
" Nab...bil! A***!" Norma merem*** merasakan sent**** tangan Nabil. Dengan cepat diputarnya tubuh Norma dan di angkatnya hingga duduk di atas meja kerjanya. Mata Nabil membulat menatap Norma saat dia melihat ke arah bagian bawah Norma.
" Ternyata lo nakal juga, ya!" kata Nabil tersenyum.
" Gue tahu lo pasti mau ini karena Bos dan asistennya sedang pergi!" kata Norma yang semakin memperlihatkan miliknya dengan membuka lebar kedua kakinya.
" Gadis pintar! Gue nggak tahan kalo inget tubuh sexy lo!" jawab Nabil.
" CCTV?" bisik norma.
" Aman!" balas Nabil.
Seperti biasa, jika keduanya berada di dalam satu ruangan maka hanya des**** dan era**** yang terdengar di dalamnya. (Nabil ! Nabil! Lo nggak tambah tobat tapi malah bikin dosa besar)
Fatma menatap kearah ponselnya, sudah beberapa hari ini tidak ada satu notifikasi apapun dari Nabil. Kenapa kamu sudah nggak pernah memberikan pesan apapun padaku, Kak? Nggak seperti biasanya! batin Fatma. Tidak sekalipun Nabil lupa menanyakan kabar atau sekedar mengirimkan emoticon padanya. Bahkan saat Umminya menyuruhnya menghubungi Nabil untuk datang, pria itu bilang tidak bisa karena ada tugas keluar kota dan itupun lewat pesan singkat. Dia pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya! batin Fatma selalu berbaik sangka.
" Assalamu'alaikum, Bang Farzan!" sapa Azzam di telpon.
" Wa'alaikumsalam, Bang Azzam! Apa kabar?" tanya Farzan, Ayah Nabil.
" Alhamdulillah baik! Abang gimana" tanya Azzam balik.
" Alhamdulillah kami juga baik, Bang!" balas Farzan.
" Begini, Bang! Saya mau mengundang Bang Farzan sekeluarga untuk bersilaturahmi!" kata Azzam.
" Tentu saja, Bang! Kami pasti akan datang. Kapan kira-kira?" tanya Farzan.
" Bagaimana kalau minggu pagi?" kata Azzam.
" Ins Yaa Allah kami siap!" jawab Farzan.
Fatma yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Abinya dengan Abinya Nabil menjadi tersipu karena hatinya merasa berbunga.
" Baiklah kalo begitu, Bang Farzan! Kita ketemu minggu pagi!" kata Azzam.
" Ok!" balas Farzan.
" Assalamu'alaikum!" pamit Azzam.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Farzan. Azzam menutup panggilannya dan tersenyum pada Salma yang duduk disebelahnya.
" Semoga semua berjalan dwngan lancar, ya, Bi!" ucap Salma.
" Aamiin!" balas Azzam tersenyum.
" Abi! Ummi!" sapa Fatma yang berjalan mendekati mereka.
" Apa anak Abi sudah mendengar kalo ada yang akan datang hari minggu besok!" goda Abi.
Wajah Fatma merona merah, dia terseyum malu digoda seperti itu oleh Abinya.
__ADS_1
" Abi! Kan jadi merah wajah putri kita!" sahut Ummi tersenyum.
" Abi! Ummi!" kata Fatma yang duduk bersimpuh di depan mereka berdua.
" Lho, kenapa pake gini segala?" lata Azzam terkejut.
" Fatma mau bilang sesuatu sama Abi dan Ummi!" kata Fatma serius.
Azzam dan Salma saling pandang lalu menatap putri mereka dengan penuh kasih sayang dan mengangguk-angguk.
" Abi!...Ummi!...Adek sangat bersyukur bisa dilahirkan ditengah -tengah keluarga ini! Jika adek terlahir kembali dan disuruh memilih lahir di keluarga lain tapi lebih kaya atau yang sekarang, adek pasti dengan penuh keyakinan menjawab, keluarga yang sekarang!" tutur Fatma.
Abi dan ummi merasa terharu mendengar penuturan anak gadisnya, hingga kedua mata mereka berkaca-kaca.
" Alhamdulillah! Kami juga sangat bersyukur dan bangga bisa memiliki seorang putri seperti kamu! Abang dan juga adikmu!" jawab Abi jujur.
" Abi dan Ummi telah memberikan kehidupan yang sangat indah pada kami bertiga hingga kami bisa menjadi seperti sekarang ini!" tutur Fatma.
Sesaat Fatma terdiam, dia menahan airmatanya luruh di kedua pipinya.
" Terima kasih atas semua pengorbanan dan kasih sayang Abi sama Ummi, kami tidak akan sanggup membalas semuanya, walau dengan harta sekalipun. Maaf kalo adek selama ini nakal atau berbuat salah pada Abi dan Ummi. Adek benar-benar merasa bersyukur dan bangga memiliki orang tua dan keluarga seperti kita!" kata Fatma panjang lebar.
" Sama-sama! Abi dan Ummi juga minta maaf kalo selama ini terlalu keras dalam mendidik kalian, karena semua demi masa depan kalian!" jelas Azzam.
" Iya, Bi! Kami mengerti!" jawab Fatma.
" Jadi, apa sudah siap kalo besok Nabil datang untuk melamar dan langsung menentukan tanggal pernikahan dengan adek?" tanya Abi tersenyum.
" Alhamdulillah! Abi dan Ummi mendo'akan semoga adek selalu diberikan kebahagia dalam hidup dan mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah SWT!" do'a Ummi.
" Aamiin!" jawab mereka bertiga.
Brian tidak dapat berkonsentrasi dalam meetingnya hari itu, wajah Fatma selalu terbayang-bayang dipikirannya. Ada apa dengan diriku? Apa aku sudah gila? batin Brian.
" Bagaimana, Mr. Brian?" tanya sekretaris Mr. A Hong.
Semua menatap Brian.
" Bos!" panggil Danis saat Bosnya tidak merespon pertanyaan sekretaris A Hong.
" Mr. Brian!" panggil sekretaris itu lagi.
" Aku mau proposal kalian besok pagi dimejaku!" ucap Brian tegas lalu pergi begitu saja meninggalkan A Hong dan asistennya.
A hong terlihat marah dengan sikap Brian yang dianggapnya menghina dirinya.
" Sorry, Mr. A Hong! Bos saya sedang banyak pikiran saat ini! Saya janji saya akan bicara dengannya tentang proyek ini! Sekali lagi sorry!" ucap Danis meminta maaf atas apa yang terjadi.
A Hong yang tad8nya sangat marah sedikit berkurang karena permintaan maaf Danis.
" Baik, Pak Danis! Kali ini Bos saya memaafkan, tapi lain kali dia tidak akan sebaik ini!" jawab sekretarisnya.
__ADS_1
" Iya, Pak Soni!" jawab Danis.
" Kalo begitu saya permisi dulu, Mr. A Hong!" ucap Danis dibalas A Hong dengan menganggukkan kepalanya. Danis segera berlari menyusul Bosnya yang ternyata telah pergi meninggalkan dia sendiri di Hotel itu.
" Dasar nggak setia bawahan lu, Bos! Kenapa sih lu, Bos? Nggak biasanya lu kyak gini?" ucap Danis ambigu.
Sedangkan Brian pulang ke rumahnya untuk menemui mamanya.
" Mom!" sapa Brian lalu mengecup pipi mamanya.
" Ian sayang! Sudah hampir seminggu kamu nggak datang ngunjungi mama!" ucap mamanya mengusap wajah putranya.
Brian duduk disamping mamanya dengan tubuh tegak menatap intens mamanya.
" Aku banyak kerjaan, mom!" jawab Brian datar.
" Ada apa?" tanya mamanya yang melihat putranya diam.
" Nggak ada! Hanya ingin liat mommy aja!" jawab Brian.
" Hmmm! Bener hanya itu?" tanya mamanya tidak percaya.
" Iya!" jawab Brian lagi.
" Ok! Bagaimana Carissa?" tanya mamanya.
" Mommm!" rengek Brian dengan wajah sebel.
" Sayang! Dia sangat mencintai kamu!" ucap mamanya.
" Tapi aku tidak, mom!" jawab Brian dwngan cepat.
" Apa maksud kakak?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
" Bre! Nggak sopan nguping pembicaraan orang!" kata Brian marah.
" Kalo kakak nggak suka sama Carissa jangan kasih harapan!" jawab Briana, adik Brian dengan kesal.
" Gue nggak pernah ngasih dia ato wanita manapun harapan, ya! Mereka sendiri yang berharap sama gue!" jawab Brian percaya diri.
" Tapi kakak sudah ML sama dia!" kata Briana emosi.
" Bre!" teriak Brian marah.
" Bre! Apa Carisa yang mengatakan padamu?" tanya mamanya terkejut.
Briana menganggukkan kepalanya.
" Ian?" ucap mamanya menatap Brian tajam.
" Dia bohong mom!" jawab Brian.
__ADS_1
" Kamu harus tanggung jawab, nak!" kata mamanya.