
Prolog
Pernahkah kau mencintai di luar batas kewarasanmu? Pernahkah kau mencintai yang mampu menjadi mataharimu? Bahkan mengubah hidupmu menjadi dunianya sehingga hidupmu terasa tak penting dan berharga lagi.
Mari, marilah kuceritakan sebuah kisah yang semua orang menyebutnya kekonyolan, namun sangat indah untukku. Mari, marilah kuceritakan kisah bagaimana kumenemukan dirinya, menemukan matahariku sekaligus hujanku, hingga tak berakhir pelangi.
Aku tak pernah tahu, mengapa waktu salah mempertemukan kita. Aku tak tahu, harus bagaimana lagi menyikapinya. Aku pun tak tahu, entah mengapa hati ini tetap bersikukuh masih mencintaimu, untuk tetap tinggal dan menikmati itu. Meski, luka masih menjerit dan menohok tiada hentinya. Bahkan, detik ini kau hempaskan luka itu di hidupku, terlebih pada kenangan kita. Toh, biar bagaimana pun, rasa ini tetap sama dan akan terus sama.
Seandainya pun, jika memang harus di bayar dengan nyawa dan kehidupan ini, mirisnya hati kecilku berteriak keras untuk menyetujuinya dan menikmati detik-detik itu dalam senyuman konyol hingga bahkan membawaku dalam kematian sekali pun.
Pandangan kini mulai buram, bersamaan dengan kenangan-kenangan miris yang masih terasa pahit dengan efek perih itu menari-nari di mataku dan menampakkan seberkas cahaya dalam penglihatan ini. Hingga kali ketiga, suara memekakan telinga itu terdengar, rasa perih dan terbakar yang menembus kulit dan bahuku saat ini hanya sekilas terasa.
Dan di sudut ruang gelap, kutemukan diriku, bahwa benar, aku masih sangat mencintainya!
* * * *
1. Come Back
Makassar, Indonesia
Aku menghirup udara sore yang begitu sejuk memenuhi rongga dada. Udara yang begitu kurindukan setelah sekian tahun, benar-benar membuat senyuman ini tak lepas dari wajah polos tanpa dipoles make-up sedikit pun.
Cuaca kota ini benar-benar menyambutku karena telah di guyur hujan deras. Untunglah, aku dan Farah tidak kehujanan. Gadis asal betawi itu sepertinya jet-leg. Begitu tubuhnya menemukan kasur empuk, ia langsung tertidur dan membuatku tersenyum prihatin padanya.
Dasar Farah!
Tempat ini tidak terlalu luas. Hanya ada satu kamar mandi tepat di sebelah utara, dua kamar tidur di sudut timur dan barat, dan dapur berukuran sedang yang terletak di pojok selatan. Selebihnya, hanya ada ruang tamu yang tak luas dengan dipenuhi sofa kecil berwarna cokelat basah membentuk sebuah kotak tanpa ada ruang tengah. Rumah yang kusewa ini memang tidak luas, tapi cukup nyaman dan sejuk serta asri. Ada pohon mangga besar di halaman rumah yang tumbuh begitu subur dan juga beberapa bunga melati serta tanaman lainnya di sana. Ya, kami memutuskan untuk menyewa tempat ini yang tak jauh dari pusat kota.
Aku menghempaskan tubuh di kasur kecil nan empuk. Benar-benar nyaman. Kamar yang tak luas sengaja kupilih ini, bercat violet soft dengan background jendela kecil berbentuk kotak yang berada di sebelah timur, tepat di atas tempat tidur. Perabotannya sendiri, hanya ada lemari kecil berwarna cokelat menyala dengan dua pintu yang berhadapan langsung dengan tempat tidur, dan kipas angin yang menggantung di langit-langit kamar. Hanya itu dan memang sederhana. Aku baru merencanakan untuk membeli perabotan lebih.
Setelah ibu meninggal, aku putuskan untuk kembali ke kota Daeng ini. Yup, apalagi kalau bukan kota Makassar. Dan, Kota inilah aku di lahirkan dan di besarkan, setelah ibu pindah ke Jakarta saat diriku berumur sepuluh tahun. Farah sendiri adalah teman lama saat di Jakarta dahulu. Sejak kecil, ia diasuh oleh paman dan bibinyasetelah kedua orangtuanya meninggal lalu diusir karena tak ingin di jodohkan. Sampai suatu ketika, aku bertemu dengannya yang tengah kebingungan hendak ke mana. Dan akhirnya, hubungan pertemanan yang bisa dikatakan kakak-adik terjalin hingga saat ini. Ke mana pun aku pergi, ia selalu bersamaku.
"Jadi, kamu di terima di salah satu perusahaan di sini?" tanya Farah setelah memastikan apa yang telah di dengarnya tadi dan membuat aku mengangguk.
Dia memang sudah terbangun dari tidur panjangnya malam ini. Kini begitu sibuk mengutak-atik ponselnya, hingga tak memandangku sekali pun yang berbicara padanya.
"Bukan perusahaan juga, sih, sebenarnya hanya Hotel. Tapi, jabatannya, bolehlah." Jelasku sembari membuat kopi di bar dapur. Meja makan dan dapur memang hanya bersebelahan, cukup mengitari meja, maka bar dan dapurnya kau temukan.
"Memangnya jabatan apa di sana?"
"Hanya accounting officer."
Dia mengangguk-angguk, namun jemarinya masih sibuk mengutak-atik Gadget berwarna putih itu. "Omong-omong, kita tinggal di sini selamanya?" sela Farah tetiba yang saat ini tak lagi memainkan benda lebar itu di genggamannya. Mata sipitnya kini menatapku.
"Mungkin, tapi entahlah. Kenapa? Kamu tidak suka kota ini?"
Gelengan dalam senyuman wanita itu nampak yang membuatku mengernyit. "Aku sudah punya teman baru," akui dia lagi yang nyaris berbisik dan membuatku menyipitkan mata.
"Pacaran lagi, ya?" Godaku yang membuatnya terkekeh.
"Bukan, sih. Tapi, dia cukup tampan, dan sepertinya kaya."
__ADS_1
"Farah?"
Wanita itu terkekeh, lalu mengerling dengan menggoda. Anak ini memang tahu betul, aku tak suka mendengar jika dia bersifat matrealistis. Bagiku, sifat seperti itu hanya seperti benalu. Memikirkan dan mengedepankan masa depan memang tidak salah, tapi lebih baik lagi jika tak bergantung pada orang lain. karena, ada saatnya, hidup membutuhkan diri kita sendiri untuk berdiri dan berjuang, di mana bahkan seorang pun tak bisa ikut membantu. Terlebih, karena juga memang seorang wanita menjadi lebih baik jika menunjukkan bahwa bukan hanya piawai dalam kemanjaan saja, tapi juga mampu menopang hidupnya tanpa mengemis dan berharap pada hidup orang lain.
"Tenanglah, dia orang baik, jadi tidak mungkin seperti Alan yang hanya memanfaatkan,"
Aku mendesah panjang. Wanita ini memang benar-benar keras kepala. Usianya sudah duapuluh enam tahun, tapi tetap saja sifat kekanakannya keluar. Bahkan berulang kali menasihatinya, tetap saja tak mendengar. Jadi, aku bisa apa?
"Terserah kamu saja, Far. Itu hidupmu! Tapi ingat, berhati-hatilah. Terkadang hal yang terlihat itu, tak seperti kebenaran,"
Dia mengangguk patuh lalu tersenyum. Aku lalu menyesap coffe-ku, kemudian ikut bergabung di meja makan.
Cuaca kota malam ini begitu tenang dan dingin. Entah ini sudah pukul berapa, namun kami tetap belum beranjak dari meja makan. Mungkin Farah belum mengantuk karena sangat lama tertidur sore tadi dan baru terbangun. Konyolnya lagi, kami bahkan hanya dinner dengan secangkir kopi dan juga teh. Ya, entahlah, mengapa jadi malas bergerak seperti ini. Barang-barangku saja masih dalam koper semua dan tak tersentuh sejak kami tiba.
Lagi-lagi embusan napas panjang keluar dari hidung dan membuatku memejamkan mata.
Ma, entahlah, tapi aku sangat rindu padamu saat ini.
* * *
Aku tengah menyisir rambut hitamikal panjang ini yang telah sepunggung dengan perlahan, mengatur lalu menariknya ke belakang telinga, kemudian menjepitnya dengan jepitan berwarna hitam hingga menyisakan beberapa helai di depan indera pendengarku itu yang kubiarkan terurai. Tidak membutuhkan waktu lama, cukup memoles lipstick orange di bibir dan juga sentuhan eyeshadow berwarna orange fresh di bawah mata dan kelopak mata, semuanya pun selesai. Sebuah senyuman kini terbit sambari menatap tubuh di cermin besar yang menempel di balik pintu lemari pakaian. Memeriksa setiap detail apa saja yang kurang. Kemeja biru yang dibalut blazer biru, dan rok pendek hitam beserta heels kini telah menutup tubuh dan kaki.
"Wow, puteri tomboy mau ke mana? Kerja, ya?" goda Farah tetiba dirinya terlihat di cermin.
"Diamlah!"
Dia terkekeh dan membuatku tersenyum. Tubuh mungilnya kini tampak semakin kecil saat dia berdiri di sampingku dengan pakaian tidurnya itu. Rambut pendek sebahu yang sengaja dicat kekuningan, terlihat sangat berantakan.
"Sudah, kok, tadi, tapi tidak ada sahutan,"
Aku memutar mata. Lagi-lagi dia membela diri. Tubuhnya tengah memelukku yang membuat aku menatapnya aneh.
Tunggu! Biasanya, jika dia seperti ini, ada
"Salam, ya, dengan boss-mu. Sampaikan, aku salam dompet!"
Nah, benar, kan!
Dan terkekeh lagi, saat melihat ekspresiku yang entah bagaimana lagi.
Sungguh, anak ini benar-benar membuatku gila lama-lama!
Farah masih terkekeh, saat aku pamit padanya yang hanya melambaikan tangan tanpa mengatakan apa pun. Benar-benar tahu cara menggodaku pagi ini.
Ugh!
* * *
Tempat ini tak terlalu besar dan luas. Bangunannya bertingkat empat dengan Lobby dan Restaurant di lantai dasar. Basement-nya juga tak luas, namun cukup ramai dan banyak diminati pengunjung.
__ADS_1
Ruang kerjaku berada di lantai dua, yang bersebelahan dengan meja Pak Dion—General Manager-ku. Benar-benar sangat nyaman di sini. Ruangan yang dindingnya di cat berwarna putih dengan lengkap di pasang dua buah pendingin ruangan di sebelah selatan. Di sebelah utara, nyaris semua dinding terpasang jendela geser dengan kaca besar yang langsung menghadap ke luar di jalan, dibalut tirai gorden dengan corak mewah perpaduan warna emas menyala dan cokelat basah. Sedangkan meja panjang berwarna putih dan cokelat yang telah dipenuhi komputer, mesin printer lengkap dengan mesin fotocopy dan beberapa peralatan kerja serta dokumen-dokumen, tertata rapi di sudut sebelah utara, tepat berada di samping kiri meja kerja sang General Manager.
Pekerjaanku hari ini cukup menyita waktu, dikeranakan accounting yang sebelumnya kerja di tempat ini sangat banyak meninggalkan laporan harian hingga menumpuk di meja kerja. Tidak lama lagi, semuanya telah selesai dan aku bisa pulang. Ini memang sudah lewat jam kantor. Seharusnya, sudah pulang sejam yang lalu, tapi karena lembur yang harus dilakoni, jadi lewat sejam tidak masalah. Toh, esoknya semuanya kembali kesedia kala dan lancar.
"Ibu Key?" Suara Pak Dion membuatku menoleh dan sejenak menghentikan mengetik. "Ya, Pak? Bapak belum pulang?" tanyaku saat memandang lelaki bertubuh gemuk itu yang tengah menghampiriku dengan raut wajah berantakan, namun ada secercah kegelisahan di sana.
"Tidak! Tadi ada meeting dengan pimpinan, hanya antara kami berdua,"
Aku mengangguk, lalu kembali mengetik dan fokus pada monitor di hadapanku.
"Kamu masih sibuk, Nak?"
Pria paruh baya ini memang terbiasa memanggilku seperti itu, jika kami hanya berdua atau di luar time's formal to forum. Itulah mengapa, selalu nyaman bekerjasama dengannya. Memang, beliau juga pernah menjadi bosku saat di Jakarta dahulu, bahkan keluarga mereka sangat akrab denganku.
"Sudah selesai, kok, Pak. Sepertinya bapak butuh bantuan, ya?" Sahutku akhirnya mendesah lega, lalu memandangnya di akhir kalimat begitu file telah ku-save lalu mematikan komputer.
Dia menghempaskan tubuhnya di punggung kursi besar itu, hingga menimbulkan bunyi berderit. Setelah mengusap kepalanya dengan frustasi, desahan berat terdengar darinya.
Ada apa?
"Bisakah bapak minta tolong?" Pertanyaannya membuatku mengernyit keheranan. Tetapi, raut wajah cemas itu jelas sekali masih tampak di sana.
"Tentu saja, Pak. Ada apa?"
Pak Dion tersenyum namun sangat canggung dan ragu, seperti menimbang-nimbang sesuatu. Beliau lalu menyesap sisa kopi yang sedari tadi terletak di mejanya, menatapku sejenak seakan-akan meyakinkan dirinya, kemudian mendesah panjang sembari menumpukan kedua tangan panjang besar itu di atas meja.
"Kamu masih ingat Linka, kan? Ya, puteriku itu saat ini pergi di Pantai Losari. Dia pamit tadi, katanya ada acara Festival di sana. Dan sejujurnya, aku tidak yakin dia baik-baik saja di sana. Masalahnya, dia pergi sendirian, Fhay,"
Oh, aku tahu.
"Maaf, Pak, tapi maksudnya, bapak memintaku untuk menyusul dan menemaninya di sana?" tebakku mengerti arah pembicaraan ini yang membuat Pak Dion tersenyum lebar.
Sepertinya asumsiku benar!
"Umm sebenarnya lebih tepatnya, jika bisa, bapak ingin meminta tolong untuk kamu mengajaknya pulang sebelum larut malam, Fhay?"
"Tentu saja bisa, Pak."
Beliau tersenyum lega dan tampak sekali tubuhnya rileks saat ia sandarkan di punggung kursi besar berwarna hitam itu. Lalu, "Oh, terima kasih, Fhay. Kamu memang selalu bisa diandalkan, Nak. Tapi, maaf sudah merepotkanmu," riangnya dengan antusias yang tak kuduga, ekspresinya akan seperti ini.
"Tidak apa-apa, Pak. Tidak merepotkan, kok. Tapi, sebelum saya berangkat, bapak tidak ingin saya buatkan coffe?"
Pak Dion menggeleng dalam raut wajah tersenyum lebar. "Senang bisa menemukanmu lagi, Fhay, dan bekerjasama denganku. Itulah mengapa, aku selalu mencarimu kerana sikap baikmu itu, Nak. Terima kasih, tapi tidak perlu, biar aku saja yang melakukannya."
"Baiklah, Pak. Keysa pamit kalau begitu." Sahutku tersenyum lalu berjabat tangan padanya setelah mengganti sepatuku.
Selama seminggu bekerja di kantor ini, aku memang sudah terbiasa jika hendak pulang, mengganti sepatu Heel's-ku dengan Kets. Rasanya nyaman melangkah sejauh apa pun. Aku memang tipikal gadis yang tak meyukai sepatu ber-hak tinggi. Itu pun, biasa menggunakannya jika memang di haruskan dan diperlukan.
* * * *
__ADS_1
Haiii, jangan lupa mampir, ya. Mohon untuk beri Jejak Komentar, Like dan Sharenya. Terima kasih sebelumnya 😘