhh aja kayak anak kecil!" kata mamanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Ma! Aku ini laki-laki! Aku yang memilih wanitaku!" kata Brian.


" Lalu Carissa?" tanya mamanya lagi.


" Dia hanya gadis labil dan manja!" ucap Brian.


" Tapi kamu sudah..."


"Mom! Kalo semua wanita yang ONS sama aku minta tanggung jawab, berapa istriku?" ucap Brian tanpa rasa bersalah.


" Kalo begitu stop mainin perempuan! Apa kamu tidak takut karma? Karma itu ada, nak!" kata mama Brian sedih.


" Aku akan berhenti, Mom! Dan aku gak pernah nodai Carissa!" jawab Brian tegas.


Mama Brian melihat ke wajah putranya yang sedang menunduk.


" Mommy percaya!" ucap mamanya serius.


" Trima kasih, mom!" balas Brian.


" Siapa?" tanya mamanya tiba-tiba.


" Siapa apa?" tanya Brian terkejut.


" Wanita itu?" tanya mamanya lagi, Brian semakin terkejut, darimana mamanya tahu jika dia sedang pusing masalah Fatma.


" Wanita apa? Aku pergi, mom! Mommy ada-ada saja!" jawab Brian lalu mencium pipi mamanya dan melangkah pergi.


" Jangan permainkan dia!" teriak mama.


" Tidak ada siapa-siapa, mom!" jawab Brian lagi.


Mamanya hanya menggeleng-gelengkan kepala, dia tahu jika putranya pasti sedang menyembunyikan sesuatu, karena tidak biasanya Brian datang tanpa menelponnya dulu, apalagi sendiri.


Keesokan harinya Brian sengaja berangkat pagi-pagi dan berhenti di depan sekolah untuk menunggu kedatangan Fatma. Sudah hampir satu jam mereka menunggu, tapi Fatma belum juga datang dan itu membuat Brian gelisah. Apa dia tidak masuk kerja? tanya batin Brian.


" Dan! Tanya satpam apa dia tidak masuk?" ucap Brian.

__ADS_1


" Siapa, Bos?" tanya Danis kaget.


" Dasar asisten nggak guna! Zahirah!" bentak Brian.


" Iy...iya, Bos!" jawab Danis lalu saat dia sudah membuka separuh pintu mobil Brian menghentikannya.


" Tunggu!" kata Brian, Danis langsung menutup kembali pintu mobilnya .


Brian melihat Fatma keluar dari sebuah mobil. Ternyata Fatma diantar oleh Arkan yang membawa mobilnya masuk ke parkiran sekolah dan Fatma langsung masuk ke dalam kelas. Sial! batin Brian. Siapa yang mengantar dia? Apa dia yang mengkhitbahnya? batin Brian lagi tidak tenang. Dia bisa melihat sekilas wajah Arkan saat lewat tadi.


" Selidiki pria itu dan tanyakan jam berapa dia pulang!" kata Brian.


" Siap!, Bos!" jawab Danis, lalu dia kembali membuka pintu mobil dan keluar menyebrang jalan untuk bertanya pada Satpam.


" Pak!" panggil Danis pada satpam yang berdiri di depan pagar.


" Iya, Pak! Assalamu'alaikum!?" jawab satpam itu.


" Bu Zahirah eh Ust. Zahirah itu mengajar kelas berapa ya?" tanya Danis.


" Bapak walimurid kelas berapa? Kok nggak tahu Ust. Zahirah ngajar kelas berapa?" ucap Satpam itu.


" Jawab saja, Pak!" kata Danis kesal.


" Maaf, Pak! Saya gak bisa gitu aja kasih tahu tentang Ust. Zahirah!" jawab satpam itu.


" Ini buat rokok!" kata Danis memberikan beberapa lembar uang pada satpam itu.


" Astaughfirullah! Bapak ini mau menyogok saya?" kata satpam itu lagi.


Danis berjalan kembali ke mobilnya beberapa menit kemudian.


" Kenapa lama sekali?' tanya Brian marah saat Danis masuk ke kursi kemudi.


" Maaf, Bos!" jawab Danis.


" Kamu memang semakin lama semakin lambat!" sahut Brian.


" Maaf, Bos!" ucap Danis lagi.


Dasar Bos nggak tau diri! Enak aja ngomongin orang! batin Danis.


Kenapa tadi nunjuk-nunjuk kesini?" tanya Brian kesal.


" Gak ada, Bos! Hanya mau kasih tahu kalo Bos adalah donatur disifu!" kata Danis lagi.


" Jadi gimana hasilnya?" tanya Brian lagi.


" Jam 12 siang, Bos!" jawab Danis.


Danis berhasil menakut-nakuti satpam itu hingga mau bicara.


" Aku mau laporan dia di meja hari ini! Jalan!" perintah Brian.


" Siap, Bos!" jawab Danis.


" Minta meeting dengan Grup SSC jam 8 di tempat biasa!" kata Brian.

__ADS_1


" Siap, Bos!" jawab Danis lagi.


Danis menjalankan mobil Bosnya dengan pelan. Selama dalam mobil Brian melamun, hatinya tidak tenang memikirkan siapa pria yang bersama fatma, dadanya terasa sesak akibat tidak dapat menemui Fatma.


Seharian ini Brian tidak berada dikantor, karena dia ada meeting diluar, dia lebih senang mengadakan meeting di restoran atau di club daripada di kantor. Pernah salah satu koleganya menyuruhnya membuat kantor di dalam club, jadi dia tidak perlu harus keluar. Karena itu Brian telah membangun sebuah club untuk dijadikan perusahaan, tapi masih dalam taraf pembangunan. Dan proyek itu bernilai milyaran, Brian mempercayakan pembangunannya pada Perusahaan Andhara Grup atas rekomendasi dari Danis.


Brian menatap keluar kaca restoran, dia sama sekali tidak dapat berkonsentrasi pada meeting pagi itu. Jam 12 kurang 15 menit Brian mengakhiri meetingnya yang ke 3, dia segera pergi setelah meminta kunci pada Danis.


" Kunci!" pinta Brian.


" Ya?" tanya Danis bingung.


" Kunci mobil!" ucap Brian lagi.


" Buat apa, Bos?" tanya Danis bingung.


" Cepat!" bentak Brian.


Danis kaget mendengar bentakan Brian, lalu merogoh sakunya dan memberikan kunci mobil pada Brian. Brian pergi meninggalkan restoran itu dengan cepat. Huh! Akhir-akhir ini suka sekali mengolok-olok dan membentak-bentak! batin Danis kesal.


Dikediaman Nabil, kedua orang tuanya cemas karena putra bungsunya tidak pulang beberapa hari.


" Nabil!" panggil Sidni, ummi Nabil yang melihat Nabil pulang tanpa mengucapkan salam.


" Ya, mi?" jawab Nabil tanpa bergerak dari tempatnya.


" Kamu nggak ngucapkan salam?" tanya Sidni heran.


" Maaf, mi! Assalamu'alaikum!" kata Nabil cuek.


" Kamu dari mana saja? Ummi lihat kamu sudah jarang pulang ke rumah?" tanya Sidni.


" Nabil punya apartement, mi! Dekat dengan kantor!" kata Nabil bohong, karena letaknya jauh dari kantornya.


" Masya Allah! Gaji kamu besar, nak?" tanya Sidni.


" Kantor yang belilan, Mi! Dicicil!" kata Nabil bohong lagi.


" O, gitu! Jangan lupa acara minggu besok!" ucap Sidni.


Deg! Nabil lupa jika dia akan melamar Fatma hari minggu besok


" Iya, Mi!" jawab Nabil lagi.


" Baiklah! Kamu harus tinggal disini hari sabtu!" kata Umminya lagi.


" Iya, mi!" jawab Nabil.


" Ya, sudah!" kata Sidni.


Nabil naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, ingatannya melayang pada Fatma, gadis yang sangat dipujanya. Hmm! Milik Fatma pasti sangat sempit! batin Nabil yang sudah dikendalikan hawa nafsu. Arghhhh! Bikin gue pengen aja! batin Nabil. Diraihnya ponselnya, lalu di tekannya nomor Norma. Nggak diangkat! Kemana lo Norma! batin Nabil. (Duhhhh, Nabil! Kenapa kamu semakin rusak gitu?).


Karena Norma tidak mengangkat, Nabil akhirnya diam-diam pergi ke club XX tanpa sepengetahuan Sidni. Nabil duduk di depan meja bartender dan minum.


" Nabil!" sapa seorang gadis beberapa saat setelah Nabil duduk.


Nabil memutar kepalanya ke arah kanan. Ditatapnya gadis di sebelahnya itu, cantik! Sexy! batin Nabil. Gadis dengan pakaian sekai dan hampir memperlihatkan semua aset berharganya itu duduk disamping Nabil.

__ADS_1


__ADS_2