Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Salah Paham


__ADS_3

Jika ada penyakit aneh yang tak ada obatnya, menjadikan seseorang tidak sehat dan nyaris gila, namun fungsi otak dan organnya normal, mungkin hatinya yang dipertanyakan. mengidap Cinta, kah?


Setelah dua bulan lebih, kami tak berkomunikasi lagi, terlepas dari kejadian itu. Terakhir yang kutahu, dia baik-baik saja di sana, terlebih dengan kekasihnya.


Beberapa hari belakangan ini, Farah meracuni pikiranku. Ia kerap menggoda tentang perasaan dan cinta. Konyolnya lagi, dikaitkan dengan Navroy.


Tapi, benarkah aku jatuh cinta padanya? Sial! Aku bahkan mulai terpengaruh pada ucapan wanita itu!


Resah? Ya, mungkin bisa di bilang begitu. Aku rasa, damaiku mulai terganggu. Terlebih, ketika rindu ini telah mulai menggerogoti dengan menyebalkannya, di mana pun dan kapan pun, tanpa melihat kondisi dan waktu. Dan sialnya, hanya bisa menekan dengan kuat-kuat rasa itu, hingga menyiksa diriku sendiri.


Aku menghela napas panjang, menikmati udara di sore ini. Meliburkan diri sendiri dari pekerjaan yang begitu menyibukkan, memang menyenangkan. Memang, sengaja mengambil cuti beberapa hari ini hanya untuk menenangkan pikiran, berhubung yang diberikan baru kuambil.


Lapangan jogging track ini semakin senja, semakin ramai oleh pengunjung. Sedangkan aku di sini tengah menunggu Farah. Dia bilang ingin pulang bersama—berhubung aku baru pulang dari perpustakaan nasional kota yang tepatnya tak jauh dari sini—karena kantornya juga berada di sekitar alamat ini. Ia memang berkerja di salah satu perusahaan distributor, entah di mana. Dan mengapa juga, ingin menunggu di sini saja, yang mulai membosankan menanti dan sepertinya cukup lama.


Entah di mana anak itu.


Aku melirik jam hitam taliku di pergelangan tangan kiri, telah menunjukkan pukul tujuhbelas lewat limabelas menit. Helaan berat terdengar dari mulut.


Tak jauh dari keramaian terlebih tempat yang kududuki ini—tak jauh dari area workout, tampak beberapa lelaki berparas asing tengah latihan di sana. Senyum tipisku menguap.


Tidak tak tahu kenapa, aku sangat rindu padamu, Navroy, desahku dalam hati dengan pandangan menunduk. Menatap kedua Kakiku yang terbalut sepatu sport kelabu-merah jambu.


“Keysa?” suara itu berhasil membuatku memalingkan wajah dan menatap ke sebelah kiri. Dengan kaus violetnya dan celana pendek kain yang dipadukan dengan sepatu sporty hitam, ia terlihat begitu tampan di sana. Bahkan, dengan tampilan sederhana dan rambut yang sengaja dibuat berantakan.


Hmm, seperti biasa, selalu mempesona!


Navroy melangkah ke arahku, menghampiri sambil masih menatap dan membiarkan mata itu tenggelam ke dalam pandanganku. Raut wajahnya kini tampak dekat, lalu duduk tepat di sebelahku, kemudian tanpa memandang.


Benarkah dia Navroy? Bahkan wajahnya saat ini terlihat berbeda. Maksudku, ekspresinya jadi lebih riang dan ceria. Apa mood-nya sedang bagus? Tapi, bukankah moodnya bagus atau tidak ia tetaplah bersikap ... ah, bicara apa aku ini! Ayolah, Key, Kau—


“... kamu tidak mendengarku?” tanyanya yang membuatku tersentak. Ucapannya baru terdeteksi di indera pendengar Ini.


Ada apa?


Aku menatapnya. Seulas senyum innocent kutampakkan. “Sorry. What do you say?”


Senyum manisnya merekah dengan bibir tipis nan merah itu. “Dari mana?” tanyanya menatapku dalam bahasa Indonesia yang membuatku sedikit mengernyit dalam Seulas senyum. Sejenak, tatapan eksotik itu membuatku tertegun, seolah tak bernapas. Begitu dekat, sangat dekat.


“Ms. Indonesia, Aku tanya tadi, dari mana?” panggilnya lagi yang menyentakkanku. Rasanya senyumku kikuk.


“Kamu berbahasa Indonesia? Sudah pandai?—umm, maaf, tadi dari perpustakaan.”


Dia mengangguk, lalu tersenyum. “Yeah, tapi tidak banyak. Baguslah!” akui Navroy. “Apa kabar?” lanjut lelaki itu dengan sumringah.

__ADS_1


Aku memiringkan wajah lagi, memandangnya.


Tidak seperti biasanya. Dia baik-baik saja, kan? Sehat?


Senyumku menguap, namun kali ini melebar dengan malu.


“Baik. Dan kamu?”


“Baik juga. Kamu baru pulang kerja?” aku


menggeleng. “Aku free hari ini.”


“Oh.”


“Yeah.”


Bahasa Indonesianya cukup baik, meski pelafalannya tak sempurna. Tapi, masih bisa dipahami.


“Kamu latihan hari ini?” Navroy mengangguk. Dan senyuman khas memabukkan itu lagi-lagi diperlihatkan.


Dia lebih banyak senyum hari ini. Baguslah!


Tanpa sengaja, helaan napasku keluar begitu saja dan bahuku merosot.


“Maaf.”


“Tidak apa-apa.”


“Lagi apa di sini?" ulangnya lagi, kembali menatap.


“Menunggu pacar!” timpalku bergurau dalam senyuman.


“Menunggu pacar?” raut wajahnya berubah seketika saat aku mengangguk, masih dalam gurau.


“Oh.”


“Bercanda! Aku menunggu sahabatku di sini, namanya Farah,” koreksiku tersenyum.


Senyum simpulnya seperti alarm bagiku, alarm seperti akan terjadi sesuatu yang tak kuinginkan.


Apa dia salah paham? Sial!


“Mm, Navroy—“

__ADS_1


“Okay, aku harus latihan dulu. Selamat menunggu!” aku semakin menatapnya penuh tanya ketika lelaki itu mulai bangkit berdiri dan bergegas pergi.


Ada apa dengannya?


Pandanganku tetap tak lepas darinya, saat Navroy kembali ke kelompoknya. Dia bahkan tak memandangku lagi, hingga latihan pull-up di mulai. Seolah, yang tadi tak pernah terjadi. Di sini, di tempat duduk semula yang tak jauh darinya, aku masih memandanginya meski ia seolah bertingkah seperti tak mengenalku. Navroy bahkan hanya beristirahat sesekali—itu pun ketika meneguk air minumnya. Sepertinya ia begitu memaksakan diri dan latihan keras. Beberapa teman kelompoknya mengajaknya ngobrol, namun lelaki itu hanya menjawab dengan wajah datar.


Moodnya benar-benar berubah secepat itu?


Hingga sunset menyapa, ia masih dengan raut wajah dingin seperti itu, tanpa memandangku atau pun menyapa.


“Hai, sendirian saja?” Sapaan dalam bahasa Indonesia dengan aksen Bernegara asing—ketika menghampiriku yang melangkah di area track jogging—saat hendak pulang, kini terdengar di sebelahku. Lelaki dengan mata hijau, berperawakan tinggi dengan paras Arabic-Inggris, tampan dan memiliki brewok di wajah putihnya, kini tersenyum.


oh, My God! Bule? Lagi? Bisakah tidak ada bule di sekitarku di saat seperti ini? Ugh!


Aku hanya menanggapi dengan seulas senyum, hanya beberapa detik lalu kembali normal dengan ekspresi datar dan malas.


Tidak apa-apa, biarkan saja dia melihatnya! Biarkan dia menyadari kalau aku sedang tidak ingin di ganggu sekarang!


Sedang badmood. Pikiranku saat ini terfokus dengan lelaki Pakistan di sana yang masih terus latihan.


“Hai. Tap—“


“Saya Ameeral,” sahutnya yang meraih tanganku dengan paksa untuk berjabat tangan, namun kutarik tangan ini yang telah di genggamnya. Ia melangkah mundur di depanku, matanya tetap masih menatap.


“Maaf, tapi saya harus pulang,” sahutku yang mulai risih, namun dicegat olehnya saat hendak menghindari.


“Oh, Come on! Saya hanya ingin berkenalan. Bisa minta nomor ponselmu?” langkah mundurku seketika tertahan, saat merasakan kakiku menabrak sesuatu.


“Sayang, kamu belum pulang? Naiklah, kuantar!” suara tiba-tiba itu seketika membuat kepalaku menoleh cepat.


Navroy?


Mungkin karena aku terlalu lama diam dalam henyak, kurasakan tangannya mencengkeram lembut tanganku, lalu menarikku berdiri di dekatnya yang masih duduk di atas jok sepeda. Matanya kini menuding ke sepeda itu, dan dengan cepat aku patuh begitu saja padanya. Duduk begitu dekat dengannya, tepat di besi kerangka sepeda, di belakang stirnya. Lelaki itu hanya memandangi kami saat kami berlalu.


Rasanya napasku berhenti saat ia mulai melajukan sepedanya dengan hati-hati. Aku bahkan bisa merasakan aroma keringat khasnya yang wangi. Sesekali punggungku tersentuh oleh dada bidang itu. Raut wajahnya masih datar penuh defensive saat mencoba menegadah menatapnya. Sepeda sport tembaga itu seketika berhenti tepat di jalan raya, yang tak jauh dari gerbang selatan pintu utama.


“Hanya sampai di sini bantuanku. Next time, jangan bertemu dengan pacarmu lagi di tempat sepi, jika kau masih ingin normal,” sahutnya tanpa menatapku dengan dingin dan seperti menekan kalimat terakhirnya, lalu berlalu dengan sepedanya.


Aku hanya mendesah, menatapnya yang telah semakin jauh dari pandangan.


Rupanya benar, dia salah paham lagi!


Lagi, Helaan berat terdengar dariku, kemudian naik angkutan umum.

__ADS_1


* * *


__ADS_2