Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Ternyata Kau?


__ADS_3

WARNING! MENGANDUNG TEMA DAN MUATAN KEKERASAN, DARAH DAN KALIMAT KASAR. BAGI PEMBACA YANG BELUM CUKUP UMUR DAN TIDAK NYAMAN DENGAN KONTEN TERSEBUT, DIANJURKAN UNTUK TIDAK MEMBACANYA.


DIHARAPKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA DALAM MENIKMATI LAYANAN NOVELTOON.


SELAMAT MEMBACA!


Aku terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa bersama ringisan sakit dari mulutku. Kepalaku seperti hendak pecah. Bahkan, darah kering kini telah berada di pelipis. Saat mengerjap membiaskan mata, mengamati ruangan yang tak terlalu luas ini. Hanya dipenuhi perabotan seperti lemari, yang tak jauh dari tempat tidur, meja rias yang berada di arah utara. TV LCD yang menempel di dinding—nyaris polos—di sebelah timur dan beberapa komputer serta meja yang berisi buku-buku. Lampu remang kekuningan membuat ruangan ini terasa mengerikan.


Suasananya terasa sesak dan aneh. Kupandangi diriku yang terbaring di kasur empuk ini, rasa tanyaku seketika terjawab. Tampak foto farah bersamaku kini terpajang manis tepat menempel pada dinding di atas tempat tidur. Dan benar, kamar ini milik sahabatku.


“Kau baik-baik saja?” suara cemasnya tenggelam dalam keheningan yang berubah mencekam. Ia tiba-tiba muncul dalam raut wajah yang entah bagaimana lagi, namun deru napasnya begitu cepat. Sepertinya ia sedang panik juga.


Aku berhambur memeluknya dan seketika tangisku pecah.


“Ssstt, diamlah. Aku di sini. jangan menangis lagi. Bisa-bisa mereka mendengar kita!” bisiknya di sela-sela deru napasnya.


“Kamu dari mana saja? Aku mencarimu! Kamu tahu, tadi tiba-tiba seseorang berjubah dan bertopeng badut mengejarku. Dia seperti ingin membunuhku!”


“Aku tadi—“


Brukk! Brukk! Brukk!


Suara gedebuk seketika terdengar dari arah pintu. Seperti seseorang sengaja berusaha masuk menerobos pintu kamar ini. Kami saling berpandangan dalam tatapan panik dan deru napas yang cepat. Farah mengisyaratkan untuk diam dan membuatku mengangguk.


“Keluarlah, Jalang! Aku tahu kau berada dalam sana! Dan aku tahu, kau sembunyikan di mana Kak Keysa!” suara gadis di luar sana mengejutkanku, terlebih saat ia menyebutkan namaku membuat kedua mata menatap mendesak ini memandang wanita di sebelahku.


“Linka?” bisikku.


Farah mengangguk. “Dia memang mencarimu! Dan tujuannya, untuk membunuhmu! Ia sempat menangkapku tadi di luar dan menanyakanmu terus. Bahkan ia tak segan menghabisiku juga. Lihat ini!”


Luka di tangan Farah membuatku bergidik ngeri. Terlebih, mengingat telepon gadis itu yang menanyakan keberadaanku dan tak lama berselang seseorang datang menyerangku.


Mungkinkah itu juga kelompok Linka? Ya, bisa jadi! Gadis itu benar-benar telah gila!


Pintu itu masih terdengar berusaha di dobrak dari luar dan itu semakin membuat kami panik. Saat Farah mengulurkan pemukul golf, aku memandangnya ketakutan.


“Untuk berjaga-jaga. Aku tahu ia juga teman sekaligus adikmu, tapi saat ini situasinya berbeda, Key. Jadi, jangan pakai hatimu jika bahaya sudah di depan mata. Pukul selagi kau masih bisa memukul dan melawan!”


Aku mengangguk mendengar instruksi wanita yang kini memegang pemukul golf juga. Sesaat menelan ludah, rasanya begitu sakit di tenggorokanku.


“Kamu siap?” bisiknya yang membuatku mengangguk ragu, dan lagi menelan ludah. Mataku berkaca-kaca. Aku benci dengan situasi seperti ini! Aku bahkan tak bisa membayangkan harus melakukan ini dengan Linka—gadis remaja yang selama ini kukenal manis dengan tingkah menggemaskannya.

__ADS_1


Terkadang, kau harus memilih sesuatu menyakitkan jika dihadapkan dengan situasi yang sama sekali tak kau inginkan.


Farah menyikutku hingga lamunan menjadi buyar, bersamaan dengan mengisyaratkan untuk bersiap menghadapi sesuatu di di luar—di balik pintu.


Brukk! Brukk! Suara itu terdengar lagi yang begitu mencekam di telinga. Tiga kali ... lima kali... dan akhirnya pintu terbuka. Tampak Linka di sana sembari memegang palu besarnya—seperti pemecah batu karang, melirikku sekilas lalu memandang geram Farah. Mereka bergulat, saling menghabisi satu sama lain dengan senjata mereka, di sela-sela ringisan, teriakan dan deru napas kedua wanita itu. Begitu aku menarik napas dalam-dalam, mengenyahkan ketakutanku ini, aku lalu membantu Farah, ikut menyerang Linka. Kujambak rambutnya dengan kasar untuk menjauhkan ia dari Farah, saat berusaha mencekiknya dengan pemukul golf yang tengah di genggam Farah. Gadis itu berteriak lantang.


“Kak Key, lepaskan! Kau—“ Farah lolos dari pemukul itu, kemudian meninju gadis itu hingga terjungkal ke belakang dan menghentikan gadis itu yang telah banyak bicara sedari tadi.


Farah Lalu merebut pemukul itu di tanganku, kemudian memukul tanpa henti Linka, meski gadis itu menjerit dalam rintihannya.


“Far, sudah! Ia bisa mati!” pintaku berusaha menghentikannya, namun berulang kali pula menepisku.


Saat sentakan terakhirnya, aku seketika terdorong ke tembok dan membuat kepalaku terbentur bersama suara ringisanku ini. Ia memandangku, lalu kembali memukul gadis itu hingga tak bersuara.


“Far, seharusnya kau tak sampai melakukan itu,” sergahku terbata-bata dan tertahan.


Kurasakan kepalaku begitu sakit dan nyeri.


“Kenapa? Kau cemas padanya? Tapi aku lebih cemas jika ia sampai hidup,” tukas Farah sarkasme setelah ia puas memukul gadis itu lalu sembari berjongkok di depanku.


Farah tersenyum separuh, kemudian bangkit berdiri. Melangkah ke arah meja riasnya sambil mengubek isi laci sesaat dan kembali dengan menggenggam sebuah bingkai.


Suara dentuman kasar dan berat yang terhempas di lantai sedikit menyentakku. Kulirik ia sekilas dengan pandangan tak acuhnya, lalu memandang ke arah benda yang di lemparnya tadi. Tampak seorang gadis yang tersenyum lebar dan seorang lelaki yang merangkulnya penuh bahagia dalam bingkai foto itu, dengan background Ancol. Aku menatapnya tajam, menuntut.


“Ya, benar! Dia Alan-mu! Dan wanita di foto itu adalah kekasih hati yang dicintainya, yang rela meninggalkan gadis malangnya hanya untuk wanita itu. Keren, bukan?” ungkapnya dengan bangga dalam senyuman lebar.


Aku memutar mata. Tapi ia tersenyum riang sembari meletakkan pemukul golf itu di bahunya.


“Jadi, kau selingkuhannya?” pekikku menatapnya tajam.


“That’s right, Gadis cantik!” ringannya mengakui sembarui tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pipiku. “Kau tahu, apa yang membuatku melakukannya? Seperti katamu, Sayang. Terkadang kita tak berdaya dengan cinta. Lagi pula, untuk apa aku mengalah padamu jika ia saja tak mau stay untukmu. Ya, kan?” lanjutnya yang membuatku mendengus.


“Rasanya tak adil!” sahutnya lagi yang masih tersenyum licik.


Ia kembali berdiri, sembari masih memikul tongkat golf itu dengan memandang entah apa. “Kau tahu, terkadang aku merasa bersalah padamu, Key, kau begitu baik padaku. Kau yang bahkan mengulurkan dan merentangkan tangan di saat aku tak diingikan oleh keluarga. Awalnya, aku begitu menyayangimu dan tak tega melakukan ini, tapi itu juga terlalu sempurna hidupmu jika sahabatmu mencintaimu juga. Well, untuk cinta, bukankah sepaket dengan sakit? Jadi, tak salah, bukan?” ia lalu berjongkak kembali, memandangku dalam mata berkaca-kaca.


“So, aku minta maaf. Kumohon, biarkan aku menyelesaikan cerita indah ini sampai ending. Kita sudah terlalu jauh, kan? Nah, jadilah ‘aktorku’ yang baik, Sayang,” desahnya lanjut lalu mengecup pipiku dan berbisik di akhir kalimat.


Ia lalu berdiri, memandang sejenak keluar, kemudian dalam satu sentakan, ia melayangkan tongkat golf itu dan menghempaskan dengan keras ke arah betisku hingga membuatku menjerit keras dengan lantang di tengah keheningan ini. Airmataku mengalir.


“Brengsek kau!” pekikku menatapnya geram yang membuat airmataku mengalir seketika,

__ADS_1


namun hanya senyuman innocent yang terlihat. “Agar lebih dramatis, Sayang!” timpalnya ringan.


Wanita ini benar-benar gila!


Ia lalu melempar tongkat golf itu ke arah lain dan begitu dia lengah, aku berusaha bangkit, lalu menghampiri kemudian menarik kerah bajunya agar ia berbalik dan melayangkan tinjuku ke arah wajahnya. Hidung dan mulutnya meneteskan darah. Aku lalu melesat keluar, berusaha lari sekuat tenaga dalam terseok-seok. Suara decitan yang berasal dari gesekan lantai dan tongkat golf itu kini terdengar mengerikan dalam suasana mencekam seperti ini. Terlebih, di luar sepertinya hujan turun sangat deras.


Ya, Farah mengikuti di belakang, dengan langkah santai dan senyuman lebarnya sembari masih menyeret tongkat yang sedari tadi di genggamnya dan sengaja membiarkan bunyi itu menggema di keheningan malam ini.


Aku semakin berlari, berbelok tepat di arah tangga lalu naik ke lantai dua, mengunci rapat-rapat pintu yang menjadi kamarku ini.


Deru napasku semakin memburu yang berusaha kuatur sedemikian agar teratur, terlebih Farah tak mendengarnya dan mengetahui persembunyianku saat ini.


Airmataku menetes lagi, lalu mengusapnya. Rasa perih pada kakiku benar-benar menyakitkan. Jelas sekali memar itu tampak yang mulai menguning dan sedikit membiru. Tubuhku telah di penuh keringat, namun deru napas ini masih saja memburu. Mataku berusaha mencari sesuatu yang bisa kugunakan sebagai senjata, memutar otak berpikir keras untuk mencari cara agar lolos dari wanita pengkhianat itu. Mataku seketika terpaku pada arah jendela. Otakku bahkan masih belum bisa mencerna dengan baik, apa yang sebenarnya terjadi dan siapa pelaku sebenarnya.


Itu dia!


Dengan napas memburu, aku lalu naik ke tempat tidur, kemudian berdiri menghadap ke arah jendela. Aku bukannya ingin menggunakan jendela untuk kabur dari sini, tidak! Sejujurnya, aku takut ketinggian, jadi untuk melompat atau apapun rasanya tidak. Lagi pula, Jendela ini telah kupasangi pagar besi dan lupa di mana kuncinya kusimpan. Jadi, dalam satu sentakan dan sedikit memanjat pada jendela ini, aku mendapatkan besi yang menyangga gorden bercorakku berwarna biru ini. Besi yang cukup panjang berwarna emas ini memiliki design bagus masing-masing ujungnya dan yang paling penting, cukup kuat sepertinya.


Farah sepertinya telah di sana, di depan pintu yang masih berusaha mendobrak.


“Menyerahlah, Sayang! Aku sedang berbaik hati saat ini. Tenanglah, aku tak akan membunuhmu, hanya membantumu untuk melupakan lelaki itu, bahkan namamu! Bukankah aku baik? Ha ha ha.” Tukasnya di balik pintu yang masih bisa terdengar olehku sembari tertawa di akhir kalimat. Anehnya terdengar menakutkan saat ini.


Aku lalu menyelinap di bawah tempat tidur, berusaha mengatur napas agar tak terlihat. Degub jantungku benar-benar tak bisa diajak kerjasama, ia berdetak cepat hingga mengakibatkan napas sesak dan memburu ini terdengar tak beraturan, namun berusaha keras agar tak didengar oleh wanita gila di luar sana yang tengah memburu.


Brak! Pintu seketika terbanting ke dinding dengan keras. Jantungku semakin berdetak kencang yang berusaha keras kutenangkan, sambil masih menggenggam erat besi ini.


Langkah kaki itu terdengar, bersama suara decitan besi dalam ruangan. Kakinya berulang kali melangkah di hadapanku, lalu selang tak beberapa lama, kepalanya tetiba melongo di depanku dengan wajah yang tampakkan dalam senyuman lebarnya di keremangan ini. “Hai, menungguku, ya?” sarkasmenya lalu tertawa renyah.


Detik berikutnya, jeritan kerasku melolong dalam keheningan tatkala benda tumpul melesak masuk dengan paksa di antara tulang betisku, yang hanya ditanggapi tawa riang wanita sialan itu sembari menyeret kakiku yang sakit tanpa ampun—tak peduli jeritan kesakitan itu menggema di ruangan ini.


Tubuhku di bawanya keluar, yang masih di seret. Bisa kulihat, darah yang berasal dari betisku menetes di lantai dan rupanya benda yang sengaja di tusukkan itu adalah gunting.


“Sakit brengsek!” pekikku geram dan hanya membuatnya tertawa renyah dalam keheningan ini. Sesekali ia bersenandung riang yang masih menyeret kakiku dengan kedua tangannya.


Aku lalu berusaha menggunakan kaki satuku untuk menendangnya. Dan itu berhasil, hingga membuatnya terjungkal ke belakang dan kumanfaatkan itu untuk menarik benda itu terlepas dari kakiku. Sekali lagi geramanku terdengar saat menahan rasa sakit.


Raut wajahnya tampak marah, lalu bangkit. Ketika tongkat golf itu di layangkan lagi ke arah wajahku, aku lalu menepisnya dengan besi ini dan di waktu bersamaan kembali menendang keras lutut kanannya hingga ia bertekuk lutut dengan kaki satu. Jeritannya menggema. Lengahannya kumanfaatkan untuk kabur, namun terlambat, sebelum aku pergi, ia berhasil mencengkeram tanganku lalu menariknya agar aku mendekat padanya, kemudian menusuk gunting—bekas menusukku tadi, telat ke arah dadaku hingga jeritan menyakitkan itu lagi-lagi menggema di mulutku.


Sebelum aku melepaskan jeratannya, kusikut ia hingga kakinya terpeleset dan bergulung jatuh ke lantai satu. Terakhir yang kulihat, ia tak sadarkan diri di bawah sana—tak jauh dari tubuh Linka—yang sejenak kutatap dalam mata berkaca-kaca.


Maafkan aku, Farah.

__ADS_1


* * *


__ADS_2