
Aisyah mengajak kedua gadis yang akan tinggal di rumahnya untuk berbelanja di toko yanf tidak jauh dari toko bangunan suamibya.
" Mana pakaian kalian?" tanya Aisyah pada kedua gadis baru saja menuju ke tempat mereka berembuk.
" Maaf bu, aku lupa tadi kalau sudah ku titipkan pada mang Didin untuk di bawa ke apartemanku." jelas Aira.
" kalian tunggu di sini dulu ya sebentar." pinta Aisyah. Aisyah pun bangkit dari duduknya dan menuju ke kamarnya.
" memangnya kamu mau ke mana Ris?" tanya Ashari.
" Mau ngecek toko dulu Yah sebentar lalu mau ngajak Naura jalan keliling kampung biar dia ngga bosan dan merasa tertekan. Ia ngga Na?" jawab Aris pada Ayahnya lalu bertanya pada Najwa. Najwa hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tidak mengerti.
Tidak lama kemudian datang Aisyah membawa kain yang terlihat rapi di tangannya lalu meminta kedua gadis itu untuk mencoba dan memakainya.
__ADS_1
" Coba kalian kenakan ini masih pantas tidak!" ujar Aisyah, kedua gadis itu pun menerima kain tersrbut.
Selang beberapa saat keluar Najwa dengan mengenakan gamis Rumahan yang masih terlihat Fress dengan warna biru muda di padukan dengan warna krem susu dan jilbab berwarna krem susu juga. jilbabnya hanya di sampirin di atas pundak karena Najwa tidak pernah memakai hijab dan syukurnya jilbab yang di berikan adalah yang persegi empat.baju tersebut masih seperti baru di beli dari toko akan tetapi baju tersebut sudah di makan usia.
Tidak lama kemudian keluar Aira dengan gamis berwarna hijau serta jilbab yang di kenakan senada dengan warna bis bajunya yaitu warna moca cerah. Dia semakin terlihat cantik dan pipi cubinya makin terlihat imut, Randy melihat Aira mengenakan hijab tidak berhenti di tatapnya.
" Ehm.... ehm.... belum muhrim Mas, ingat zina mata." ujar Aris pada Randy. Sementara Randy langsung tertunduk dan mengusuk usuk batang lehernya pertanda malukarena tertangkap basah telah mengagumi yang bukan mahromnya.
" Bagai mana Ran menurutmu? jalau menurut ibu kamu sangat pantas dan makin cantik, kalau bisa jangan di lepas ya. Ternyata kalian pantes betul memakai pakaian seperti ini." ujar Aisyah sambil mengelus pipi Najwa dan merapikan hijab yang di kenakan.
" Ayo kita berangkat, tidak usah mendengar pujian yang tidak berfaedah sedangkan yang di pinta pendapat aja hanya tertunduk tanpa kepastian." ujar Aisyah ingin menggoda putra sulungnya.
" Dan kalian berdua saat keluar rumah atau ada tamu kamu harus menutup kepala karena di kampung beda dengan kota, kalau di kota masa bodoh dengan tetangga sedangkan di kampung masih kepo dengan pendatang apa lagi kalian datangnya bersamaan dengan Randy, Jika ada yang bertanya kalian jawab seadanya dan jika ada orang yang kalian kenal atau mencurigakan cukup bilang tidak tahu." pesan Ashari karena dia takut saat mendengar cerita Aira.
__ADS_1
" Kamu ngga ikut Ran?" tanya Aira saat dia tidak melihat pergerakan dari Randy.
" Ikut, siapa bilang tidak?" tanya Randy balik dan semua tertawa melihat tingkah Randy.
Ashari pun mengambil mobil tuanya dan di keluarkan dari samping rumah karena mereka tidak memiliki garasi dan jika membuat garasi itu membutuhkan uang yang tidak sedikit.
" Biar Randy aja Yah yang nyetir." ujar Randi pada Ayahnya. Ashari pun kwlur dari pintu kemudi dan memutar arah lalu duduk di samping Randy sedangkan Aira, Najwa dan Aisyah ibunya Randy pun duduk di bangku belakang.
Mobil pun mulai bergerak merangkak perlahan lahan meninggalkan pekarangan rumah yang cukup sederhana. Di dalam perjalanan menuju ke pasar sore Bajwa bertanya.
" Mas Aris ngga ikut ya? kok ikutan naik? " tanya Najwa pada Aisyah.
" Aris naik notor nak karena mau ngecek toko dulu baru dia nyusul." terang Aisyah
__ADS_1