
Diambilnya air dengan memakai gayung dan menyiram tubuhnya. Brrrrr! Airnya begitu dingin menyentuh kulit Brian. Biasanya dia selalu mandi memakai air hangat jika di penthousenya. Fatma lupa jika Daffa memiliki tubuh sedikit besar dari Arkan karena kebiasaannya berolahraga, akhirnya Fatma membangunkan Daffa untuk meminjam pakaian. Daffa sedikit susah dibangunkan, mungkin karena lelah seharian mengurus pernikahan Fatma.
Setelah beberapa kali Fatma mengetuk pintu kamarnya, akhirnya Daffa terbangun dan membuka pintu kamarnya.
" Ya, Kak?" kata Daffa dengan mata masih mengantuk.
" Assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikumsalam!" balas Daffa sbil menguap.
" Kakak mau pinjam kaos kamu!" kata Fatma.
" Untuk apa?" tanya Daffa.
" Untuk suami kakak!" jawab Fatma.
" Cieee, yang sudah punya suami!" goda Daffa.
" Dek! Apa'an, sih!" kata Fatma malu.
" Hahaha! Humairoh!" goda Daffa melihat pipi merah kakaknya.
" Dasar bandel!" kata Fatma mencubit pinggang Daffa.
" Auch! Sakit, Kak!" teriak Daffa pelan.
" Biar aja!" kata Fatma kesal.
" Udah cepetan, keburu dia selesai mandi!" kata Fatma lagi.
" Ayo, masuk!" ajak Daffa.
Fatma masuk ke dalam kamar Daffa dan duduk di ranjang.
" Ini, kak! Ini kaos Adek yang kegedean, pasti muat!" ucap Daffa menyerahkan kaosnya yang paling besar, sebuah kaos dan celana panjang.
" Trima kasih ya dek!" ucap Fatma menerima pakaian Daffa.
__ADS_1
" Iya!" jawab Daffa.
" Sarung kamu juga!" kata Fatma.
" Sebentar!" kata Daffa, diambilnya sarung kotak-kotak hijaunya.
" Ini!" kata Daffa.
Fatma menyatukan pakaian tersebut dan mendekapnya di depan dadanya.
" Trima kasih! Kakak ke kamar dulu, Assalamu'alaikum!" kata Fatma sambil beranjak dari ranjang Daffa dan keluar dari kamarnya.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Daffa sambil menutup pintu kamarnya. Fatma berjalan ke kamarnya dengan perlahan. Dia membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam, saat dia memutar tubuhnya bersamaan dengan itu Brian keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang melingkar menutupi bagian pinggang ke bawah.
" Astaghfirullahaladzim! Kenapa anda telanjang?" teriak Fatma memutar tubuhnya membelakangi Brian sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya hingga pakaian Daffa terjatuh ke lantai.
" Apa dalam Islam kalo mandi harus berpakaian?" tanya Brian tidak tahu.
" Nggak juga! Maksud saya kenapa anda hanya memakai handuk?" tanya Fatma.
" Aku menunggu pakaian dari kamu!" kata Brian.
" Maaf! Tolong lain kali jangan seperti itu lagi!" pinta Fatma.
" Ok!" balas Brian.
Apa dia belum pernah melihat hal seperti ini? batin Brian. Benar-benar wanita spesial dan langka. Brian benar-benar merasa bangga mendapatkan istri yang masih lugu dan suci dari segala keburukan yang ada di luar sana. Lalu Brian dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi lagi.
" Aku sudah masuk ke kamar mandi, berikan pakaian kakakmu!" kata Brian. Fatma berjalan ke arah kamar mandi sambil memejamkan matanya.
" Aduh!" teriak Fatma saat tubuhnya menabrak meja belajarnya.
" Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Brian kuatir dan akan keluar dari kamar mandi.
" Ti...tidak! Saya baik-baik saja!" sahut Fatma yang takut jika Brian tiba-tiba akan keluar. Lalu Fatma memberikan pakaian Daffa yang tadi diambilnya di lantai. Fatma bernafas lega saat Brian menutup pintu kamar mandi. Hufffttt! Tunggu dulu! Apa tadi dia memanggilku sayang? Subhannallahu! Kenapa jantungku berdetak begini cepat? Apa aku aku sekarang punya penyakit jantung? batin Fatma. Fatma berdiri di depan jendela kamarnya, setelah melipat pakaian suaminya yang tergeletak di ranjang. Dimasukkannya semuanya ke dalam tas plastik dan meletakkannya di atas meja belajarnya. Dia bingung apa yang harus dilakukannya jika Brian keluar dari kamar. Lalu dengan cepat dia menggelar karpet dan melapisinya dengan bed cover. Diletakkannnya sebuah bantal dan guling di atasnya lalu dia membaringkan tubuhnya dan memakai selimut hingga sebatas leher. Brian keluar dari kamar mandi dan tidak melihat istrinya di dalam kamar. Kemana dia? batin Brian. Kemudian Brian duduk di atas ranjang Fatma dan meraih ponselnya. Dia mencari stop kontak untuk mencharger ponselnya. Kemudian menyalakan benda itu dan melihat ada panggilan dari mamanya.
" Halo, mom!" sapa Brian menelpon balik mamanya.
__ADS_1
" Sayang!" sahut Iris.
" Mommy belum tidur?" tanya Brian.
" Belum sayang! Mommy nggak bisa tidur mikirin menantu canti mommy!" kata Iris lagi.
" Nanti tiap hari Aku kirim mommy foto dia, ya!" kata Brian.
" Benar, ya!" kata Iris.
" Iya, mom! Mommy tidur, ya! Biar cepet sembuh! Biar cepet ketemu sama menantu mama yang cantik seperti bidadari itu!" kata Brian senang.
" Iya! Selamat malam, sayang!" pamit Iris.
" Selamat malam, mom!" balas Brian.
Brian menutup panggilannya dan membaringkan tubuhnya di ranjang milik Fatma. Fatma yang mendengar pujian suaminya, pipinya merona merah dan tersenyum malu. Ternyata dia sangat menyayangi mamanya! Untung saja dia tidak melihat wajahku saat ini! batin Fatma. Fatma tidak bisa memejamkan matanya, sementara didengarnya dengkuran halus dari suaminya. Ah! Ternyata dia sudah tertidur! batin Fatma, padahal dia belum memberitahu peraturan dirumah ini. Lama kelamaan Fatma tertidur karena mengantuk juga saat.
Jam menunjukkan angka 3 dini hari. Keluarga Fatma telah terbangun dan menuju ke mushalla. Om dan tante Fatma juga ikut juga sepupunya.
" Fatma dimana, Bi?" tanya Arkan yang tidak melihat adiknya.
" Biar saja! Mungkin adikmu capek!" jawab Azzam.
Kemudian mereka melakukan shalat tahajud berjama'ah. Fatma membuka matanya, dia menguap dan duduk ditempatnya. Kenapa aku ada dibawah? batin Fatma. Potongan-potongan ingatannya mulai terkumpul, Astaghfirullah! Dia? batin Fatma. Perlahan Fatma bangun dan memgintip ke ranjangnya. Dia melihat seorang pria sedang tidur menghadap dirinya. Masya Allah! Dia memang tampan! batin Fatma. Dengan cepat dia berbaring lagi dan memejamkan matanya. Perlahan dia berdiri dan merapikan semuanya.
Jam 3 lewat 25 menit Fatma masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil sebuah longdress tosca dan khimar berwarna soft blue. Fatma mandi lebih lama dari sebelum-sebelumnya, karena kini dia telah bersuami, dia melakukan ritual mandi seperti yang diajarkan kakak ipar dan tante-tantenya. Hmmm! Harum sekali baunya! batin Fatma menghirup sendiri tubuhnya. Kemudian dia memakai pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. Dia terpaku di depan pintu kamar mandi, bagaimana membangunkan suaminya dari tidurnya. Aaaa! Aku punya ide! batin Fatma lagi. Dia meraih ponselnya dan menyetel alarm dengan sedikit memperkeras volumenya. Fatma kemudian berdiri di depan jendela yang baru saja dibukanya. Bip, bip, bip, bip! Alarm ponsel Fatma berbunyi, Brian terkejut mendengar suara yang terdengar keras itu. Dia terbangun dan mencari asal suara itu. Dilihatnya ke arah meja ada ponsel dengan layar yang menyala, Brian meraih ponsel tersebut dan mematikannya. Ketika dia memutar tubuhnya, dilihatnya istrinya telah berdiri di depan jendela menghadap padanya.
" Selamat Pagi! Waktunya shalat subuh!" ucap Fatma dengan wajah menunduk.
" Astaga, sayang! Apa kamu tidak bisa membangunkanku dengan menggoyangkan tangan ato kakiku saja?" tanya Brian yang menyadari bahwa alarm itu sengaja dipasang istrinya untuk membangunkannya.
" Maaf! Saya tidak biasa menyentuh laki-laki!" ucap Fatma menyesal.
" Tapi aku suamimu, Zair!" kata Brian.
" Lain kali saya akan melakukan itu!" kata Fatma.
__ADS_1
" Ok! Aku mandi dulu!" ucap Brian masih dalam keadaan mengantuk karena baru juga 2 jam dia tertidur. Apa tiap hari harus begini? batin Brian berpikir. Apa aku mampu? tanya Brian lagi. Kemudian dia pergi membersihkan tubuhnya.