
Rasanya begitu berat. Cahaya ruangan yang menempa kedua bola mataku, seketika menyilaukan hingga membuatku mengerjap berulang kali untuk membiaskan mata. Begitu tubuhku hendak terbangun, rasa perih dan sakit seketika menjalar pada punggungku, terlebih dekat bahu. Lelaki imigran sekaligus teman dekatku itu telah sedari tadi membantuku untuk perlahan bangkit. Jelas sekali raut wajah cemas itu tampak di wajah imutnya.
“Aku baik-baik saja, Sadeev,” lirihku lemah yang tetap saja ekspresi itu belum berubah.
Aku masih ingat kejadian mengerikan tiba-tiba itu, bahkan masih bisa merasakan bagaimana peluru itu membakar kulitku dan menembus bahu ini.
“Dokter sudah melakukan operasi darurat untuk mengambil tiga peluru yang bersarang di tubuhmu. Dan kau koma hampir seminggu, Key,” jelas Sadeev memberitahu.
Seulas senyum sambil menatapnya bertengger di wajahku. “Tidak apa-apa! Semuanya akan baik-baik saja. Omong-omong di mana Farah?” tanyaku pada Sadeev, saat kutemukan hanya lelaki ini yang berada di ruangan yang tak luas ini.
Rentetan khas bunyi alat yang beberapa terpasang di tubuhku sekaligus aroma khas medis seketika menguar dan memuakkan hidungku. Sedikit mengernyit, meski oksigen ini terpasang jelas di indera mungilku.
“Dia baru saja pulang ke rumah karena ada urusan sebentar.”
“Oh, oke. Dan Linka?” tanyaku lagi pada Sadeev saat kembali memandangnya, mengingat gadis itu berada di sana saat peristiwa itu. Rasanya kepalaku sakit, mungkin efek tidur terlalu lama. Kulihat, wajah lelaki ini berubah bingung.
“Dia tak pernah kemari, hanya Farah yang mengetahui hal ini. Aku bahkan belum memberitahu semua teman-temanmu tentang insiden ini,”
Keningku mengernyit, “Aneh! Aku pikir dia yang membawaku kemari. Terakhir yang kuingat, sebelum suara sirene terdengar, aku melihatnya berdiri di seberang jalan, dalam kegelapan. Ya, kilauan kalung salibnya itu yang membuatku yakin kalau itu dirinya,”
Sadeev kini menarik kursi dan duduk di depan tempat tidurku. Raut wajahnya masih bingung. “Tunggu, kau bilang kau melihatnya di sana saat sebelum polisi datang? Tapi apa yang di lakukannya di sana? Mungkinkah bahwa ia dalang di balik semua ini?”
Aku terdiam mendengar kesimpulan itu.
*Linka? Dalang dari semuanya?
Tapi untuk apa? Ya, aku tahu ia sudah lama menyukai Navroy. Tapi, terlepas dari itu, aku pikir dia*—
“Apa mungkin peringatan, pesan dan keberadaannya tiba-tiba di rumahku adalah untuk mengintaiku selama ini?”
“Iya benar! Bisa jadi dia diam-diam selama ini menguntitmu. Kau harus hati-hati, Keysa. Terkadang, bahaya itu berada di dekat kita,” gumamnya menatap kosong. Seperti berpikir sesuatu. “Tapi, apa kau ingin melaporkan tentang ini pada polisi?” tanya Sadeev melanjutkan sembari memberi saran, namun kepala ini menggeleng cepat dalam pandangan kosong.
“Untuk saat ini, tidak! Aku ingin mencari tahu dulu. Aku takut, gegabahku nanti menyakiti orang lain. Aku tahu Linka memang gadis pemberani dan nekat, tapi aku tak habis pikir, sejauh itukah pikirannya untuk gadis seukuran dia? Maksudku, usianya masih terbilang remaja untuk berpikir dan bertindak kriminal sejauh itu, dan hanya karena cinta?”
“Yeah, terkadang cinta memang membutakan, bahkan bisa membentuk kekuatan dahsyat jika kau menyadarinya. Tak terdeteksi oleh pikiran dan hanya menembus pada naluri, tapi menciptakan akal yang mungkin saja sangat berbahaya untuk sekitar. Tapi, tunggu, kau bilang dia melakukannya hanya karena cinta?” gumamnya lalu kembali memandangku di akhir kalimat. Anggukan pelanku sembari diikuti bayang kejadian saat itu kini tampak dan membuat keningnya berkerut.
“Ceritanya panjang. Intinya, Dulu, ia sampai nekat menemuiku di kantor hanya karena merasa, aku merebut Navroy darinya,” jelasku memberitahu.
“Rupanya terjadi lagi, kupikir.... ”
“Apa?”
“Tidak! Hanya teringat pada masa lalu, hanya saja sedikit berbeda. Perasaan dan ketergilaan mereka pada kekasih Pakistanmu itu sama, tapi bedanya, gadis itu masih hidup, sedangkan gadis di masa lalu itu.... “ kalimat Sadeev terhenti. Raut wajahnya seperti menerawang dan mengingat sesuatu. Mungkin pikirannya kembali mengusik gadis masa lalu itu. Entahlah, tapi kengerian itu benar-benar tampak di sana, dalam sorot mata kosongnya yang tengah memandang lurus. Dan aku tidak mau cari tahu tentang itu atau pun bertanya apapun, karena mendengarnya saja meski tidak detail, membuatku yakin bahwa kejadian itu pasti sangat mengerika.
“Yup, begitulah cinta, terkadang menakutkan dan begitu berbahaya!” gumamku yang masih memandang kosong, namun berdehem.
“Hmm.”
Sadeev seketika mengusap wajahnya, seperti hendak berusaha keras mengenyahkan sesuatu yang mengganggu.
“Tidurlah! Kau harus isitirahat banyak.” Sahutnya akhirnya.
Aku lalu berbaring dan dibantu olehnya.
Sejenak, kupejamkan mata ini, mencoba tidur dalam ruangan yang begitu bising dan menggangu. Terakhir yang kuingat, aku merasakan ada yang mengusap kepalaku dengan lembut.
* * *
“Aku melihat, kau semakin dekat dengannya, ya?”
“Siapa?” tanyaku yang mengulum senyum dengan alis mengernyit.
Farah, sahabatku ini memang berada di sini sejak pagi tadi. Sifat rasa ingin tahu berlebihannya itu tetap saja kumat, meski berada di rumah sakit. Dan aku memang telah seminggu lebih berada di sini. Dokter bilang, kesehatanku semakin membaik. Bahkan, boleh dipulangkan besok.
“Hei, kok melamun? Aku bertanya?” tawa Farah menyentakkanku. Hidung mancungnya kini kembang kempis. “Aku bilang tadi, kau semakin dekat dengan Sadeev. Apa dia.... “ Wanita ini semakin menggantungkan kalimatnya sembari menggoda sambil mengerling pada kalimat terakhirnya itu. Yang membuatku mengulum senyum prihatin padanya.
“Jangan berpikiran aneh-aneh, dia sama sepertimu,”
Mulut wanita itu separuh terbuka, namun dengan ekspresi mengejek dalam tatapan nakal. “Oh my God! Maksudmu, diam-diam kamu menyukaiku? Menyukai seperti ... itu? Ulala!” tawaku meledak, namun cepat-cepat membekap sendiri hingga tawa itu tak terdengar. Cukup terasa nyeri pada luka di bahu ini, terlebih jika tubuhku bergerak atau bergetar akibat tertawa.
“Farah!” aku melotot tajam ke arahnya, namun dalam ekpresi menahan tawa.
Dia terkekeh. “Tapi, Key, tidakkah kamu ingin membuka hati? Lagi pula, dia tampan juga, kok, dan terlebih lagi jauh lebih care dari Navroy. Dan kamu, kurasa akan ‘lebih baik-baik saja’ dengannya,”
Senyumanku tampak. Namun kali ini tak memandang Farah. Pandanganku lurus ke depan. Helaan napas beratku terdengar.
*Mungkin memang benar! Tapi kau tahu, Far? Entah mengapa, seburuk apa pun dia, pada akhirnya, tetaplah indah di hatiku. Seandainya pun, aku harus mati karena mencintainya, aku rasa hatiku ini menyanggupi dengan mirisnya. Ia tak sekadar kekasih bagiku, tapi sekaligus cinta yang telah mendarah-daging dalam fase kelam dan kehampaanku. Bukan tentang menderita atau tersakiti, tapi tentang bagaiaman cinta ini masih ada, meski di hempas beribu luka yang begitu luar biasa. Konyolnya, cinta ini tetap saja masih stay di sana. Dan entah mengapa, untuk kali pertama, aku marasakan cinta yang konyol sedalam ini.
Bodoh? Itulah kenyataan atas ketidakberdayaanku ini. Hanya saja aku lelah berpura-pura kuat dan tak menginginkannya lagi. Ah, rasanya, sangat capek*.
“Kau benar-benar mencintainya, ya?” celetukan Farah membuatku tersentak dan menyadari, aku mengucapkan gumaman dalam hatiku.
“Hai! Lagi obrolin apa? Sepertinya sangat serius?” suara Sadeev yang tetiba muncul dalam ruangan yang di cat putih ini seketika membuat kami saling berpandangan sesaat.
“Topik wanita!” celetuk Farah.
__ADS_1
“Baiklah! Sepertinya si pasien belum makan siang. Jadi, waktunya makan!” seru Sadeev yang membuatku memutar mata.
“Bisakah kali ini saja?” mohonku memulai menatap lelaki itu dengan memelas.
“Aneh! Biasanya dokter lebih mengutamakan kesehatan, tapi ini— “
“Sstt, kau lupa ‘seragam’ yang tengah kupakai ini? jadi biarkan aku menikmati 'jabatanku' saat ini!” istilahku itu mengundang tawa renyah mereka.
“Tapi, jika kau tetap bersikeras, baiklah! Aku berikan roti dan kare ini saja pada sahabatmu ini,”
“Wah! Kebetulan— “
“Tidak! Maksudku, sangat tidak baik jika ‘mendzolimi’ pasien seperti itu! Bukankah harus tetap makan agar cepat sembuh, kan?” sergahku menyela Farah cepat-cepat yang membuat mereka tersenyum.
Khusus untuk makan ini, aku tak ingin melewatkannya. Makanan yang telah menjadi favoritku, sejak Navroy kali pertama memasakkan dan membawakannya untukku setiap kami bertemu.
Nah, kan, lagi-lagi lelaki itu yang ada dipikiranku! Dasar bodoh!
“Kemarilah! Aku akan menyuapimu,” sahut Sadeev setelah membuka bungkusan dari kotak makan itu, lalu menghampiri dan duduk di tepi tempat tidurku.
“Aku ingin keluar sebentar dulu, ada urusan. See you!” pamit Farah lalu mengerling menggoda padaku sebelum ia hilang dari pandangan. ******* senyumanku tampak dalam anggukan.
Benar-benar sengaja! Dasar Farah!
Tampak Masakan roti kebab dan kare telah berada di hadapan kami. Aromanya begitu menggoda. Aku sengaja membiarkan kenangan manis tentang Navroy menyesaki pikiran ini. Ya, kali pertama mencicipi makanan khas Pakistan-Afghanistan ini, berasal dari masakan Navroy, sekaligus dari suapan manisnya. Ia begitu menyuapi dengan seperti cara orang-orang di negaranya. Menggunakan sejumput jemari yang telah diisi dengan kare dalam balutan roti panggang tawar. Dan rasanya begitu nikmat. Bahkan, ketika lelaki dihadapanku ini hendak memperlakukan sama terhadapku, airmata ini menetes seketika.
Kau tahu, Navroy, terkadang aku ingin kau yang berada di posisi mereka saat ini, bukan dia!
Sadeev seketika meletakkan makanan yang hendak menyuapiku, tersenyum masam, lalu mengusap airmata ini.
“Aku tahu ini begitu sulit, Keysa, tapi cobalah, kumohon! Aku juga tahu, tak semudah itu juga kau memandang orang lain, tapi satu hal, kapan pun itu, aku selalu ada untukmu,”
Aku meliriknya, lalu menatapnya sejenak. “Aku memang mencintaimu! Mencintai seperti orang buta dengan segala ketulusan dan segala hati yang kupunya. Tapi, bukan berarti aku memaksa kau membalasnya. Tidak! Aku mengerti, cintaku saat ini, hanya sepihak, hanya dariku! Cinta, yang suatu hari membuatmu takjub, betapa dahsyatnya!”
Dia sejenak terhenyak, diam. Begitu lekatnya tatapan itu, hingga helaan napas berat keluar darinya, lalu tersenyum simpul, mengangguk dan menundukkan kepala. Ya, Sadeev mengerti. Mengerti apa yang telah terlontar begitu saja dari mulutku. Mengerti bahwa untuk apa dan pada siapa kalimat itu kutujukan. Benar, untuk sahabatnya, Navroy!
Suara ketukan pintu terdengar di ambang, lalu detik berikutnya terbuka dan menampakkan seorang suster berhijab masuk. “Maaf mengganggu, Dok. Dokter Ana sempat menemuiku dan meminta untuk memberikannya pada dokter Keysa, katanya ini milik anda. Beliau mengatakan lagi, ini ditemukan oleh lelaki yang membawa dokter kemari saat kecelakaan itu. Aku permisi, Dok. Semoga lekas sembuh. “ Pamitnya yang diikuti anggukan pelanku sembari masih menatap benda bulat di tanganku ini, setelah diberikannya padaku.
“Terima kasih.”
Aku tak tahu, apa suster itu mendengar atau tidak, tapi yang pasti, pikiranku saat ini berfokus pada benda yang telah melekat beberapa tahun ini di jemari manisku, namun saat ini memang tak ada di sana. Lagi, airmata menetes begitu bebasnya.
*Lelaki? Siapa?
Mata sembab ini meliriknya. Lalu, “Sungguh, aku benar-benar tak tahu mengenai hal itu,” akuinya yang membuatku menghela napas, namun masih menatapnya intens.
“Jadi, bukan kau yang membawaku kemari?”
Sadeev terdiam, namun anggukan pelannya tampak. Ekspresinya seperti berpikir dan heran.
Lagi, desahan napas beratku terdengar. Setelah meraih ponsel di laci buffet ruangan ini, mengutak-atik sejenak, lalu kudekatkan ponsel itu saat tersambung ke nomor pemilik tujuan.
“Kak?”
“Keysa?”
“Ya, ini aku! Apa kakak sibuk? Sedang menangani pasien?” tanyaku saat suara familiar dalam sana terdengar.
“Tidak! Ini lagi break sambil menunggu yang lain prepare untuk operasi nanti. Ada apa? Ada yang bisa kakak bantu? Apa kondisimu mendadak—“
“Tidak, Kak. Hanya ingin bertanya sedikit. Apa cowol yang menitipkan cicinku itu seperti pada foto yang kakak lihat terpajang di kamarku?”
“Oh, soal cincin itu? Iya, Key, dia orangnya. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, Kak. Hanya memperjelas saja.” Sahutku yang berusaha mengontrol suaraku.
“Oh, oke. Semoga lekas sembuh, Sayang, ya.”
“Ya, terima kasih, Kak. Siang.” Sahutku lalu pamit.
Pandanganku menunduk dan menghela napas—ketika telepon kuakhiri—bersamaan dengan rasa ngilu dan sakit di benak ini, berusaha keras menguatkan hati ini untuk tidak menangis di hadapan Sadeev. Rupanya asumsiku benar, adalah Navroy.
“Bisakah pinjam ponselmu? Hanya sebentar,” pintaku pada Sadeev, masih berusaha keras mengontrol diri.
Sadeev menatapku sejenak, penuh tanya, namun responku hanya dia menatap dan menunggu hunggapada akhirnya ia menyerah lalu detik berikutnya helaan napas berat mengalahnya terdengar. Setelah merogoh saku celana, lalu mengulurkannya padaku. Tanganku seketika mengutak-atik ponselnya, mencari pemilik kontak yang saat ini berada dipikiranku. Setelah menemukan nomor yang kucari lalu menelepon, tidak membutuhkan waktu lama, pemilik nomor yang kutuju itu akhirnya menjawab. Aku sengaja beberapa saat terdiam, mendengar suaranya yang telah menjawab teleponku.
“Aku tahu kau di sana dan sengaja diam saat mendengar suaraku. Tapi, kali ini, dengarkan aku baik-baik untuk terakhir kalinya! Kutunggu kau di tempat pertama kali kita bertemu. Aku tak peduli selama apapun aku menunggu. Dan aku tahu betul aku. Sampai jumpa di sana, Mr. Pakistan,” getirku dalam menahan air di pelupuk mata ini.
“Key, apa yang kau lakukan?” sergah lelaki itu yang mulai cemas ketika melihatku melepas seluruh selang yang terpasang pada diriku, setelah mematikan telepon dan mengembalikan ponsel Sadeev.
“Kumohon, untuk kali ini, biarkan aku menyelesaikan semuanya, Sadeev? Hanya untuk terakhir kalinya? Hanya ada aku dan dia,” pintaku menatapnya memelas.
Lelaki itu hanya menatapku sejenak, lalu berbalik memunggungiku sembari berkacak pinggang. Biar bagaimana pun, tak ada yang bisa memaksaku dan meluluhkan keras kepala ini. Sudah cukup!
“Keysa, mau ke mana? Bukannya kau masih sakit?” Farah yang tiba-tiba telah berada di ruangan ini, kini menatap dengan cemas.
__ADS_1
“Aku ingin menyelesaikan sesuatu yang belum selesai, Far,”
“Jangan bilang kamu mau bertemu dengan Navroy? Tidak! Kamu tidak boleh!” titahnya tiba-tiba dengan gusar. Saat aku turun dari tempat tidur. Ia bahkan mencegat dan menarikku, namun aku menepisnya setelah menangkupkan tanganku di hadapan wanita ini.
"Please, tidak untuk kali ini," lirihku menatap Farah dengan mata berkaca-kaca
Tekadku sudah bulat! Cukup ia mempermainkanku seperti ini! Setidaknya, aku hanya ingin kejelasan atas apa yang dilakukannya, untuk kali terakhir.
Farah hanya mendengus kesal dan mengalah, membiarkanku pergi.
Dan di sinilah aku, dengan segala sisa daya yang kupunya, demi cinta ini, kupertaruhkan segalanya. Aku tak peduli dengan kondisiku saat ini, namun satu hal adalah, hanya untuk kejelasan!
Kakiku rasanya berat melangkah, mataku terasa perih, punggung kembali terasa begitu sakit dan hati ini terasa sesak, ngilu, perih dalam tangis yang selama ini telah berdarah-darah.
Cukup membutuhkan waktu lama, aku berada di tempat ini, tempat di mana kami kali pertama bertemu. Pantai yang mengukir kenangan kami berdua, mengisahkan tentang bagaimana aku menemukannya, namun di sini pula mungkin akan berakhir. Aku di sini, menunggu tepat di tengah-tengah pantai yang berhadapan langsung dengan gapura saat kali pertama mata kami bertemu, tanpa saling mengenal. Menunggu, tepat di bawah tirai hujan, dalam tubuh yang sesekali bergetar dengan gigi gemeletukan karena menggigil kedinginan.
Waktu berlalu. Sudah beberapa jam aku menunggunya kehujanan di sini, namun sosok itu tak kunjung datang. Bahkan, airmata yang mulai mengalir deras bersama hujan ini, masih saja belum muncul. Tubuhku mulai rubuh di lantai pantai ini sembari bertekuk lutut, tapi kau masih saja belum datang.
Sebenci itukah kau padaku, hingga aku harus berjuang seperti ini? Apa salahku? Setolol inikah cinta yang kumiliki? Hingga sedikit pun kau tak memandangku.
Dalam dunia yang tengah berhujan, kau membuat hatiku juga berkabum. Apa aku harus menyerah, Navroy? Apa itukah cara satu-satunya yang harus kulakukan? Lalu, mengapa kau seolah memberikan cahaya lilin jika pada akhirnya badai kau hempaskan kepadaku? Kau jahat! Terlalu jahat untuk dicintai!
Hingga waktu terakhir yang kulihat menunjukkan pukul sepuluh malam, aku masih belum menemukan sosokmu di sini—hanya sekelebat kenangan tentangmu yang menyesak saat ini di pikiran mendungku—sebelum mataku benar-benar terpejam yang tak bisa kutahan lagi, suara cemas yang terdengar bersama rasa sakit di wajahku yang terhempas di lantai serta air dingin, beriringan dengan suara kecipak air, lalu detik berikutnya, kurasakan berada dalam kegelapan.
Entah di mana aku, tapi jika boleh, Tuhan, aku ingin melihatnya, meski sekali saja, hanya sekali!
* * *
Tubuhku begitu menghangat di bawah kain tebal nan lembut, seolah tengah terbaring di hamparan kapas. Senyumanku tersungging lepas, namun mata ini masih terpejam.
“Mungkin, ini telah di surga,”
“Surga Makassar, Sayang!” suara nyaring yang menimpali gumamanku itu menembus indera ini, lalu terasa hidungku sakit saat ada yang menariknya.
Seseorang? Siapa?
Mataku terbuka perlahan dengan sayu. Memicing sejenak, saat kilauan cahaya lampu menempa kedua iris hitam ini. Wanita mungil berambut hitam kini tersenyum padaku.
“Malam, Puteri tidur!” sapa Farah yang telah duduk di tepi tempat tidur, seketika kasur ini bergoyang akibat beban tubuh Farah yang tetiba.
Apa yang dilakukannya di sini?
“Menjaga puteri keras kepala ini!” celetuknya lagi yang membuat alisku mengernyit.
Kucoba mengerjap berulang kali sembari menatapnya.
Sial! Benar, bukan mimpi!
“Tapi—“
“Bisakah kamu tidak memasang tampang sok imut begitu?” celetuknya lagi sarkasme.
Senyumanku mengembang lebar, lalu kembali menenggelamkan wajahku pada cover bed merah jambu bercorak bunga-bunga ini.
“Badanmu tidak pegal, ya? Kamu sudah dua hari tidur tak sadarkan diri,”
“Bukannya tidur memang tak sadarkan diri, ya?’
“Key!”
Aku hanya terdiam, namun dalam ******* senyuman.
“Kamu pingsan tahu, selepas hujan-hujan penantian konyolmu itu!” Farah mengalihkan.
“Oh.” Singkatku lalu terdiam.
Kembali, duka itu mengingatkanku. Kesedihan dan bayangan tentang kejadian beberapa hari itu seketika membalut hatiku lalu menjalar pada raga. Ya, aku sangat ingat kejadian terakhir itu.
“Bisakah kamu mencemaskan dirimu sendiri? Please, Keysa, berhentilah bersikap konyol! Hubungan konyol seperti itu hanya membunuhmu perlahan-lahan,”
“Semuanya terlambat, Far. Itu Sudah terjadi," Gumamku berbisik Lemah. Seolah, tak Ada kekuatan lagi.
"Bego', tolol, kampret, An–" Umpatnya dengan nada suara naik satu oktaf.
"Cukup! Kamu tak pernah bisa mengerti, apa yang kamu katakan, Farah!” sergahku berteriak penuh kesal menatapnya saat tiba-tiba terbangun dari baringku.
“Kamu yang bahkan tak bisa mengerti! Bahkan, tololnya, kamu tetap saja membiarkan dirimu berada di hubungan konyol itu,”
“Kalau saja aku bisa. Jika saja itu mudah. Aku juga tak ingin dengan kondisi ini, Far!” gumamku lemah, memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Makan supmu!" Titahnya membentak lalu keluar sembari membanting pintu cukup keras hingga membuatku tersentak karena terkejut.
Airmata menetes seketika. Aku memang tak bisa dibentak atau seseorang bersuara keras padaku. Aku tak menyangka responnya seperti itu, semarah itu. Untuk kali pertama, ia bersikap semenyakitkan itu padaku. Dan ia sangat tahu betul hal yang paling kubenci.
Tapi, andai kamu tahu, Far, andai aku bisa, semudah dengan perkataanmu. Aku benar-benar telah terjebak dengan cintaku sendiri!
__ADS_1
* * * *