
“Dia tidak apa-apa, Pak Dion, maksudku, beberapa hari ini Navroy sudah lewat dari masa kritisnya dan lukanya juga tak terlalu parah saat ini ... ya, bapak benar, tapi sungguh jangan cemaskan itu, kami mengerti. Sebenarnya kami juga merasa bersalah pak atas kejadian itu karena melibatkan Linka juga. Tidak, Pak, kami yang minta maaf. Sekali lagi kami sangat minta maaf atas kejadian itu."
Aku mengusap tengkuk leher, dan tersenyum mendengar kebijaksanaan dari seorang ayag sekaligus General Managerku dahulu saat bekerja di satu tempat kerja dengannya.
"Bagaimana kabar Linka? Oh, baguslah, kalau dia juga mulai membaik. Oke, Pak. Terima kasih.” Lanjutku. lalu mengakhiri pembicaraan di akhir kalimat. Telepon yang sedari tadi, kini telah berakhir.
Aku menatap binar tempat tidur lelaki itu yang saat ini pemiliknya sedang berada di dalam toilet. Helaan napasnya cukup terdengar lega, meski berat. Setidaknya, semuanya telah selesai.
Flashback ke masa lalu dan kejadian beberapa minggu lalu terjadi, masih tak habis pikir. Bagaimana bisa dia dengan tega menuduh Linka—gadis sekeecil itu adalah dalang dari semuanya? Bodoh! Lagi-lagi dia merutuki dirinya sembari memijit-mijit pelipisnya yang terasa pening.
Syukurlah, semuanya telah terungkap dan tersangka yang nyaris membunuh mereka, sekaligus mantan kekasihku itu, saat ini telah ditangani dan diadili oleh pihak kepolisian. Terlebih, Linka juga sudah memberitahu semuanya. Awalnya, gadis remaja itu memang cemburu padanya, tetapi pada akhirnya, persahabatan merekalah yang selama ini membuat wanita itu tersadar.
Wanita itu menatapnya dalam linangan airmata. Wanita yang telah menemaninya berbulan-bulan di Jakarta, bahkan ikut ke Makassar. Ya, siapa lagi kalau bukan wanita yang pernah menjadi sahabatnya. Namun, entah mengapa, untukku dia masih saja tetap sahabatku yang dulu, wanitaku. Sebentar lagi pengadilan hukumannya diadakan. Bukan karena dia ketakutan atas keputusan sang Hakim nanti di sana, tapi sedari tadi memang wanita itu bersimpuh di hadapannya, memohon maaf atas segala kesalahannya—sejak aku menyempatkan menengoknya di penjara sebelum bertemu dengannya di pengadilan.
"Apa yang kau pikirkan, sih? Kenapa menyerahkan dirimu ke polisi? Ini resmi kesalahan dari Sadeev!"
Farah menggeleng dalam linangan airmata, ketika aku telah memapah dirinya untuk duduk di sebelahku.
__ADS_1
"Tidak, ini rencana kami dan itu sama halnya denganku. Terlepas dari meninggalnya Sadeev saat kejadian dia yang terkena tembakan polisi, mungkin memang itu hukuman untuknya yang pantas ia dapatkan. Sedangkan aku?" Farah masih menatapku lebih dalam yang masih dalam linangan airmata. Sesekali kuusap airmata itu dengan hati-hati. "Key, maaf aku baru menyadari ketulusan hatimu. Aku tahu, kok, kau bukan hanya menganggapku sahabat, tapi lebih dari sekedar sahabat, bahkan mungkin keluarga. Maaf kalau aku terlalu *****. Tapi kumohon, kali ini jangan menghentikanku. Jika aku tak di hukum seperti ini, mungkin aku bebas, tapi jiwaku yang terpenjara. Aku bisa gila, Keysa, dengan rasa bersalah ini. Dan mungkin, aku bisa bunuh diri. Jadi tolong, ini memang pantas untukku. Pada kenyataannya, memang akulah yang bersalah, akulah yang jahat di sini. Maaf telah mengecewakan dan menyakitimu," lirih Farah yang membuatku seketika berhambur memeluknya erat dalam tangisan
"Kok melamun? Ada apa?"
Suara dan deheman Navroy membuatku terbuyar.
"Kamu menangis? Kenapa? Ada apa?" pertanyaannya itu terlontar begitu saja saat reflek melihatmu mengusap airmata sebelum tersenyum melebar ke arahnya.
Aku menggeleng. "It's okay!" Alisku kemudian mengernyit. "Kamu mandi, ya?"
"Iya. Kenapa?" Tanyanya dengan innocent sembari menguatkan lilitan handuk di pinggangnya. Pakaian ala pasien rumah sakitnya masih dia kenakan untuk menutupi dada bidangnya. Jadi, aman.
Tatapanku sengaja kutajamkan dengan raut datar sambil melipat tangan di dada.
"Yaa, aku lah!"
"Tapi kamu masih sakit, astaga!"
__ADS_1
Dia berdecak. "Karena badanku sangat lengket, aku tidak nyaman dengan kondisi seperti ini terus, jadi mandi biar fresh. Lagi pula, perban-perban di sini juga akan di ganti. kan, jadi sekalian aja di cuci."
"Astaga!" gerutuku menghela napas kasar.
Ya, aku tahu! Dia memang sangat pembersih orangnya. Sedikit saja badannya berkeringat, pasti mandi—kecuali dalam keadaan olahraga. Dia memang tidak tahan jika tubuhnya gerah.
"Tolong panggilkan suster, aku mau ganti perbannya. Dari tadi alarmnya kupencet, sampai sekarang belum ada, mungkin tidak berfungsi."
"Kamu kenapa packing pakaianmu begitu? Dan barang-barang itu juga?"
"Pulang."
Aku menghela napas berat. Agak kesal dibuatnya. Bahkan innocent gitu.
“Mengapa terburu-buru pulang sih dari rumah sakit? Kamu masih sakit! Kamu baru dua hari lewat dari koma dan masa kritis, kni sudah minta pulang, bagaimana cepat sembuh?” tanyaku cemas sembari bersungut, saat membantunya merebahkan dirinya di kasur empik yang bercorak modern castle dalam selimut salju itu. Seprai khas anak-anak. Ia terbaring sembari menghela napas berat . mungkin, ia merasa begitu sakit.
Navroy berdecak lagi. “Aku pikir tidak perlu! Lagi pula, apa gunanya berlama-lama di rumah sakit, jika dokter berada di sini sekarang,” timpalannya itu membuatku membelalakkan mata.
__ADS_1
Kadang-kadang, dia begitu manis dan mendamaikan hati, tapi kesal juga. Tapi, aku rindu sifat dan sikapnya yang seperti ini, sih, maksudku sweet dan menggemaskannya itu. Lagi, kedua mata ini tak hentinya menatap raut wajah yang terpejam. Untuk saat ini, dia masih bisa di ajak kompromi dan di atur. Setidaknya, ia istirahat sejenak dan tidur sebelum pergantian perbannya.
* * * *