TERBESIT DI INGATAN

TERBESIT DI INGATAN
25.


__ADS_3

" Papi salah besar telah memilih kak Arkan, kak Arkan orangnya bajingan." jawab Najwa tiba tiba dan lansung berdiri ingin meninggalkan tempat mereka berkumpul saat ini.


" Apa maksud kamu Najwa?" bentak Raditya, sudah berpuluh pulah tahun pernikahannya dan telah membsarkan anak sampai dewasa bahkan akan memiliki cucu ini kalipertama iamembentak anaknya bahkan dengan suara tinggi, istrinya pun terkejut mendengar ucapan suaminya dan mwmilih diam dari pada memperpanjang masalah, Arumi memiliki cara tersendiri untuk menegur suaminya agar tidak lagi mengulangi hal semacamini.


Najwa yang hendak meninggalkan tempat tetsebut langsung mengurungkan niatnya dan berhadapan dengan Papinya dengan mata yang sudah berkaca kaca dan menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis.


" Jawab kakak dek.....ada apa sebenarnya?" tanya Rami sambil berdiri dan meraih tangan adiknya. Najwa pun luluh dan berbalik pada kakaknya lalu berhambur dalam pelukan sang kakak dan pecah sudah tangisan yang di tahannya sejak tadi.


" katakan pada kakak....ada apa sebenarnya? Kakak gidak akan marah." tanya Rami lagi sambil melihat wajah adiknya yang sudah bersimba dengan air mata.


" Kak.....dia.... Orang..... Brengsek......" jawab Najwa sesenggukan

__ADS_1


" kenapa kamu berkata seperti itu.....hmmm?" tanya Rami lagilembut.


" Dia hampir memerkosa Najwa kak......." ujarnya jujur dan berhambur lagi dalam pelukan kakaknya karena merasa takut.


Arumi pun langsung berdiri dan mwmeluk anaknya sambil menangis karena tidak menyangka anaknya bisa mengalami hal sacam ini.


Sedangkan Raditya langsung tettunduk lesuh saat mendengar perkataan putri bungsunya, dia lalu berdiri hendak menuju keruangan kerjanya untuk mengumpulkan anak buahnya tetapi gertahan akan perkataan istrinya.


" Apa Papi akan tetap menikahkan Aira dengan Arkan?" tanya sang istri tiba tiba dan langkah kakinya pun terhenti dan berbalik lalu berkata.


Di kamarnya Aira terus meratapi nasibnya yang akan menikah dengan penjahat kelamin tersebut, tidak ada kata yang pantas untuk menyebutnya selin penjahat kelamin, dia zudah tidak perduli lagi apa yang terjadi di ruang kelurga yang ada di benaknya saat ini bagai mana caranya untuk menggagalkan perjodohan ini, jika ia pergi sudah pastikan adiknya yang masih belia itu yang akan menggantikan posiainua, dan jika ia bertahan bagaimana dengan cintanya. Aira pun larut dalam kesedihannya tanpa menyadari kalau ada yang mengetuk pintu kamarnya, tidak lamakemusian ketukan itu mwnjadi gedoran danAira pun terpaksa bangun dari pembaringannya dan menuju ke pintu kamarnya, setelah dia membuka pintu ada bi Inem yang berdiri didepan pintu sambil tertunduk pertanda meminta maaf.

__ADS_1


" Ada apa bi?" tanyanya lesuh.


" Non Aira di minta nyonya untuk turun non." jawab Bi Inem.


" bilang sama mami.... Ai lagi malas turun bi." ujarnya lagi hendak menutp pintu dan bi Inem pun langsung menahan dan berkata.


" ini tentang Non Najwa non." kata bi Inem cepat agar Aira mau mendengar perkataannya.


" emangnya Wawa kenapa bi?" tanya Aira bingung sambil mwngerutkan keningnya.


" Non turun aja dulu, ini lebih genting daripada permasalahan yang Non hadapi saat ini."

__ADS_1


"maksud bibi apa?" tanya Aira penasaran.


" bibi permisi neng, kalau mau tahu lebih jelasnya non kesana sekarang. Bibi tidak ingin non Aira nanti merasa tidak di anggap karena tidak mengetahui permasalahan yang di hadapinon Najwa." jawab bi Inem dan pergi meninggalkan Aira, Aira yang merasa penasaran pun akhirnya turun dan menuju ke ruang kelurga, disana dia melihat sang mami lagi menangis dan memwluk adiknya dia pun penasaran dan ingin bertanya ada apa sebenarnya? Kenapa maminya juga Najwa menangis? Tidak mungkin kan karena dia dijodohkan.


__ADS_2