
Rami dan Feiakapun masuk kedalam hotel dan langsung menuju keruangan VVIV tempat di mana di adakannya pertemuan dengan klien yang mengubah jadwal secara tiba tiba dan mendadak, untungnyavRami ada waktu walau hanya sebentar.
Friska tidak ikut masik ke dalam kamar hotel dengan alasan dia tidak ingin mengganggu ataupun merusak suasana karena pikirnya Rami akan bertemu dengan seorang pria dan bukan seorang wanita.
Rami pun memasuki ruangan itu, terlihat seorang wanita cantik dan seksi sehingga membuat Rami menelan silivenya. Ternyata klien yang di maksudkan Fajar adalah seorang wanita dan bukan seorang pria serti agendanya. Ramipun terpaksa masuk dan menjabat tangan wanita cantik itu sambil mperkenalkan namanya.
" Senang bisa bertemu dengan anda langsung Pak Rami, perkenalkan Nama saya Angel Morin dan saya adalah putri Albert Morin yang sedang mengikat janji temu dengan anda. Maafkan papa saya karena tidak bisa hadir dan saya sebagai perwaliannya anda bisa mempercayakannya pada saya karena tidak lama lagi saya lah yang akan menggantikan posisi papaku sebagai CEO." jelas wanira seksi itu.
" Selamat bergabung di dunia bisnis Angel, semoga kita bisa menjalin kerja sama ini dengan baik." ujar Rami basabasi.
Merekapun membahas masalah projek yang akan di bangun oleh Rami, semua anggaranpun telah terperinci dan Angel menyetujui apa saja yang di sampaikan oleh Rami tanpa banyak membantah karena menurutnya apa yang di sampaikan oleh Rami sesuai dengan angan angannya.
Angelpun meminta Rami minum wine bersama sebagai tanda terjalinnya kerja sama di antara mereka akan tetapi Rami menolaknya dengan halus.
" Bagai mana jika kita minum sedikit wine sebagai tanda terjalinnya kerja sama ini?" tanya Angel sambil mengangkat gelas dan menyodorkannya pada Rami.
" Maaf Nona Angel, tapi saya tidak minum alkohol. Silahkan jika anda menginginkannya." ujar Rami sambil menyimpan gelas yang di sodorkan.
" Bagai mana jika kita menggantinya dengan jus?" tawarnya lagi. Mau tidak mau Ramipun mengiyakan karena merasa tidak enak hati untuk menolak yang kedua kalinya.
__ADS_1
Agelpun berdiri dan meninggalkan Rami sendiri lalu dia keluar dengan dua gelas jus oranye yang tersusun di nampan lalu menyodorkannya pada Rami.
" Silahkan Pak Rami." pintanya sambil tersenyum menggoda. Rami pun meminum jus itu sekaligus agar cepat keluar dari kamar karena merasa kurang nyaman berduaan dengan wanita lain dan tidak di kenalinya.
" Saya permisi dulu nona karena ini sudah cukup larut dan saya juga masih ada keperluan setelah ini." ujar Rami yang merasa kepalanya mulai pusing dan merasa gerah.
" Kenapa terburu buru Ram? kita selesaikan malam ini bagai mana?" tanyanya menggoda dan menghampiri Rami. Sedangkan Rami langsung beranjak dan mengambil berkas berkas di atas meja dengan keadaan terpaksa karena hawa yang di rasakan. Ramipun keluar tanpa sepatah kata lagi lalu menuju ke kamar yang di tempati Friska untuk beristirahat, fikirannya saat ini hanyalah Friska bukan yang lain. Dia menggedor pintu dengan sekut tenaga dantidak lama kemudian pintupun terbuka setengah lalu bertanya.
" Kenapa Ram? apa mitingnya udah selesai?" tanya Friska. Ramipun langsung masuk kamar tanpa menjawab pertanyaan Friska lalu menutup pintu dan berucap dengan parau.
" Tolong aku Fri.....aku sudah tidak tahan lagi." ujar Rami dengan suara yang tercekat.
" Fris tolong aku, aku sudah tidak tahan lagi. Aku janji besok kita langsung menikah tidak perlu menunggu bulan depan, oke." pintanya dengan lembut sambil menahan gejolak dalam dirinya.
" Tapi Ram..... " Ramupun langsung m****t b***r Friska dengan lembut beda seperti tadi.
" Saya moho... nn!" pintanya dengan memelas. Friska yang melihat keadaan Rami yang tidak baik baik saja pun terpaksa mengiakan dan terjadilah hal yang tidak diinginkan, Rami melakukan sampai berkali kali bahkan masih merasa tidak puas, melihat Friska yang sudah tidak berdaya Rami menyudahi permainannya dan melanjutkan dengan solo karir di kamar mandi lalu merendam tubuhnya dengan air dingin agar bisa meredakan hawa nafsu yang membakar jiwanya sambil berfikir ' obat seperti apa yang di tuang dalam minumannya, sampai sampai wanita yang di gaulinya mencapai klimasnya berkali kali akan tetapi dia belum sampai puncak '. Usai membersihkan diri dia menghampiri Friska dan berbaring disiainya lalumengecup keningnya.
" Maafkan aku Fris, Saya jaji besok kita langsung menikah dan saya akan mempertanggung jawabkan perbuatanku pada kedua orang tuamu." ujarnya pelan lalu memperbaiki selimut yang di gunakan Friska dan memeluknya.
__ADS_1
Keesokan harinya saat dia terbangun Rami meraba disampingnya dan dia tidak menemukan wanitanya. Ramipun langung terbangun dan mencarinya.
" Fris.... sayang kamu dimana?" teriaknya frustasi karena metasa di tinggal begitu saja oleh Friska.
Rami langsung berlari ke kamar mandi hanya mengenakan bokser pendek lalu berteriak lagi.
" Sayang...... apa kamu ada di dalam?" tidak ada suara jawaban Rami pun membuka paksa pintu kamar mandi dan ternyata Friska lagi meringis kesakitan sambil terduduk di lantai kamar mandi.
" Kenapa kamu tidak membangunkanku?" tanya Rami dengan lembut.
" Kamu tidurnya nyeyak sekali Ram, aku kebelet." ujar Friska.
" Sekarang sudah?" tanya Rami lagi.
Friska hanya mengangguk sambil tertunduk malu.
" Kamu kenapa?" tanyanya menggoda sambil membopong tubuh polos Friska karena selimut yang digunakan sudah di buang kedalam tong pencucian oleh Rami.
" Malu tau Ram kamu ngangkat aku dengan tubuh begini." jelas Friska samvil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rami.
__ADS_1
" Fris jangan seperti ini, kamu membangunkannya jangan sampai ada rode kedua di pagi hari ini." ujar Rami serak saat menurunkan Friska ke tempat tidur, Friska pun langsing mencubit pinggang Rami dengan sekuat tenaga karena merasa kesal bukannya meminta maaf malah menggoda lagi dan Rami pun meminta ampun atas perkataannya.