TERBESIT DI INGATAN

TERBESIT DI INGATAN
16.


__ADS_3

" Wa, carpet turun Wa ada kabar bahagia! " teriak Aira dari ruang keluarga.


"Ai ngga baik anak gadis teriak teriak seperti itu, ngga sopan tau nanti anak kakak jaget kan kasian. " tegur Rami sambil mengelus elus perut istrinya.


" ih kakak labbay." ujarnya pa da Rami, lalu bertanya pada Friska siapa tau ada yang di inginkan. " kak Friska mau makan apa biar Ai beliin? " tanyanya antusias. Friska geleng kepala lalu berkata.


" aku ngga mau sekarang tapi besok aja di rumahku gimana? " tanyanya sambil berbinar.


" emang mau apa sayang?" tanya Rami penasaran, tapi sejauh ini Friska belum meminta yang aneh aneh sih jadi dia penasaran.


" besok aja ya mas, nanti pada ngumpul srmua yah. papi beli ikan belut ya " ujar Friska pada mertuanya.


" kamu mau makan belut sayang? " tanya Rami.


" mau betapa ekor nak? " sang mertua tanpa menghiraukan anaknya

__ADS_1


" ngga usah banyak banyak pi, dua kilo aja. " jawab Friska antusias.


" emang kakak ngidam belut ya? " tanya Aira. Pertanyaanya belum di jawab datang Najwa.


" kakak Wawa kangen." ujar najwa sambil memeluk kaka iparnya lalu melonggarkan pelukannya sambil.


" Wa kita ngga lama lagi jadi aunty! " ujar Aira dengan antusias.


" bener, kakak sekarang lagi hamil?" tanyanya dengan senyum bahagia. Fiska hanya mengangguk dan tersenyum bahagia karena respon dari keluarganya.


" Pih ayo udah mami siapin semua." ujarnya pada sang suami lalu menghampiri Friska. " Ayo sayang mami udah siapin makanan khusus ibu hamil. " ajaknya sambil menggandeng menantu kesayangannya. mereka pun menuju meja makan panjang yang di lengkapi dengan jumlah kursi enam belas buah kursi. Raditya duduk di kursi kebesarannya yang khusus untuk kepala keluarga, Arumi duduk di sebelah kirinya bersama kedu anak gadisnya sedangkan Rami duduk di sebelah kanan di dapingi sang istri. Meteka makan dengan tenang tanpa ada yang bersuara terkecuali dentuman sendok yang beradu dengan piring.


Setelah makan malam mereka berkumpul lagi di ruang keluarga sambil melanjutkan obrolan yang tertunda.


" jadi bener nih papi hanya bawa ikan belut dua kilo aja? ngga boleh lebih? " tanya Raditya.

__ADS_1


" untuk apa pi ikan belut? " tanya sang istri.


" ini lho mi Friska ngidam belut, katanya ngga usah banyak banyak cukup dua kilo aja." Friska menganggu dengan antusias dan tersenyum penuh makna tapi tak seorang pun yang mengerti dengan senyumannya.


" kapan acara syukurannya Ram? " tanya Arumi untuk mengalihkan pembicaraan tentang ikan belut. jujur saja jangankan melihat mendengar namanya saja dia sudah kegelian.


" bagusnya kapan mi? " tanyanya balik Rami untuk mencari solusi.


" bagai mana kalau besok saja sekalian, kan ada sanjaya!" ujar Aditya.


" bener juga ya pi. " ujar Rami. " ya udah kalau gitu besok aku tunggu di rumah ya kan mumpung besok wikeen jadi ngga boleh ada yang apsen ya. " ujar Rami sambil melirik Aira lalu menatap Najwa .


" ia kak. " jawabnya serempak.


Keesokan harinya, mereka semua ke kediaman Ramu dan Friska tidak ketinggalan ikan belut yang di pesan Friska bersamaan dengan bak yang cocok untuk menyimpan belut, dia berfikir tidak mungkin Friska mau makan sekali ikan belut yang ua kilogram.

__ADS_1


" kak ini ikannya sama baknya sekalian biar enak meliharanya. " kata Aira, katena dia yang bertanggung jawab dengan ikannya karena tidak mungkin ayahnya yang beli, dia tau kalau ibunya anti dengan bbelut.


__ADS_2