Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Enemy


__ADS_3

Gadis itu tersenyum lebar dengan girangnya, tatkala melihat chating dari salah satu teman sekolahnya. Enemy, salah satu dari gadis yang mengidolakan Navroy. Ia tak sengaja bertemu di salah satu tournament kejuaraan pull up dan chalistenic ketika lelaki mempesona itu perfom dengan kelompoknya saat di Bandung.


"En, mau ke mana? Kok buru-buru gitu? Bukannya hari ini ada jadwal kemoterapimu dengan Dokter Gisel?"


"Maaf, Kak, aku lupa beritahu kakak. Hari ini kemonya cancel, mama juga mengetahui dan mengizinkanku!"


Sadeev menatap tajam gadis itu, tak setuju. "Mengizinkan? Sepenting apa sampai kemo harus di cancel?"


Enemy mendecakkan lidah, lalu sengaja menghembuskan napas beratnya dengan kasar. "Ish, kakak, bukankah sudah kubilang pekan lalu? Ada Tournament Navroy yang diadakan hari ini di—"


"Ah, mengenai cowok alay itu lagi, ya?" potong Sadeev dengan tak acuh dan memutar mata. Sekilas, di liriknya adik semata wayangnya itu, matanya begitu nanar mengagumi.


"Gak baik mengkhayalkan cowok yang bukan muhrim!" Sentil Sadeev datar di hidung gadis imut itu.


"Kan khayalannya yang positif aja," timpalnya mengelak dengan memanyunkan bibir tipisnya yang kecil.


"Terserah!" sahut Sadeev dengan malas, lalu mendorong kursi meja rias adiknya yang sedari tadi di duduki—hingga meninggalkan bunyi berderit akibat gesekan di lantai, lalu bergegas pergi.


"Yeay, ketemu kak Navroy!" seru gadis itu yang mengacungkan kedua tangan sembari berjoget ala euforia.


"Memang yang bilang di izinkan pergi, siapa?" sergah Sadeev menyela dengan nada datar dan dingin ketika telah berada di ambang pintu hendak keluar dari kamar Enemy. Seketika, adik bungsunya itu berhenti joget dan menatapnya sedih.

__ADS_1


"Yaa, Kak, masa iya sih aku cancel ketemu kak Navroy?" suaranya bahkan terdengar nyaris memelas dalam mata yang mulai berkaca menatap kakaknya yang keras kepala dan penuh kontrol itu. Enemy tahu, sang kakaklah yang selama ini menjadi penentu keputusan di keluarga mereka, sejak ayah mereka meninggal akibat kecelakaan saat bertugas menjadi pilot di salah satu bandara internasional di Eropa. Dan setiap keputusan yang terlontar dari mulut Sadeev tak pernah boleh di bantah, itu aturan dalam keluarga mereka.


"Kalau kakak bilang gak boleh, artinya gak boleh! Jangan bantah lagi, yang paling penting saat ini adalah kemoterapimu, Enemy!" tegas Sadeev menatap adiknya itu, meski sesaat ia hampir luluh dan kasihan pada adiknya itu, terlebih saat menatap mata memohon yang temgah menatapnya dan nyaris menangis.


"Kalau saja di surga nanti bisa ketemu kak Navroy—"


Mata Sadeev memutar dengan kesal. Dia tahu, adiknya sudah mulai berbicara sembarangan dan berlebihan.


Uh, selalu saja seperti itu! Kesalnya dalam hati.


"Berhentilah mengatakan hal itu.... " datarnya yang nyaris berbisik dengan menyela hingga mata gadis itu melebar.


Sadeev menghela napas berat, lalu menghampiri adiknya dengan wajah yang masih dingin dan datar. Gadis itu sejenak mundur, seolah bola mata yang melebar dan sedang menatapnya itu seperti berubah ketakutan.


"Ma-maaf, Kak! Ampuni Enemy! Enemy janji akan patuh dan tidak—"sahut Enemy berbicara cepat di akhir kalimat sembari menatap kedua matanya seperti takut menerima sesuatu kekerasan dari kakaknya.


Mata sipitnya terbuka saat ada yang menyentil hidungnya. Dilihatnya sang kakak tengah memandangnya yang masih dingin datar. Lagi, hidung mancungnya di sentil, namun kali ini agak terasa sakit dan membuatnya meringis kecil.


"Ish, sakit, Kak!" desisnya manja meringis.


"Sakit? Kakak lebih sakit melihatmu harus kesakitan setiap hari dan tidak sembuh-sembuh!"

__ADS_1


Raut wajah Enemy berubah menjadi rileks.


"Jangan mengatakan atau berandai-andai tentang kematian atau surga lagi, kau tahu kakak sangat tidak suka, En's," lanjut Sadeev menatapnya berbinar penuh kasih, namun seberkas kekesalan di raut wajahnya.


Mata Enemy berkaca-kaca. "Kakak gak marah?" suara polos gadis yang berusia empatbelasan itu terdengar lembut, hingga Sadeev tak kuasa menyentuh pipi gadis itu dan mengusapnya dengan lembut.


"Bagaimana bisa kakak marah pada Enemy kecil kakak, Kau tahu kakak sangat menyayangimu, Dek. Hanya kadang-kadang kau membuat kakak kesal!" lirih Sadeev menatap adiknya itu yang di balas dengan senyuman manis.


"Itu artinya ... kakak mengizinkan aku bolos kemo hari ini, dong? Dan bertemu kak Navroy-ku?" timpalan Enemy yang polos seketika membuat Sadeev memutar mata dan mendengus kasar. Dia mulai kesal lagi dan hanya di tanggapi tawa kecil dari Enemy.


"Tuh, kan, selalu saja pandai memanfaatkan situasi kalau kakak lagi bicara manisabis begini!"


Enemy tertawa lagi. "Tapi, benar, kan? Boleh pergi?"


Dengan raut wajah datar dan kesal, Sadeev bergegas keluar dari kamar Enemy dan hanya membuat gadis itu menatapnya sedih.


"Aku tunggu di bawah, jangan buat kakak tampanmu ini menunggu!" Seru Sadeev tetiba saat di ambang pintu. Begitu Enemy mengangkat wajah dan menoleh memandang ke arah pintu, kakaknya sedang berdiri dan tersenyum lebar di sana sambil mengedipkan lalu berlalu.


"Yeay! I'm Coming Kak Navroy!" Girangnya berseru dan membuat Sadeev menggeleng kepala dalam senyuman ketika masih berada di sekitar koridor—melangkah turun ke lantai satu—saat samar-sama mendengar teriakan adiknya yang begitu senang.


* * *

__ADS_1


__ADS_2