
WARNING! MENGANDUNG TEMA DAN MUATAN KEKERASAN, DARAH DAN KALIMAT KASAR. BAGI PEMBACA YANG BELUM CUKUP UMUR DAN TIDAK NYAMAN DENGAN KONTEN TERSEBUT, DIANJURKAN UNTUK TIDAK MEMBACANYA.
DIHARAPKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA DALAM MENIKMATI LAYANAN NOVELTOON.
SELAMAT MEMBACA!
Aku sudah mencoba mencari jalan keluar untuk pergi dari rumah ini, tapi tetap saja tak kutemukan. Bahkan, pintu utama di bawah telah terkunci rapat. Menyebalkannya lagi, pintu kamar ini tak bisa lagi terkunci, mungkin karena dobrakan Farah tadi hingga rusak. Saat berusaha mencari ide untuk persembunyian yang tepat, mataku memandang lemari besar di sudut sana dan membuatku tersenyum lega. Lemari dengan tiga pintu itu seketika kubuka, lalu masuk ke dalamnya dan bersembunyi yang sebelumnya kukeluarkan semua sepatu dan tas lalu menyembunyikannya di kolong tempat tidur.
Aku sengaja meletakkan di sana benda-benda milikku itu pada bagian paling bawah, sedang bagian atas adalah beberapa handuk, seprai dan selimut pada pintu kedua dan ketiga ini.
Deru napasku masih tak teratur, namun cukup membuatku merasa aman sesaat di sini, meski mulai gerah.
Cukup lama bersembunyi dalam sini, rasanya mulai lelah. Mungkin, ini efek luka di punggung dan kakiku, terlebih benda itu masih menancap di sana. Sedikit saja aku bergerak, terasa seperti mencabik tubuhku. Darahnya juga terasa mengalir terus. Saat keadaan sangat hening, hening tanpa suara apa pun, dan hanya mendengar deru napas serta detak jantung ini yang berdegub cepat. Seketika, pintu lemari tiba-tiba terbuka dan membuat suara tarikan napas terkejut ini terdengar. Napasku berhenti sejenak sembari mataku tak mengerjap melihat sosok tinggi yang tengah berdiri di sana memandang ke arahku.
“Navroy?” terkejutku dalam mata melebar.
Aku baru menyadari dan reflek menghela napas lega. Seulas senyum menguap di wajahnya, lalu mengisyaratkan untuk bergeser, kemudian ikut masuk dan duduk di sebelahku.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya cemas memandangku dalam keremangan ini.
Aku masih bisa melihat bola mata indah itu menatap begitu lekat ke arahku, seperti memenjarakan. Dengan kikuk, kunyalakan senter ponselku.
“Ya. Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya mengulang pertanyaan.
Aku mendesah. “Main petak umpet. Dan kamu?” timpalku konyol dalam lelucon.
Dia tersenyum dalam dengusannya. “Dewana!”
“Bagaimana kamu bisa masuk?” tanyaku tetiba saat beberapa detik hening—mengingat semua pintu terkunci.
“Lewat jendelamu.” alisku mengernyit.
“Jendelaku? Kamu memanjat dan menggantung, ya? Bukankah itu terkunci?”
Dia mengangguk. “Aku mencungkilnya,”
“Pagar besinya?”
“Aku mendorongnya.”
“Mendorongnya? Bukakankah itu terkunci juga?”
“Tidak! Siapa yang bilang?”
“Kamu membukanya tadi di sebelah kiri atau kanan?”
“Aku mendorongnya, Key! Mengapa kita berdebat tentang ini, sih? Kalau aku membukanya, itu harus kubuka dari dalam dan di sebelah kanan! Kamu tidak percaya? Ayo kita lihat sama-sama!” jelasnya setelah menghela napas berat. Namun, hanya ringisan yang terdengar olehku, begitu lelaki itu bangkit dari persembunyiannya dan hendak menarikku keluar juga.
“Kamu terluka?”
“Astaga! Bodohnya aku! Aku sampai lupa, rupanya tadi membuka dari arah kiri!” gumamku sengaja mengalihkan.
Dia memutar mata lalu mendesah berat. “Hei, Gadis gila, aku sedang tanya, apa kamu terluka? Kenapa masih membahas pagar jendelamu, sih?” gerutunya di akhir kalimat dan mulai kesal.
“Maaf. Ya ... sedikit.”
Dia menghela napas lagi saat kembali duduk di sebelahku. “Di mana?”
“Kepala.”
“Dan?”
“Kaki—betis.”
“Dan?”
“Punggung.”
“Dan?”
“Apa aku harus menjawab hati, baru kamu bisa berhenti?” tukasku yang membuatnya bungkam, lalu memejamkan mata kemudian menghela napas panjang.
“Baiklah, Maaf. Tapi itu luka banyak, bukan sedikit,” sungutnya, kemudian mulai mengecek kepalaku.
“Tidak apa-apa. Mungkin lukanya sudah mengering.” Lirihku memandang lurus.
Rasanya kesedihan mulai merayapi hatiku.
“Kaki dan punggungmu?”
“Kupikir kita tak akan bertemu lagi,” desahku yang nyaris berbisik dan mengalihkan.
“Kemarilah!” pintanya.
“Apa?”
“Kamu ingin benda itu terus menancap di sana? Lalu, perlahan-lahan merobek dan menguliti kulitmu? Dan infeksi? Bukankah kau lebih tahu karena seorang dokter—Astaga, Benar-benar kau ini!”
Aku hanya bisa menatap Navroy sejenak, ia baru terdengar mengoceh sepanjang itu.
Dengan patuh, aku lalu mendekat sedikit ke arahnya, ia mengubah posisinya menghadap ke arahku, lalu memandang sejenak.
“Ini mungkin sangat sakit, jadi jika kau ingin teriak, gigitlah bahuku. Tapi, tahan sejenak badanmu dan sebisa mungkin tetap tegap,” pinta Navroy setelah menyandarkan wajahku ke bahunya.
Napas beratnya mulai terdengar dan beberapa detik kemudian, dia menghela Napas berat dengan kasar. Seolah, memaksa keluar beban berat di benaknya.
__ADS_1
Saat ia mulai menarik gunting itu yang cukup dalam menancap di punggungku, aku Hanya terdiam—tidak melakukan apapun. Mengalihkan dengan sibuk menghitung deru napasnya yang terdengar begitu dekat dan detak jantungnya yang berdetak kencang. Kurapatkan gigiku dengan kuat, berusaha keras menahan sakit dan seketika membuat air mataku mengalir. Begitu benda itu berhasil di keluarkan, tubuh dan wajahku seketika ambruk pada dadanya sembari menghela napas panjang.
“Are you okay?”
“Hmm.”
“Sepertinya lukamu cukup dalam,”
Aku mengangkat wajah dan tubuhku yang terasa lemah akibat rasa perih dan sakit ini yang menggerogoti, lalu menjauh darinya.
“Iya. Aku berhasil menghabisi satu orang di luar sana dan juga Linka. Entah ada beberapa orang lagi,”
“Linka?” dia terkejut.
Anggukan kecilku nampak. “Iya, rupanya dia dalang dari semua ini. Tapi nanti kita bahas itu, rasanya benar-benar membuatku lemas dan pusing.”
“Kau terlalu banyak mengeluarkan darah. Sepertinya juga wajahmu mulai pucat." tukasnya memandangku dengan ekspresi cemas. “Di mana kotak obatmu?” lanjutnya.
“Sepertinya ikut dalam tas penugasanku yang akan di kirim di Bandung,”
Ia menatapku sejenak. “Tugas? Bandung?”
“Benar! Tapi kita bisa menghentikan pendarahannya dengan membalutkan sesuatu,” lirihku yang terasa semakin lemas dan mengalihkan di akhir kalimat.
“Apa yang kamu lakukan? Mengapa membuka pakaianmu?” tanyaku setelah sejenak kami terdiam dan dia tiba-tiba....
Senyumnya nampak. “Jangan berpikiran aneh-aneh, aku tak mungkin lakukan itu di dalam lemari seperti ini. Sempit, tempatnya tidak nyaman.”
“Dewana!” sergahku mendengus, lalu cepat-cepat mengatupkan bibirku saat reflek menyadari suaraku naik satu oktaf, ketika jari telunjuknya mengisyaratkan di bibirnya.
Navroy menyengir dalam ******* senyum, sembari mulai menyobek kausnya menjadi beberapa helai, lalu menggulung erat.
Tubuhnya kini bertelanjang dada di hadapanku. Tubuh kekar yang begitu sixpack dan sexy dengan dada bidang itu telah terlihat seperti putih salju.
Setelah sesaat mengecek luka di betisku, ia lalu membalutnya dengan gulungan kain—pakaian—miliknya dan tak lupa mengikat di tiap sisi ujung terakhir. Lalu, beralih ke luka punggungku. Dengan hati-hati ia mulai menyobek bajuku pada tiap sisi luka di punggung ini.
“Jangan memandangku seperti itu, bisa-bisa kamu nanti nafsu!” timpalan asalny saat ia melirikku sambil mulai membalut luka itu.
Ia sengaja menggunakan bajunya sebagai perban untuk menghentikan pendarahan. Tubuhnya begitu dekat, sangat dekat. Bahkan aroma parfum maskulin itu terasa menyengat di hidungku yang begitu memabukkan, meski keringat telah menyatu di tubuhnya. Sekilas jika terlihat, seperti tengah mendekapku. Jantungku seperti berdetak kencang, rasanya kembali sesak. Kulit kami sesekali saling bersentuhan dan deru napasnya sesekali menyapu di leher dan rambutku.
“Mengapa kamu kemari? Kupikir, kamu membenciku?” gumamku menunduk, berusaha mengalihkan dan hanya merasakan tangannya bekerja mengobatiku.
Dia terdiam sejenak. Sesaat, tangannya memutar di antara lengan dan leherku bersama dengan balutan kain itu.
“Aku tak mungkin diam saat mengetahui ada seseorang dalam bahaya,” jelasnya sembari kini mengikat lilitan itu dengan kuat dan membuat tubuhku sesekali bergerak, lalu memundurkan tubuhnya, kemudian kembali duduk di sebelahku.
Saat aku menatapnya yang tengah memandang lurus sembari kedua kaki di tekuk dan tangannya melingkar ke lutut, deringan ponselku seketika berdering. Dia sejenak menoleh, lalu memalingkan wajah lagi.
“Ya, Sadeev?” sahutku setelah mengangkat telepon. Kali ini Navroy menatapku.
Entahlah, apa alasannya mengapa kali ini dengan dengan sengaja menyalakan speaker telepon ini. Mungkinkah aku kembali mencemaskan perasaannya? Konyol!
“Untunglah kau menelepon. Aku bersama Navroy saat ini dan berada di kamarku, di dalam lemari. Tolong, Sadeev, telepon polisi secepatnya!” pintaku lega.
“Baguslah jika dia di sana juga. Kalian jangan ke mana-mana sebelum aku datang,”
“Ya, cepatlah!” sahutku lalu telepon terputus.
“Dari tadi menggenggam ponsel, mengapa tidak telepon polisi?” celetuk Navroy ketika sesaat hening kembali.
“Aku lupa nomornya, maaf!” bisikku.
“Astaga!” dia tersenyum.
“Apa kita bisa selamat dari sini?” tanyaku menatapnya cemas.
Tatapan itu seolah melelehkanku sejenak. “Ya, aku janji! Lagi pula Sadeev akan datang dan dia akan segera menelepon polisi, kan?” lirihnya menenangkan di akhir kalimat.
Entah mengapa, untuk kali pertama setelah sekian lama, aku kembali mempercayainya dan rasanya seperti aman bersamanya.
Damai itu seolah membalut hangat luka di benakku.
Apa cinta ini bangkit kembali? Atau memang masih ada tapi terkubur pada ego yang kupaksakan? Entahlah!
Terperangkap bersama cinta lamamu yang begitu mematikan, apa yang akan kau lakukan? Seperti mawar yang di dekap dengan bahagianya, namun tertusuk oleh ribuan durinya, dan itu seperti sepaket!
“Tunggu! Bagaimana Sadeev bisa tahu kalau kita sedang bersembunyi dari bahaya?” celetuk Navroy yang membuat kami saling berpandangan.
Pintu seketika terbuka lebar dan membuat kami terkejut. “Hi, Guys, sedang menungguku, ya?"
Buk! Buk! Dalam sekali hantaman bersama suara benda itu yang melayang keras di kepala, rasa nyeri dan ngilu seketika terasa, lalu pandangan samar-samar tampak saat melihat lelaki yang tengah memikul tongkat golf itu tertawa renyah di hadapan kami.
Sebelum mataku benar-benar terpejam, kurasakan genggaman tangan Navroy melekat erat di tanganku, bersama cairan basah yang mulai terasa mengalir di pelipis ini.
* * *
Mataku terasa sayu dan kepala terasa berat, masih nyeri. Namun, ada rasa aneh kurasakan. Perasaanku benar-benar tidak enak, seperti mual. Terasa seperti di jungkir-balikkan. Kucoba mengerjap, membiaskan mata ini, samar-samar tampak dua orang yang tak jauh dari sini, tapi dalam kondisi terbalik. Baru kusadari, rupanya kakiku terikat di atas dan tubuh menggantung hingga kepala berada di bawah sembari tangan kami terikat kebelakang. Saat kulirik di sebelahku, Navroy juga sama, terikat di sebelahku.
Tapi, entah di mana ini? Tempatnya seperti gudang, tidak terurus. Aku bahkan baru melihat tempat ini!
“Jadi, kau yang melakukan semua ini, heh? Bahkan tentang ibuku?” suara geraman Navroy terdengar melengking di ruangan ini yang hanya di pasangkan lampu tepat di sekitar kami.
Tawa lelaki itu terdengar. “Tentu saja, semuanya! Tentang ibumu, mantan kekasihmu dahulu, di pantai, di jogging track area, di tempat renang, penembakan dan yang terakhir adalah ... ini! Keren, bukan?” akui suara lelaki itu yang terdengar menggema, lalu terbahak lagi. “Tapi kuakui, pacarmu itu memang begitu kuat, aku bahkan nyaris jatuh cinta lagi padanya. Namun tetap saja, kekasihku selalu yang paling bisa di andalkan, dia selalu membantu,” lanjutnya mengakui.
Suara itu masih menggema, seolah bicara pada Navroy, tapi, sosoknya masih tak dapat terlihat jelas, karena cahaya di sana tak menempa mereka, hanya keremangan.
__ADS_1
“Kau tahu Navroy, aku sengaja datang di hidupmu, mengubah segala apapun dalam diriku, termasuk belajar berbahasa negaramu, dan berpura-pura menjadi imigran sepertimu, hanya agar aku ... selalu menjadi mimpi burukmu,”
“Bajingan kau! Lepaskan bedebah!”
“Diamlah! Sutradaramu belum selesai berbicara! Kau hanya sekadar pemeran utama yang kapan saja bisa ku-'cut’ ... selamanya,” ancam lelaki itu dan menekan kosakata terakhirnya.
Navroy tersenyum sarkasme. “Lakukanlah, jika itu bisa! Aku dengan senang hati menunggu di sini. Sayangnya kau hanya action di balik topeng murahanmu itu,” tantang Navroy, lalu bergumam di akhir kalimat, kemudian meludah.
Sadeev tersenyum licik. “Belum waktunya! Tapi tenanglah, itu pasti akan terjadi!” dia mendesah. “Tapi aku sangat berterima kasih pada bocah ini. Berkat kepolosan dan ketololannya, aku bisa memanfaatkan sifat ‘sok detektif dan super heronya’. Tapi malangnya, kalian menuduhnya begitu saja!” lanjutnya mendecakkan lidah yang terdengar berlebihan, kemudian tertawa lagi sembari merangkul seseorang yang tengah terikat di kursi, sembari mulutnya di sumpal, di antara mereka.
Navroy terkekeh, “Dasar pecundang!”
Lelaki itu melangkah menghampiri, begitu dekat pada Navroy. Tubuh dan wajahnya kini nampak.
“Alan? Kau Alan, kan?” pekikku terkejut, saat wajah dingin tanpa alis itu nampak dan kepala botak dengan bekas jahitan tepat di tepi bagian kanan kepala. Pandangnnya seketika beralih ke arahku.
“Hei, Sayangku! Rupanya sudah bangun, ya. Apa kau merindukanku? Ya, tentu saja aku Alan-mu. Kau pasti tentu ingat bekas jahitan ini, bukan? Ha ha ha, sekarang kau bisa tahu penyebabnya itu dari pacarmu,” seru riang lelaki itu yang rupanya Alan sembari menyentuh wajahku. Suara geraman wanita terdengar di sana, namun diabaikan olehnya.
Mataku kini memandang sosok lelaki yang menggantung di sebelahku hanya beberapa senti jaraknya. Menatap penuh tanya.
“Kamu mengenalnya?”
Aku memutar mata, rasanya enggan mengakui. “Ya! Dia kekasih masa laluku yang pernah kuceritakan padamu. Tapi sulit dipercaya, dia berada sekarang di sini,”
“Ha ha ha, bukankah sudah kukatakan sebelum kau ke pantai waktu itu? Aku akan datang? Tapi kau cukup membuatku terharu, aku bahkan masih berjejak di kisah masa depanmu, bahkan telah menyakitkan,” aku mendengus.
“Well, Sahabatku, Sayangnya, kau tak bisa apa-apa sekarang. Bahkan jika pun aku menikmati tubuh seksi kekasihmu itu saat ini, kau tak berdaya,” bisiknya yang kini beralih pada Navroy masih bisa terdengar olehku.
“Sahabatku?” tanyaku memandang sekilas lelaki itu dengan heran, lalu beralih menatap menuntut lelaki itu.
Raut wajah Navroy merah penuh geram sembari melotot tajam.
“SADEEEEEEEEVVVV!” teriak Navroy penuh geram yang membuat lelaki berotot yang masih berdiri tak jauh dari kami itu hanya cekikikan.
“Sadeev?”
Bukankah itu Alan?
“Kau kebingungan, ya, Sayang? Baiklah, baiklah! Kau sepertinya belum mengerti! Tenang saja, ini masih di belakang rumah kita! Sekaligus markas besarku dengan kekasihku itu. Well, sudah kukatakan, bukan? Cinta tak segila itu. Ya, kami dalang dari semua ini, termasuk kisah masa lalumu yang sudah kuungkap tadi, kan? Bagaimana rasanya sahabatmu masih bersama sahabatmu—oh, tidak! Lebih tepatnya, bersama kembali? Ikut berbahagia? Menyenangkan, bukan?” sahutnya sembari melenggok menghampiri. Saat cahaya itu menempanya, mataku melebar terkejut.
“Farah?”
Dia tertawa innocent. “Ya, ini aku!” ringannya.
“Honey, sepertinya mereka menikmati petualangan mereka tadi sebagai ‘aktor’ dadakan, hingga lelah seperti itu!” dia terkikik sembari merangkul Sadeev yang kini berdiri di sampingnya.
“Hai, Sahabatku, kau merindukanku?” sahutnya lagi mengalihkan ke arahku. Mataku menyipit tajam, lalu meludahinya. Tamparan keras kini melayang di pipiku.
“Sepertinya kau kurang diajari, ya!” sungutnya melotot tajam ke arahku.
“Itu memang bagus untukmu, Jalang!” sela Navroy lalu tersenyum sarkasme.
“Kukira kau telah sadar siapa kau ini, rupanya tidak! Berhentilah melotot di hadapanku seperti itu! Mendengarnya pun aku jijik di sebut sahabatmu,” sinisku. Saat ia mulai kesal dan hendak menamparku. Lelaki berjubah itu menahannya.
“Sudahlah, Farah! Kemarilah! Itu belum waktunya!” Sela Sadev lalu menghampiri kami.
Tampak tetesan cairan berasal dari kepala Navroy menetes sedari tadi, aku baru menyadari jika lelaki itu berdarah, sama sepertiku. Navroymelirikku, menatap dalam untuk menenangkan.
“Sekadar informasi, Key, biarkan aku mendekatkanmu pada adik malangmu ini yang sempat kau tuduh bahwa dia pelakunya. By the way, inti dari semunya, akulah yang mengatur memang, dan di bantu sahabatmu itu agar semuanya berjalan begitu keren!” lirihnya yang lagi-lagi berbahasa Indonesia.
"Kak Key, maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkanmu waktu itu, aku datang terlambat.... " lirih Linka yang begitu lemas dan kesakitan. Dia menangis menatapku dalam kondisi seperti ini. Dan aku tak kuasa untuk tidak menangis. Dia benar-benar peduli padaku, tetapi aku hanya salah paham padanya dan bahkan menuduhnya.
"Diamlah anak bodoh! " Bentak Farah.
"Maafkan aku, Linka, maaf sudah menyeretmu di sini dan tidak percaya padamu," lirihku meneteskan airmata.
"Aish, berhentilah kalian drama, aku benar-benar muak menyaksikan ini!" sela Sadeev.
Farah dan Sadeev benar-benar mengelabui kami dalam penyamaran mereka. Lagi-lagi ia menjelaskan semuanya secara detail dan membuatku menatapnya tajam penuh amarah.
"Ada kalimat terakhir yang ingin kau sampaikan untuk adik tercintamu ini, Keysa?" Tanya Sadeev tiba-tiba.
Dia sudah berdiri di belakang Linka yang masih di ikat di kursi, dengan pisau di genggamnya sembari sengaja mengacung ke arah pundak gadis itu. Deretan gigi putih Sadeev tampak dalam keremangan yang tak bisa kulihat raut wajah mereka sambil menyeringai ke arahku.
"Jangan coba-coba, Sadeev. Kuperingatkan kau!" Sergahku menggeram menatapnya tajam, namun hanya tawa konyol yang terdengar menggema cukup lama.
"Aku sangat suka melihatmu memohon seperti itu, Keysa-ku. Tapi, mari kita lihat, apa kau bisa mencegahku dengan tubuh tergantung seperti itu?"
"SADEEEEVVV?" Teriak Navroy mulai cemas.
"TIDAAAAKKK!!" Teriakanku terdengar bersamaan dengan jeritan kesakitan Linka ketika pisau itu di tancap kasar di tubuhnya hingga darah mengucur deras, lalu menariknya paksa membentuk horizontal di sekitar bahu gadis malang itu.
"Brengsek kau, Sadeev!" Geramku berteriak yang semakin membuatnya tertawa girang.
Tawa Sadeev lagi-lagi terdengar di keheningan ini. Sejenak kulirik, tubuh Linka kini lemas dan sepertinya dia pingsan.
"Mengumpatlah sesuka hatimu, Sayang, tapi jangan lupa mengucapkan salam perpisahan sebelum kalian tak ada lagi di dunia ini," racaunya menimpali dalam seringainya. Lalu tertawa lagi. "Kau tahu, sudah bertahun-bertahun aku menunggu sweet moment ini, tapi di luar dari perkiraanku, ini sangat menyenangkan!" tawanya lagi terkikik.
“Tapi, ngomong-ngomong, Navroy, terlepas dari semua itu, aku ingin mengajakmu kembali di masa lalu, " tukasnya melanjutkan.
Navroy masih melotot memandangnya. “Apa lagi pengecut? Jika berani lepaskan kami lalu kita fighting!” geram Navroy semakin menantang.
“Slowly, Bro! Aku hanya ingin memperlihatkan bagaimana detik-detik menyenangkan itu terjadi, ketika kau membunuh adikku,” jelasnya tersenyum licik.
Ekspresi Navroy berubah bingung ketika mendengar kalimat terakhir Sadeev.
Sadeev menarik lalu meletakkan kursi tepat tak jauh dari tubuh kami yang masih tergantung. Dia sejenak tersenyum puas memandang kami.
__ADS_1
* * *