
Langit sore sudah menyambunyikan sinarnya menandakan hari sudah mulai senja dan langit pun sudah merubah jingga dan mesjidpun sudah mulai bersahutan di berbagai penjuru, Randy bangun dari tidurnya dan bersiap menuju mesjid yang terdekat karena kebuasaannya jika maghrib dia tidak pernah lalai untuk ke masjid walau dia lembur sekali pun. Randy keluar kamar dan mendapati wanita paruh baya tersebut sedang membersihkan meja yang ada di ruang tamu lalu bertanya.
" bi..... musolah terdekat di mana ya?"Tanya Randi sopan dan mengagetkan sang bibi.
" Astagfirullah Den, bikin bibi jantungan aja lho." ujarnya sambil mengelus elus dada. "Aden tunggu den Rami aja, selalunya juga den Rami ke masjid jika Maghrib den." ujar si bibi.
" oh..... Gitu ya bi, memangnya dia belum berangkat?" tanya Randy lagi.
" kalau jam segini dia belum betangkat den, nanti kalau udah salawatan baru dia ke masjidnya." ujar si bibi.
" mesjidnya ke arah mana ya bi, biar saya jalan sendiri aja."
__ADS_1
" di ujung komplek perumahan ini den, sebelum pos satpam,kalau dari sini Aden belok kiri aja." jelas sibibi.
" terimakasih ya bi, saya kemesjid dulu, Assalamualaikum."
" waalaikum salam." jawab si bibi.
" pintar tenan non Aira nyari calon suami,sudah soleh rajin ibadah ganteng sederhana ngga seperti............"
" seperti siapa bi?" tanya Rami tiba tiba mengejutkan Bi Inem.
" Yang tadi sebut itu siapa?" tanya Rami penasaran.
__ADS_1
" itu den, Aden yang temennya non Aira itu lho udah berangkat ke masjid, sudah tak bilangin suruh nunggu aden tapi anaknya ngga mau katanya takut telat sholat sunnahnya kalau berangkat bareng den Rami." jawab bi Inem panjang lebar. Rami pun mengangguk setelah mendengar penjelasan bi inem lalu dia bergegas menuju ke masjid yang ada di ujung komplek. Selepas isya baru mereka pulang Randy dan Rami pulang bersama, saat tiba di mesjid Rami menghampiri Randy dan mengajaknya pulang bersama.
Setiba di rumah utama mereka masuk secara bersamaan dan langsung duduk di kursi ruang tamu karena semua sudah berkumpul di ruangan tersebet, Friskapun turut dan duduk di samping mertuanya yang duduk di sofa panjang sambil bercengkrama ringan sambil menunggu kedatagan kedu pemuda itu.
" assalamualaikum." ucap salam dari Rami dan Randi bersamaan lalu masuk dalam rumah dan menuju ruang tamu.
" waalaikum salam." jawabnya bersamaan yang ada di ruang keluarga. Rami duduk di kursi sofa tunggal sedangkan Randy pun sama menempati sofa tunggal yang ada diruangan itu.
" kita makan malam dulu ya pi, mumpung sudah di hidangkan sama bi Inem." ujar Arumi cepat sebelum suaminya memulai obrolan yang menguras emosi nantinya.
Aditya pun berdiri tanpa banyak bicara, lalu Rami mengajak Randi makan malam betsama sambil menggandeng tangan istrinya seperti akan menyebrang jalan yang padat akan kendaraan dan tidak mau lepas.
__ADS_1
Setiba di ruangan yang ada meja panjang dan kursi yang tertata dengan rapi sedangkan makanan sudah terhidang dengan berbagai macam lauk pauk dan di lengkapi dengan berbagai macam buah buahan segar dalam satu wadah. Rami mempersilahkan tamunya untuk makan dan tidak perlu sungkan sedangkan ayahnya sejak kedatangan Randy tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun walau hanya sekedar basabasi.
Mereka pun makan dalam diam hanya dentingan sendok yang berbunyi karena itu adalah peraturan Raditya, baginya makan sambil bercengkra sama halnya tidak menghagai makanan yang ada di hadapannya dan juga tidak menikmati makanan yang di makan atau tidak mensyukuri nikmat yang sudah ada.