Terang Dalam Gelapku

Terang Dalam Gelapku
22


__ADS_3

Setelah shalat Isya', mereka berkumpul di ruang makan untuk menikmati hidangan makan malam. Fatma pamit ke kamarnya setelah makan malam karena akan menyiapkan bahan yang akan diambil Santi malam ini. Fatma meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada Santi. Dilihatnya pesan dari nomor yang dia yakini milik Brian, karena dia tidak menyimpan nomor itu.


@ Assalamu'alaikum Zahirah


Fatma membaca pesan dari Brian. Alhamdullillah dia mulai sedikit sopan! batin Fatma.


@ Wa'alaikumsalam


balas Fatma. Brian yang saat itu sedang di Aussie dan dalam keadaan meeting, terkejut melihat Fatma membalas pesannya.


" Kita istirahat dulu!" kata Brian lalu dia keluar dari ruangan meeting dan masuk ke dalam ruangannya.


@ Maaf, saya baru bisa mengirim pesan padamu


@ Mommy saya masih koma..tapi saya harus pergi ke Aussie untuk 2 hari


tulis Brian.


Apakah mommynya sakit parah hingga koma segala? batin Fatma merasa kasihan.


@ Syafakillahu buat mama anda, semoga cepat diangkat penyakitnya dan lekas sembuh


balas Fatma


@ Trima kasih..saya akan mengingat do'amu untuk mommy saya


tulis Brian


@ Maaf, sudah malam dan tolong jangan hubungi saya lagi Assalamu'alaikum


balas Fatma lalu mematikan ponselnya.


@ Maaf! Wa'alaikumsalam


balas Brian kecewa


Apa dia sudah tidak mau lagi padaku? batin Brian sedih.


" Bos!" sapa Danis.


" Bos!" sekali lahi Danis memanggil.


" Ya?" jawab Brian terkesiap.


" Kita harus segera memulai kembali meeting kita!" kata Danis.


" Ya!" jawab Brian lalu beranjak dari kursinya, dia harus segera menyelesaikan semua secepatnya dan melamar Fatma.


" Ini dari Max!" kata Danis sambil menyerahkan ponselnya pada Brian. Brian melihat ponsel tersebut, dilihatnya gambar yang terdapat di layar ponsel tersebut, wajahnya berubah sinis.


" Dasar pria bodoh!" kata Brian.


Santi dan suaminya keluar dari apartement milik Bos suaminya yang diminta untuk ditempati. Dia akan pergi ke rumah Fatma untuk mengambil materi pelajaran yang akan diberikan besok. Mata santi membulat sempurna saat dia melihat sepasang pria dan wanita berdiri di depan pintu lift, mereka sedang berciuman dan tanpa Santi sengaja dia melihat si pria mer**** dada si wanita. Wanita berpakaian seksi itu mend**** lirih.


" Bil!" panggil wanita itu.


" Enak?" tanya Nabil.


" Banget!" balas wanita itu.

__ADS_1


Santi merasa jijik dengan pasangan mesum tersebut, dia meraih ponselnya, tapi terlambat, pintu lift telah tertutup dan mereka telah masuk di dalamnya.


" Asa apa, sayang?" tanya suami Santi.


" Nggak ada, Sayang!" balas Santi. Santi yakin pria itu adalah Nabil, calon suami Fatma. Santi bingung harus bagaimana mengatakan semua ini pada Fatma nanti, karena Fatma adalah orang yang tidak mudah percaya begitu saja tanpa bukti yang nyata. Santi pergi ke rumah Fatma dengan bermacam-macam pikiran.


" Apa semua sudah siap?" tanya Santi pada Fatma.


" Alhamdulillah sudah! Saya tidak percaya jika lusa akan menikah!" kata Fatma senang.


" Apa Ustadzah yakin dia pria yang baik?" tanya Santi.


" Ins Yaa Allah!" jawab Fatma walau sedikit ragu.


Dia tidak tahu kenapa hatinya meragu akhir-akhir ini.


" Saya turut bahagia jika Ustadzah bahagia!" kata Santi dan mereka berpelukan. Mereka berbincang-bincang tentang murid Fatma di sekolah dan karakteristiknya. Daffa pergi ke apartement Dendy, teman kuliahnya untuk mengambil makalahnya. Daffa memarkir motornya di basement lalu berjalan ke arah pintu masuk gedung. Daffa melihat seorang wanita dengan pakaian seksi keluar dari dalam lift. Mata mereka bertemu dan wanita itu merasakan dadanya berdebar-debar saat melihat Daffa.


" Lo sangat tampan!" kata wanita itu saat telah berada di depan Daffa.


Dada wanita itu semakin berdegub kencang. Sialan! Kenapa dengan jantung gue? batin wanita itu. Daffa mencium harum parfum bermerk. Hmm! Dia pasti anak orang kaya! Sayang, cantik, tapi kamu mengumbar auratmu! batin Daffa.


" Wa'alaikumsalam! Trima kasih!" jawab Daffa cuek.


Wanita itu kaget mendengar ucapan dan sikap cuek Daffa, hatinya sesaat merasa tersentuh. Selama ini tidak ada pria yang memalingkan wajahnya dari dirinya apalagi memberinya salam. Daffa masuk ke dalam lift dan menekan tombol 7, tiba-tiba wanita itu menahan lift dan pintu lift terbuka dan dia masuk ke dalam dengan dada berdebar-debar. Daffa sedikit terkejut akan kenekatan wanita tersebut, tapi dia segera menyembunyikannya. Gina tidak mengerti kenapa setiap dia dekat dengan Daffa, jantungnya berdebar-debar.


" Lo tinggal di lantai berapa?" tanya wanita itu.


" Gue mengunjungi teman!" jawab Daffa santai.


Daffa memang diajarkan orang tuanya untuk selalu bersikap sopan kepada siapapun.


" Daffa!" jawab Daffa sambil menerima uluran tangan Gina.


" Lo punya pacar?" tanya Gina.


" Gak suka pacaran!" jawab Daffa.


Gina tersenyum smirk, another virgin boy! batin Gina. Dia pasti lebih hot dari Nabil! batin Gina yang melihat dari tangan dan lengan Daffa yang keras. Daffa memang suka sekali berolahraga tinju dan silat, karena itu tubuhnya terbentuk sempurna. Anak bungsu dari keluarga Fayyad itu memang sangat tampan dan mempesona.


" Boleh gue minta nope lo?" tanya Gina memberanikan diri.


" Maaf! Gue bukan selebritis!" jawab Daffa.


Ting! Lift berhenti di lantai 7, Daffa keluar dari lift dan diikuti Gina.


" Apa masih ada perlu sama gue!" tanya Daffa.


" Sayang gue harus pergi, kalo nggak, gue bakalan nunggu lo disini! Ini kartu nama gue! Kalo lo ada waktu, telpon gue! Rasanya gue suka sama lo!" kata Gina terus terang.


" Lu muslim?" tanya Daffa.


" Apa?"


" Iya, Lu! Muslim?"


" Iya!"


" Tutup aurat lu! Mumpung belum telat, mending lu tobat!"

__ADS_1


" Lu..."


" Gue nggak ada maksud apa-apa, sayang aja kalo kecantikam lu diumbar sana-sini!"


Daffa menerima kartu nama tersebut dan menyimpannya dalam sakunya.


" Gue harap saat gue ketemu lo lagi, lu udah jadi cewek yang berbeda!"


Daffa lalu masuk ke dalam apartement Dendy. Gina termenung sambil berjalan kembali memasuki lift. Tidak berapa lama kemudian Daffa keluar.


" Kak Nabil?" ucap Daffa saat melihat Nabil di depan pintu apartementnya.


" Daf...Daffa?" sahut Nabil gugup.


" Assalamu'alaikum Kak! Kakak ngapain disini?" tanya Daffa.


" Wa'alaikumsalam! Gue...ini...lagi disuruh teman nungguin apartementnya!" jawab Nabil gugup.


" Ooo! Kak Nabil nggak istirahat? Lusa acara besar kakak lho!" kata Daffa.


" Iya, Daf! Ini juga mau istirahat! Kamu mau kemana?" tanya Nabil.


" Abis ambil makalah di teman kuliah!" jawab Daffa.


" Kalo gitu gue pulang dulu, Daf!" kata Nabil.


" Bareng aja, Kak!"


Deg! Mampus gue! batin Nabil.


" Daf!" ada yang memanggil Daffa.


" Ya?"


" Gue lupa masukin ke laptop!"


" Ooo, Ok! Kak, duluan aja!"


" Ok, gue cabut!"


" Ok, Kak!"


Nabil berjalan menuju ke lift, sedangkan Daffa mematung di tempatnya. Kenapa lu keliatannya gugup banget, Kak? Dan lu gak kasih salam juga. Gue akan bikin perhitungan sama lu jika lu berani nyakitin kakak gue! batin Daffa.


Sial! Kenapa gue bisa ketemu sama Daffa disini? Gue harap dia nggak curiga sama gue! batin Nabil sebel.


Nabil segera menyusul Gina yang telah menunggunya di parkiran. Daffa yang penasaran bermaksud mengikuti Nabil, tapi temannya keburu memintanya untuk datang, karena dia sudah membutuhkan barang yang dibawa oleh Daffa.


" Sorry, Gin! Gue tadi ketemu temen!" kata Nabil yang melihat Gina duduk diatas mobilnya sambil melamun.


" Nggap pa-pa!" jawab Gina santai, dia terbayang-bayang dengan wajah Daffa yang selalu bermain di pelupuk matanya.


" Kita ke tempat lu?" tanya Nabil.


" Kita makan! Gue lapar banget!" jawab Gina.


Entah kenapa ajakan Nabil sudah tidak menarik lagi baginya. Malah hatinya merasa malas dengan ajakan tersebut. Berkali-kali dia mencoba untuk menepis perasaan itu dan mencoba membayangkan tubuh Nabil, tapi percuma, hanya wajah Daffa yang bermain di matanya. Gina berpikir apakah Daffa mau dengannya?


" Bil! Kayaknya gue pulang aja, gue ngerasa agak nggak enak badan!" ucap Gina.

__ADS_1


" Jangan bilang lo hamil!" ucap Nabil curiga.


__ADS_2