Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Si Tampan Itu Menungguku—Pertama Kali


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa. Cerah, namun terasa menghangat cuacanya. Namun yang membedakan adalah, entah mengapa hati ini terasa bahagia, begitu lepas.


Aku tiba awal di kantor dan langsung bergulat dengan pekerjaan. Laporan administrasi benar-benar menumpuk dan harus di selesaikan hari ini. Begitu aku mengecek file yang berada di laptop enambelas inci ini, denting halus membuatku menoleh ke sumber suara. Mataku sekilas beralih melirik ke arah jam berbentuk gitar yang sengaja kuletakkan di atas meja—dekat peralatan dan dokumen-dekumen pentingku—rupanya, telah pukul tujuh tigapuluh menit.


Navroy Grey


Morning, Baby!


07:28, 12 November


Senyumku menguap. Dia benar-benar berubah! Untuk kali pertama, ia menyapaku dengan hangat, namun begitu terasa manis. Sejenak, aku mengabaikan pekerjaan, lalu beralih ke ponsel lebar ini.


Keysa


Morning. Sudah sarapan?


07:29, 12 November


Navroy Grey


Yeah, baru saja, Babe. Kamu?


07:29, 12 November


Keysa


Belum, sih. Tapi mungkin setelah kerjaan ini selesai.


07:29, 12 November


Navroy Grey


Kamu kerja sekarang?


07:30, 12 November


Keysa


Iya, ini lagi di kantor.


07:30, 12 November


Navroy Grey


Oh, okay, Babe.


Baby, kamu mau meet up hari ini?


07:30, 12 November


Senyumku mengembang. Tentu saja, Sayang, selalu ingin, Mr. Pakistan! Desahku dalam benakku.


Keysa


Umm, kalau kamu mau dan bisa. Memangnya kamu tidak sibuk?


07:31, 12 November


Navroy Grey


Good! Tidak, hari ini aku hanya latihan workout pagi. Jadi, kita bisa meet up sore nanti, saat kamu pulang bekerja, Baby. Bagaimana?


Oh ya, memangnya sulit, ya memanggilku Baby juga?


07:32, 12 November


Senyumku lagi-lagi mengembang.


Terkadang lelaki ini sulit di mengerti. Begitu misterius!


Ah,Rasanya masih belum terbiasa memanggilnya dengan kata itu.


Keysa


Oke, sore nanti, beritahu saya saja nanti, oke. Tapi mau ke mana? Dan kita meet up di mana?


Hehehe, Maaf, Baby. Hanya saja, belum terbiasa.


07:33, 12 November

__ADS_1


Navroy Grey


Oh, okay. Kalau begitu biasakan!


Up to you, Babe.


07:33, 12 November


Keysa


*Up to you, Baby. I'll follow.


07:33, 12 November*


Navroy Grey


Hmm, oke.


Kita nanti meet up di dekat Mall Mtc. I’ll tell you later. Dan tentang tempatnya di mana, nanti kita pikirkan setelah bertemu.


Okay, Baby, sepertinya kamu harus bekerja, nanti kita chat lagi. Saya juga akan prepare untuk workout di jogging track Karebosi.


*See you, Babe.


07:37, 12 November*


Keysa


Oh, okay. Saya kerja dulu. And then you, be careful. Take care of there and don’t so hard of workout, Babe.


See you.


07:37, 12 November


Navroy Grey


Yeah, azizm. Kamu juga.


07:38, 12 November


Azizm? Senyumku menguap. Entah itu apa artinya. Tapi yang jelas, rasanya hati ini bersorak bahagia.


Aku lalu kembali meletakkan ponsel di atas meja, lalu menenggelamkan diriku dalam laporan administrasi yang terkadang memusingkan. Pekerjaanku saat ini terasa begitu ringan. Terlebih, ketika lelaki itu mulai berpusat dan berotasi dalam hidupku.


Ada kalanya manis itu datang secara tiba-tiba, dari arah dan waktu mana pun yang tak kau duga.


Cinta? Ya, mungkin saat inilah aku harus melupakan masa lalu dan menikmati masa saat ini.


Senyumku mengembang ketika mataku masih berfokus pada laporan di hadapanku sembari sibuk mengecek dan mengoreksi laporan yang ada. Untung saja Pak Dion belum datang, jadi senyum bahagia hari ini tak perlu kusembunyikan hanya karena malu.


"Ah, Tuhan, indahnya harimu!" gumamku yang masih dalam senyuman sambil menyandarkan tubuhku di punggung kursi.


***


 


Hujan mengguyur kota Makassar. Senja ini begitu dingin. Tepat pukul lima sore, aku meninggalkan ruanganku setelah merapikan berkas-berkas di meja. Lalu duduk di lobby, menunggu hujan reda. Sekilas aku melihat, status history akun social media Navroy yang membuatku tersenyum dan menggeleng berulang kali. Di sana, ia mengungkapkan kekesalannya karena hujan masih begitu deras dan tak kunjung reda, bersamaan dengan memasang emoticon kesal dan hujan.


Sekesal itukah dirinya hanya karena terganggu janjiannya? Dasar, Mr. Pakistan!


Selang beberapa menit hingga menjelang nyaris dua jam, langit menghentikan dan mengubahnya menjadi gerimis, meski awan masih begitu pekat karena mendung. Jalanan cukup basah, namun kesegaran udaranya sangat terasa, meski aku hanya berada dalam ruangan besar ini. Untuk kali kesekiannya, ponselku berdering lagi dan membuat senyum innocent tampak.


Benar-benar aku ini! siapa dirimu? Berani-beraninya mengabaikan teleponnya! Dengungan makian itu menggema di benak yang lagi membuatku tersenyum sembari menggeleng berulang kali.


Sejujurnya, aku bahkan tak bisa membayangkan seperti apa dia di sana yang tengah menunggu, bagaimana ia menunggu, wajah dan tatapan eksotiknya yang selalu melelehkan nan mempesona atau bahkan rambut spike dan tubuh atletisnya yang mungkin kehujanan—terakhir, ia mengirimkan chat yang berisi jika dirinya telah berada di sana, menunggu—tidak! Sama sekali tak bisa menembus pikiran dan imajiku.


Aku kini kembali merapikan rambut dan penampilan. Tentu saja agar terlihat cantik di depannya nanti. Pakaian kerja telah kuganti dengan kemeja Santai casual yang dipadukan dengan rok jeans biru yang menutup hingga ke atas lutut. Meski, berulang kali karyawan di sini memuji penampilanku, namun tetap saja itu membuatku tak percaya diri terlebih di depan lelaki keren sepertinya yang tentu saja pandangannya berbeda dengan mereka. Bebek tetaplah bebek, walau pun di sulap menjadi angsa cantik.


Setelah sekian lama deringan itu terdengar, kuputuskan untuk mengangkat teleponnya kali ini sembari mengamati penampilanku sekali lagi dan lagi, merapikan rambut entah dengan model apa lagi.


“Baby?” suaranya terdengar di antara background hujan.


“Kamu di mana?” tanyaku ringan dan santai sembari menjepit beberapa helai rambut di atas telinga.


“Aku di sini, Babe. Kamu sudah pulang?” tanyanya lagi, tapi suaranya masih tenang.


Seketika aktivitasku terhenti. Di sini? Maksudnya?


“Iya, tapi di sini masih hujan!”

__ADS_1


“Benar. Apa kamu mau cancel?” tanyanya dengan suara yang ... menurutku aneh, seperti—


“Baby?” panggilnya tetiba menyela saat aku terdiam sejenak.


“Ya? Tidak! Sebenarnya aku tidak mau cancel, tapi di sini hujan dan sudah menunggu di lobby. Apa di sana hujan? Aku seperti mendengar suaranya.”


“Iya, di sini juga hujan. Baiklah, tidak apa-apa, Babe. Kamu tunggu di sana saja sampai hujannya berhenti.” Jelasnya lalu terdengar samar-samar ia mengambil napas.


“Kamu ... masih di rumah?”


“Tidak! Sebenarnya aku sudah di sini, di depan karebosi menunggumu,”


“Apa? Astaga! Sudah berapa lama?”


Dia terdiam sejenak. Lalu, “ Hampir dua jam yang lalu. Tapi, tidak apa-apa, Baby, sungguh!”


“Astaga! Tidak apa-apa, bagaimana? Itu sangat lama! Mengapa baru bilang, sih? Maaf, Navroy, sungguh aku tak bermaksud—“


“Sudahlah, aku tidak apa-apa, sungguh! tetaplah di sana sampai hujan reda, mengerti?”


Aku mendesah. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


“Baby, aku harus menutup telepon, ponselku nanti basah. Chat saja jika sudah kemari, okay? Ingat, setelah hujan mereda, Okay? See you.” Jelasnya dan mengingatkanku di akhir kalimatnya, lalu memutuskan telepon tanpa memberiku kesempatan bicara.


*Ponselnya nanti basah? Artinya?


Oh, shit! Apa dia sekonyol itu menunggu di bawah hujan? Tapi, jika dia memakai payung, mengapa ponselnya harus basah*?


Lagi, helaan berat keluar dari bibirku. Kupakai jaket tebalku, lalu menyambar tas, kemudian menembus hujan yang masih gerimis. Jarak antara kantor dan karebosi, kira-kira duaratus meter jauhnya. Jadi, aku memilih untuk berjalan kaki saja dengan sepatu kets. Seperti biasa, meninggalkan heel’s di meja ruanganku agar tak repot.


Jantungku serasa berdegub cepat, lalu kian melambat hingga seperti tak bernapas. Waktu seperti melambat, lalu berhenti dan langkahku terasa ringan saat melangkah di area karebosi dan memandang ke arah seberang jalan sana. Ya, tepat dari arah barat, tampak lelaki tinggi nan tegap bertubuh atletis dengan celana jins biru, jaket kelabu yang membalut tubuh sixpack sexy-nya—menyelaraskan dengan sepatu kets. Rambut perunggunya cukup basah, namun masih terlihat rapi. Dan wajah tampan penuh eksotik itu, aku masih bisa melihatnya yang cukup basah, berdiri dengan pandangan teduh dan sabarnya menunggu di bawah pohon besar, tepat di depan gedung besar yang menjulang tinggi. Tangannya kini menyusup ke saku jaket, sembari sesekali mata menengadah. Berharap, hujan cepat mereda, asumsiku.


Sejujurnya, ia berhasil membuatku berdiri di sini tertegun dan takjub tak percaya.


Benarkah, itu dia? Benarkah, dia di sana?


Lelaki yang selalu menjadi populer dan favorite para gadis dan wanita, yang selalu membuat terpesona kaum hawa, kini menungguku dengan sabar di tengah hujan? Dan bahkan, tak peduli ia telah kehujuanan atau tidak?


Aku cukup tertegun melihat sikap dan kesabarannya. Terlebih, melihat dirinya yang berdiri mematung di sana, ibarat pahatan patung indah. Rasanya seperti bermimpi.


*Untuk kali pertama, dia menunggu untukku.


Benarkah, Tuhan, dia milikku saat ini*?


Jalan cukup sepi, meski kendaraan berlalu-lalang. Kedua kaki ini telah tiba pada gerbang pintu barat Mall Karebosi Link yang terbuka lebar. Dia tersenyum manis, saat mata eksotik itu menemukan diriku yang tengah menatapnya dari kejauhan. Tubuhku masih berdiri kaku di sini sembari terhenyak sekaligus tersenyum. Dunia dan waktu masih seperti berhenti. Yang terasa hanyalah, debaran jantungku yang berdetak cepat hingga terdeteksi oleh indera ini. Bahkan, aku baru menyadari, saat tangan ini melambai ke arahnya dan meminta untuk menghampiriku. Dengan patuh, Lelaki Pakistan itu mengangguk sambil memakai tudung jaket untuk menutupi kepala dan melangkah ke arahku. Lagi, rasanya waktu berhenti. Oksigen dan dunia pun serasa berhenti seketika, seperti hanya ada aku dan dirinya di dunia ini.


Dia melangkah, melangkah dan terus melangkah tanpa melepaskan pandangan yang membuatku terus terperanjat dalam tatapan wajah dan mata mempesona itu, tanpa berkedip sedikit pun.


“Hi, how are you?” suara lembutnya yang merdu menyentakkanku hingga menyadari, dia telah berada di hadapanku sambil mengulurkan tangan hendak berjabat.


Rasanya senyumku kikuk.


“H-hai. Baik, terima kasih. Dan kamu? Oh, ya, maaf membuat kamu menunggu seperti ini dan sangat lama,” Sahutku setelah berdehem dan kikuk di awal kalimat, lalu memandang seluruh tubuh, kepala dan wajahnya di akhir kalimat.


Senyuman khasnya tersungging. “Aku juga kabar baik. Tentang itu, tidak apa-apa. Well, mengapa kamu nekat kehujanan seperti ini?”


“Mengapa kamu menunggu dengan kehujanan seperti ini?” timpalku meniru kalimatnya yang membuat senyum lebarnya nampak.


“Dewana!” umpatnya masih dalam senyuman.


“Apa?”


“Tidak! Itu hanya istilah lelucon di bahasa Afghanistan, yang artinya gila tapi dalam maksud Sebuah candaan,” jelasnya memberitahu.


“Oh, oke.” Senyumku ringan.


Dia kembali tersenyum. “Jadi, kita ke mana?”


“Kamu mau ke mana?” tanyaku kembali meniru ucapannya.


Desahannya kini terdengar, lalu terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu. Kemudian, “Kamu percaya aku, kan?”


Ketika anggukanku nampak perlahan, detik berikutnya, dia menghentikan sebuah taksi, lalu membuka pintu mobil jok penumpang untukku.


“Ayo!” ajaknya yang masih membuka lebar pintu mobil, menungguku.


Lagi, kutemukan dalam diriku tersentak karena tertegun, melangkah masuk dan diikuti oleh lelaki itu.


Aku masih belum percaya, Navroy, apa ini nyata atau delusi berlebihanku.

__ADS_1


* * *


__ADS_2