
Ketika dokumen yang ditunggu sudah ditangan, Brian tidak menyia-nyiakan waktu lagi, dia langsung naik ke dalam pesawat yang sudah siap lepas landas.
" Cepat!" perintah Brian.
" Yes, Sir!" jawab semua awak pesawat.
Entah mengapa hati kecil Fatma memintanya untuk mempercayai perkataan Brian.
" Apa jet ini tidak bisa lebih cepat lagi?" teriak Brian marah. Semua yang ada di dalam jet hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya.
Suasana dikediaman Fatma pagi itu cukup ramai, karena Azzam mengundang beberapa warga untuk menjadi saksi nikah dari Fatma dan Nabil.
" Nabil! Darimana saja kamu? Kamu sebenarnya ingin nikah apa tidak?" teriak Farzan saat melihat putranya dengan santaiĀ berjalan memasuki rumah.
" Sorry, Bi! Aku lupa bilang kalo aku dari Singapore!" kata Nabil bohong.
" Apa kamu tahu kami semua disini cemas menunggu kamu?" teriak Farzan lagi.
" Sudah, dong, Bi! Kan aku sudah datang! Aku mandi dulu!" lata Nabil cuek.
" Kamu..."
" Bi! Sudah! Nanti kita malah terlambat!" kata Kakak Nabil, Zidan.
" Iya, Bi!" sahut Sidni.
" Biar Aku yang bicara sama dia, Bi!" kata Zidan lagi.
" Baik! Kita bersiap-siap saja! Kita sudah sangat terlambat!" ucap Farzan yang melihat jam ditangannya sudah menunjuk angka 11 lewat.
" Dari mana lu?" tanya Zidan saat Nabil keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggangnya.
" Ngagetin aja lu, Kak!" kata Nabil yang membuka lemarinya dan mengambil boxer dan kaos dalamnya.
" Udah gue bilang dari Singapore!" jawab Nabil.
" Sejak kapan lu jajan?" tanya Zidan lagi.
" Apa'an, sih?" sahut Nabil kesal.
" Lu kira gue nggak tahu bercak apa yang ada di dada dan perut lu itu?" ucap Zidan.
Nabil melihat ke arah kaca lemarinya. Sial! Gadisssss! Awas aja, udah gue bilang gak pake tanda! batin Nabil.
" Lu kira gue nggak tahu kelakuan lo diluar sana?" kata Nabil.
" Cih! Gue kira lu alim, ternyata..."
" Ckk! Udah, gue mau nikah!" kata Nabil.
" Kasihan Fatma..."
" Lu pikir nggak kasihan istri lu?"
" Ckk! Cepet lu!"
Akhirnya mereka berdua keluar bersama dan masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan.
" Sebenarnya niat gak sih dia?" gerutu Arkan.
" Adek kok jadi gak sreg ya Bang!" kata Daffa.
" Bi! Ini sudah masuk dzuhur!" kata Arkan lagi.
__ADS_1
" Kita shalat dulu!" kata Azzam tanpa banyak bicara.
Semua yang hadir akhirnya pergi ke masjid dan mushalla untuk menunaikan shalat dzuhur.
Saat mereka kembali dari masjid, tampak Nabil dan keluarganya sudah duduk di kursi tamu yang ada di halaman rumah Fatma.
" Assalamu'alaikum!" sapa Azzam dan semua yang datang.
" Wa'alaikumsalam!" balas Farzan dan seluruh keluarga.
" Bang Azzam! Saya atas nama keluarga minta maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan ini!" kata Farzan yang langsung memeluk Azzam dengan erat.
Tampang Arkan dan Daffa terlihat seram, mereka menatap Nabil yang berdiri dengan kemeja putih dan jas hitamnya. Nabil menundukkan kepalanya melihat kedua calon iparnya. Ipar sialan! Awas aja kalian! batin Nabil.
" Sudahlah! Yang penting semua sudah hadir!" kata Azzam menepuk punggung Farzan.
Azzam sebenarnya sangat kecewa dan ingin membatalkan semua ini, tapi dia tahu jika putrinya menyukai Nabil.
" Kalau begitu ayo semua masuk dan menempati tempat masing- masing!" kata Azzam.
Semua telah duduk ditempatnya masing-masing. Acara ijab kabul akan segera dimulai.
Brian bisa datang lebih cepat dan tanpa menunggu lagi, dia langsung pergi ke rumah Fatma dengan wajah gelisah. Pria garang itu takut jika dia datang terlambat. Brian keluar dari dalam mobil dengan cepat dan menuju ke rumah Fatma.
" Maaf! Anda mau bertemu siapa?" tanya seorang pria yang berjaga di depan pintu masuk rumah.
" Apa Zahirah ada?" tanya Brian.
" Mbak Zahirah akan menikah jadi jika anda tidak diundang saya tidak bisa mengijinkan anda masuk!" jawab pria itu.
" Saya tahu! Tolong sampaikan saja jika Brian datang! Dan harus pada Zahirah sendiri!" kata Brian dengan nada sedikit emosi.
" Maaf, Pak! Saya tidak bisa, karena acaranya akan dimulai!" jawabnya lagi. Brian menelpon Fatma, tapi tidak bisa.
" Damn it! Maaf kalo saya melakukan ini!" kata Brian, dia lalu memukul kedua penerima tamu pria itu dan berlari masuk ke dalam.
" Siapa dia, nak?" tanya Azzam pada Arkan yang duduk disampingnya.
" Abang tidak tahu, Bi! ...Tunggu! Sepertinya dia..."
Bos? Mampus gue! batin Nabil, keringat dingin perlahan membasahi wajah dan tubuhnya.
" Zahirah!" panggil Brian.
" Maaf, anda jangan mengganggu jalannya acara ini!" kata sepupu Fatma, Ibra. Dia berdiri dan mendekati Brian.
" Saya ingin bertemu dengan Zahirah.
Azzammelepaskan tangan Nabil dan berdiri.
" Bi! Kita selesaikan dulu ijab qobulnya!" ucap Nabil pelan.
" Abi mau bicara sama dia dulu!" kata Azzam.
" Bi!" panggil Rania.
" Ya?"
" Fatma ingin pria itu dibawa ke mushalla agar bisa bicara dengan Abi, Kak Arkan dan Fatma!" bisik Rania.
" Ayo!" ajak Azzam memberi tanda pada Ibra.
" Iya!" jawab Ibra.
__ADS_1
" Silahkan ikut saya!" kata Ibra.
Brian menganggukkan kepala, dia mengikuti Ibram yang berjalan ke arah samping rumah, mengikuti Azzam.
Nabil gelisah dalam duduknya. Dia khawatir Bosnya akan menggagalkan semua rencananya.
Sial! Mau nikah sirih aja susah sekali? batin Nabil.
" Masuklah! Fatma di dalam! Lepas sepatumu!" kata Ibram. Brian masuk ke dalam mushalla setelah melepas sepatu dan kaos kakinya. Dia melihat ada Azzam dan Arkan sedang duduk di depan sebuah pembatas.
" Assalamu'alaikum!" ucap Brian.
" Wa'alaikumsalam!" jawab Azzam, Arkan dan Fatma bersamaan dan Brian mendengar suara Fatma dibalik hijab itu.
" Saya ayahnua Fatma!" kata Azzam.
" Saya Brian, Om!" jawab Brian.
" Ada keperluan apa anda mencari putri saya disaat dia akan menikah?" tanya Azzam.
" Saya ingin memberikan bukti siapa Nabil sebenarnya!" kata Brian.
" Apa maksud anda dengan memberikan bukti?" tanya Azzam mengerutkan keningnya.
" Bukti bahwa dia tidak seperti yang kalian pikir!" kata Brian lagi.
" Apa kamu mengenal Nabil?" tanya Azzam.
" Saya Bosnya, Om!" jawan Brian.
" Jadi kamu pimpinan Manafs!" kata Azzam.
" Iya, Om!" jawab Brian.
" Kenapa kamu bilang Nabil tidak seperti yang kami pikir?" tanya Azzam.
" Saya mencintai Zahirah! Dan saya ingin dia menikah dengan saya!" jawab Brian.
" Lalu anda bersaing dengan cara yang tidak kesatriya?" tanya Arkan memotong.
Brian merasa tersudut dengan pertanyaan Arkan. Dia menatap tajam pada Arkan.
" Saya kakak Fatma!" kata Arkan yang melihat Brian seolah bertanya siapa dirinya
" Anggap saya tidak ksatriya, tapi Zahirah tidak memberikan saya kesempatan untuk mendekatinya!" elak Brian.
" Karena dia memang telah dikhitbah! Dan dalam agama kami itu adalah sebuah bentuk pinangan!" jawab Azzam.
" Tapi saya mau membatalkan khitbah itu!" jawab Brian sedikit emosi.
" Anda pikir anda siapa, berani membatalkan sebuaj khitbah?" tanya Azzam yang lama-lama emosi juga.
" Saya yang pantas untuk Zahirah dalam segi apapun! Hanya saya yang berhak menikah dengannya!" kata Brian dengan sombong.
" Dalam segi apa anda mengira anda berhak?" tanya Azzam menahan emosinya.
" Semua! Saya kaya dan saya tampan! Bibit, bobot, bebet saya sangat unggul!" kata Brian lagi.
" Bagaimana dengan agama? Pasti jauh dari Nabil!" kata Azzam.
" Saya..."
" Cukup!" teriak Fatma yang marah dengan perdebatan Azzam dan Brian. Mereka berdua langsung terdiam.
__ADS_1
" Maafkan Fatma, Bi!" kata Fatma yang tahu jika dia telah bersikap tidak sopan pada Azzam.
" Fatma hanya tidak ingin berbasa-basi lagi! Cepat berikan bukti itu!" ucap Fatma.