
Prov. Aira
Setelah memutuskan telfonku dengan Randi hatiku rasanya berbunga bunga karena orang yang selama ini kurindukan akhirnya menelfonku juga dan tidak menyangka dia akan mengajak aku ketemuan di tempat biasa dan katanya ada yang penti yang mau di omongin, kira kira apa ya? apa dia mau nembak aku? ah pikiranku sudah kemana mana sedangkan wajahku rasanya sudah memanas.
Randy adalah pria yang palung denganku karena selama ini aku tidak pernah berteman dengan lawan jenis, selain takut pada kak Rami juga takut salah pergaulan seperti teman teman sekampusku dulu yang dunianya bebas.
Di kantor Randy adalah pria yang populer dikalangan wanita apalagi Irnes sangat tergila gila padanya tapi tidak di anggap oleh Randy katanya laki laki berpacaran dan mulai dari itu aku hanya memendam perasaanku dan ajakan bertemannya kuterima dengan rasa kecewa tapi dengan topeng bahagia.
Keesokan harinya kami bekerja seperti biasa dan waktu berjalan sangat lama rasanya karena pekerjaanku tak kunjung juga kelar.
Aku di pindahkan di bagian Accontin oleh kak Rami dengan alasan yang tidak masuk akal bagiku. Sedangkan di perusahaan tidak ada yang mengetahui jika aku adalah anak dari pendiri perusahaan ini atau adik dari Romi Atmaja karena aku menutupi identitasku dan di bantu oleh kak Rami.
Aku masuk bekerja di perusahaan Papi sama seperti dengan yang lainnya dan tidak menggunakan kekuasaan, sementara kepala HRD di bungkam oleh kak Rami agar tidak membocorkan serta membedakan antara aku dan yang lainnya.
Waktu sudah menunjukan waktu pulang kantor dan aku pun bersiap siap untuk pulang dan menuju ketepat biasa mereka berkumpul jika lagi ada waktu luang.
__ADS_1
Tidak lama kemudian datang Irnes menuju ruangan di mana Aira bekerja.
" Ra udah mau pulang belum? "tanya Irnes saat melihat Aira yang sedang mengemasi barang bawaannya.
" Ia," jawabku sambil mengemasi barang serta merapikan mejaku.
" Pulang bareng yuk, sekalian kita ngemall. " ajaknya.
" Sorry ya, kali ini aku nolak soalnya ada acara sendiri." jawabku seadanya.
" Sorry....... " ujarku dengan penuh penyesalan. " Gi mana kalau besok! " tawarku agar Irnes ngga merajuk.
" Ya udah deh, yok kita keluar bareng." ujarnya sambil menggandeng tanganku. Akupun menurut, kami keluar dari ruanganku sambil ngobrol ringan seputar masalah perempuan dan obsesinya terhadap Randy.
Dalam perjalanan kami menuju lobi kami berpapasan dengan Randy yang baru juga masuk dalam lif di mana kami beada sekarang karena ruanganku dan Randi beda lantai. Aku berada di lantai delapan sedangkan Randi berada di lantai lima dan tidak menyangka akan satu lif.
__ADS_1
" Hai Ran, kamu udah mau pulang juga? " tanya Irnes pada Randi dengan gayanya. Sedangkan aku hanya menyapanya dengan senyuman saat menatap wajahnya yang tampan jantungku rasanya mau copot akibat gerogi campur bahagia karena hampir sebulan kami tidak pernah bertemu atau pun saling menyapa lewat pesan.
" Ia, kalian juga akan mau pulang? " tanyanya dengan senyum yang bikin kelepek kelepek kaum hawa yang melihatnya dan akupun tertunduk malu saat tatapan mata kami bertemu.
" Gi mana kalau kita jalan mumpung masih siang? mau ngajak Aira dia lagi ada acara, jadi bingung mau ngajak siapa. Kebetulan ada kamu gi mana kalau kita jalan berdua? " ajak irnes pada Randi, aku hanya jadi tim4 pendengernya ajalah malas nimpali.
" Oh gitu ya!" ujar Randy. " Emang kamu ada acara apa Ra? " tanyanya padaku dan aku pun terkejut saat menatapku.
Aku ngedumel dalam hati, sok pura pura ngga tau lagi.ujarku dalam hati.
" Kebetulan ada teman yang ajakin aku ketemuan katanya penting dan ngga bisa ngajak teman." ujarku sambil menyindirnya.
" Ya udah Ran, gi mana kalau kita jalan berdua aja? " ujarnya dengan penuh semangat.
" Maaf banget Nes, bukannya aku nolak ajakan kamu tapi aku juga ada acara mungkin lain kali aja kali ya kalau ada waktu lagi.!" ujar Randi.
__ADS_1
" Yah kalian ngga asyik ah. " ujarnya sambil merajuk. Dan kami pun keluar dan memuju ke parkiran dan menghampiri kendaraan masing masing.