
" terima kasih Ai, kamu bawa aja sama mas Rami yah di samping rumah ya. " ujar Driska sumringah saat melihat ikan belutnya
" ia kak, mami sama papi udah nyampe kan? " tanyanya.
" udah, ada papa sama mama juga di sana lagi nungguin kalian. " jawabnya, Airapun melangkah menuju samping rumah yang tunjuk kakak iparnya.
setibanya di sana alangkah terkejutnya saat melihat ada kolam ikan yang di buat dari papan kiri kanan dan muka belakang serta ada plastik di dalamnya untuk mengalasi kotak yang terbuat dari papan tersebut. Ikan dan bak hanya di simpan di atas rerumputan. Tidak lama kemudian datang Friska memakai baju rumahan dan berkata.
" mas ikannya masukin dong di kolam kolaman aku pengen ngelihat dia berenang. "
ujar Friska. Rami pun menuti kemauan ibumil ini.
" sekarang papa sama papi masuk dong kedalam kolamnya trus tangkap belutnya yah, trus mama sama mami ngitung dan mas Rami jadi wasit samasuk juga kedalam. " ijar Friska. sedangkan para tetua tidak percaya dengan apa yang di katakan Friska barusan.
" anak mami yang catik jelita, belutnya di goreng aja yah biar enak kamu makan! " rayu sang mertua.
" ah, bener belut yang di tangkap langsung di goreng sepertinya enak kalau dari tangan mama sama mami. " ujar friska dengan semangat. saat melihat belum ada yang mulai dia pun menangis sesenggu tanpa sebab akibat.
__ADS_1
" lho sayang kok nangis sih? " tanya sang mama dengan lembut sementara yang lain sudah mulai lesuh.
" ngga ada yang sayang sama Fris, kan yang pengen dedenya trus kalau ileran gi mana kalau....... "
" ia sayang, papa sama papimu udah masuk dalam kolam ikannya. " ujar sang mertua. saat mengangkat kepalanya dia sangat senang karena melihat tiga orang laki laki masuk ke dalam kolam yang di buat tadi.
" papa sama papi kok ngga nangkap belut sih" ujar Friska sedih lagi saat melihat tanpa adanya pergerakan.
" ayo pi jangan kalah sama om Sanja. " seru Najwa sambil bertepuk tanga.
" mas kok diam aja ikutan tangkep dong. " ujar Friska. sementara yang di dalam kolam kebingungan bagai mana caranya manangkap belut.
" sayang, bagai mana kalau belutnya di pelihara aja? " tawar Rami, Friska pun menggeleng geleng kepala dan Rami pun pasrah harus menangkap belut dengan tangan telanjang. Dengan semangat mereka menangkap ukan demi si kecebong pada saat belut sudah di tangan mereka dan merasakan sensasi si belut yang seperti ular dan saat itu juga mereka bergidig ngeli dan terlepas pula sibelut saat mslihat wajah mau tidak mau mereka tetap menangkap si belut yang licin.
Sudah memasuki waktu ashar dan mereka berhasil menangkap belut beramai ramai tanpa ibu ibu yang kegelian melihat belut yang ada di atas rerumputan dan si embaknya di suruh menggoreng belut.
" sayang belutnya udah matang mau makan sekatang atau nanti aja?" tanya sang mama.
__ADS_1
" sekarang ma, mami mana? " tanyanya yang tidak melihat mertuanya.
" ada di taman nak, kenapa? apa mau makan di taman? "
" ia, ma. "
mereka punberjalan menuju ke taman, setiba di taman dia duduk di bangku yang sudah di susun dengan rapi dan berkata.
" hai mi, kan mami sama mama tidak ikut menangkap belut. " ucapnya sambil menjeda perkataannya.
sang mama dan mertua sudah menelan sileverinya saat mendengar perkataan anaknya mereka sudah tau maksud dan tujuan dari perkataannya tanpa mau menunggu sang mami berkata.
" ya udah, sini sayang biar kami yang makan. "
ujar sang mami saat merasakan belut yang di masak oleh si embak mereka tidak merasakan rasa amis atau semacamnya tapi malah rasanya girih dan entahlah tidak bisa di prediksikan.
" enak lho nak, rasanya ada rasa gurih, pedasnya ngga terlalu dan rempahnya juga ngga mencolok belutnya malah nggak kerasa kalah sama rasa gurih sama apa ya kok ngga kerasa gimana gitu. Wah pinter banget mba Tuti masaknya padahal cuman aku suruh goreng doang ini malah di olah kalah sama masakan restoran yang masih kerasa belutnya. " ujar sang mama, dia malah menikmati belut tersebut karena penasaran dengan rasa belutnya dia pun mencicipi dan........
__ADS_1