TERBESIT DI INGATAN

TERBESIT DI INGATAN
40.


__ADS_3

Aisyah pun keluar membawa secangkir kopi dan bermaksud untuk meninggalkan kedua pria itu akan tetapi tertahan oleh permintaan suaminya.


" Bu, tolong telfon Randy sekarang dan minta dia pulang." ujar Ashari pada istrinya dan Aisyah pun bergegas menuju ke kamarnya.


" Kita tunggu Randy pulang dulu ya Ruslan biar lebih jelas dan tidak ada lagi kabar simpang tindih antara Ainun dan Randy juga dengan Aira dan sadara saudaranya." ujar Ashari sopan.


" saya tidak ingin ikut campur masalah orang yang tinggal dirumah pak Ashari hanya saja sya selaku kepala kampung kan tidak ada salahnya untuk mengusuk masalah ini biar lebih jelas dan tidak ada lagi gosip sana sini." jelas Ruslan


" Betul pak, jika kita bahas ini lebih baik ada Nak Ainun dan juga Randy putraku biar lebih jelas bagai mana pak?" tanya Ashari lagi pada Ruslan. " Sebentar saya tanya istri saya dulu kapan Randy pulang biar lebih jelas ya pak." lanjutnya lagi lalu beranjak dari duduknya menuju ke ruang tengah.


" Bu..... kapan Randy pulang?" tanya Ashari pada istrinya.


" nanti sore Yah, mau menyelesaikan kerjaannya dulu yang tinggal sedikit, katanya tanggung juka di tinggalkan." jelas Aisyah.


Ashari pun keluar tanpa bertanya lagi pada istrinya.


" Maaf pak Ruslan Randy pulangnya nanti sore, bagai mana jika selepas ba'da isya saya kesana dajuga Randy?" Ashari meminta pendapat agar masalah yang baru muncul ini segera kelar.

__ADS_1


" Baiklah pak, kalau beegitu saya tunggu kedatangan bapak serta keluarga di rumah. " jawab Ruslan sambil tersenyum bahagia sedangkan Ashari membalas senyumnya dengan kaku karena dia maksud arti senyuman itu.


Setelah Ruslan pamit pulang dan meninggalkan rumahnya dia pun masuk menuju keruang tengah lalu memanggil istrinya dan juga Aira.


" Bu kemarilah panggil juga Aira serta Friska." ujar Ashari pada istrinya.


Aisyahpun datang bersama Aira lalu duduk di tempat mereka sering bersantai jika ada waktu luang.


" Nak Friska mana bu?" tanya Ashari pada istrinya.


" sebentar lagi keluar, harap maklum yah Bumil itu harus nyari posisi nyamannya dulu apalagi hamil tua seperti sekarang." jelas Aisyah.


" Bu coba lihat Friska, kok dari tadi tidak keluar, dia tidak seperti biasanya lho Bu seperti ini." ujar Ashari cemas karena saat melihat Frisha tadi pagi wajah agak berbeda. Aisyah pun beranjak menuju kamar tamu yang di tempati Friska. Aisyah pun mengeto ngetok pintu kamar dan meminta izin masuk.


Tok...


Tok...

__ADS_1


Tok...


" Assalamu alaikum, Fris...... boleh ibu masuk? " teriak Aisyah dari luar.


" Masuk aja Bu, pintunya ngga di kunci." seru Friska dari dalam kamar. Aisyah pun membuka pintu kamar dan melihat Friska yang sedang memegang perutnya dan meringis.


" kamu kenapa nak? apa sudah mau lahiran?" tanya Aisyah beruntun dan menghampiri Friska.


" ngga tau Bu, tapi perutku tiba tiba sakit." ujar Friska.


" apa sakitnya kadang datang dan kadang hilang?" tanyanya dengan cemas.


" ia bu, sejak semalam tapi makin siang sakitnya makin bertambah bu dan buat gerak aja ngga bisa." Ringis Friska karena sakitnya datang lagi.


" Bertahan sebentar ya nak biar saya bilangin Ayahnya Randi agar mengeluarkan mobil dan memanggil Aira buat mempersiapkan semua baru kita kerumah sakit, kamyu sudah mau lahiran." jelas Aisyah panjang lebar.


" Tapu Bu, kata dokterku PHL nya itu minggu depan." jelas Friska lagi.

__ADS_1


" ngga usah dengar kata dokter sekarang kita kerumah sakit dan biar Najwa yang hubungi orang rumah." ujar Aisyah dan keluar mengabari jika Friska akan lahiran dan semua panik tapi mereka di beri tugas masing masing agar tidak keteteran.


__ADS_2