Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Sebuah Alasan


__ADS_3

Ruangan yang cukup luas. Ada dua bed yang di tempatkan di dalam ruangan ini dna sengaja di letakkan di sisi yang berbeda. Beberapa lemari berukuran sedang dan pendingin ruangan di sebelah selatan. Cukup sejuk di sini. di sebelah utara sebuah tivi LCD lumayan lebar menempel di dinding. Nyaris ruangan ini berbeda saat yang dulu pernah kukunjungi. Bahkan background dindingnya kini berwarna biru soft.


Senyumanku merekah lagi, saat aku begitu menikmati wajah damai yang entah mengapa selalu saja menyejukkan hati ini. Benar! Saat ini aku berada di ruangan lelaki imigran itu, Navroy, siapa lagi. Aku bisa sampai berada di sini—duduk di ruangan besar ini sambil menatap lelaki dihadapanku itu yang tengah beristirahat—karena dirinya. Tentunya atas izin sekuriti di bawah dan pihak berwenang lainnya. Berhubung juga aku berprofesi dokter, dengan sedikit bantuan polisi, akhirnya punya alasan agar diberi izin masuk di tempat para imigran ini. Tempat di mana para imigran berasal dari negara Asia, berada di sini dan begitu pantang terlebih gadis masuk kemari tanpa tujuan yang kuat. Teman kamarnya sedari tadi keluar, mungkin memberi aku waktu untuk menjaga lelaki itu.


Navroy terbatuk, aku dengan sigap mengambilkan segelas air minum dari dispenser yang tergeletak di meja yang tak jauh dari tempat tidurnya.


Matanya terbuka perlahan. Memicing untuk membiaskan cahaya yang masuk ke kelopak mata, sedikit mengernyit dengan raut wajah bingung, meski sekilas lalu wajahnya kembali datar lagi. Aku membantunya terbangun dari pembaringan saat dia hendak duduk, lalu meraih gelas di tanganku.


“Thank’s.” Sahutnya yang nyaris berbisik lirih, kemudian meneguk air itu hingga habis.


Setelah kuambil gelas dari tangannya dan kuletkkan di meja yang tak jauh dari bednya, dia rupanya kembali terpejam, namun dalam kondisi yang masih duduk.


Aku menyelimutkan kembali tubuh kekar itu. Meski, raut wajah mempesona itu memar akibat pertikaian bersama Sadeev, tapi tetap saja, ia begitu tampan di sana.


Kengerian itu kembali membuat tubuhku getar bergidik, kala kejadian dua hari yang lalu itu terlintas dipikiranku. Dengan konyolnya, ia menyelamatkan ku dari hantaman kursi kayu yang menjadikan dirinya sebagai tameng. Bodoh, kan? Yeah, bodoh untuk ukuran lelaki sepertinya. Terlepas dari sikap masa bodoh dan dinginnya selama ini padaku. Terlebih, aku tahu tubuhnya begitu remuk, hingga harus menjalani perawatan rutin setiap harinya. Tulang punggungnya sedikit retak, dan butuh beberapa bulan untuk memulihkan semuanya, itulah mengapa tak boleh mengangkat beban berat, terlebih workout untuk saat ini.


“Sampai kapan menatap wajahku seperti itu dengan cemas? Tidak usah cemas, aku baik-baik saja,” sahutnya tiba-tiba yang membuat helaan napas terdengar dariku. Rupanya sedari tadi dia tidak tidur.


“Maaf!” hanya itu yang terdengar dari mulutku. Rautku memerah karena malu.


"Mengapa masih di sini?"


"Apa?"


Helaan napas lembutnya terdengar hingga nyaris bersamaan membuka matanya. Sorot mata sayunya menatap ke arahku hingga menjadikanku salah tingkah.


"Kenapa kamu tidak pulang?"


"Kenapa harus?"


Dia berusaha mengubah posisi, sedikit menggeser tubuhnya agar mengarah ke arahku yang sedang duduk di kursi—samping tempat tidurnya. Ringisan tertahannya sesaat terdengar, mungkin luka di punggungnya masih sakit.


"Aku ada teman-teman banyak di sini yang bisa merawatku dan menjagaku,"


"Apa mereka bisa memasang infus dengan baik jika kau sewaktu-waktu melepas lagi seperti yang sekarang ini?"


"Aku tidak membutuhkan itu,"


"Apa mereka bisa mengganti perban dengan baik dan bisa mengetahui suntikan atau obat anastesi yang baik untuk lukamu dan jahitanmu?"


Navroy menggeleng lemah. "Tapi—"


"Kalau begitu tidak ada alasan untuk aku harus pergi dari sini. Tidak ada dokter di sini selain aku, kan?"

__ADS_1


Mulutnya sekilas terbuka, mungkin hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Hanya helaan napas yang terdengar dari mulutnya. Mungkin lebih baik dia diam saja. Begitu mungkin kira-kira dipikirnya. Aku tersenyum. Entah sejak kapan aku mulai bisa dan berani menatap mata lelaki itu. Terlebih saat kami bersitatap. Biasanya aku hanya menundukkan kepala atau mengalihkan pandangan karena tak ada keberanian saat itu.


“Terkadang, aku bertanya-tanya, mengapa kau sebodoh itu?” gumamnya tiba-tiba. Kali ini ia benar-benar membuatku menatapnya tajam penuh tanya. Ia telah membuka matanya, namun pandangan itu lurus ke depan, menatap langit-langit. “Yeah! Bodoh, karena masih saja berlaku baik terhadap lelaki yang mencampakkan, lelaki yang tak mencintainya. Konyolnya lagi, sampai detik ini pun, dia masih bersedia merawat lelaki itu,” lanjutnya bergumam.


“Karena aku sangat mencintainya,”


Matanya kini beralih menatapku. Mutlak, membuatnyA bungkam. Suka tidak suka, memang begitulah kenyataannya.


“Yeah, aku begitu mencintainya, hingga lupa bagaimana cara mencintai diriku juga,” lanjutku.


Navroy semakin menatapku, tanpa mengerjap.


“Sedalam apapun luka itu, separah apa pun sikap yang diberikannya, pada akhirnya, aku hanya tenggelam dalam cintanya. Dia ... masih tetap segalanya untukku,” Kini aku menatapnya berkaca-kaca.


“Aku bisa saja lari dari semua ini, bahkan sedetik pun tak kubiarkan terlewat begitu saja untuk melupakanmu. Mencoba ... mencoba ... dan mencoba, tapi kau tahu apa yang kudapatkan? Aku kembali terjatuh, terjatuh dalam cintamu. Kau ... memang begitu berarti dalam hidupku dan memang kenyataannya seperti itu,” desahku menatap kosong dalam pandangan menunduk. Airmata semakin banyak mengambang di pelupuk mata.


“Cobalah, Keysa! Cobalah untuk tak mencintaiku dan melupakanku,” desahnya yang membuat airmataku mengalir deras.


"Kenapa harus?" lirihku yang kubiarkan airmata ini mengalir begitu saja di pipi.


Dia terdiam, tak menatapku kali ini.


"Karena kamu tidak menginginkanku, ya?"


Kepalanya sesaat menoleh dengan reflek ke arahku, menatap tajam dengan tatapan berkaca-kaca di sana, seolah hendak menggenggam wajahku dan mengatakan bahwa itu tidak benar. Namun, pada kenyataannya, dia memalingkan wajah dan memandang ke arah lain.


Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian menoleh dan memandangku dalam mata berkaca-kaca. Tangannya menggengam lembut wajahku.


“Ya! Aku selalu berharap, kau tak pernah mencintaiku. Bahkan, tak pernah hadir dalam hidupku,” kalimatnya bagai cambuk yang seolah memaksaku untuk sadar. Airmataku mengalir seketika.


“Lalu apa salahku? Seburuk itukah aku hingga kau memperlakukanku seperti ini? Mengapa kau sama seperti mereka? Seperti ibuku yang meninggalkanku? Apa aku terlalu membebanimu? Apa benar yang dikatakan mereka bahwa aku anak sial?” sahutku dalam linangan airmata yang seketika menarikku dalam pelukan eratnya ketika di kalimat terakhir.


Lagi, aku terisak dalam tangis tak berdayaku, namun kali ini, di hadapannya, dalam pelukannya, dalam tubuh yang bergetar dengan isakan penuh tangis.


“Kau ... tidak akan pernah mengerti,” bisiknya kelam masih dalam pelukan eratnya. Aku masih menangis di dada bidangnya.


“Kalau begitu, buatlah aku mengerti!” tuntutku mendesak yang kini mengangkat wajahku dan memandangnya penuh linangan airmata. Ia menatapku lama, lalu jemarinya menyeka airmata ini “Please, jangan menangis lagi! Aku benar-benar tak bisa melihatmu bersedih seperti itu,” akuinya kelam menatapku dalam mata berbinar.


Navroy bangkit dari bednya. Tangannya menarikku berdiri menapak di karpet merah tebal yang tak jauh dari tempat tidurnya. Dengan protektif aku memapah dengan hati-hati dan sebisa mungkin tak menyentuh beberapa luka di tubuhnya. Meski tertatih-tatih, namun ia berusaha kuat di sana, tepat di hadapanku. Matanya menatap ke arahku dengan intens. Lalu, “Kamu masih ingat parfum ini?” lirihnya sendu yang masih tak melepas tatapannya dariku. Navroy mengulurkan tangan, lalu perlahan menyentuh pipiku hingga aku bisa merasakan aroma parfum favoritnya yang kuberikan waktu itu.


Secercah senyum tampak di wajahku dalam mata berbinar. “Ya, itu parfum favoritmu yang kubelikan waktu itu, kan?” dia mengangguk mengakui dalam senyum dan pandangan menunduk.


“Kamu tahu, bahkan itu melekat dengan tubuhku,” gumamnya tersenyum lalu mengangkat wajahnya dan hanya menemukan raut wajah dengan alis mengeryitku.

__ADS_1


Kekehannya terdengar. “Sungguh, masih tercium aromanya. Ingin membuktikan? Kemarilah!” ringannya berusaha meyakinkanku dalam tatapannya yang masih tersenyum seraya menarikku untuk semkin mendekat pada tubuh kekarnya dan membuatku sedikit terkejut dan terhenyak.


“Ayo, buktikan!” serunya menatapku menunduk. Kali ini agak mendesak.


Setelah sejenak terdiam menatapnya ragu, aku lalu mencoba menghirup aroma yang dimaksud itu, namun seketika bibir tipis merah itu mendarat lembut di keningku. Berada di sana cukup lama hingga membuat hati ini bergetar dan berhasil membuat air mataku menetes, bahkan kurasakan tak bernapas dan seketika seluruh tubuhku berhenti berfungsi dan mematung kikuk. Ia tersenyum di sana begitu lebar dan manisnya, setelah melepaskan forehead kiss-nya, tersenyum dengan innocent dalam tatapan berserinya, meski tampak masih lemah.


Tangannya terulur ke pipiku, lalu mengusap lembut air mata itu sembari menggeleng. “Sungguh, aku tak suka melihat ini, aku hanya ingin melihat ini,” sahutnya yang nyaris berbisik, lalu kedua tangannya membentuk senyuman di bibirku.


“Hei, sepertinya aromanya menular di tubuh dan tanganmu!” serunya lalu meraih tangan kananku, melihatnya sekilas yang begitu dekat dengan wajahnya, lalu mengecupnya dengan hangat dan lembut, kemudian tersenyum ke arahku dan menular padaku.


“Dewana!” senyum lebar itu semakin tampak.


“Sekarang, waktunya menghentikan tangis dan mengobati kesedihan!” serunya riang yang membuatku menatapnya heran.


“Mengobati kesedihan?”


Navroy membuatku tertegun, saat kedua tangan panjang itu meraih tanganku untuk mengalungkan di lehernya, kemudian memeluk pinggangku. Tatapanku masih di sana, tak mengerjap dan tak ingin sedetik pun melewatkan untuk tak memandang wajah tampan yang kudamba itu setiap saat yang begitu begitu dekat dan hanya berjarak beberapa senti. Kami sangat dekat, bahkan aroma tubuhnya bisa kurasakan. Entah dari mana, suara musik—dengan lagu Tum Hi HO yang dinyanyikan oleh Arjit Singh—itu berasal, tapi kini mengalun lembut di kamar ini. Musik favorite sekaligus lagu kenangan kami berdua. Gerakan indah nun lembutnya seolah menghipnotisku untuk ikut bergerak perlahan hingga larut dalam dansa.


Airmataku menetes, tatkala kepala ini kusandarkan pada dada bidang itu. Rasanya begitu damai saat ini. hening, tapi seakan dunia berhenti, namun entah mengapa begitu sangat indah kurasakan. Alunan itu masih mengalun di ruangan ini, tangannya pun masih erat memeluk pinggulku. Lalu detik kemudiaan, senyum lelaki itu nampak saat aku menatapnya. Kemudian, memutur tubuhku dengan anggun sembari tangan kanan menggantung di atas kepala dalam genggaman eratnya, lalu seketika melipat ke depan seperti mendekap erat hingga tubuhnya begitu lekat menempel pada punggungku.


Kami masih bergerak anggun, mengikuti alunan musik yang semakin membawa kami terhanyut dalam suasana ini. Detik berikutnya, tubuhku memutar sekilas hingga menghadap ke arahnya sembari tangan satunya menyatu dalam genggaman dan lainnya mendekap pinggulku. Sesekali senyum mempesona itu merekah, lalu berakhir dalam kerlingan mautnya yang tetap saja berhasil membuat mataku melebar namun dalam senyuman malu.


“Kamu menyukainya?” tanyanya sendu yang nyaris berbisik sembari tangan itu perlahan mengarahkan mengalung ke lehernya, lalu memeluk pinggangku. Ia tersenyum lebar saat aku menggangguk. Tatapan itu bahkan tak melepaskanku.


“Sangat,” lirihku menikmati setiap detiknya sembari kami masih bergerak dalam dansa, ke sana-kemari. “Dan kamu?”


Senyuman dalam tatapan mengerjap benar-benar melelehkan. “Melebihi dari yang kamu kira. Aku bahkan baru melakukannya dengan wanita,” akuinya.


Mataku melebar. “Jadi selama ini hanya lelaki?” gurauku yaang membuat kekehannya terdengar di sela-sela alunan musik ini.


“Dewana!” senyumku mengembang lama.


“Kau tahu, aku bahkan merasa lebih hidup dan bahagia bersamamu,” gumamnya berbisik. Ucapan dalam tatapan binarnya itu seperti tulus.


Navroy menarikku untuk semakin lebih dekat lagi, hingga pelukan ini sangat terasa, begitu erat. Kami kini telah berhenti berdansa. “Terima kasih telah mencintaiku, Babe, bahkan dengan setulus-tulusnya,” gumamnya mengakui.


“Terima kasih, kau menyadarinya, dan juga ... moment indah ini,” bisikku dalam pelukan hangatnya.


Lagi, pelukan itu kembali sangat erat, seolah melampiaskan rindu yang terbelenggu sekian lama. Hingga kusadari, untuk kali pertama, aku merasakan air mata bersamanya. Ya, dia menangis! Bahuku begitu basah karena tangisannya.


Entah sejak kapan, bibir yang terasa manis itu berada di sana dengan lembut. Mengecap dengan perlahan, mengulum lalu menghisapnya dengan lembut hingga membuatku untuk mengimbanginya di sana. Dia menciumku, ciuman yang begitu lama di sana sembari masih dalam pelukan eratnya. Sesekali tangannya bergerak mengelus rambutku, memasukkan jemaringa di sela rambut ini, lalu menggenggam wajahku hingga kami larut dalam keheningan, masih dalam alunan musik indah itu.


Dan di sinilah aku, berdiri bersamamu, dengan segala cintaku padamu!

__ADS_1


“I love you,” bisiknya di sela ciumannya yang membuatku semakin mengecupnya dengan antusias.


* * * *


__ADS_2