
Setelah mendengar penuturan Arumi, Raditya mencoba mengikhlaskan sang putri demi kebahagiaannya dari pada dia bersikukuh dengan pendiriaannya lalu mengorbankan kedua putrinya sekaligus. Itu semakin membuat Najwa menderita jika harus bertemu setiap harinya, yang akan semakin memperdalam trauma yang di alami.
Malam pun berganti dan Randi audah siap untuk pulang ke rumah kontrakannya, dia duduk sejenak di kursi tamu untuk menunggu Aira turun karena dia sudah mengabarinya sejak setelah pulang dari mesjid untuk melaksanakan sholat subuh.
" Aku pamit pulang dulu ya, takut telat masuk kantornya." ujar Randy saat Aira menghampirinya.
" sarapan dulu yah, biar ngga harus mampir mampir lagi untuk beli sarapan."
" engga bisa Ra.... Kita ini bukan muhrin yang harus selalu bersama, apa lagi sarapan hanya ada kita berdua bisa bisa papinu beranggapan lain lagi." terang Randi yang memperjelas status mereka saat ini, Aira pun cemberut tanda tidak setuju dengan penituran Randi. Raditya tidak sengaja mendengar percakapan mereka lalu dia berdiri di samping tembok pembatas untuk mengintai dua orang yang sedang berbicara serta membujuk putrinya dengan jarak dua langkah. Alangkah bahagianya ia karena apa yang di ucapkan istri dan anak tertuanya tentang pemuda itu ternyata benar adanya, dia lebih mengutamakan hukum agama ketimbang nafsu sesaatnya. Dia tidak tega melihat putrinya yang cemberut sambil tertunduk tanda dia lagi merajuk, Raditya pun keluar dari persembunyiannya dan menghampiri kedua insan tersebut.
" Ran..... Kamu sarapan dulu aja, setelah itu baru pulang biar ujang yang antar kamu." ujar Raditya yang tiba tiba muncul dan membuat kedua insan itu langsung menoleh secara bersamaan.
" tapi pak......"
" Jangan panggil pak.... Panggil papi sama halnya dengan anak anakku yang selalu memanggil papi." potong Raditya. " Jika kamu pergi sekarang tanpa sarapan, bagai mana wajah putriku? Apa kamu tidak melihatnya? Bisa bisa sampai tahun depan muka ini tidak akan pernah lurus." gurau Raditya.
" ih..... Papi" ucapnya manja sambil memukul mukul ringan lengan papinya.
" kamu lihatkan...... Kamu yang tidak menurutinya malah aku yang kena imbasnya." godanya lagi. Sedangkan Raditya hanya tersenyum gemes melihat tingkah Aira. ' seandainya sudah muhrim tidak akan aku biarkan.....astaghfirulallah' ujarnya dalam hati sambil mengusa usap batang lehernya dan tertunduk malu dengan fikirannya sendiri.
__ADS_1
Mereka pun menuju ke ruang makan dan menempati kursi yang sudah tersedia sedangkan di atas meja telah terhidang nadi goreng spesial dan beberapa macam lau lainnya serta ada minuman hangat serta pelengkapnya. Randy di minta untuk duduk di samping Aira dan Najwa berpindah di samping ibunya, Aira dan Najwa bertukar posisi lalu mereka sarapan dengan dia dan hanya ada duara dentingan sendok saja. Sedangkan Rami dan istrinya masih di kamar, mereka belum keluar sejak pagi.
Seusai sarapan Raditya bertanya pada Randy.
" Kapan kamu akan membawa Aira bertemu dengan kedua orang tuamu?" tanya Raditya tegas, tanpa harus berpindah dudukbkarena dia tahu jika sudah berdiri Randy akan langsung pamit pulang.
" Emangnya papi udah restui hubungan kami?" tanya Aira sumringah.Randy pun langsung melihat Aira danbtesenyum.
" kamu lihat kan Ran, hanya akan bertemu calon mertuanya saja sebahagia itu, apa lagi kalau kalian udah nikah mukin papinya udah di lupain." ujar Raditya.
" kalau bisa secepatnya pi, karena lebih cepat lebih baik." jawab Randy.
" kalau kamu ikut, nanti ibunya Randy malah kebingungan." jawab Arumi menggoda.
" ih mami kok gitu sih.... Wawa kan hanya pengen jalan jalan aja." ujar Najwa protes.
" emangnya mau pergi betapa lama?" Tanya Aira lagi penasaran karena tidak mungkin perjalanan sehari Najwa ikut.
" terserah papi ngizininnya berapa hari." jawab Randy
__ADS_1
" seminggu ya pi!" pinta Najwa cepat.
" terserah tuan rumahnya aja." jawab Raditya sambil melihat putri bungsunya. Dia bersyukur karena trauma yang di alami Najwa hanya gejala ringan saja buktinya dia masih bisa bermanja manja ria seperti biasa.
" kak...... Boleh ya....... Kalau perlu sampai sebulan gimana?" pintanya lagi pada Randi.
" kalau aku sih terserah pada papi aja, kalau di izinin ya.....hayo." jawab Randi
" pi..... Boleh ya.......!" rengeknya lagi.
" iya, yang penting jangan buat orang tua Randy kerepotan. Paham....!" peringatnya. Najwa pun langsung betsorak kegirangan seperti mendapatkan hadiah.
" emang kapan berangkatnya kak....." tanyanya lagi dengan senyiman pada Randi setelah memperbaiki duduknya.
" hari ini juga." jawab Aira cepat dan spontan membuat Randi langsung menoleh dan memperhatikan Aira dan Aira pun langsung tertunduk malu akan penuturannya barusan.
" Ran, itu kode lho....!" goda Arumi pada putrinya.
" insya Allah secepatnya mi." jawab Randi mantap.
__ADS_1