
Hari ini sangat melelahkan. Untuk gelas ke sekian, aku menyesap espressoku. Laporan keuangan dan data perusahaan benar-benar harus selesai hari ini juga. Kulirik jam yang menempel di dinding ruangan ini, hampir pukul delapan, namun masih bergulat dengan laptop.
Aku mendesah lega saat mengklik icon 'save'. Beberapa staf termasuk General Manager yang satu ruangan itu denganku itu, telah pulang saat pukul lima sore tadi. Suasana begitu hening, beberapa koridor termasuk menuju ruanganku—yang sengaja pintunya terbuka lebar—tampak begitu gelap karena lampu sengaja dipadamkan. Rasanya suhunya tetiba aneh, seperti menyeramkan. Terlebih, mengingat mimpi itu kembali. Ketika ponselku berdering, nyaris membuatku terkejut.
"Hai, Babe!"
Suara merdu yang telah memenuhi hariku beberapa minggu ini terdengar, tetapi kali ini melalui panggilan telepon, bukan video call. Ya, tentu saja itu kekasihku. Kekasih yang hingga saat ini selalu membuatku merasa seperti tengah bermimpi. Siapa lagi kalau bukan si Mr. Pakistan.
"Hai, Baby! Sudah makan malam?" Tanyaku sembari membereskan berkas-berkas dan meja yang berantakan ini.
"Belum, Babe. Kamu?"
Senyumku menguap. Entah mengapa, sudah berulang kali perhatian-perhatian kecilnya terdengar di indera ini, tapi tetap saja selalu berhasil membuat pipiku merona dan jantung berdegub cepat. Senang dan bahagia itu selalu terasa.
"Baby?" Panggilnya saat menyadari aku terdiam.
"Hehe, maaf, Babe, tidak bermaksud untuk ignored. Well, belum juga."
"Hmm, kenapa? Kamu masih di kantor, ya?"
Aktivitasku terhenti seketika. "Kamu memasang kamera di ruangan kantorku, ya Atau menyadap dan memasang gps di ponselku?" Curigaku menggoda dalam gurauan.
Navroy terkekeh. "Tidak! Aku hanya menyadap kamarmu, memasang kamera di sana, ha ha ha!" Tawa gurauannya yang terdengar di ujung telepon itu menimpali dengan leluconnya dab membuatku tak bisa menahan tawa.
"Dasar, Mr. Pakistan!"
Tawanya masih berderai. "Tidak! Aku perhatikan, kamu tidak mengabariku hari ini, Baby. So, kupikir kamu memberiku waktu untuk merindukanmu,"
Sejak kapan Tuan Pakistan ini percaya diri dan pandai merayu?
"Apa maumu, Babe?" Alihku tersenyum saat mengerti arah pembicaraan ini. Selalu saja, aktivitasku seketika terabaikan karenanya.
"Ayo, kita bertemu dan hang out?" ajaknya dengan antusias.
Senyum ini tersungging. Dia benar-benar banyak berubah. Rasanya bahagia ini menjalar di seluruh pembuluh darah.
Tuhan, tolong jangan berlalu dengan cepat, sungguh aku benar-benar menikmatinya!
"Baiklah! Di mana, Babe-ku?"
"Aku akan menemuimu di sana, kirimkan lokasimu, ya?"
"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya. See you!"
"See you, my Lovely!"
Telepon terputus seketika. Pikiranku kini melayang hingga menciptakan semburat senyuman di wajah ini, saat mengingat lelaki itu mengantarku pulang dua hari yang lalu selepas kami hang out. Saat taksi telah tiba di rumah dan hendak turun, aku mengecup keningnya begitu lama, lalu beralih ke pipi mulusnya yang putih. Bahkan, saat pertemuan pertama—cek in itu di hotel, ketika kami hendak pulang dan menunggu taksi, ia terus menggenggam tanganku begitu eratnya. Dan kau tahu apa yang terjadi? Orang-orang di sana terlebih para wanita, begitu sinisnya memandangku, memandang ke arah kami. Namun, lelaki itu hanya mengabaikan dan terus tersenyum ke arahku.
Gadis itu memandangku. Gadis muda yang muncul tiba-tiba di balik kegelapan koridor dan sesaat mengejutkanku. Dia terlihat begitu manis dengan rok span merah jambu yang dipadukan dengan heels merah jambu dan kaus jerney putihnya. Rambut maroonnya kini di kuncir hingga tampak lebih dewasa dan anggun. Sambil masih berdiri di sana, tepat di ambang pintu yang memang terbuka lebar sedari tadi, sembari menatap dengan sorotan dingin ke arahku.
"Linka?"
Suaraku nyaris di telan keheningan ruangan ini. Senyum lebarku menyambutnya, namun raut wajah tirus itu hanya berpaling setelah memutar mata dan berlalu di depanku. Begitu ia menghempaskan tubuhnya di kursi besar berwarna hitam itu—milik ayahnya—yang terletak tepat di sisi kanan meja kerjaku menghadap ke arah pintu, sambil menyilangkan kaki kanannya hingga bertumpu pada kaki kiri. Sorotan devensifnya itu membuatku tidak nyaman seketika dan kuputuskan untuk mengabaikan dan kembali pada aktivitasku. Memang, di ruangan ini hanya kami berdua. Meski, ayahnya tak ada di sini, entah apa yang terjadi pada anak itu hingga datang kemari.
Suara rentetan mesin print yang berada di sebelah kanan, kini memecah kesunyian ruangan ini saat tengah mencetak beberapa file—yang baru saja kusave—untuk bahan meeting besok dengan para klien.
"Jadi, hidupmu saat ini sedang happy, ya, Kak?"
Kepalaku terangkat dan meliriknya. Begitu memandang raut wajah tak mengerti dengan alis mengernyitku, senyuman separuhnya nampak.
Ada apa dengannya? Apa maksudnya?
"Aku dengar, kau pacaran dengannya,"
Kedengarannya bukan seperti pertanyaan.
Apa ini tentang Navroy?
__ADS_1
Aku menghela napas. Khas Linka! Gadis itu memang selalu to the point.
"Linka–"
"Ternyata benar? Kakak mengabaikan pesanku di papi, ya? Kupikir, kau sudah sadar dengan kata-kataku itu,"
Dia kenapa, sih?
"Linka, apa ini tentang Navroy?"
Dengusannya terdengar, lalu menyengir. "Benar-benar! Masih tanpa dosa dan bersalah juga! 'Model' seperti ini mana bisa memiliki kak Navroy,"
Mataku melebar. Salah satu kosakatanya sengaja ditekan sarkas. Cukup! Apa-apaan ini? Anak kecil berani mengatakan itu padaku?
Dengusanku terdengar, masih menatapnya tajam. "Jadi, kamu cemburu padaku?"
Sorotan mata tajam gadis itu yang tak terima dengan kesimpulanku hingga membuatnya kesal.
"Apa? Aku? Gadis cantik dengan tubuh sexy seperti ini di bilang cemburu? Memakai pakaian terbuka saja kau tak berani dan tak nyaman memakainya, Dasar tomboy, norak!"
Senyumku kini menguap dalam helaan napas panjang. Khas bocah!
"Linka sayang, arti kata sexy itu bukan dengan pakaian yang terbuka, tapi–"
"Diam!"
Tubuhku seketika tersentak karena terkejut dengan rahang terkatup rapat saat ia tetiba menyela dan membentak. Tatapannya kini melotot penuh arogan. "Aku peringatkan kau, Kak, dia tidak pantas untukmu! Dia sangat sempurna dan hanya cocok dengan penampilan 'kelas' sepertiku. Sedangkan kau, astaga, lihat dirimu! Bahkan memakai heel's pun kau tak bisa!" Teriaknya memaki.
Suara gebrakan keras di mejaku yang berasal dari hantaman tanganku tetiba terdengar dan membuatnya tersentak kaget. "Cukup! Bisa-bisanya bocah seusiamu menghinaku seenaknya seperti itu! Memangnya, siapa kau, heh?"
Aku memejamkan mata sejenak, ketika gadis itu hanya terdiam dan mungkin masih terkejut, asumsiku. Helaan beratku terdengar saat pandangan menunduk dan saat ini menatap meja. Tersadar, aku sedang menghadapi gadis remaja yang masih beremosional labil dan kekanakan.
"Dengar, Linka! Aku menyayangimu, menghargai bukan hanya sekadar kau seorang anak dari atasanku, tapi juga sebagai teman. Aku bahkan telah menganggapmu seorang adik, terlebih kamu adalah anak dari keluarga yang telah begitu baik padaku. Tapi, bukan berarti kamu bisa berlaku tidak sopan padaku," Aku menarik napas lagi. "Aku tahu Linka, sangat tahu jika aku tidak bisa sepertimu. Menjadi seorang gadis dengan kehidupan glamour dan materi berlebihan, ya memang rasanya tidak mungkin. Kamu bahkan tahu, aku tidak memiliki keluarga lagi. Tapi please, jangan merendahkanku seperti itu. Bukan berarti hidupku tidak berlebihan, lalu aku tak memiliki harga diri. Tidak, Linka, aku juga punya, sama sepertimu! Ya, benar! Aku hanya terbiasa dengan penampilan sederhana tomboyku dan bahkan hanya menyukai sepatu kets atau semacamnya, tapi apa cintanya tidak boleh pada cewek sepertiku?"
Aku menatapnya dalam diam sejenak dan dia masih menatapku aneh. "Jangan tanya padaku mengapa dia tidak menyukai cewek vegetarian yang kamu anggap itu 'sexy', tapi tanyakan padanya, mengapa ia tak mencintai cewek kaya dan feminim sepertimu?!" Lanjutku.
"N-Navroy?" celetukku seketika.
"Kak Navroy? Kakak di sini? Apa kakak mencariku di sini karena sudah membaca chatku?" sela Linka menyambar dengan penuh tanya dalam raut wajah terkejutnya dan tak percaya, lelaki pujaannya itu berdiri tak jauh dari kami.
"Apa kamu sudah selesai, Baby? Maaf harus menyusul ke ruanganmu, karena kupikir kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu. Tiga jam yang lalu resepsionis di bawah mengatakan bahwa sudah jam pulangmu," alihnya melirikku yang menbuatku sejenak terdiam.
Aku bahkan lebih terhenyak dan terkejut dengan pengakuannya.
Dia? Menunggu tiga jam yang lalu? Itu artinya saat jam 5 sore tadi?
Desahan beratku terdengar. Bisakah lelaki ini menghilangkan kebiasaannya yang menungguku berjam-jam? Itu membuatku merasa bersalah dan tak enak hati padanya!
"Babe, Ayo! Atau masih ingin di sini? Aku bisa, kok, menunggumu lebih lama lagi jika kamu mau," selanya membuyarkan saat ia menghampiriku lalu menggenggam tasku hendak membawakannya sembari tangannya mengusap lengan ini di akhir kalimat.
Dia begitu mempesona malam ini.
Sekilas mataku berhasil menangkap ekspresi Linka di sana, ada secercah kesedihan dalam matanya yang saat ini menatap Navroy, terlebih lelaki itu kini mengabaikannya, bahkan perasaannya.
"Sedikit lagi, lalu selesai." Canggungku yang semakin tidak enak hati saat seulas senyuman kini memandang lelaki dihadapanku itu. Navroy hany mengangguk sembari tersenyum.
Begitu print telah selesai, aku lalu melanjutkan membereskan dokumen dan merapikan meja.
"Kak Navroy, mengapa tidak membalas chatku?" Tanya Linka yang masih mencoba.
"Maaf Linka, tadi cukup sibuk."
Lelaki itu masih terdengar datar, tapi matanya hanya sekilas memandang ke arah gadis itu yang masih berdiri kaku di sana dalam tatapan sedih, saat diam-diam aku melirik di balik poni.
"Oh ya, tadi di lobby aku tidak melihat kakak, kakak duduk di mana? Dan, Linka senang dengar kakak sudah pandai berbahasa Indonesia. Akhirnya, usaha kakak itu berhasil. Karena, kakak pernah bilang, kan, sangat ingin belajar dan menguasai bahasa itu untuk cewek yang kakak dekati dan–"
"Benar, karena pacarku! Cewek yang ingin kujadikan pacar dan saat ini sudah kakak miliki. So, sekarang kamu sudah mengerti, kan?" Sela Navroy mengakui dengan datar.
__ADS_1
"Pacar?" Tanya Linka terkejut yang bersamaan dengan kalimat batinku. Aku sejenak terdiam, berpikir, lalu melirik gadis yang kini menatap lelaki yang tengah kupunggungi sedari tadi itu dengan tatapan berbinar, kemudian berbalik ke arah Navroy. Lelaki menatapku dengan teduh.
"Kupikir, gadis itu aku...." Gumam Linka dengan nada suara nyaris berbisik dalam tatapan kosong yang kini tak memandang ke arah Navroy lagi, namun lelaki itu hanya memasang tampang innocent dan berlalu sembari menarikku pergi, begitu ia melihat mejaku telah rapi.
Dia melangkah dengan cepat sembari masih menggenggam erat tanganku dan menarik untuk meninggalkan tempat ini yang kini berusaha menyeimbangi langkahnya tepat di belakangnya.
Hari ini kemeja putih membalut tubuh sixpack-nya dengan sempurna yang dipadukan dengan celana jins hitam dan sepatu kets. Rambut spike yang kini di cat bergundi-gold di setiap ujung jabriknya begitu kontras dengan rambut cokelat itu hingga semakin memperlihatkan ketampanan lelaki itu. Setelah aku melakukan finger—absensi—di pos security, kami lalu masuk ke dalam taksi yang telah menunggu sedari tadi.
"Baby?"
Navroy melirik.
"Sikapmu tadi padanya ... sepertinya kamu terlalu keras. Seharusnya, kamu jangan seperti itu padanya,"
Tatapannya kini sejenak beku, secercah kekesalan tampak di sana."Aku hanya mengakuinya, itu salah? Lagi pula, dia sangat keterlaluan padamu, jadi sekalian saja mengajarinya yang mana penempatan kata 'lebih pantas' itu ditujukan pada siapa,"
Kukira hanya gertakan, rupanya fakta!
"Iya! Tapi, dia benar-benar ... dia terlanjur mengira, kamu menyukainya juga,"
"Lalu? Haruskah aku merespon sama halnya juga? Itu yang kamu mau? Please, don't push me! It's same like cheating or playing her, Babe and i won't make her wishing more,"
Aku terdiam dengan pengakuannya. Entahlah, mengapa kami malah bertengkar di dalam taksi hanya karena masalah ini. Hanya saja aku tak enak hati pada Linka. Gadis itu hanya terjebak dengan perasaannya sendiri yang ia tak mengerti sama sekali.
Navroy menyentuh punggung tanganku, mengusap di sana dengan tatapan teduhnya yang lekat, seolah menenangkan.
"Itu Hak dia, Babe, Haknya jika ia menyukaiku, i'm not problem! Aku bahkan tapi pernah mengatakan hal yang sama kukatakan padamu, terlebih care padanya, tidak! Walau pun dia selalu chat, tapi aku tak pernah berlebihan padanya. So, please, jangan memaksaku untuk membuatnya semakin salah paham denganku," jelasnya lembut yang berusaha membuatku mengerti.
Helaan napas beratku terdengar. "Iya, tapi dia–"
"Lupakan, oke? Please?" mohonnya menyela dengan cepat, setelah menghela napas berat dengan sedikit nada kesal.
Aku seketika terdiam sesaat. Lalu, "Oke." Suaraku nyaris berbisik dalam anggukan kecil, namun tak menatapnya.
Mataku sengaja mengarah ke jendela kaca mobil, tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi padanya. Kudengar, dia berbicara pada drivernya, meminta pengemudi itu mulai melajukan kendaraan minivannya ini dan tak lupa menyebutkan alamat yang hendak ditujunya.
Sejujurnya, ucapan Linka tadi cukup menohok di hati. Rasanya sakit, ketika di hina seperti itu oleh orang yang kita cinta. Hanya saja, tak menyangka, gadis yang telah kuanggap sebagai adik itu bisa sampai bersikap keterlaluan, bahkan sampai nekat menghampiri ke kantor. Sebenarnya, aku juga tak tega dan iba ia diperlakukan seperti itu pada kekasihku ini, tapi aku bisa apa? Terlepas dari semuanya, semua penjelasan Navroy, tindakannya ada benarnya juga. Ia hanya mengambil keputusan bijak dengan tidak membuat seseorang semakin terjatuh hanya karenanya.
Lelaki di sebelahku yang telah menyandarkan punggungnya di jok penumpang ini telah menggengam tanganku begitu erat dengan tangan hangatnya, sesekali diusap, dan juga di kecup sembari pandangan lurus masih dalam diamnya. Aku mendesah.
"Aku minta maaf, kamu melihat kejadian itu tadi." Cicitku yang kini memutar mata menatapnya. Matanya seketika melirikku, menatap sejenak, lalu tersenyum hangat padaku. Ia mengangguk kemudian tangan terulur mengusap kepala ini dengan lembut.
"Aku juga, maaf, Babe. Karena "kedekatan" salah pahamnya itu, membuatnya menemuimu seperti itu,"
Anggukan dalam senyumanku membuat dirinya seperti rileks. Bahunya merosot.
"It's okay. Lagi pula, mungkin ia ingin menemui ayahnya, jadi sekalian saja!" asalku seolah membohongi diri sendiri.
"Ayahnya?" Navroy terbangun dari sandarannya dan menatapku dengan alis mengernyit.
Aku mengangguk. "Ayahnya bekerja di sana dengan devisi di atasku. Beliau General Manager dan satu ruangan juga denganku. Karena ayahnya juga, alasanku berada di pantai saat itu ketika kamu perform dulu di festival. Tapi, sebelum Linka pergi ke Eropa beberapa waktu yang lalu, dia memang sempat menitipkan pesan aneh untukku pada ayahnya dan aku baru tahu itu rupanya tentang dirimu yang ia maksud,"
Navroy menggeleng prihatin berulang kali. "Entah apa dipikiran gadis itu. Tapi, apapun yang dia katakan, Babe, please, jangan sampai itu menganggumu."
Anggukanku membuatnya tersenyum dan menularkan padaku.
Taksi melaju dengan batas kecepatan normal. Menembus keramaian kota, dengan mengalami beberapa kemacetan di titik-titik tertentu.
Meski, kejadian tadi membuatku cukup kesal, tapi tetap saja ada yang membuat hati ini tenang dan tersenyum. Tentu saja dia! Kekasih di sebelahku yang tengah menyandarkan kepalaku di dadanya itu mengakui perasaannya tadi. Terlebih, mengakui dihadapan seseorang yang telah menghina. Meski, bukan keinginan atau niat, namun kuakui, kalimatnya itu seolah hanya tersorot di otakku dan menyimpannya dengan khusus di sana. Otak ini begitu pandai menyimpan inti dari kalimat yang membuat bahagia hati dan raganya, tapi kusadari, pula pandai menyimpan kalimat yang telah menyakitkan dan begitu pahit hingga mampu melubangkan pikiran dan berefek pada sakit. Dan pada akhirnya, menjadi luka menganga dengan menguar lebih cepat nyerinya. Ya, apa yang kau simpan selama ini, perlahan-lahan melukaimu tanpa kau sadari dengan sendirinya.
"Jadi, kamu belajar bahasa Indonesia, karena aku, ya?" godaku memecah kesunyian
sambil berbisik di telinganya—saat teringat ucapan Linka—sembari menengadah, namun kepalaku masih bersandar pada dadanya.
Lesung pipit itu nampak di wajah kokoh dan eksotiknya, senyuman menyentuh mata, tetapi kali ini ada semu merah di sana, di antara tulang pipi kokohnya. Kekehan Navroy terdengar, hingga pelukan begitu erat terasa di tubuh dengan hangat.
Ya, meski aku menyadari kepahitan dan luka itu suatu saat menjumpai hariku, tapi di sinilah aku dengan segala keyakinan, ketegaran dan keikhlasan. Apapun yang terjadi suatu hari nanti, yang kutahu hanyalah, aku mencintainya dan bahagia saat ini bersamanya. Aku menikmati setiap detiknya, tak peduli seberapa hancur aku kelak karena kenyataan yang memang akan terjadi. Tak peduli seberapa kuatnya menahan hantaman kepedihan karena kehilangannya yang harus meninggalkan negaraku. Tidak! Aku tak ingin melewatkan fase itu dengan kesedihan yang tidak ada gunanya, hanya karena memikirkan hal itu. Tidak! Ini bukan saatnya menangisinya dalam kepedihan—meski aku tak tahu kapan waktunya tiba—tapi saat ini aku hanya ingin menikmati setiap kebersamaan bahagia itu. Maka, biarkanlah. Biarkan aku di sini, tetap di sini, seperti ini, sebelum aku terjaga dari mimpi indahku hingga menghilangkan segalanya. Karena yang kutahu dan mengerti, ini takkan bertahan lama, meski aku tak tahu, sampai kapan.
__ADS_1
* * *