
Langit sore sudah mulai merubah warnanya serta waktu sudah menunjukan angka tiga lewat lima belas menit, semua karyawan sudah merapikan kubikelnya masing masing dan bersiap untuk pulang.
" Ran balik bareng yo, si jongor lagi sakit." ajak Irsankarena motonya masuk bengkel pagi tadi.
" Bawa sendiri aja, aku lagi ada perlu sama Aira." ujar Randy sambil melemparkan kunci pada Irsan. Irsanpun mengambil kunci dan berkata.
" oke, aku duluan ya hati hati bawa anak orang nanti di suruh ganti rugi." ejek Irsan, Randy pun cuek dengan ucapan Irsan dia malah menghubungi Aira lewat pesan.
" *Ra, gi mana? Jadi ngga?" tanyanya basabasi.
" Ia, ni aku udah di kawal. Kamu bareng kita aja ya, biar ngga ribet nantinya*." balas Aira.
__ADS_1
" oke, aku tunggu di lobi ya, kalian udah di mana?"tanyanya lagi.
" kita udah di parkiran, kamu ke parkiran sekarang kita tunggu." balas Aira, Randy pun berjalan menuju parkiran saat tiba dia melihat Aira sedang menunggunya di pintu mobil dia pun bergegas menuju ke mobil yang akan mereka kendarai menuju kediaman Atmaja.
" Kak Rami mana?" tanya Randy saat tiba di samping Aira.
" Mereka udah duluan, katanya ngga kita belakangan biar mereka jelasin dulu sama papi."jawab Aira apa adanya." ayo, ntar kelaan di jalan lagi, belum kalau ada macet ya kan." sambung Aira.
Aira dan Randi pun masuk kedalam mobil sedangkan Friska dan Rami sudah terlebih dahulu menuju kekediaman Atmaja dan membiarkan Randy dan Aira menaiki mobil yang sama agar saat tiba nantinya orang tuanya tidak perlu penjelasan yang lebih karena sudah tau maksud kedatangannya.
" Ra, coba kabari kak Rami bilang kalau kita terkena macet." ujar Randy membuka percakapan karena sejak memasuki mobil sampai saat ini mereka hanyut dalam pikiran masing masing.
__ADS_1
Aira pun merogoh tasnya dan mengabari sang kakak kalau mereka terjebak macet kemungkinan mereka akan tiba agak terlambat dan tetnyata benar, seharusnya perjalanan hanya memakan waktu empat puluh lima menit saja sudah sampi rumah kini molor menjadi satu jaman, saat tiba di halaman rumah sebelum turun dari mobil mereka sudah di sambut dengan tatapan intimidasi dari Papinya sedangkan sang mami hanya menampilkan senyum ramahnya. Mereka turun dan menghampiri kedua orang tua Aira, Randy pun mengulurkan tangan tanda memberi salam tanda kesopanan dan dia pun di sambut dengan hangat oleh Arumi sedangkan Raditya sambutannya biasa saja dan di persilahkan masuk dan duduk di ruang tamu oleh Arumi.
" Ayo masuk." ajak Arumi. Setiba di ruang tamu Randi di persilahkan duduk dan di tanyi.
" Nama kamu siapa?" tanya Arumi lembut.
" saya Randy bu."
" mau minum apa? Biar bibi buatin kamu minum dulu." apa aja bu asal jangan beralkohol, boleh saya numpang sholat bu?" tanya Randi karena waktu sudah begitu sore dan takutnya sudah tidak keburu waktu ashar mau mampir ke musholah sebentar takut orang tua Aira berprasangka buruk terhadapnya jadia urungkan mampir kemusholah dan meminta izin untuk menunaikan kewajibannya.
" bisa, tunggu sebentar ya biar bibi siapkan dulu keperluannya." ujar Arumi dan Randy pun mengangguk tanda setuju. Tidak lama kemudian datang wanita paruh baya yang di maksud Mami Aira untuk mempersilahkan masuk ke kamar tamu yang sudah di siapkan dan di minta untu istirahat sebentar sebelum makan malam.
__ADS_1
" Silahkan Den, ini kamarnya nanti mbok panggi lagi kalau sudah waktunya makan malam, kata nyonya besar Aden di minta istirahat dulu." ujar sang Bibi.
" Ia bi, terimakasih." jawab Randy.